
“Hei, dari pulang kantor senyam-senyum terus. Bahagia banget sih." Tanya Egy pada Karina yang masih menampakkan senyumnya.
“Bahagialah." Sahutnya singkat.
“Kenapa sih?”
“Rahasia, nanti kalau kamu tahu jadi resek." Ujarnya acuh.
“Ih... apaan!" jawab Egy ketus.
Masih dengan senyum manis yang tergurat di wajahnya, sembari menyenandungkan lagu kesukaannya Karina merapikan kuku-kuku panjangnya.
Dalam pikiran gadis itu terlintas beberapa ide yang ingin ia lakukan. Seolah-olah tak mau menyia-nyiakan waktu, Karina membuat berbagai macam rencana untuk merenggangkan hubungan pernikahan Mecca dan Fadhil.
Karena kerja sama antara kedua perusahaan itu, membuat Karina lebih leluasa dan sering bertemu dengan pria tampan itu. Di dalam lubuk hatinya, Fadhil tetaplah calon suaminya. Ia akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan Fadhil kembali.
“Kamu itu awalnya milikku, sampai akhir pun kamu tetap akan jadi milikku." Seringainya tajam.
Seakan godaannya hari ini berhasil, hal itu menjadi candu baginya untuk terus melancarkan aksi dalam mempermainkan perasaan Mecca.
“Besok aku siap dengan bibirku pada bagian tubuhmu, semoga istri bodohmu itu marah lagi ya calon suamiku." Gumam Karina dengan senyum liciknya.
.
.
.
***
Di kamar yang bersuhu dingin itu tak membuat tubuh Medina bebas dari keringat. Tubuhnya basah kuyup karena keringat yang terus bercucuran. Suhu tubuhnya makin meningkat, wajahnya pucat pasi, kepalanya terasa semakin berat, dan matanya pun bagai berkunang-kunang.
“Bagaimana ini, kalau kondisiku seperti ini terus? Aku jadi khawatir dengan tes besok." Ujarnya lirih.
"Ya ampun sudah jam setengah tiga, hmmmm... mau tidak mau aku harus selesai belajarnya deh." keluhnya sembari membereskan buku-buku tebal yang berserakan di atas ranjangnya.
“Huh, kebiasaan deh aku, kalau sudah belajar selalu lupa waktu begini." Gumamnya sembari memijat dahinya yang semakin merasa pusing.
Setelah merapikan buku-bukunya, ia mulai mencari-cari obat dan menuangkan air putih pada gelas di atas nakas. Setelah meminum obat penurun demam, Medina berusaha memejamkan mata. Setelah setengah jam berlalu ia pun mulai terlelap ke alam mimpi.
Tanpa terasa waktu bergulir dengan cepat, mentari pagi mulai memancarkan kehangatannya. Pak Pradipta, Mecca, dan Fadhil sudah duduk di meja makan melahap sarapan paginya.
Dari kejauhan Medina mulai berlari kecil ke arah meja makan, ia hanya meminum segelas susu hangat yang telah tersedia di sana dengan terburu-buru.
Tanpa ia sadari seluruh mata memandangnya tak beralih.
“Pelan-pelan Nak, makan dulu isi perutmu." Tegur Pak Pradipta pada Medina.
“Takut terlambat Yah, Dina minum susu saja." Jawabnya disela-sela minum susunya. Namun tak berselang lama ada darah yang keluar dari hidungnya.
“Kak, kakak mimisan tuh." Ujar Mecca sembari memberikan tisu yang ada di hadapannya. Medina segera menerima dan menyumbatkan tisu itu pada hidung kirinya, ia mulai mendongakkan kepalanya sembari berdiri.
“Nak, kamu sakit. Sebaiknya istirahat saja dulu, paling tidak sarapan, lihat wajahmu begitu pucat." Ucap Pak Pradipta penuh khawatir.
“Hari ini tesnya Yah, kalau hari ini tidak datang sama saja gugur."
“Tapi kondisi tubuhmu tidak baik." Ujar Pak Pradipta masih memaksa.
“Ayah doakan saja ya, Dina pergi dulu Yah, assalamualaikum semua."Jawabnya tak mau mengalah, setelah mengucapkan salam pada semua orang beberapa langkah dari kepergiannya Medina jatuh pingsan.
