
Satu minggu telah berlalu, Keadaan Bu Alisa jauh lebih baik, bahkan memar dan luka di tangan serta wajahnya hampir 90% membaik. Bu Alisa juga sudah melepas perban-perbannya dan sudah kembali ke rumah Fadhil serta Mecca.
Mecca sering merasa iba ketika menatap bekas-bekas luka dan bengkak di wajah cantik mamanya tersebut. Walau hampir menipis, tapi guratan luka itu masih tampak di sana.
Bu Alisa terlihat tegar dalam menghadapi traumanya, bahkan ia acapkali tertawa lepas dengan candaan receh Fadhil yang terasa kaku. Fadhil dan Mecca sadar, jika tawa paksa mamanya itu semata-mata ia layangkan agar anak-anaknya tidak merasakan khawatir berlebihan padanya.
Walau dibalik tawa itu segurat ingatan mengerikan masih tampak pada sorot matanya yang berkabut. Tapi sering kali Bu Alisa gelengkan kepalanya, mengusir ingatan buruk yang mengerikan tersebut.
Sore ini Mecca, Fadhil, Bu Alisa, Pak Pradipta, Medina, Arjun, Mami Rita serta para pekerja di rumah Fadhil mengadakan acara liwetan di depan teras rumah. Acara ini diadakan untuk menyambut pulangnya Bu Alisa dari rumah sakit.
Di sana sudah terhampar panjang deretan menu khas liwetan hasil restoran Mecca. Awalnya acara liwetan ingin dilakukan dengan lesehan di lantai, namun dipindahkan di atas meja yang di susun memanjang sejajar dengan kursi kayunya. Hal ini dikarenakan mengingat kondisi perut besar Mecca yang pasti akan kesulitan jika harus berlesehan ria.
Di tengah senda gurau pada acara makan bersama itu, Bu Alisa tiba-tiba berdiri terperanjat merasakan sesuatu yang menyentuh kakinya dengan lembut.
“Hiiiiih!” teriakan Bu Alisa mengagetkan semua orang, membuat setiap mata tertuju padanya.
“Kenapa?” pertanyaan itu serentak terlontar pada semua orang yang khawatir.
“Ada sesuatu di bawah meja. Kaki mama ada yang sentuh.”
Mecca, Medina, dan Mama Rita serentak mengangkat kakinya takut, sedangkan yang lainnya berusaha melihat sesuatu yang menyentuh kaki Bu Alisa beberapa detik lalu.
Meong
Kucing kecil mengeong, menunjukkan jati dirinya.
“Hahahaha... Itu cuma kucing kecil, Ma! tawa Fadhil mengundang tawa semua orang.
“Usir mas, aku takut!” ujar Mecca yang masih mengangkat kaki, tidak halnya dengan Medina dan Mami Rita yang langsung menurunkan kakinya.
“Masa sama kucing kecil aja takut sih yank?”
“Iya nak, Mecca dulu pernah dicakar kucing waktu kecil. Jadi dia agak trauma sampai sekarang. Tapi anehnya sama kucing kecil aja, kalau yang besar dia malah biasa aja.” Jelas Pak Pradipta.
“Jauhin ih mas, aku takut!” rengek Mecca yang sudah mulai berkeringat.
“Kasihan dia.” Ucap Bu Alisa dengan sorot mata mengiba.
“Nah, bingungkan loe? Si mama pencinta kucing, si istri benci kucing!” kekeh Arjun menatap Fadhil yang kebingungan antara mengusir kucing atau membiarkannya.
“Terus gimana ini?” tanya Fadhil lagi.
“Buang-Rawat!” ucap Bu Alisa dan Mecca berbarengan dengan jawaban berbeda.
“Mama mau rawat?” tanya Mecca lagi.
“Eh... Enggak kok sayang, mama asal bicara tadi. Lagian kamu kan lagi hamil enggak baik kalau ada bulu hewan di rumah.” Senyum Bu Alisa menenangkan.
“Tapi kalau mama pingin banget ngerawat, Mecca i-iya deh eng-enggak apa.” Mecca mulai melunakkan ketakutannya.
“Enggak sayang, mama tadi cuma kasihan aja sesaat. Mama keingat sama Lulu, kucing mama dulu yang sudah enggak ada.”
“Iya sih, ini mirip Lulu.” Ujar Fadhil dan Arjun bersamaan.
“Tapi mama lihatin kucing itu terus kayak pengen sentuh. Mama boleh kok pelihara, tapi... Tapi dia enggak boleh masuk rumah. Nanti tempatnya dia dipisahin dari rumah utama. Gimana ma?”
“Beneran boleh begitu sayang?” mata berbinar Bu Alisa tampak bahagia. Mecca mengangguk sekaligus senang melihat ekspresi mama mertuanya tersebut. Ia harus menurunkan egonya terhadap kucing itu demi kebahagiaan mamanya.
“Terima kasih ya, Nak.” Bu Alisa memeluk Mecca dengan bahagia dan mengecupi pipinya bertubi-tubi.
