
Dari kejauhan dering telepon pun berbunyi dengan nyaringnya.
Triririiing ... Triririiiing ...
“Dik Hp kamu di atas meja makan bunyi tuh." Ujar Medina sembari mengelap gelas yang telah dicuci.
“Eh... bukan Kak, itu punya Mas Fadhil. Aku tinggal ya Kak ke kamar." Ujar Mecca dijawab anggukan oleh Medina. Kemudian dengan segera Mecca mengambil ponsel Fadhil dan berjalan cepat menuju kamarnya.
Tanpa acara ketuk mengetuk Mecca masuk dan langsung menutup pintu. Di saat hampir bersamaan Fadhil baru keluar dari pintu kamar mandi yang berada di dalam kamar Mecca.
“Astagfirullah ! Ngagetin banget sih yank, tiba-tiba nongol di situ tanpa suara." Ujar Fadhil setengah kaget.
“Aku juga baru masuk Mas. Ini loh Hp Mas bunyi terus. Tadi ketinggalan di atas meja makan." Jawab Mecca sembari menyodorkan ponsel milik Fadhil.
“Dari siapa? Kenapa nggak diangkat saja yank?”
“Nggak ada namanya. Emang nggak apa-apa kalau aku angkat?”
“Ya nggak apa-apalah yank." Jawab Fadhil sembari mengotak-ngatik ponselnya.
“Terus nomor siapa itu Mas? Nggak di telepon balik?”
“Ini nomor memang aneh yank, sudah 1 tahun nomor ini tiap 1 bulan sekali pasti telepon. Tapi saat aku angkat nggak pernah mau ngomong."
“Kenapa nggak diblok saja Mas?”
“Biarinlah yank, dia nggak ganggu banget juga."
“Fans kali!" sahut Mecca ketus. Fadhil menyadari nada bicara istrinya mulai tidak senang.
“Ciee... cemburu nih?"
“Ih ngapain aku cemburu, nggak banget ah." Elaknya berbohong.
“Benar nih bukan cemburu?”
“Benar!"
“Tapi kok masih ketus?”
“Apaan Mas? Enggak! aku agak capek saja. Mau mandi dulu." Kilah Mecca sembari menabrak lengan Fadhil dan berlari menuju kamar mandi.
“Bareng yuk yank, aku rela mandi lagi nih." Teriak Fadhil.
“Nggak usah mimpi!” sahut Mecca dari dalam kamar mandi diikuti tawa Fadhil dari luar.
Sekitar 20 menit berlalu, Mecca mulai sedikit membuka pintu kamar mandi dan mengeluarkan kepalanya disela-sela pintu tersebut.
“Mas... Mas Fadhil. "Panggilnya lembut.
“Hmmm... Kenapa yank?” sahut Fadhil setengah merebahkan diri di ranjang.
“Tolong ambilkan handuk baru di lemari dong Mas, aku lupa tadi."
“Keluar saja yank, nggak usah pake handuk, langsung saja masuk selimut sini."
“Maaaas... jangan bercanda deh, aku mulai kedinginan nih!"
“Iya deh iya." Ujar Fadhil sambil mengambil handuk di lemari dan mulai mendekati Mecca. Saat tangan Mecca menjulur keluar untuk mengambil handuk dengan cepat Fadhil menggapai tangan Mecca dan menariknya keluar hingga Mecca menabrak dada bidang Fadhil yang keras.
“Mas jahat banget! masa aku di tarik-tarik gitu. Kalau jatuh gimana? lagian nih dada terbuat dari apa sih? sudah kotak-kotak kerasnya bukan main." Omelnya tanpa henti.
“Nggak mungkin aku biarin kamu jatuh yank, aku sudah prediksiin semua. Aku kangen kamu yank, kangen semua ini." Jawab Fadhil sembari menurunkan matanya melihat seluruh tubuh Mecca yang menggoda imannya.
“Mas memang nggak ada capeknya, waktu di hotel kita berkali-kali loh." Sahutnya sembari mengambil handuk di tangan Fadhil dan membelitnya di sebagian tubuhnya.
Fadhil tak menghiraukan cerocos Mecca yang mengeluh padanya. Seakan tak habis ide, ia mencoba memainkan trik agar istrinya mau menuruti keinginannya. Ia dengan sigap mengambil handuk kecil di lemari dan mulai mengeringkan rambut Mecca.
Mecca dengan kuat menahan handuk yang masih bertahan menutup bagian depan tubuhnya, namun bagian belakangnya telah polos terjamah oleh baluran minyak telon dari telapak tangan Fadhil.
