AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 88. Aku Harus Tegas



Fadhil berkutat dengan pekerjaannya yang semakin sibuk. Progresnya dalam mengembangkan perusahaan berkembang dengan pesat. Bahkan relasi yang menandatangani kontrak dengannya tak main-main, kenaikan mitra bisnisnya bertambah 4x lipat dari sebelumnya.


Waktunya yang cukup terkuras dari perhatiannya kepada Mecca serta calon bayinya sungguh terbayar dengan layak. Bahkan hasil dari kerja kerasnya dapat meningkatkan lapangan kerja baru bagi orang lain, menambah kemapanan bagi pekerjanya yang loyal terhadap perusahaan selama ini.


Paling tidak ia dapat membuktikan kemampuan dirinya pada Pak Permana tanpa embel-embel nama besar Permana serta Grup A. Pembuktian dirinya ini cukup baginya untuk berdiri angkuh di depan remehan papanya yang menyakitkan saat itu.


Di tengah kesibukannya, dering ponsel Fadhil mulai bergetar, membuatnya sedikit merasa terganggu olehnya. Fadhil menatap layar ponselnya dan menatap nama Mami Rita di sana. Fadhil meminta izin untuk menghentikan rapat selama ia menerima panggilan itu.


Fadhil pun meninggalkan ruangan rapat yang diisi oleh 11 orang di sana, menuju pintu keluar. Dengan segera Fadhil mengangkat panggilan Mami Rita tersebut.


Fadhil : “Iya mi, ada apa?”


Mami Rita : “Fadhil sibuk?”


Fadhil : “Iya mi, sedang rapat.”


Mami Rita : “Oh maaf-maaf ya, kalau begitu lanjutkan saja pekerjaannya.”


Fadhil : “Enggak apa-apa kok mi, kenapa mami telepon?”


Mami Rita : “Enggak, mami cuma mau tanya kenapa Fadhil telepon mami kemarin malam? Mami dapat notifikasi dari HP saat mulai diaktifkan kembali. Maaf ya, mami beberapa hari menginap di rumah kakeknya Arjun, beliau sedang sakit jadi mami sengaja mematikan HP supaya lebih fokus merawat.”


Fadhil : “Tidak apa-apa mi, tidak ada yang penting.”


Mami Rita : “Masa tidak ada yang penting teleponnya malam-malam begitu? Kenapa, Dhil?”


Fadhil : “Mami tanya saja sama Arjun, Fadhil enggan membahas itu, Mi!”


Mami Rita : “Kalian berantem? Ya ampun kalian sudah tua loh, jangan kayak anak kecil deh!”


Fadhil : “Mami tanya saja sama anak mami itu, Fadhil sedang enggak mood bahas dia.”


Mami Rita : “Sudah besar masih saja ngadu-ngaduan, ya sudah nanti mami tanya ke Arjun. Kalian jangan lama-lama bertengkar ya, mami enggak suka!”


Fadhil : “Hmmm.”


Mami Rita : “Fadhil?”


Fadhil : “Iya mi iya!”


Mami Rita : “Good boy! Selamat bekerja, bye.” Mami Rita mengakhiri panggilannya saat itu juga.


“Huft... Kalau mami tahu, pasti mami juga akan marah kok!” gumam Fadhil sesaat lalu kembali masuk ke dalam ruang rapatnya.


***


Medina terbangun dalam keadaan lapar yang melanda, tubuhnya terasa sakit semua karena tidur dalam keadaan meringkuk dilantai yang keras dan dingin.


Ia mengambil ponselnya, menatap layar ponselnya yang sepi akan notifikasi pesan atau pun panggilan. Ia menatap jam pada ponselnya yang menunjukkan pukul 15.02 WIB.


Ia pun memutuskan keluar kamar dan berhenti untuk menyiksa dirinya. Ia membuka dan menutup pintunya dengan hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara ataupun kegaduhan yang dapat memicu orang lain mendekatinya.


Sesaat Medina melirik ke arah pintu kamar Mecca yang tertutup rapat itu, dengan langkah perlahan ia melewati pintu kamar adiknya dengan setengah berjinjit.


“Apa Mecca masih di sini ya?” ujar Medina dalam hati.


Sesampainya di lantai bawah, Medina di kejutkan oleh teguran Bi Mirah di belakangnya.


“Mbak Dina mau makan?” tanya Bi Mirah yang melihat Medina berjalan mengendap-endap.