Setelah mengucapkan rasa terima kasihnya, Bu Alisa langsung mencuci tangannya dan mengambil kucing itu untuk dibersihkan dan diberi makan.
“Mama mau ke mana? Makan dulu sini, Ma!” tegur Fadhil melihat mamanya telah mengangkat tubuh kucing kecil tersebut.
“Sebentar mama ke situ lagi, mama mau bersihkan Mumu terus kasih makan, baru mama kembali lagi.”
“Nyonya biar saya saja yang urus, nyonya di sini saja.” Ujar Bi Lia yang ikut mengejar Bu Alisa.
“Cepet bener kasih namanya.” Gumam Arjun menggeleng-gelengkan kepala.
“Gitu deh si Alisa, kalau sudah urusan kucing susah dikasih tahunya.” Celetuk Mami Rita mendapat anggukan Arjun dan Fadhil.
“Padahal acara liwetan ini dibuat untuk dia, eh yang punya acara malah lebih milih kucing, hahaha...” ucapan Mami Rita membuat tawa semua orang.
“Kalau gitu, mumpung yang punya acara lagi sibuk kita sikat habis aja ini, Mi!” ujar Arjun pada maminya.
“Iya kalau perlu kita rantangin langsung aja. Mumpung enggak masak di rumah.” Jawaban Mami Rita membuat Arjun tersedak malu, sedangkan yang lainnya masih setia dengan tawanya.
Medina dengan sigap mengambil gelas air minum Arjun dan menyuapinya sembari memukul-mukul punggung Arjun, berharap dapat meringankan tersedaknya.
“Pak Dipta, lihat deh anak kita. Mereka cocokkan? Kapan bisa dilamar?” pertanyaan Mami Rita kepada Pak Pradipta membuat Medina gantian tersedak.
Tingkah sedak-tersedak di antara Arjun dan Medina menjadi tontonan seru semua orang.
***
Mecca meminta Medina, Pak Pradipta, Mami Rita, dan Arjun menginap di rumahnya. Mecca ingin Mami Rita menemani Mama Alisa malam ini. Karena menurut Mecca, mamanya tersebut butuh teman mengobrol.
“Mi, terima kasih ya sudah mau menginap malam ini. Mecca harap mama bisa lebih happy kalau ada mami.” Ujar Mecca pada Mami Rita.
“Iya, tenang aja. Mami juga sudah lama enggak ngobrol banyak sama mamamu. Apalagi malam ini kita bisa sekamar, wah... Bisa panjang lebar deh ngobrolnya.”
“Tapi mi, ingat ya kalau ayah bahas papa, mami jangan sampai keceplosan. Ayah enggak tahu apa-apa soal itu.” Bisik Mecca pada Mami Rita.
“Beres! Tenang aja. Sudah kalian nonton sana, mami mau sekalian tanya-tanya ayahmu soal Medina sama Arjun, hihihihi...” tawa kecil Mami Rita membuat Mecca ikut tertawa geli.
Setelah melihat Mami Rita kembali bergabung dengan Pak Pradipta dan Mama Alisa di ruang keluarga, Mecca kembali ke mini theater rumahnya.
“Wah pada enggak nungguin aku ya? Kok sudah mulai aja nontonnya?” protes Mecca.
“Baru mulai yank, paling baru 3 detik. Ini pun masih iklan, sini-sini yank cepat duduk.”
“Jempot akoh dong kakanda!” ucap Mecca dengan nada dibuat-buat sembari menjulurkan sebelah tangannya.
“Ada apa gerangan, manja sekali adinda ini?” jawab Fadhil menerima uluran tangan Mecca.
“Sebelum anak kita lahir, bolehlah adinda bermanja-manja. Nanti kalau sudah lahir, kakanda lupakan adinda begitu saja!”
“Mana mungkin begitu tega kakanda pada adinda.”
“Berisik! Filmnya sudah mulai woi! Pada duduk napa? Malah buat drama siaran ikan terbang! Kalau suamimu sampai melupakanmu, hempaskan saja dia!” protes Arjun muak dengan drama pasangan suami istri itu.
“Apaan sih Be, malah ngelanjutin dramanya mereka?” tarik Medina pada lengan Arjun.
“Maaf Bi, ke bawa suasana, hehe...!” cengar cengir Arjun mendapat kekehan dari Fadhil dan Mecca.
“Mas, tidur yuk. Aku sudah ngantuk.” Bisik Mecca pada Fadhil.
“Ini filmnya 15 menit lagi selesai yank, enggak mau nunggu? Lihat sampai habis ya?” Mecca menggelengkan kepalanya, menolak tawaran Fadhil.
“Maaaas...” rengek Mecca kembali.
“Oke-oke yuk!” Fadhil dan Mecca langsung berdiri.
“Mau pada kemana?” tanya Medina menatap Fadhil dan Mecca.
“Ngantuk kak, kami duluan ya?!”
“Ya uda deh.” Jawab Medina singkat.
