
ATTENTION : Mungkin dalam chapter ini ada kata-kata ataupun tindakan yang kurang pantas, harap readers bijak dalam membacanya.
---------------------------------------------
“Dari tadi kerja sambil makan melulu, tapi bekal dari mama kok enggak habis-habis sih, huufftt...! Baby, kamu bantuin bubu habisin bekalnya dong, bubu sudah melambaikan tangan ke kamera nih!” ujar Mecca mengelus lembut perut besarnya.
Hari demi hari restoran Mecca semakin ramai, apalagi saat bantuan Egy merekomendasikan restorannya tersebut, pengunjung restoran jadi semakin bertambah. Bahkan Mecca memperoleh tawaran penyediaan katering untuk makan siang kantor. Mecca dengan senang hati menerima penawaran tersebut, sehingga karyawan Mecca juga semakin bertambah.
Mecca sangat bahagia bahwa usaha yang dijalankannya melalui dukungan Fadhil ini dapat berjalan lancar dan diterima oleh umum. Mecca juga selalu mengingat jasa dan kebaikan Egy padanya untuk restoran tersebut, sehingga dia memiliki banyak peluang untuk lebih mengembangkan bisnis makanannya. Dengan itu pula Mecca dapat membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Ada rasa kepuasan dan kebanggaannya sendiri atas pencapaiannya tersebut.
Sedetik kemudian ada pesan masuk pada aplikasi obrolan Mecca, dengan sekali sentuhan ponselnya pun terbuka. Rupa-rupanya itu merupakan pesan dari Egy. Mecca memang cukup sering berkirim pesan dengan Egy, walau biasanya hanya sekedar menyapa dan bertukar kabar. Fadhil pun mengetahui hal tersebut dan tidak mengambil pusing tentang Egy, karena Mecca selalu menunjukkan isi-isi pesannya tersebut.
Egy : “ Hai calon ibu, apa kabar?”
Mecca : “Baik, kakak apa kabar?”
Egy : “Buruk! Aku sedang mengalami penyerangan.😞”
Mecca : “Hah? Penyerangan bagaimana?” tanya Mecca khawatir.
Egy : “Kondisi Karina jauh lebih baik.Di sini dia jadi terlihat lebih bahagia. Tapi amarahnya masih belum terkontrol, dia menyerangku.😖”
Mecca : “OMG, menyerang bagaimana?”
Egy : “Simple, aku hanya memakan ice cream satu-satunya yang dia simpan, hahaha... Dan dia memukulku dengan keras.”
Mecca : “Sabar ya kak, kakak pasti kuat!🤪”
Egy : “No! Cukup kesabaranku dengan kakakku itu, aku akan kirim pembalasanku ke dia lewat foto! 😈”
Egy : “Karina terlihat bahagia setelah merasakan gigitanku di tangannya bukan? 😂”
Mecca : “Hahahaha...Hati-hati, aku lihat dia sudah siap dengan cakarnya! 😅”
Egy : “Tidak akan aku biarkan! 😈”
Mecca dan Egy saling berkirim pesan selama 5 menit. Ya, mereka memang tidak pernah saling melakukan obrolan dengan lama. Egy juga sangat pandai menempatkan dirinya hanya sebagai teman, walau Mecca mengetahui perasaan Egy masih ada untuknya.
Beberapa kali Egy mengabari tentang kondisi Karina padanya dan Mecca benar-benar tidak menyimpan dendam pada Karina, rasa ibanya mengikis habis kemarahannya pada saat itu.
Kini Mecca hanya dapat mendoakan untuk kebahagiaan Egy dan Karina. Bagaimana bisa kedua kakak-beradik itu patah hati dengannya dan suaminya sekaligus. Takdir memang tidak bisa ditebak, dengan siapa kita bertemu dan dengan siapa kita berlabuh.
Tanpa terasa siang telah berganti sore, setelah kedatangan Medina ke restoran, Mecca langsung beranjak pulang dengan Pak Mali sebagai sopir sekaligus pengawalnya.