“Ssssttt!” Medina menutup bibirnya dengan jari telunjuk, memberikan kode pada Bi Mirah untuk tidak bersuara keras. Walau sebenarnya Bi Mirah berkata dengan suara pelan dan lembut, tapi bagi Medina itu masih kurang cukup. “Mecca masih di sini?” tanya Medina dengan suara setengah berbisik.


“Masih, Mbak.” Jawab Bi Mirah ikut setengah berbisik.


“Aku lapar Bi, mau masak dulu.”


“Tidak usah mbak, tadi Mbak Mecca bawa makanan dari restoran. Saya siapkan mau?”


“Boleh, terima kasih.”


“Sama-sama, Mbak.”


Tak butuh waktu lama untuk Bi Mirah menyiapkan semangkok soto betawi dengan nasi putih panas pada mangkok serta piring makan Medina. Dengan cekatan Bi Mirah menyiapkan ini dan itu lalu membawanya ke meja makan di mana Medina berada.



Saat meletakkan nampan yang ia bawa, sesekali Bi Mirah menatap wajah cantik Medina yang terlihat lesu dan mata bengkak khas usai orang menangis. Medina menyadari curi-curi pandang Bi Mirah padanya, ia pun semakin menundukkan wajahnya.


“Kenapa Bi Mirah lihat aku seperti itu?” tanya Medina dengan wajah menunduk.


“Tidak mbak, cuma mau tanya ada yang dibutuhkan lagi tidak? Karena saya mau menyetrika baju di belakang.” Bi Mirah membuat alasan sesuai dengan apa yang ingin ia kerjakan.


“Oh begitu?! Enggak ada kok, Bi. Terima kasih ya sudah menyiapkan makanan dan minuman untukku.”


“Sama-sama mbak, kalau begitu saya permisi dulu.” Medina menjawab pamitan Bi Mirah dengan menganggukkan kepala sembari menyuap makanannya ke mulut.


Satu menit dari kepergian Bi Mirah, Medina di kejutkan oleh kedatangan Mecca yang tak terdengar olehnya.


“Akhirnya keluar juga dari Guanya!” ucapan Mecca yang mengagetkan membuat Medina tersedak saat itu juga.


“Uhuk-uhuk-uhuk.” Medina dengan secepat kilat menyambar gelas air putih dan meminumnya hingga habis. Sedangkan Mecca dengan tanggap mendatangi kakaknya tersebut dan menepuk-nepuk punggungnya demi meredakan penderitaan Medina.


“Ya ampun kak, masa begitu aja kaget sih? Perasaan aku ngomongnya biasa aja, enggak pakai suara keras juga, ckckck...” Medina masih terbatuk-batuk mendengar ucapan Mecca yang tidak bisa ia jawab.


Setelah melihat Medina cukup membaik, Mecca ikut duduk di kursi meja makan di sisi kanan Medina. Ia mulai menghembuskan nafas melihat penampakan wajah kakaknya yang tak karuan.


“Ckckck... Ke mana perginya wajah cantik kakakku itu? Apa perempuan berwajah ikan buntal ini kakak tercantikku itu?” Medina memelototi Mecca yang mulai mengejeknya.


“Hei jawab, kamu siapa? Kamu pura-pura jadi kakakku ya? Kakakku itu cantik, enggak jelek seperti kamu!” ucap Mecca mencolek-colek lengan Medina.


“Aku monster Gua yang kelaparan. Kalau kamu masih mengejek, aku makan juga kamu sekalian!” ucap Medina kesal sembari memasukkan makanannya dengan gerakan menyeramkan, seolah mengancam Mecca bahwa dirinya sedang dalam mood yang tidak ingin bercanda.


“Santui dong cuy! Gitu aja ketawa!” ujar Mecca seolah-olah ingin menguji kesabaran kakaknya.


Disela-sela obrolan Mecca dan Medina, ponsel Medina tiba-tiba bergetar. Ia dengan cepat mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dengan buru-buru. Namun itu bukanlah pesan dari seseorang yang ia tunggu-tunggu melainkan dari nomor yang tidak ia kenal.


Sebenarnya Medina merasa malas membuka ponselnya jika itu hanya dari orang yang tidak dikenal, tapi saat namanya di sebut hal itu membuatnya semakin penasaran.


Medina pun mulai membuka ponselnya dan beralih pada aplikasi obrolan miliknya. Medina membaca kembali pesan itu satu persatu.


...... : “Hai.”


