AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 73. Pretty Things Inside



Budayakan beri Like, Vote, Tips, sebelum membaca ya. Paling tidak sisihkan segelintir poin readers untuk mendukung novel ini. Jangan cuma di read doang! Meronta-ronta hati Author, kakak 😌


---------------------------------------------


Sepanjang perjalanan, Medina dan Arjun saling membisu. Suara lalu lalang kendaraan serta suara klakson yang bersahut-sahutan serasa tak terdengar di telinga keduanya. Dengan tatapan mata yang sama-sama kosong, membuat keduanya tak menyadari bahwa lampu lalu lintas berwarna merah itu telah berubah menjadi hijau.


Tok... Tok... Tok...


Ketuk pengemudi motor pada kaca jendela mobil Arjun. Dengan seketika Arjun terperanjat dengan debaran jantung yang tak karuan. Ia pun menurunkan kaca mobilnya dan menerima teguran keras dari pengemudi tersebut.


“Matanya dipakai dong! Tuh lampu sudah hijau dari tadi, macet tahu di belakang!” sentak pengemudi motor tersebut kemudian berlalu tanpa menunggu jawaban. Arjun pun menutup kaca jendelanya dan melaju dengan segera.


Sesampainya di restoran, Arjun turun dari mobil dan ingin menemani Medina di restoran. Dalam benak Arjun, ia berharap dapat membahas hal itu kembali dengan kepala jernih. Namun berbeda dengan Medina, ia menolak kehadiran Arjun untuk menemaninya.


“Kamu pulang aja ya, nanti enggak usah jemput. Ehm... Aku mau pulang sama ayah.” Ujar Medina dengan ekspresi datar.


“Aku jemput ya. Kamu kan biasa pulang malam Bi, kasihan ayah nanti loh.” Ujar Arjun dengan senyum tipis.


“Hmmm... Jangan! Kita jangan ketemu dulu ya beberapa waktu ke depan.” Jawab Medina dengan menggeleng-gelengkan kepala.


Arjun menggenggam tangan Medina dengan lembut, menatap matanya secara tajam, dan menunjukkan ekspresi yang menenangkan.


“Kamu pasti mau jauhin aku lagi kan? Kamu ingat enggak dulu aku pernah bilang apa ke kamu?” Medina mendongakkan kepalanya menatap Arjun dengan malu, ia pun dengan ragu mengangguk.


“Bagus kalau kamu masih ingat. Aku akan ulang kata-kataku saat itu lagi. Aku bilang, aku bisa terluka kalau kamu jauhin aku. Dan aku enggak akan berubah sedikit pun baik hati maupun sikapku ke kamu apapun yang terjadi. Jadi tolong jangan seperti ini lagi, Bi.”


“Mungkin kamu bisa seperti itu, tapi aku yang enggak bisa. Dan aku malu dengan perbuatanku tadi ke kamu, kamu pasti berubah pikiran tentang aku kan?” ujar Medina kembali menangis.


“Sssttt... Jangan nangis! Sini aku peluk.” Arjun menarik tubuh Medina ke dalam dekapannya. “Bagi aku kamu tetap Medina yang sama kok.”


“Tapi aku mau pulang sama ayah hari ini.” Ujar Medina kekeh sembari menjauhkan tubuhnya dari Arjun dan berlari ke dalam restoran. Arjun menjambak rambutnya kuat menatap kepergian Medina dari hadapannya.


***


Medina PoV


--------------


Aku berlari menjauhi Arjun yang terpaku di tempatnya. Dia tak ikut berlari mengejarku ataupun meneriakkan namaku. Bukannya aku berharap begitu, tapi aku hanya agak merasa kesepian, LAGI.


Aku menghapus sisa-sisa air mataku yang tak kunjung berhenti. Aku duduk di dalam ruanganku, merenungi kebodohanku yang terlalu menggila ingin ditiduri Arjun. Bukan karena benar-benar ingin, tapi aku hanya merasa takut kehilangan pria itu. Aku merasa dia berbeda, tapi sepertinya tidak.