***
Sesampainya di rumah, Mecca melakukan perawatan tubuh dan massage yang selalu rutin ia lakukan tiap 2 minggu sekali sejak ia menikah.
“Aku tuh suka banget sama hasil kerjanya Mbak Sofia.” Ujar Mecca pada seorang tenaga ahli dari tempat spa langganannya.
“Syukurlah kalau Bu Mecca puas.” Jawabnya dengan senyum kebanggaan.
“Ah... Sayang banget mama sama suamiku enggak bisa ikut perawatan hari ini.”
“Oh iya ya bu, biasanya Pak Fadhil dan Bu Alisa ikutan. Tapi karena Bu Mecca bilang mau perawatan sendiri, saya jadi berdua saja kemarinya.”
“Iya mbak, suamiku masih sibuk banget. Mama juga hari ini bilang akan pulang terlambat karena hotelnya mau syuting iklan atau apa begitu, lupa saya.”
“Ehm, begitu.” Angguk-angguk Sofia paham.
Setelah 3 jam melakukan perawatan tubuh, Mecca menjadi terlalu lapar. Sejak kakinya terakhir bengkak saat itu, Fadhil melarangnya masak lagi karena khawatir Mecca akan sering berlama-lama berdiri di dapur. Jadi untuk tugas memasak makan malam, semua di serahkan pada ART sebelum mereka izin pulang.
Tapi lagi-lagi Mecca menggelengkan kepala saat melihat menu berbeda khusus dirinya. Rasanya Mecca sudah bosan makan-makanan dengan rasa yang tidak sesuai lidahnya. Pasalnya hanya dirinya yang memiliki makanan berbeda, sedangkan untuk Bu Alisa dan Fadhil dimasakkan menu yang lain.
“Baby juga bosankan makan-makanan seperti itu? Coba kalau semua juga makan-makanan yang sama, kita berdua pasti enggak terlalu tersiksa ya? Nah, bagaimana kalau hari ini kita cheating day? Tapi bantu bubu jaga rahasia ya?” seolah mengerti, bayi dalam kandungan Mecca menendang perutnya beberapa kali.
“Oke-oke cukup, sebentar bubu ke depan dulu.” Jawab Mecca sembari mengelus-ngelus perutnya.
Mecca berjalan keluar rumahnya hingga teras. Ia memanggil Alif, anak Pak Aang yang ikut bergantian menjaga kediamannya tersebut.
“Pak Alif, sini!” panggil Mecca dengan nada tinggi sembari mengayun-ayunkan tangannya.
Alif berlari menghampiri Mecca dengan terburu-buru.
“Iya nyonya, ada yang bisa saya bantu?”
“Pak Alif tolong belikan aku ketoprak di depan Komplek ya?”
“Ta-tapi, Bu Alisa pernah kasih perintah kalau...” ucapan Alif diinterupsi Mecca dengan segera.
“Kan enggak sering, baru kali ini juga saya minta tolongnya. Saya tiba-tiba pengen ketoprak, memang Pak Alif tega ngehalangin kepengenannya ibu hamil?” ujar Mecca mengiba dengan puppy eyes. Alif tak kuasa menolak bosnya yang tampak kasihan tersebut.
“Iya deh, mau beli berapa bungkus nyonya?”
“Yeay! Untuk aku belikan 1 ketoprak pakai telur dan cabainya 3 biji ya, terus belikan juga untuk Pak Alif dan lainnya yang ikut jaga di depan, ini uangnya.” Ujar Mecca sembari menjulurkan uang sebesar seratus ribu rupiah.
“Baik nyonya, terima kasih sebelumnya.” Pamit Alif dengan segera. Mecca menatap kepergian Alif yang telah menaiki motornya.
“Semoga ketopraknya ada ya sayang, semoga Pak Alif enggak lama-lama belikannya. Mama sama kamu kan sudah lapar banget ya?” gumam Mecca dengan nada suara dibuat-buat.