Secara bersamaan Mecca, Fadhil, dan Pak Pradipta berdiri dan memanggil nama Medina dengan khawatir. Fadhil dengan cepat mengangkat tubuh Medina dan membaringkannya ke kamar tamu.
Tanpa perintah Fadhil membopong Medina dengan cepat, Mecca mengarahkan Fadhil untuk merebahkan Kakaknya di ranjang kamar tamu.
Pak Pradipta mulai duduk di sisi ranjang tempat Medina terbaring, ia menatap paras cantik putrinya yang pucat pasi. Dengan tangan gemetar ia mengeluarkan saputangan pada kantong bajunya dan mengelap tiap butir keringat dingin di kening Medina. Ia benar-benar sangat khawatir, putrinya yang malang itu kini terbaring lemah.
Mecca mencari-cari minyak angin di setiap laci kamar itu, ia kemudian mengoleskannya pada hidung dan beberapa bagian tubuh Medina, ia berharap apa yang dilakukannya dapat membuat Kakaknya tersadar dan merasa lebih nyaman.
“Bangun, Nak. Sadarlah!” ujar Pak Pradipta menggenggam tangan Medina.
Dengan terburu-buru Fadhil mengambil ponselnya, ia mulai mencari-cari nomor telepon Arjun. Tak berselang lama panggilan jarak jauh itu pun terhubung.
.
.
.
***
Di meja makan rumahnya, Arjun duduk santai sembari meminum teh hangat dan roti yang diolesi selai coklat dan selai kacang kesukaannya.
Ia ingin menghabiskan waktu liburnya hari ini dengan bersantai seharian di rumah. Masih dengan menatap ponselnya, jari-jari lincahnya mencoba memilih satu lagu dalam playlist di album musik favoritnya.
Tak berselang lama, tiba-tiba hari tenangnya pun sirna, bunyi dering telepon mengusik kenyamanannya.
“Aiissh, si pengganggu ini menelepon.” Ujarnya saat melihat nama Fadhil pada layar ponselnya, dengan suara berat hati ia menerima panggilan itu.
Arjun : “Halo, ngapain pagi-pagi ganggu orang lain?”
Fadhil : “Kerumah Mecca sekarang!”
Arjun : “Ngapain gue kesana? Jadi obat nyamuk kemesraan kalian?”
Fadhil : “Nggak usah cerewet mblo, buruan gue share location sekarang, Kakak Mecca sakit!"
Arjun : "Terus urusannya sama gue apa?"
Fadhil : "Loe kan dokter! buruanlah!"
Arjun : “Gue ini dokter anak orang stres, emang Kakaknya Mecca masih 5 tahun?”
Fadhil : “Nggak usah cerewet! Buruan!” tutupnya di akhir pembicaraan.
Tut ... Tut ... Tut ...
"Kasar banget nih tukang perintah, main matiin telepon seenaknya, Huuuuuh... gue pites loe kalau ketemu!"
“Dasar orang stres, mentang-mentang cuma punya kenalan dokter gue doang bisa seenaknya saja dia main perintah. Dulu waktu kucing peliharaan Mama Alisa sakit dia juga manggil gue, begitu kucingnya mati eh gue juga yang disalahin, emang gila tuh orang.” Ujarnya dongkol namun tetap beranjak pergi membawa beberapa obat dan peralatan dokternya menuju mobil.
Sedangkan di rumah Pak Pradipta, seluruh keluarga sudah mengelilingi Medina. Mereka secara bersamaan menatap kondisi Medina yang tampak pucat dan lemah.
"Yah Kak Dina kenapa Yah? Mas?" tanya Mecca bergantian pada Ayah dan Suaminya.
"Tenang, Nak, sebentar lagi Kakakmu pasti segera sadar." Ucap Pak Pradipta menenangkan walau di lubuk hatinya menyimpan rasa khawatir yang lebih besar.
"Sabar ya yank, aku sudah telepon Arjun sebentar lagi dia pasti datang, kamu tenang dulu ya." Ujar Fadhil sembari memeluk Mecca.
Setelah menenangkan Mecca yang sedari tadi masih menangis, Fadhil melakukan panggilan telepon dengan Faiz.
"Iz, kamu datang kemari bawa 3 ART itu, aku mau wawancara kilat. Tolong kamu undur janji temuku pagi ini dengan perwakilan Grup F, ada masalah di rumah Ayah mertuaku." Perintah Fadhil pada Faiz dengan rinci.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.