Dia juga seorang laki-laki, beberapa kali aku melihatnya menyerangku dan ingin berbuat lebih padaku. Walau perlakuannya sangat lembut, tapi dia juga terlihat kesulitan menahan diri. Ya... Arjun juga laki-laki, dia juga pasti menginginkan tubuhku.


Mungkin aku memang picik, bukannya aku tak melihat keseriusannya dalam hubungan kami. Dia memintaku menikah, itu juga merupakan bukti keseriusannya kan? Tapi kenapa aku tidak bisa menjawab ‘IYA’ dengan lantang? Kenapa aku masih terjebak dalam masa lalu yang membuatku mudah pesimis dalam menjalani masa depan? Bodohnya aku!


Berulang kali aku mencaci maki diriku sendiri. Aku takut! Benar-benar merasa takut. Apakah aku akan kehilangan dia? Apakah dia akan jijik padaku? Apakah dia akan menatapku sebagai wanita rendahan? Aku menggelengkan kepala, mengatakan pada diriku sendiri bahwa Arjun bukanlah pria seperti itu.


Semua terbukti dari bagaimana dia mengingat janjinya padaku, janjinya untuk tidak pernah berubah baik hati maupun sikapnya. Walau aku melihat kekecewaan yang mendalam di matanya, tapi aku tidak dapat menjelaskan lebih padanya, paling tidak bukan sekarang.


Aku akan menghindarinya lagi, seperti yang aku lakukan dulu. Ya, mungkin dulu saat aku menjauhinya dia bisa merasa terluka, tapi mendengar kata-kataku tadi padanya, sepertinya dia akan lebih terluka jika memaksakan diri untuk menerimaku, menerima segala ketidakterbukaanku.


Apakah dia akan memperjuangkanku lagi? Gadis dengan banyak misteri, kesialan, trauma, dan kepahitan dalam masa lalunya? Mungkin lebih baik seperti ini, paling tidak Arjun akan bebas dari nasib buruk yang menempel padaku, seperti nasib buruk yang membunuh mantan suamiku dulu.


Aku pikir traumaku pada laki-laki sudah menghilang. Tapi sepertinya trauma itu masih bersarang di tubuhku. Aku masih merasa gemetar hebat dan dingin di sekujur tubuhku saat otakku berpikir untuk melakukan hubungan intim.


Aku pikir jarangnya kehadiran mimpi-mimpi buruk yang selama ini berulang di setiap tidurku, menjadi salah satu bukti bahwa trauma itu sudah pergi. Namun, saat kucoba dengan mereaksikan tubuhku pada Arjun getaran dan dingin itu masih menjalar dengan kuat.


“Maafkan Aku Arjun, lebih baik benci saja aku!” gumamku di sela-sela tangis.


Semalaman aku coba menyibukkan diriku dengan kegiatan restoran, berharap dapat melupakan mata penuh kekecewaan Arjun yang menatapku.


Restoran tutup lebih awal daripada biasanya, aku keluar dan mendapati mobil ayahku di parkiran. Rasanya hatiku kembali sedih, bukan pria tampan itu yang berdiri di sana menungguku.


Ya, mungkin memang salahku yang sudah melarangnya untuk menjemputku, tapi lagi-lagi hatiku yang egois berlawanan dengan mulutku. Padahal baru beberapa waktu lalu aku berharap Arjun lebih baik membenciku, tapi apa ini? Aku berubah lagi dengan mudah.


Hatiku mengharapkan keras kepala Arjun menepis laranganku dan tetap menjemputku. Hatiku yang egois berharap lelaki itu tetap memohon dan memperjuangkanku untuk tetap di dekatnya, tapi aku tahu Arjun juga punya harga diri yang besar sebagai pria. Buat apa dia harus mengiba pada wanita yang kasar sepertiku, yang terus mengusir dan menolaknya dengan mentah-mentah.


Keegoisanku benar-benar sudah di luar batas. Apa aku ini wanita gila? Yang lain dimulut dan lain dihati. Dengan seenaknya membuat sakit hati seseorang, tapi tetap mengharapkan untuk dikejar dan diperjuangkan.


