
Setelah selesai melakukan berbagai macam treatment Fadhil dan Mecca bersiap untuk pergi ke rumah Ayah dan Papanya.
Fadhil memakai kemeja putih polos yang bagian lengan panjangnya di lipat hingga siku, kemudian 2 kancing teratasnya dibiarkan terbuka. Untuk bawahannya, Fadhil mengenakan celana chino panjang berwarna krem, tak lupa sneakers putih, serta jam tangan tag heuer special edition menghiasi pergelangannya.
Mecca terlebih dahulu selesai bersiap, ia menunggu Fadhil di sofa kamarnya dengan sabar. Fadhil memperhatikan Mecca yang tampil cantik seperti biasanya, entah sudah menjadi kebiasaan atau bukan kini ia mulai memotret istrinya itu melalui kamera ponselnya.
“Mas... Hobi banget jeprat-jepret. Lama-lama Aku jadi model beneran nih!” celetuk Mecca yang tersadar setelah mendengar suara kamera dari ponsel Fadhil.
“Yank dari dulu Aku memang sudah hobi foto-foto, tapi dulu foto diri sendiri. Sekarang ada istri cantik begini masa enggak boleh sih buat menuh-menuhin galeri di HP?”
“Iya-iya boleh banget Mas paparazi, tapi nanti dilanjut lagi ya, sekarang Kita berangkat dulu yuk suamiku yang tampan.” Cengirnya sembari melingkarkan tangan di lengan Fadhil.
“Aku paparazi?” tanyanya berbisik sembari mengarahkan telunjuknya pada dirinya sendiri dan dijawab anggukan oleh Mecca yang tertawa kecil.
Karena jarak rumah Pak Pradipta tidak jauh dari rumah Mecca dan Fadhil, tak butuh banyak waktu untuk Mereka sampai ke sana. Saat pintu pagar dibuka, tampaklah mobil porsche telah terparkir di halaman rumah Pak Pradipta.
“Wah... Kayaknya kenal nih sama tuh mobil.” Celetuk Fadhil seketika.
“Kayaknya Kak Dina ada yang ngapel nih Mas.” Ujar Mecca terkikik geli.
“Yuk kita ganggu Dia yank.”
“Ish... Jangan usil! Aku mau cepat-cepat punya Kakak ipar loh Mas!”
“Cari calon Kakak ipar yang lain saja yank! Kalau orang itu, aduh... Kasihan Dina nanti yank.”
“Ih... Apaan sih Mas? Kasihan kenapa?”
“Soalnya Dia agak korslet gitu deh.”
“Maaaaaas!” sungut Mecca menatap tajam.
Setelah memarkirkan mobilnya, Fadhil dan Mecca langsung masuk ke rumah Pak Pradipta. Walau terbilang sering bertemu, namun setiap Mecca mengunjunginya, Pak Pradipta seolah telah sekian lama tidak berjumpa, beliau akan sering menghujani Mecca dengan pelukan hangatnya yang dipererat.
“Hai Kak Arjun.” Sapa Mecca.
“Hai Mecca.” Jawabnya singkat.
“Loh Kak Dina mana?”
“Kakakmu sedang di kamar, datangilah Dia panggil ke luar.” Jawab Pak Pradipta sembari membelai rambut Mecca.
“Baik Yah.” Jawab Mecca berlalu menuju ke kamar Medina.
“Nak Fadhil dan Nak Arjun ngobrol dulu saja ya, Ayah mau ke kamar dulu. Sebentar lagi Mecca dan Medina juga pasti keluar.” Pamit Pak Pradipta dan dijawab baik oleh Fadhil dan Arjun bersamaan.
Setelah kepergian Pak Pradipta, Fadhil dan Arjun mengobrol ringan dan saling ledek seperti biasa.
“Sudah mulai berani ya ngapelin ipar gue.”
“Ngapelin apaan? Tiap kesini Gue ngapelin Om Dipta tahu!”
“Hahahahaa... Kok bisa?” tanya Fadhil sembari tertawa terpingkal-pingkal.
“Ketawa aja terus sampai puas! Males jadinya Gue cerita nih!” keluh Arjun dengan wajah kusut.
“Sorry Bro, oke deh Gue enggak ketawa lagi, ceritalah!”
“Bingung Gue Bro sama Dina, Dia seolah-olah tarik ulur gitu ke Gue. Kadang Dia nanggepin, tapi tiba-tiba juga cuekin Gue. Setiap didatangi kesini, Dia enggak pernah mau nemuin Gue, jadi ya ngobrolnya sama Om Dipta. Malah cocok sama Ayahnya duluan ketimbang Anaknya.” Jelas Arjun menggeleng-gelengkan kepala.
