AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 22. My World



Sesaat sebelum mengetuk pintu Fadhil mulai mengambil nafas dalam-dalam, ia tidak tahu akan menghadapi apa setelah ini.


Tanpa ia sadari, Mecca telah menunggunya cukup lama di ruang tamu. Mecca mulai membereskan tiap lembaran skripsinya saat ia mendengar suara mobil, ia ingin membuka pintu sesegera mungkin.


“Akhirnya datang juga kamu mas." Ujarnya masih merapikan beberapa lembar skripsinya di meja.


Tak lama kemudian ketukan pun terdengar, pada saat bersamaan Mecca telah berada di balik pintu memegang handlenya.


Tok... Tok... Tok...


“Assalamualaikum." Ucap Fadhil di balik pintu.


“Wa’alaikumsalam." Jawab Mecca dengan wajah cemberutnya.


“Mas dari mana saja? Ini sudah hampir jam 9 malam, aku khawatir tahu nggak!"


“Akhirnya mau bicara lagi sama aku?"


“Mas kok ngomong begitu sih?”


“Masa suami baru pulang sudah dicemberutin dan dicerewetin gitu?!" jawab Fadhil sembari melenggang pergi menuju tangga.


“Karena aku khawatir, aku kira Mas nggak pulang ke rumah Ayah."


“Kamu mengharapkan aku tidak pulang ke sini?”


“Mas jangan membalikkan kata terus, Mas tahu maksudku." Ujar Mecca mengikuti Fadhil dari belakang yang saat ini sudah berada di kamar mereka.


“Tadi siapa yang pergi tanpa pamit? Tadi siapa yang mogok bicara? Tadi siapa yang dibaikin malah ketus terus?”


“Iya, aku minta maaf. Tapi itu semua juga karena salah Mas Fadhil?”


“Salahku? Di bagian mana aku yang salah? Bahkan supaya istriku ini tidak salah paham aku buka pintu ruanganku lebar-lebar agar istriku bisa memantau dengan leluasa. Oh... apa karena Karina datang dengan pakaian seksi dan menggodaku? Please deh yank, yang lebih seksi dan lebih cantik dari dia banyak, sebelum aku menikah dengamu pun perempuan-perempuan selalu banyak melakukan trik jika di hadapanku, tapi aku selalu tegas menolak sikap mereka, masa saat aku sudah menikah malah genit? Aneh nggak itu?!" cerocos Fadhil panjang lebar menumpahkan keluhannya.


“Maaf Mas, aku nggak bermaksud menuduhmu genit atau nggak setia. Aku tahu Mas nggak melakukan apapun, bahkan Mas nggak menatap tubuh perempuan menyebalkan itu. Tapi aku kesal saat Mas Fadhil ngebiarin tangan perempuan itu membelai-belai paha Mas. Aku tahu dia mantan tunanganmu Mas, tapi kan sekarang aku yang jadi istri Mas Fadhil!" jawabnya dengan mata mulai berkaca-kaca.


“Ya ampun, aku langsung tepis tangannya tadi kok."


“Enggak, Mas tetap biarkan tangannya di paha dan Mas malah terbengong menikmati."


“Enggak begitu yank, aku langsung tepis tangannya beberapa detik setelah dia pegang aku, aku memang sempat terdiam karena pada saat itu aku melihat ekspresimu terlebih dahulu. Seram tahu, bikin aku jadi terpaku sesaat. Kamu sih langsung pergi, jadi nggak lihat tindakanku ke Karina." Jelasnya sembari memegang kedua lengan Mecca.


“Benar, Mas langsung tepis?”


“Benarlah, buat apa aku bohong? Aku cuma kecewa sama kamu yank, kenapa kamu nggak percaya sama aku? Mungkin saja kedepannya hal ini bisa terjadi lagi, entah di posisiku atau posisimu, aku harap kita bisa saling percaya satu sama lain, tidak mudah marah atau tercerai berai seperti ini." Ujar Fadhil penuh harap.


“Iya Mas, maafin aku ya. Aku kekanak-kanakan banget. Habis Mas Fadhil kan laki-laki pertama dalam hidupku, rasanya nggak rela kalau milikku disentuh orang lain." Ucap Mecca sedikit terisak.


“Yank, walau perempuan tercantik, terseksi, tersegalanya di dunia ini muncul di hadapanku, aku nggak akan berpaling dari istriku ini. Karena bagiku kamu segalanya, nih lihat nama kamu di hp aku." Peluk Fadhil menenangkan istrinya, sembari menunjukkan kontak Mecca di ponselnya yang bernamakan My World, seketika Mecca pun tersenyum bahagia.


“Nama Mas di hpku My Everything." Jawabnya dengan senyum merekah menghilangkan raut kesedihan di wajahnya.


“Mas sudah makan?”


