
Di ujung telepon Fadhil mulai melakukan pemesanan makanan untuk diantar ke kamarnya. Tak lama berselang Mecca keluar dari kamar mandi dengan sedikit merintih.
“Sssshhh... Sakit banget, jalan saja sulit." Keluhnya menahan perih.
Dengan segera Fadhil mendekati Mecca dan menggendongnya segera lalu mendudukkan Mecca pada tepi ranjang.
“Mas lihat nih, saat aku membersihkan area kewanitaanku masih ada sedikit bercak darah sisa tadi. Mas bar-bar banget sih, perlakuin aku brutal!” ujar Mecca sembari menjulurkan handuk putih yang terdapat sedikit noda darah.
“Masih sakit ya yank? Maaf ya." Ucapnya dengan nada menyesal. “Aku lemah lembut loh yank, waktu jebolnya saja agak maksa."
“Mas sepertinya aku pendarahan deh." Ujar Mecca khawatir.
“Puufftt... Hahaha... Pendarahan?” tanya Fadhil dengan tawa terbahak-bahak tak percaya kata-kata istrinya.
“Mas kok malah tertawa begitu sih, bukannya khawatir juga." Kesal Mecca cemberut.
“Maaf sayang, habis kamu lucu banget. Kamu pasti tahu juga kan, kadang gadis yang masih virgin bisa mengeluarkan bercak darah saat pertama kali melakukannya. Memang tidak semua, tapi rata-rata akan mengalami itu." Jelasnya lembut.
“Aku tahu mas, tapi aku kira darah yang keluar seperti luka gores saja. Ini nggak adil! kenapa cuma aku yang kesakitan sedangkan mas baik-baik saja." Kesalnya.
“Sayang, kamu kira membobol segelmu itu tidak menyakitkan? sakit tahu!" keluhnya.
“Tapi nggak sampai pendarahankan?” tatapnya tajam.
“Yank, saat selaput dara dirobek secara paksa wajar jika sedikit lecet. Nanti akan membaik dengan sendirinya."
“Ini bukan lecet mas! Memang mas tidak khawatir terjadi apa-apa di dalam tubuhku?”
“Ya sudah deh sini mas cek." Ujarnya sembari berjongkok di antara kedua paha Mecca dan ingin membukanya.
“Mas mau ngapain?” ujarnya melotot.
“Mau periksa pendarahanmu yank. Puufftt...”.
“Mas Fadhil nyebelin! Pergi sana!” usirnya mendorong Fadhil hingga lelaki itu terjatuh ke belakang namun tetap tertawa tepingkal-pingkal hingga berlalu masuk ke kamar mandi.
Setelah Mecca mengganti pakaian dan merapikan dirinya, tak lama kemudian bel kamarnya berbunyi, dengan segera Mecca membuka pintu.
“Selamat sore bu, saya mengantar makanan yang di pesan oleh Pak Fadhil."
“Oh begitu, ya sudah biar saya terima dari sini. Terima kasih ya." Ujar Mecca dan dijawab baik oleh petugas tersebut yang kemudian pamit pergi.
Aroma makanan menyeruak ke seluruh ruang kamar, perut Mecca kembali berbunyi saat tutup makanannya dibuka. Matanya mulai berbinar dan air liurnya seakan ingin menetes. Dengan segera Mecca letakkan 2 gelas orange juice dan 2 piring nasi goreng spesial itu di meja dekat sofa.
“Hmmm... Harum, sepertinya enak nih. Visualnya cantik sekali, ada selada dan acar, telur mata sapi, potongan sosis, dan 3 tusuk sate ayam beserta kerupuk. Aku nggak tahan, perutku lapar sekali. Makan duluan saja ah." Ujar Mecca berkali-kali menelan liurnya.
Beberapa saat kemudian Fadhil keluar kamar mandi sembari bersiul-siul, ia mencium aroma nasi goreng pesanannya menusuk tajam ke indera penciumannya.
“Hmmm... Enak nih." Ujarnya sembari menoleh mencari sumber aroma itu. Namun matanya mulai terbelalak saat yang ia dapati adalah 2 gelas dan 2 piring yang telah kosong tak tersisa.
“Yaaaaank, 1 porsi lagi punyaku!” kesalnya mengadu.
“Maaf mas sudah aku habiskan semua. Ini sebagai hukuman karena Mas menertawakanku. Selamat memesan dan menunggu lagi baby." Jawab Mecca dengan nada mendayu-dayu diikuti gerakan meraba perutnya yang kekenyangan.
“Tega kamu yank, aku kan juga lapar."
“Mas lebih tega."
“Ya sudah nggak apa-apa jatah makan mas kamu habiskan, sekarang harus ganti dengan jatah darimu, biar 3 hari mas nggak makan nggak masalah, asal selama 3 hari kamu nggak turun dari ranjang." Seringai Fadhil sembari mendekati Mecca.
“Mas jangan dekat-dekat. Aku masih sakit nih."
“Yank kalau mau nggak sakit harus terus-terusan melakukan supaya terbiasa."
“Mana mungkin begitu."
“Benaran mas nggak bohong, sini kalau nggak percaya." Fadhil pun kembali menggendong tubuh Mecca dan melucuti seluruh pakaiannya hingga polos dan menerkamnya sampai habis, terjadilah lagi hal-hal yang diinginkannya.
Setelah adegan horor 😏 itu selesai, Fadhil dan Mecca kembali bercengkerama sembari bersandar pada headboard ranjang.
“Mas lihat tuh gaunku kusut semua, aku malu kalau keluar dengan pakaian kusut parah begitu." Keluhnya menunjuk gaunnya yang telah berserakan di lantai.