“Eh Dhil, kita nonton 1 film lagi boleh kan?” tanya Arjun pada Fadhil.
“Mau nonton 10 film juga enggak apa.” Jawab Fadhil sekenanya lalu pergi.
Setelah film pertama usai, Arjun kembali melihat-lihat deretan film lainnya yang akan ia tonton lagi.
“Bi, sudah ngantuk? Mau nonton lagi atau sudahan?”
“Belum. Be, sudah ngantuk?”
“Belum juga, kalau pun aku beneran ngantuk aku pasti bakal tetap bilang enggak, biar bisa lama-lamaan sama kamu, sayang.” Ujar Arjun mencolek pipi halus Medina.
“Bisa aja nih bwambwang!”
“Bisa dong maemuaaaahh.” Kecup Arjun ada pipi Medina.
“Terus mau nonton film apa lagi dong?”
“Tadi kan sudah action, sekarang Bi deh yang pilih.”
“Beneran boleh?”
“Boleh dong!”
“Yang ini film apaan sih, Be? Pernah nonton enggak?” Medina menunjuk satu film yang menarik perhatiannya.
“Belum pernah sih, tapi kayaknya action sih!”
“Ya sudah yang itu aja, Be.”
“Serius mau action lagi?” tanya Arjun dengan mata berbinar karena action masuk dalam genre film kesukaannya. Medina pun mengangguk membenarkan.
Awal film dimulai, sudah ada adegan ciuman panas yang ditampilkan.
“Be, beneran ini film action?” tanya Medina ragu.
“Kayaknya bener, Bi. Kalau salah berarti ini film lebih bagus dari action, Bi.” Jawab Arjun menelan liurnya kasar, masih menatap fokus pada layar di hadapannya.
Entah film apa yang mereka tonton, tapi film itu terlalu banyak adegan hot yang menegangkan area-area sensitif keduanya.
“Be, ganti aja yuk. Kita cari film yang lain.”
“Aku pengen begitu, Bi?!” Arjun mengabaikan permintaan Medina.
“Hah? Pengen apa?”
“Sudah lama enggak dicium begitu, Bi. Lihat deh, bibir aku sudah kering kerontang lama enggak dibasahi.” Jawab Arjun membelai bibirnya.
“Ppfffttt... Bibir berkilau kayak pakai lip gloss gitu dibilang kering!”
“Ih kamu ah enggak asyik!” keluhan Arjun mendapat kecupan kilat dari Medina.
Merasa gayung bersambut, Arjun pun langsung menyerang Medina dengan ciuman bergeloranya.
“Eeehmmmpphh.” Arjun membekam bibir Medina dengan lahap, tidak membiarkan sedikit pun pergerakan Medina di antaranya.
Di tengah keasyikan Arjun memagut candu Medina, ponselnya mulai bergetar tak henti.
Ddddrrrrrttt... Ddddrrrrrttt...
Arjun mengabaikan getar ponselnya, masih menyusuri bibir manis Medina dengan menggebu, namun Medina mulai mendorong tubuh Arjun untuk memberinya ruang.
“Be, HPnya getar tuh!”
“Biarin, ayo lanjutin lagi.” Arjun memonyongkan bibirnya kembali, namun Medina menutupnya dengan telapak tangan.
“Lihat dulu, siapa tahu penting.” Saran Medina sembari bangkit dari rebahnya dan duduk tegak.
Dengan terpaksa Arjun pun menyudahi aksinya dan ikut duduk tegak, mengambil ponselnya dan menatap layar kaca ponselnya dengan dahi yang dikerutkan.
“Ngapain dia telepon malam-malam?” gumam Arjun pelan.
“Siapa, Be?”
“Diana.”
“Diana?” tanya Medina mengulang.
“Iya, Bi.”
“Loudspeaker boleh?”
“Boleh dong.” Arjun pun menerima panggilan Diana dengan mengaktifkan pengeras suaranya.
“Halo?” ucap Arjun memulai pembicaraan.
“Halo cintaku, sayangku, pujaan hatiku, aku... Ka-ngen ba-nget!” jawab Diana dengan nada suara mendayu-dayu dan sesekali terdengar cegukan dan isakan tangis di sela-sela ucapannya.
Arjun mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan ucapan Diana.
“Mabuk ya, Na?” tanya Arjun spontan.
“Iya, aku mabuk cinta sweetheart!”
“Oh cintaku? Sayangku? Pujaan hatiku? Sweetheart?” ulang Medina menatap tajam Arjun.
“Mabuk dia ini, Bi. Yakin aku!” toleh Arjun pada Medina dengan gusar.
“Terserah!” Medina bangkit dari duduknya, lalu pergi menjauhi Arjun dengan sedikit berlari.
“Biiii!” panggil Arjun dengan nada tinggi setengah berlari, mematikan panggilannya, mengabaikan Diana dengan seketika.
APRESIASINYA untuk novel ini dong para bwambwang dan maemuuuaaah tercintaaaah 💖 Biar makin semangat nih Authornya ☺