Setelah beberapa saat menunggu kedatangan Alif, Mecca menerima satu bungkus ketopraknya, dan memberikan kembalian uang itu kepada Alif.
Dengan tidak sabar Mecca pergi ke meja makan dan membuka satu bungkus ketoprak pesanannya pada piring rotan. Mecca mulai menelan air liurnya yang mulai menetes. Dengan cepat Mecca mengambil sendok di hadapannya lalu membaca doa.
"Bismillahirrahmanirrahim. Selamat makan, Baby! Hap!" lahap Mecca dengan suapan besar.
***
Bu Alisa keluar hotel dengan mengendarai mobilnya seorang diri. Fadhil sering menawarinya sopir pribadi, namun Bu Alisa juga sering menolaknya dengan alasan sudah biasa mengendarai mobil sendiri.
Dalam 15 menit perjalanan, Bu Alisa merasakan ada sesuatu yang aneh dengan salah seorang pengemudi di belakangnya. Ia seolah-olah mengejar mobil Bu Alisa dengan kecepatan yang mengimbangi.
Tak lama kemudian, ada satu mobil lagi yang berusaha mengimpit mobilnya agar mengambil bagian pinggir jalan, seolah ingin mengarahkannya untuk mengambil jalur yang berbeda.
“Apa-apaan sih dua mobil itu? Orang mabuk atau pengemudi ugal-ugalan? Kenapa dia ganggu aku sih?” gumam Bu Alisa dengan perasaan khawatir.
Bu Alisa berusaha untuk terus mengemudi di jalurnya, tidak ingin mengikuti arus dari gerakan dua mobil yang mengikutinya. Waktu seolah berjalan dengan lambat, keringat mulai bercucuran pada pelipis mata Bu Alisa.
Kekhawatirannya beberapa kali mengundangnya untuk menelan air liurnya dengan kasar. Tangannya mulai gemetar dan basah karena keringat. Dalam hati Bu Alisa berulang-ulang mengucapkan doa-doa keselamatan, memohon perlindungan kepada Sang Pencipta.
Itu adalah sebuah jalanan yang sepi dan gelap, hanya lampu jalan berwarna kuning yang berjarak saling berjauhan sebagai penerangannya. Melihat kondisi jalan yang tampak kosong, bahkan perumahan warga pun tak terlihat, membuat jantung Bu Alisa semakin berdegup kencang.
“Ya Allah, tolong beri perlindungan-Mu.” Ucapnya berkali-kali dengan bibir bergetar.
Beberapa saat kemudian salah satu mobil mendahuluinya dan melakukan gerakan pemblokan di depan mobilnya. Dengan sigap Bu Alisa mengerem mobilnya dengan cepat, hingga dirinya terantuk pada setir mobil di hadapannya.
“Aaww... Sssshhh...!” keluhnya sembari meraba dahinya.
Ada sekitar 2 pria bertubuh tinggi dan kekar yang keluar dari mobil di depannya, sedangkan mobil lainnya ikut memblok jalan samping Bu Alisa. Setelah seluruh orang keluar dari kedua mobil itu, Bu Alisa menghitung satu persatu jumlah orang tersebut dan mengunci seluruh pintu mobilnya.
“Ya Allah, mau apa 5 orang itu? Kenapa mereka semua pakai penutup wajah? Perampok! Apa mereka perampok?! Hp! Iya HP aku mana ya? Tas, di dalam tas!” Ucap Bu Alisa panik sembari merogoh tasnya yang berada di bangku sampingnya dan menemukan ponselnya. Ia ingin sekali membuka pola ponselnya namun usahanya berkali-kali gagal karena sensor ponselnya tidak dapat membaca gerakan jari Bu Alisa yang basah karena keringat.
Sedetik kemudian pria-pria bertubuh tinggi besar tersebut berusaha membuka pintu dan menggedor-gedor kaca jendela mobil Bu Alisa dengan kencang, Bu Alisa yang terkejut dengan tindakan orang-orang tersebut tak sengaja menjatuhkan ponselnya.