...... : “Sibuk?”


...... : “Tidak ketemu juga tidak apa-apa, lewat sini saja.”


...... : “Din?”


...... : “Dina?”


Medina : “Ini siapa?” Namanya yang disebut, membuat Medina tampak penasaran, ia pun mulai membalas pesan itu dengan singkat.


Diana : “Akhirnya tidak cuma dibaca, ini Diana.”


Medina tampak mengkaku sesaat, ia merasa terkejut membaca nama itu di sana. “Ah, dia pasti tahu nomorku dari grup SD.” Gumam Medina lirih.


Mecca yang menyadari perubahan raut wajah kakaknya mulai penasaran.


“Siapa kak?”


“Diana!”


“Yang kemarin itu?” pertanyaan Mecca mendapat anggukan dari Medina.


Dengan merapatkan kursinya, Mecca menatap layar ponsel Medina dan ikut membaca percakapan kakaknya dengan Diana.


“Eh ngapain dia pakai WA kakak segala?”


“Enggak tahu.” Ujar Medina menggelengkan kepala.


"Kok dia tahu nomor kakak sih?"


"Pasti dari WAG SD, Dik."


"Eh... Dia teman SD Kak Dina?"


"Hmmm." Sahut Medina singkat.


“Enggak usah dibalas kak, dia pasti mau bikin kakak marah tuh. Kakak kan lagi enggak enak hati, mending cuekin aja perempuan kayak dia yang seperti duri dalam hubungan orang lain.”


“Tapi kalau aku cuekin dia semakin jadi gimana?”


“Ya cuekin terus aja sampai dia bosan sendiri. Blokir aja langsung nomornya, dia itu kelihatan jelas niatnya apa kok ke kakak.” Ucap Mecca sembari mengunyah emping dari mangkok rotan di hadapannya.


Medina pun mengangguk pasti, saat jari jemari lentiknya mulai menuju pengaturan pemblokiran, Diana kembali mengiriminya pesan, membuat jari jemari Medina kelu saat membacanya. Tangannya yang tiba-tiba terasa lemas tak sengaja menjatuhkan ponselnya pada meja makan. Membuat Mecca terkejut dengan suarannya.


BRUUUUK


“Kenapa?” tanya Mecca bingung. Tanpa meminta persetujuan kakaknya, Mecca mengambil ponsel Medina dan melihat pesan masuk dari Diana. Di situ Diana menuliskan kata-kata peringatan serta mengirimi Medina sebuah foto yang menampakkan wajahnya dan Arjun dalam sebuah mobil.



Diana : “Demi kebaikan bersama lepaskan dia, Din. Bukankah Arjuna layak mendapatkan kebahagiaan daripada kesedihan?”


Usai membaca dan melihat gambar itu, Mecca langsung ingin memblokir kontak Diana yang keterlaluan baginya, namun tiba-tiba Diana melakukan tarik pesan pada seluruh tulisannya serta foto yang ia kirim pada Medina.


“Ih resek banget sih dia! Masa dia tarik pesan dong kak! Enggak bisa ditunjukkan dong ke Kak Arjun?!” Marah Mecca menunjukkan aplikasi obrolan Diana dengan Medina yang kini meninggalkan balasan dari kakaknya saja.


“Dia takut tuh kak kalau diadukan ke Kak Arjun! Hiraukan dia kak, dia itu cuma mau buat Kak Dina sama Kak Arjun pisah. Aku yakin banget, ini akal-akalan dia. Aku juga pernah kok dalam situasi seperti ini, tapi ternyata semua cuma salah paham. Ini ya kak, kalau bukan editan pasti dia nih yang curi cium. Percaya sama aku, Kak Arjun enggak gitu lah!” cerocos Mecca panjang lebar penuh kekesalan.


“Ta-tapi, kata-kata dia ada benarnya juga, Dik. Sepertinya Arjun terlalu banyak sedihnya kalau sama kakak. Gimana kalau foto itu benar? Gimana kalau perasaan Arjun ke aku memang sudah berubah?”


“Kakak-kakak, kenapa mikir gitu sih? Memangnya kenapa Kak Arjun harus berubah coba?”


“Mungkin karena dia enggak lihat ada masa depan dia sama aku. Aku tahu banget dia sudah pengen menikah, tapi aku yang selalu belum siap, mungkin aja dia sudah lelah sama penolakanku, lagi pula kata ayah jika kita enggak menikah sebaiknya kita pisah aja. Ya-ya mungkin aja ini jawaban dari Arjun ke aku?!” Medina berkata dengan suara yang mulai bergetar serta buliran air yang menggenang di pelupuk matanya.