Seolah diotakku ada dua kubu yang berlawanan, ada yang membela sikapku dan ada yang mencemoohnya. Kucoba menggeleng-gelengkan kepalaku berkali-kali, mengusir segala peperangan antara si baik dan si buruk dalam otakku yang berusaha menyugestiku.


“Kamu kenapa, Nak?” teguran ayahku seketika mengagetkanku.


“Dina agak pusing, Yah.”


“Istirahatlah kalau mau.”


“Tidak yah, rumah kita kan dekat dari sini.”


“Tumben tidak dijemput nak Arjun? Kalau tadi di jemput, dia pasti sigap memberimu obat yang tepat.”


“Oh... Ehm... Dia sedang ada kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan.” Bohongku pada ayah membuatku menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahku seketika. Ayahku hanya mengangguk-angguk paham dan berhenti membahasnya.


Setelah sampai di rumah, aku langsung merendam tubuhku, menenggelamkan seluruh bagian tubuhku ke dalam bathtup. Aku coba menahan nafas selama mungkin yang ku bisa, hingga membuat wajahku menjadi kemerahan.


Aku coba berdiri dan menyalakan shower. Aku bersihkan seluruh tubuhku dengan teliti. Aku usap bibirku, leherku, dan dadaku. Seketika aku tercekat, aku mengingat lagi sentuhan Arjun di bagian itu. Tubuhku bergetar dengan kuat, antara rindu dan traumaku yang kambuh.


Aku duduk bersimpuh di lantai kamar mandi dengan tangis yang terisak. Menenangkan pikiranku agar getaran tubuh ini juga dapat terhenti. Aku mulai berhitung dalam kepalaku, 3 menit, 5 menit, 7 menit, 10 menit, 13 menit. Getaran hebat di tubuhku menghilang di menit 13.


Aku berdiri dan menyelesaikan ritual mandiku dengan cepat, berusaha tak mengingat kembali sentuhan priaku di bagian itu.


Setelah berpakaian dan mengeringkan rambut lurusku, kurebahkan tubuhku di atas ranjang berwarna pastel kesukaanku. Aku menatap langit-langit kamarku dengan hampa, pikiranku melayang-layang tak tentu arah. Sudah 2 jam aku melakukan hal tersebut tanpa mengubah posisiku, hingga mataku menjadi berat dan tertutup tanpa sadar.


Hari masih teramat pagi bagiku, mungkin aku hanya tidur sekitar 3 jam lamanya, namun bel pintu rumahku sudah berbunyi berkali-kali. Aku coba membuka mataku dengan paksa, melihat jam dinding di atas pintu kamarku.


“Ah... Sudah jam 6 pagi. Siapa sih yang pagi-pagi begini bertamu?” kukerjap-kerjapkan mataku, menyesuaikan dengan cahaya di dalam kamar.


Aku mulai bangkit dari ranjang, keluar kamar, menuruni tangga, dan membuka pintu dengan segera. Mataku terperanjat melihat sosoknya yang kurindukan.


Pria dengan pakaian olahraga yang tersenyum manis menatapku. Dia menyodorkan sebuah kotak berwarna merah muda dengan goresan tulisan di atasnya. Aku membaca sekilas tulisan itu, ‘Pretty things inside’.



Ingin sekali aku meraihnya, tapi konsentrasiku beralih pada kedua mata priaku yang sembab, apakah dia menangis? Hatiku seketika sedih, tapi lagi-lagi aku menepis pikiran burukku. Ah, tidak! Itu pasti pengaruh mata yang baru bangun dari tidur. Ya, aku mengangguk pelan dan mencoba mempercayai dugaanku.


Sudahkah kalian semua memberi Like, Vote/Tips, isi komentar, Rate 5, menjadikan novel ini favorit, dan merekomendasikan novel ini ke teman-teman lainnya? Kalau sudah terima kasih ya. VERRY GOOD ⬇️