“Tenang sayang." Sahutnya santai sembari mengambil ponselnya di nakas dan menelepon seseorang.
"Iz, tolong carikan gaun santai seukuran istriku, bawakan ke hotel 30 menit lagi." Perintahnya pada seseorang.
“Hebat banget kamu mas mau apa saja bisa."
“Suamimu memang hebat yank."
“Iya, hebat nyuruh!” ujarnya menyindir.
“Hahaha..." tawanya menggelegar.
“Mas aku boleh tanya?”
“Boleh, tanya saja."
“Mas sudah berapa kali melakukannya? Dengan berapa wanita?”
“Hah? Melakukan apa?”
“Seperti yang tadi kita lakukan."
“Ya ampun yank, tega banget kamu curigain aku. Sama kamu yang pertamalah."
“Jujur yank!”
“Benar nih?”
“Benar! Mau disuruh sumpah pakai apa saja aku juga berani kok."
“Tapi kamu kok hebat banget mas? Kayak pro, tahu banget caranya."
“Yank, hal seperti itu lakukan saja sesuai keinginan, ikuti naluri, gak usah gengsi, biarkan nafsu yang membimbing. Hahahaha."
“Oh gitu?”
“Iyalah, kenapa? Mau lagi?”
“Kamu kuat banget mas, nggak ada capeknya. Aku saja sudah kelelahan."
“Padahal aku yang banyak kerja, Bu Bos tinggal enak saja kan?”
“Lain kali aku akan biarkan nafsuku yang membimbing."
“Hahahaha... Asyik tuh, nanti malam ya."Ujarnya sembari mencolek pipi istrinya.
“Maaaaas!” geramnya penuh kesal.
“Iya deh besok pagi." Sahutnya santai dan dibalas tatapan tajam istrinya.
“Nanti kita ke rumah ayah ya mas. Ayah minta kita tinggal 1 minggu dulu di rumah, mau kan?”
“Oke." Sahutnya singkat. “Oh ya yank, kamu pakai parfum apa sih?”
“Hah, parfum? Aku nggak pakai parfum, lagian aku nggak punya."
“Loh, yang aroma chamomile itu apa?”
“Itu minyak telon, setiap selesai mandi sudah jadi kebiasaanku sejak kecil pakai minyak telon di seluruh tubuh."
“Serius yank? Jadi yang bikin aku candu tuh aroma minyak telon? Aroma bayi?” tanyanya tak percaya.
“Hmmm." Sahutnya singkat sembari mengambil pouchnya di nakas.
“Nih lihat, nggak ada parfumkan? Cuma ada baby powder, lip balm, lotion, sama minyak telon."
“Make up saja kamu juga nggak punya yank. Nanti aku belikan semua yank, tapi tetap pakai ya telonnya, aku suka."
“Ngomong-ngomong soal parfum, aku baru ingat kalau Kak Dina kasih aku hadiah, katanya sih parfum. Sebentar aku ambil." Mecca membungkukkan tubuhnya menggapai tas yang berada di laci nakas, hal itu membuat punggungnya yang masih polos tanpa sehelai kain makin terpampang.
Fadhil melihat punggung putih Mecca bagai magnet, ia secara langsung mendekati punggung Mecca dan merabanya, kemudian menghirup aromanya dalam-dalam, dan mencium tiap inci ruas tulang punggunganya.
“Nah ini dia!" ucap Mecca menghentikan kegiatan Fadhil.
Mecca dengan riang mengambil dan membaca note yang tertempel pada bungkus kado itu.
Ada 2 parfum untukmu,
Yang 1 semoga adikku suka,
Yang 1 lagi pasti adikku suka.
Begitulah isi note yang tertempel pada kertas pembungkusnya. Setelah membaca, tak butuh waktu lama bagi Mecca untuk membongkar kertas kadonya.
Di dalam terdapat 2 botol parfum dengan desain sederhana namun terlihat elegan. Setelah melihat 2 botol parfum tersebut, kemudian tawanya mulai terdengar.
“Kenapa? Ada yang lucu?”
“Parfum dengan aroma bunga sakura ini, parfum yang biasa di pakai Kak Dina. Aku suka memeluknya setiap dia pakai parfum ini. Dan diam-diam aku sering ke kamarnya untuk meyemprotkan parfum itu ke seluruh pakaian di lemariku. Walau setiap beli parfumnya cepat habis, tapi dia tidak pernah marah atau menegurku. Sekarang dia kasih parfum yang sama untukku pasti karena dia tahu kalau adiknya nggak bisa bantu habiskan parfumnya lagi." Ujar Mecca tiba-tiba merasa sedih.
“Jangan sedih ya sayang. Berarti Dina mau kamu selalu ingat dia lewat aromanya. Ayo coba yank buka parfum satunya, aku penasaran aromanya." Ujar Fadhil mengalihkan suasana.
“Wah, aroma teh mas. Aku coba ya." Ujar Mecca sembari menyemprotkan parfum barunya perlahan.
“Hmmm, aku suka mas aromanya. Ini aku banget sih. Kak Dina paling tahu deh kalau aku suka aroma alami yang fresh seperti ini."
“Aku juga suka yank, aromamu jadi makin bikin candu."
"Bagus dong, biar mas makin lengket." Ujarnya dengan wajah seimut mungkin. Hal itu membuat Fadhil merasa gemas dan menyerangnya dengan kecupan bertubi-tubi di kening Mecca.
“Ngomong-ngomong kamu makannya banyak juga ya yank, 2 porsi nasi goreng kamu habiskan sendiri." Ujarnya menyindir sembari menggeleng-gelengkan kepala menunjukkan ekspresi takjub.
“Iiiiihhh mas nyebelin!”.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.