Mecca menggaruk-garuk kepalanya yang tiba-tiba merasa gatal, tidak tahu harus berbuat apa kepada kakaknya itu. Rasa-rasanya Medina sangat sulit menerima ucapan positif di tengah hati dan pikirannya yang hancur saat ini.


“Kak, sebenarnya alasan kakak apa tolak Kak Arjun terus?”


“Kamu tahu alasannya Mecca.”


“Tapi kakak sendiri juga lihat kan perjuangan Kak Arjun selama ini? Lupakan saja yang lain-lain, pikirkan bagaimana perasaan dan perilaku Kak Arjun sama kakak, ikuti kata hati kakak. Bisa kan?” Setelah mengucapkan itu Mecca beranjak dari tempat duduknya, menepuk-nepuk lembut bahu Medina, lalu pergi membiarkan kakaknya itu merenungkan sendiri nasib hubungannya.


Mecca menaiki tangga menuju kamar, ia menutup permukaan perutnya dengan kedua tangan sambil menggerutu dan mengeluarkan sumpah serapahnya untuk Diana dan juga Arjun. Berharap dengan tangannya yang menutupi perutnya, ucapan itu tidak akan sampai ke telinga bayi dalam kandungannya.


Tak lama dari kepergian Mecca, Medina pun kembali ke kamarnya. Kamar yang terlihat gelap dan suram. Lagi-lagi Medina duduk di tempatnya semula meratapi kebodohannya. Ia kembali mengingat foto ciuman Arjun bersama Diana.


Hatinya sakit dan merasa tidak rela melihat bibir manis Arjun mendarat pada bibir wanita lain. Ingin sekali ia mendatangi Diana dan menarik bibir lancangnya itu yang telah mendarat pada prianya.


“Aku... Aku harus tegas! Aku enggak bisa begini terus, aku enggak bisa sembunyi terus!”


Medina menguatkan hatinya, mengambil nafas terdalam dan menghembuskannya secara perlahan. Paling tidak ia harus mencoba menenangkan diri dahulu sebelum mengambil keputusan terbesar.


Setelah dirinya cukup tenang, Medina kembali mengambil ponselnya. Masuk ke dalam aplikasi obrolan dan memilih nama Arjun. Medina mulai mengetik beberapa tulisan singkat lalu mengirimnya tanpa ragu.


Medina : “Malam ini bisa bertemu?”


Medina merasakan kegugupan yang tak biasa saat menunggu jawaban dari Arjun, butuh waktu 17 menit baginya untuk menerima balasan pesan dari pria yang dirindukannya itu.


Arjun : “Aku menggantikan jadwal temanku hingga malam.”


Medina membaca jawaban Arjun dengan lesu, namun kemudian ia menerima pesan baru dari Arjun yang membuatnya tersenyum kembali.


Arjun : “Tapi aku usahakan secepat mungkin pulang dan menemuimu, Bi.”


Medina : “Di restoran saja ya?!”


Arjun : “Oke, I LOVE YOU.”


Membaca pesan terakhir Arjun membuat Medina berdegup kencang, wajahnya pun mulai tampak berseri-seri.


"Apaan sih pakai di capslock segala?" ucap Medina malu-malu, namun sekelebat ingatannya kembali pada ciuman Arjun dengan Diana.


Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, mengusir segala pikiran-pikiran buruk yang bisa merusak hati dan pikirannya lagi.


“Jangan diingat lagi Dina! Lebih baik aku bersiap-siap ke restoran, aku harus kelihatan cantik dan fresh.” Gumam Medina berdiri lalu menatap pantulan dirinya di cermin. “Ta-pi... Apa iya mukaku kayak ikan buntal sekarang?” gerutu Medina menatap wajahnya dengan cermat, mengalihkan sisi wajahnya ke kanan dan kiri secara bergantian.


Rupa-rupanya ucapan Mecca sangat menusuk ke hatinya, membuat dirinya sedikit merasa tak percaya diri sesaat.


“Ah masa bodoh, the power of make up pasti bisa memperbaiki!”


Jari Author sudah keritingtingtingting nih readers, kepala nyut-nyutan cari inspirasi 😅 ayo di apresiasi kakak-kakak tersayang. Tak panggilin EMAK loh kalau cuma dibaca aja! 🤭