Bu Alisa mulai menangis dan meraung ketakutan. Ia masih berusaha merogoh pada lantai mobilnya untuk mengambil ponselnya yang terjatuh, sesaat tangannya menyentuh ponselnya salah satu pria dari kelompok itu mulai merusak kaca mobil Bu Alisa dengan sebuah linggis.
“Aaaaakkkhhh!” teriak Bu Alisa sejadi-jadinya.
Bu Alisa tampak semakin ketakutan dan bingung, ia pun mulai berpindah posisi tempat duduk untuk menghindari kaca jendela yang mulai di rusak oleh salah seorang tersebut. Namun ketakutannya justru semakin bertambah kala kelima pria-pria itu mengelilingi mobilnya, menunjukkan bahwa tak ada ruang untuk dirinya dapat kabur.
Dengan tangan bergetar Bu Alisa berusaha membuka kunci ponselnya, usahanya menggunakan pola dan sidik jari selalu gagal. Berkali-kali ia berusaha membersihkan jarinya dari keringat, namun keringat baru akan langsung membasahinya.
Tak menunggu lama hingga para pria-pria tersebut memecahkan kaca jendela mobil dengan sempurna. Setelah mereka berhasil membuka kunci mobil, salah seorang dari kelompok tersebut menarik tangan Bu Alisa dengan kasar.
“KELUAR!” bentak pria itu lantang.
“Tidak! Jangan! Lepaskan!” isak Bu Alisa ketakutan sembari menahan tubuhnya dengan berpegangan pada kemudi mobilnya.
Dengan tidak sabar, pria tersebut menarik keras tangan Bu Alisa sehingga meninggalkan bekas kemerahan pada pergelangannya.
Tiga orang lain mulai menggeledah isi mobil Bu Alisa, mengambil barang-barang yang mereka anggap berharga. Mereka juga mengambil ponsel Bu Alisa dengan paksa, mematikan ponsel itu dan membantingnya dengan keras di jalanan beraspal lalu menginjaknya hingga hancur lebur. Bu Alisa yang melihat kejadian itu hanya dapat menangis terisak dan mematung, tak berani berbuat apa-apa.
Sedangkan orang lainnya mulai melucuti seluruh perhiasan yang dikenakan Bu Alisa. Mereka tertawa-tawa puas memperoleh banyak hasil jarahan.
“Bisa pesta besar kita hari ini, hahaha...!”
“Yoi! Mabuk lagi! Main perempuan lagi, hahaha...!”
“Garap dulu yang ini, baru kita cabut gengs!”
Begitulah kira-kira percakapan para perampok itu sembari menatap Bu Alisa dengan tawa menyeramkannya.
“Kalian sudah dapat semua yang kalian mau, sekarang lepaskan saya!” teriak Bu Alisa di tengah ketakutannya.
“Tugas utama kita bukan itu nyonya. Kita harus sedikit saja memberikan pelajaran pada korban kami baru tugas ini selesai!”
“Tugas? Apa maksud kamu dengan tugas?”
“Halah jangan banyak tanya!” ucap salah seorang pria lainnya sembari menampar keras pipi Bu Alisa berkali-kali hingga meninggalkan memar di kedua pipinya.
“Huhuhu... Kalian mau apa? Kenapa kalian berbuat hal ini ke saya?!” tangis Bu Alisa semakin membahana. “TOLONG! TOLONG!” teriak Bu Alisa putus asa.
“Hahaha... Mau minta tolong sama siapa? Di sini jarang yang akan lewat nyonya, Anda aman di tangan kami berlima!” ucap pria di hadapan Bu Alisa dengan tawa melengking kemudian memberikan perintah pada pria yang menggenggam tangan Bu Alisa dengan kode matanya.
Dalam sekejap pria itu menarik jilbab Bu Alisa, mengeluarkan gunting dari dalam sakunya. Bu Alisa yang masih bersikeras menahan mahkota muslimahnya melingkarkan kedua tangannya ke leher, mengunci jilbabnya agar tidak tersingkap.