Fadhil mulai memperluas jangkauan sentuhan telapak tangannya. Masih dengan posisi di belakang Mecca, Fadhil melakukan pijatan lembut pada kedua pundak Mecca lalu ke kedua lengannya sembari menelungkupkan wajahnya pada leher istri kecilnya dan menghirup aroma menenangkan itu.
Mecca mulai tergoda dengan perlakuan Fadhil, hembusan nafas Fadhil yang halus menyentuh permukaan kulit tubuhnya. hal itu mulai membuat tubuhnya kehilangan keseimbangan. Dengan sigap Fadhil menahan tubuh istrinya dengan tubuh atletisnya.
Tanpa berlama-lama Fadhil mulai menarik handuk yang masih dalam genggaman Mecca dengan perlahan, tanpa Mecca sadari ternyata pertahanannya telah runtuh, sudah tak ada kekuatan lagi dalam genggamannya tersebut.
Pijatan lembut Fadhil masih terus menstimulasi tubuh Mecca, hingga telapak tangannya terus terarah pada area sensitif Mecca. Tanpa sadar lenguhan Mecca terdengar lembut, membuat pria tampan itu tersenyum bahagia.
Pijatannya menekan dengan lembut dan berirama, memberikan tubuh Mecca kenyamanan dan sensasi menggelitik. Fadhil memperhatikan raut wajah puas dan pantulan tubuh istrinya yang indah pada cermin di hadapannya.
Fadhil mulai membalik tubuh Mecca berhadapan dengannya. Ia mendorong lembut tubuh istrinya itu ke dinding yang terletak di samping ranjang. Ia mulai mengambil minyak telon beraroma chamomile itu kemudian menunduk ke bagian bawah tubuh Mecca. Ia mulai benjongkok dan memulai pijatan lembutnya pada betis Mecca.
Pijatan demi pijatan Fadhil lakukan dengan baik, ia ingin memberikan kenyamanan pada tubuh istrinya yang sedari siang terus-terusan menerima gempurannya. Sebenarnya Fadhil merasa kasihan pada istri kecilnya itu, namun ia juga tidak dapat menahan hasratnya yang tak pernah padam itu ketika melihat istri kecilnya tersebut. Namun tiba-tiba...
"Mas Stop!" Mecca menahan tangan Fadhil yang terus menelusuri tubuhnya. Dengan segera ia mengambil handuk yang telah berserakan di lantai, lalu mengambil sesuatu dari lemari dan lacinya kemudian pergi dengan langkah seribu kembali ke kamar mandi.
"Loh, yank... kenapa?" tanyanya bingung sembari kembali berdiri dari posisi jongkoknya.
Tok... Tok... Tok...
"Yank, kamu kenapa? Ada yang salah?" tanya Fadhil sembari mengetuk pintu kamar mandi berkali-kali.
"Enggak apa-apa Mas, hari ini terpaksa libur dulu ya!" teriak Mecca dari balik pintu.
"Maksudnya libur?" tanya Fadhil masih heran.
Tak lama berselang, Mecca pun keluar dari kamar mandi, ia sudah menggunakan piyama satin berwarna salmon. Fadhil masih menatapnya bingung, masih dengan dahi yang berkerut dia memperhatikan baik-baik wajah istrinya.
"Aku ada salah yank?"
"Enggak Mas, tapi hari ini libur dulu ya pergulatannya." Jawab Mecca dengan wajah yang dibuat-buat sedih.
"Kenapa?"
"Aku lagi palang merah nih." Sahutnya singkat dengan mulut yang dimajukan.
"Maksudnya?" tanyanya masih tidak mengerti.
"Itu artinya selama 7 hari ke depan Mas Fadhil puasa dulu, karena aku sedang datang bulan." Jelasnya dengan perlahan.
"Hah? sekarang? yakin? kamu nggak bohongin aku kan yank?" ujarnya terkejut sekaligus kecewa.
"Iya sekarang, yakin, dan nggak bohong!" jawabnya pasti.
"Lihat! aku harus pastikan sendiri!" ujar Fadhil tak percaya.
"Eh... apaan sih Mas! sudah deh terima kenyataan saja". Ketus Mecca sembari meninggalkan Fadhil menuju ke ranjangnya.
"Nggak mau, 7 hari kelamaan, percepatlah yank." Rengeknya seperti anak kecil.
"Iiisshhh.... Ssssssstttt!" henti Mecca risih.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.