“Belum, tadi sempat nyemil burger sih. Tapi masih lapar yank."


“Aku juga belum makan, aku nungguin Mas buat makan sama-sama."


“Ya ampun yank, harusnya makan saja."


“Bagaimana bisa makan, kalau suami yang ditunggu-tunggu nggak pulang-pulang, makin bikin pikiran kemana-mana." Ujarnya menyindir.


“Hehehe... maaf yank, aku lupa waktu, tadi aku kelamaan cari itu tuh." Ujarnya sembari menunjuk kantong biru yang tergeletak di lantai.


“Hah, apaan itu Mas? Buat aku?”


“He’em... Buka saja."


“Sogokan ya Mas biar aku nggak marah?”


“Kira-kira begitu."


Dengan antusias Mecca membuka tas kantong biru itu, wajahnya tampak terkejut tak percaya. Mecca melihat isi di dalamnya, tanpa sadar ia menutup mulutnya yang menunjukkan ekspresi kaget.


“Mas serius ini buatku?”


“Ya Tuhan, suamiku baik banget. Aku sayang Mas, Aku cinta Mas, Mas yang terbaik." Ucapnya penuh suka cita diakhiri dengan kecupan manis mendarat di bibir suaminya bertubi-tubi.


“Hahaha... Kamu suka yank?”


“Suka banget! ini tuh benar-benar impianku Mas. Tapi ini kan mahal banget Mas."


“Buat istriku ini apa sih yang nggak."


“Bisa saja cintaku ini."


“Buka semua yank."


“Mas kasih aku laptop dan hp keluaran terbaru ini? Ya ampun aku masih nggak percaya."


“Aku lihat laptop kamu ribet yank, mau dipakai saja harus colok kabel, hp kamu juga sudah lama tuh."


“Terima kasih banyak ya Mas, aku nggak tahu lagi harus balas gimana, Mas pengertian banget."


“Kamu tahulah yank gimana cara balasnya." Jawab Fadhil sembari menaik turunkan kedua alisnya dengan menunjukkan ekspresi wajah menggoda.


“Dasar Mas mesum!" sahut Mecca malu-malu.


“Mesum sama istri sendiri nggak apa-apalah."


“Iya deh, nanti beronde-ronde."


“Yes! Nggak bisa ditarik lagi ya."


“Hihihihi... Iyaaaa Mas." Cekikik Mecca.


“Mas ini tuh keren banget, layar laptopnya bisa di bolak-balik, bisa jadi kayak tablet, ada pen-nya juga, terus tipis banget, ringan deh. Aku suka banget Mas. Ukurannya juga pas, jadi dibawa-bawa tuh enak. Hp nya juga bagus banget, dua-duanya canggih. Kayaknya aku harus belajar pakainya nih." Cerocosnya antusias.


“Iya-iya sayang, alhamdulillah kamu suka. Kalau kamu sebahagia ini Mas lebih bahagia."


“Tapi kemahalan Mas."


“Nggak usah dipikirin! Aku juga mau kasih kamu ini yank." Fadhil menyodorkan sebuah kartu debit dan black card.


“Apa ini Mas?” Jawabnya sembari menerima pemberian Fadhil.


“Ini untuk peganganmu yank, kalau kamu ingin membeli sesuatu atau membayar sesuatu. Termasuk untuk bayar kuliah dan lain-lain kamu bisa pakai kartu debit ini, sedangkan untuk black card ini gunakan saat penting saja." Jelasnya lembut.


“Aku ambil kartu debitnya saja Mas, yang satunya ini tidak usah."


“Simpan saja keduanya, sandi kartu itu sama yank, tanggal pernikahan kita."


“Aku takut salah menggunakan Mas."


“Aku percaya istriku ini bijak, lagian kalau memang untuk kebutuhanmu aku justru senang kalau kamu gunakan pemberianku yank."


“Ya sudah kalau Mas memaksa. Thank you my everything." Ujarnya sembari memeluk Fadhil yang juga membalas pelukannya.


Mecca merapikan kembali kotak-kotak hadiahnya ke kantong biru, saat merapikan ia menemukan sebuah struk belanja. Dengan mata terbelalak serta membungkam mulutnya, ia menahan suara teriakannya.


“Haaaaah! Ya ampun Mas, laptop dan hp ini totalnya 50 juta? Laptop 32 juta, hp 18 juta? Mas...! boros sekali!" Ujarnya tak percaya.


“Sudah yuk yank kita makan dulu, lapar nih." Jawab Fadhil sembari menarik istrinya untuk keluar kamar menuju meja makan.


“Ta... Tapi itu...” ucapnya terpotong karena Fadhil telah membungkamnya dengan ******* bibirnya.


“Sudah yuk! Yeay-Yeay-Ye'Yeay... makan-makan." Sorak Fadhil ala anak kecil.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.


Terima Kasih.