“Wanita ini keras kepala, Bos!” ucap pria yang masih memaksa melepas jilbab Bu Alisa.
“Bego lu! Nangani wanita tua aja enggak sanggup! Sudah gunting aja sekalian sama kerudungnya!” perintah seseorang yang dipanggil ‘Bos’ tersebut.
Saat gunting itu mendarat pada jilbab berwarna salmon Bu Alisa, gerakan Bu Alisa yang mempertahankan jilbabnya justru membuat gunting tersebut melukai tangannya. Walau bukan luka yang dalam, namun tusukan ujung gunting itu mampu mengucurkan darah hingga mewarnai jilbabnya.
“Nah ketusukan! Coba kalau diam, kita bisa cepat selesaikan tugas ini dan pergi dari sini!”
“Tapi kamu mau apa memaksa membuka jilbabku?!” sentak Bu Alisa menarik penutup wajah pria tersebut.
Bu Alisa menatap wajah pria itu dalam-dalam hingga ia memperoleh pukulan pada matanya dan terjatuh di aspal jalanan.
“Wanita sialan! Berani-beraninya bikin onar! Sudah enggak sayang nyawa ya?!” teriak pria itu penuh emosi.
Melihat kejadian itu, 3 pria lainnya membopong tubuh Bu Alisa, membuatnya berdiri, dan menahan kedua tangan Bu Alisa ke belakang tubuhnya.
Ketika pria lainnya mau membuka jilbab Bu Alisa, dari kejauhan terdengar bunyi klakson mobil berkali-kali dengan nyaring. Membuat sekelompok itu menjadi panik dan masuk ke mobil mereka dengan tergopoh-gopoh, lalu menancapkan gas kencang sehingga membuat ban mobilnya berdecit.
CKIIIIIIT!
Suara decit mobil dan klakson mobil di belakangnya saling bersahutan menimbulkan bunyi nyaring yang menggema.
TIIIIN...! TIIIIN...! TIIIIN...!
Bu Alisa yang melihat mobil para perampok tersebut pergi, membuat kaki dan tubuh Bu Alisa lemas dengan tiba-tiba. Ia pun melorotkan tubuhnya ke aspal dan menangis kencang tak tertahan lagi.
“Huhuhuhu... Huhuhuhu... Huhuhu...” tangis Bu Alisa pecah.
***
Mecca berdiri mondar-mandir di pintu depan rumahnya, dengan cemas ia mencoba menghubungi Fadhil yang masih belum pulang dari kantor.
Mecca : “ Halo Mas Fadhil.”
Fadhil : “Iya sayang kenapa?”
Mecca : “Mas masih lama kerjanya?”
Fadhil : “Ini aku lagi di jalan pulang yank, kenapa? Ada mau titip?”
Mecca : “Bukan itu mas, tapi sudah jam 9 mama belum pulang-pulang juga. Aku khawatir, Mas!”
Fadhil : “Tenang sayang, mungkin sebentar lagi mama sampai rumah.”
Mecca : “Enggak mas, ini aneh banget. HP mama enggak biasanya mati, terus tadi aku sempat telepon asisten mama, tapi kata beliau mama sudah pulang seusai Shalat magrib. Mas, tolong kalau mas masih di jalan, keliling sebentar cari mama ya, mungkin ban mobil mama bocor atau apa gitu, dan enggak bisa telepon karena baterai ponselnya mati, bisa aja kan?”
Fadhil : “Oke-oke, aku keliling dulu ya sayang. Kamu istirahat aja dulu, kunci semua pintu, oke?”
Mecca : “Iya, hati-hati ya mas!” Mecca mengakhiri panggilannya dan menutup pintu lalu menguncinya.
“Ya Allah, mama di mana? Mama, Mecca khawatir, hiks...” isak Mecca tiba-tiba.
Ini Author sudah buat chapter panjang loh, apresiasinya bisa kali... ngevote, komentar, ngelike doang guys! Gratis loh 😎✌