
Setelah bersenang-senang dengan ombak dan menikmati pemandangan matahari terbenam yang menawan, kini saatnya Mereka mengadakan acara barbeque bersama.
Di halaman luas depan Villa, Fadhil membuat api unggun. Sedangkan Mecca membuat minuman hangat dari beberapa rempah-rempah, Arjun memanggang daging sapi, jagung, dan udang galah, lalu Medina membuat salad dan beberapa saus yang cocok sebagai celupan pendamping barbeque.
Setelah semua telah siap, Mereka pun menyantap hasil buatannya dengan lahap. Perpaduan rasa nikmat makanan dan minuman, semakin lengkap dengan suara deburan ombak dan sejuknya terpaan angin laut.
Mereka menikmati saat itu dengan saling berbagi cerita, bercanda gurau, serta menyanyikan beberapa lagu ceria lainnya.
Setelah puas, Mereka pun memutuskan kembali masuk ke Villa untuk beristirahat. Semua pun saling pencar dan masuk ke kamar masing-masing.
Setelah membersihkan diri, Arjun mulai merebahkan diri di tempat tidur queen sizenya, ia pun mulai memainkan ponselnya. Seketika ia teringat hasil curi-curi fotonya pada Medina, ia ingin melihat sekali lagi hasil jepretannya itu.
Namun foto baru yang tak pernah ia ambil menjadi cover di salah satu album galerinya, ia pun penasaran dan membuka foto itu.
Betapa terkejut Dia mendapati gambar dirinya dan Medina secara apik diambil, sehingga menampilkan tubuhnya dan Medina berdekatan. Walau pada kenyataan, jaraknya dan Medina lumayan jauh pada saat itu.
Ia pun mulai tersenyum tatkala melihat judul foto tersebut bertuliskan ‘Hadiah untuk Kak Arjun’. Dia pun mulai tersenyum lebar dan menciumi ponselnya berkali-kali layaknya orang kasmaran. Kemudian ia mulai menjadikan foto hasil jepretan Mecca tersebut sebagai wallpaper layar ponselnya.
“Thank Mecca, calon Adik iparku yang baik, doakan Kak Arjun cepat ke pelaminan dengan Kakakmu ya.” Ujar Arjun girang menendang-nendangkan kakinya ke udara.
Beberapa saat kegembiraannya itu, Arjun mendengar suara-suara aneh dari kamar Fadhil. Ia pun mulai memasang telinga dan menempelkannya di dinding yang memisahkan antara kamarnya dan kamar Fadhil.
Suara desahan Mecca dan Fadhil saling bersahutan, membentuk irama kenikmatan. Siapa pun yang mendengar, pasti akan ikut merasakan panas-dingin yang menjalar di seluruh tubuh.
“Eh buset! Ternyata suara kucing berantem.” Ujar Arjun menjauhkan telinganya dari dinding kamar.
“Sialan Loe Dhil! Enggak peka banget sih sama makhluk jomblo di kamar sebelah!” keluhnya kesal.
“Ganggu waktu istirahat Gue aja Loe! Bikin panas kamar sini woi!” ucap Arjun sedikit berteriak. Ia berharap teriakannya dapat menghentikan aktivitas Fadhil dan Mecca.
Arjun pun memutuskan untuk keluar kamar dan membaca buku yang ia bawa di ruang menonton di lantai dasar.
Tak berselang lama, Arjun melihat Medina juga keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Ia tersenyum melihat Medina yang mengibas-ngibaskan tangan pada wajahnya yang sudah kemerahan.
“Keganggu sama suara kucing berantem ya?” tanya Arjun pada Medina dengan tawa kecil.
“Hah? Eh... Enggak, Aku mau ambil minum kok.” Jawab Medina mencari alasan.
“Oh kirain.” Sahutnya singkat.
“Kamu mau kopi?” tanya Medina menawarkan.
“Boleh kalau enggak ngerepotin!” jawabnya tersenyum.
Medina langsung menuju dapur membuat dua gelas kopi susu panas dengan tambahan marsmallow di dalamnya.
“Nih untukmu.” Ucap Medina sembari menyerahkan gelas kopi tersebut.
“Thanks ya Din. Duduk sini yuk!” ucap Arjun sembari menepuk-nepuk sofa di sisinya. Medina pun menuruti ucapan Arjun, ia duduk di satu sofa dengan Arjun namun tetap menjaga jarak.
“Baca buku apa?” tanya Medina basa-basi.
“Oh ini, buku psikologi Anak gitu.”
“Kamu belajar psikologi?”
“Enggak sih, iseng saja. Cuma buat tambah-tambah ilmu. Kamu suka baca juga?”