“Hahaha... Kan Gue sudah bilang waktu itu, Dina enggak suka sama Loe! Loe aja tuh maksa terus!” ujarnya meledek.
“Sial Loe, enggak ada empatinya sama sekali ke Gue, nyesel cerita kalau tahu begini!”
“Salah! Gue yakin Dia juga punya perasaan ke Gue, tapi entah apa yang ngebuat Dia untuk enggak bisa nerima Gue.”
“Justru kalau Dina sampai nerima Loe, itu judulnya jadi entah apa yang merasukinya!”
“Kampret Loe lemper abon!” ujar Arjun kesal sembari melempari Fadhil dengan bantal sofa yang dipegangnya.
Tak berselang lama, Mecca dan Medina pun telah berada di ruang tamu. Mecca duduk di dalam rangkulan Fadhil, sedangkan Medina duduk pada single sofa yang tidak jauh dari Arjun.
Tatapan mata Arjun terus mengarah pada Medina, berbanding terbalik dengan Medina yang selalu berusaha menghindari tatapan matanya.
Kegelisahan menyelimuti hati Medina, ia tidak pernah duduk sedekat ini dengan Arjun. Jantungnya mulai berdegup kencang tak karuan. Ia khawatir jika orang-orang di sekitarnya saat ini bisa mendengar ke berisikannya itu.
“Woi... Sudah-sudah! Lama-lama bisa bolong tuh Dina Loe lihatin melulu!” ujar Fadhil memecah keheningan.
“Biarin kenapa sih Bro, enggak bisa banget lihat Gue seneng dikit!” celetuk Arjun seadanya membuat pipi Medina memerah.
Kecanggungan antara Medina dan Arjun bagai tontonan lucu bagi Mecca dan Fadhil, melihat hal itu membuat Mereka semakin gencar melayangkan candaan usil kepada Arjun dan Medina.
“By the way, Kak Arjun sudah ambil cuti kerja belum?” tanya Mecca menyelidik.
“Belum sih, memang kenapa Mec?”
“Kak Arjun mau ikut Kita liburan enggak?”
“Kemana? Males ah kalau jadi obat nyamuk!” jawabnya enggan.
“Karena Ayah enggak ikut, jadi Kita senang-senang sama Kak Dina saja ya Mas.” Ujar Mecca kepada Fadhil, berpura-pura mengacuhkan penolakan Arjun.
“Mau Mec! Bisa banget cuti! Gue memang butuh liburan nih.” Ujarnya segera tak menyia-nyiakan kesempatan.
“Bagaimana Mas, boleh?” tanya Mecca pada Fadhil.
“Jangan tanya Dia Mec, please!” mohon Arjun dan hanya ditanggapi senyuman usil keduanya.
“Dik, kalau Ayah enggak ikut Kakak juga enggak deh.” Ujar Medina lembut.
“Enggak bisa, Kakak harus ikut! Tadi kan Kakak dengar sendiri kalau Ayah mau Kakak ikut liburan sama Aku, karena Kakak sering murung akhir-akhir ini. Nah siapa tahu kalau habis pulang liburan Kakak jadi lebih fresh hati sama pikirannya, apalagi ada Kak Arjun loh.” Goda Mecca sembari menggenggam tangan Medina.
“Apaan sih Dik, jangan usil deh.” Gerutu Medina malu dengan ulah Mecca.
“Loh Aku kan belum setuju yank mau bawa manusia ini atau enggak.” Ujar Fadhil menunjuk Arjun dengan tatapan mata dan bibir yang dimajukan.
“Oh iya ya Mas, Aku lupa kalau Mas belum setuju tadi.” Jawab Mecca dengan wajah menyesal yang dibuat-buat.
“Hei Kalian berdua jangan gitu lah sama Gue! Dasar pemberi harapan palsu alias PHP! Habis mancing-mancing soal cuti, terus ngajak-ngajak liburan, eh... sekarang malah pura-pura lupa. Dasar pasangan tega kalian.” Keluh Arjun kesal.
“Siapa juga yang mau ngajak manusia tukang ngedumel ya yank.” Ujar Fadhil membuang muka.
“Tapi kalau nambah orang lumayan loh Mas, bisa buat bantu-bantu bawa barang-barang.” Jawab Mecca acuh.
“Bener juga ya yank!” sahut Fadhil singkat.
“GUE BERSEDIA!” jawab Arjun menekan kata dan hal itu memancing tawa bagi Fadil dan Mecca, terkecuali Medina yang dengan sekuat diri menahan tawanya lepas.
**Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih**.