“Suka.”
“Suka buku-buku seperti apa?”
“ Sejauh ini sih, buku bacaanku buku hukum sama novel misteri dan kriminal gitu.”
“Berat ya bacaanmu.” Ujar Arjun dengan tatapan serius.
“Enggak juga.” Jawab Medina tersenyum kecil.
“Eh Din, Kamu suka nonton?”
“Suka.”
“Suka film apa?”
“Romance-comedy.”
“Kirain action atau misteri dan krimal lagi.” Ujar Arjun mendapat tanggapan senyuman dari Medina.
“Kamu sukanya apa?”
“Action sama fantasi gitu. Tadi Aku sempat lihat-lihat, di situ ada DVD player sama beberapa film. Mau nonton enggak?”
“Boleh.”
“Belum ngantuk kan?” tanyanya menyelidik dan ditanggapi geleng kepala oleh Medina.
“Pilih deh Din film apa yang Kamu suka, tapi sepertinya ini film-film lama.”
“Enggak apa nih nonton film pilihan Aku?”
“Enggak apa dong, kan kalau Aku enggak suka sama filmnya Aku bisa nontonin Kamu saja.” Jawab Arjun menggoda, namun diacuhkan oleh Medina.
Setelah lama melihat-lihat beberapa film-film yang menumpuk tersebut, pilihan Medina jatuh pada film dari negara Thailand yang berjudul First Love (A Little Thing Called Love).
“Ini kan film lama, Kamu belum pernah nonton?”
“Belum. Kamu sudah?”
“Aku enggak pernah nonton film Thailand, ini baru pertama kali.”
“Tapi Kamu mau? Atau cari yang lain saja?”
“Jangan! Yang ini saja, Aku juga mau nonton kok.” Jawab Arjun sembari mengambil kaset DVD tersebut dan mulai memasukkannya pada DVD player.
Beberapa menit film mulai berputar, dari awal adegan Mereka berdua sudah saling tertawa bersama.
“Lucu banget ya.” Ujar Arjun yang ditanggapi anggukan oleh Medina.
“Cantik banget pemeran ceweknya, mirip Kamu Din, tapi cantikkan Kamu sih.” Goda Arjun sembari tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putihnya yang rapi.
“Dialah yang lebih cantik.”
“Tapi bagiku Kamu nggak ada lawan. Kamu yang paling unggul dari segalanya.” Jawab Arjun menatap mata Medina dalam.
Seketika jantung Medina berdebar lebih cepat. Ia tidak menyangka, jika ucapan Arjun mempengaruhi hatinya. Tatapan Arjun membuatnya salah tingkah, kini yang dapat ia lakukan hanya mengalihkan pandangannya dan kembali menonton film yang tengah di putar tersebut.
Namun pengalihannya tidak berjalan mulus. Arjun dengan berani menggenggam tangannya. Tangan yang mulai terasa dingin dan bergetar itu.
“Din, Kamu mau kan kasih kesempatan Aku untuk lebih mengenalmu?” tanya Arjun sembari menggenggam tangan Medina tanpa izin.
“Ehm... A-Aku, entahlah.” Jawab Medina terbata-bata sembari melepaskan tangannya dari genggaman hangat tangan Arjun.
“Apa Aku tidak pantas untukmu?” tanya Arjun dengan nada merendah.
“Bukan itu, tapi Aku belum mau memulai hubungan dengan seseorang.”
“Kenapa?”
“Aku takut.”
“Takut kenapa?”
“Aku pembawa sial.”
“Hah? Maksudmu? Kenapa Kamu bicara buruk seperti itu tentang dirimu sendiri?”
“Aku belum bisa jawab sekarang.”
“Kapan?”
“Entah.”
“Kalau Aku bilang, Aku enggak peduli lain-lainnya selain Kamu, apa Kamu mau kasih Aku kesempatan lebih dekat sama Kamu?”
“Aku enggak yakin, Kamu akan tetap mau sama Aku!”
“Akan Aku buktikan! Ceritakan semua sekarang.” Ujarnya memohon.
“Aku belum siap.”
“Terus kapan siapnya?”
“Kita nonton lagi yuk!” jawab Medina mengalihkan pembicaraan.
“Kasih Aku kepastian! Kamu tahu enggak setiap hari yang ada di otak Aku itu Kamu. Hati Aku selalu gelisah setiap hari hanya karena rindu sama Kamu, Aku mau selalu ketemu sama Kamu. Tolong kasih Aku kesempatan, please!” mohon Arjun putus asa.
“Aku kembali ke kamar dulu.” Ujar Medina singkat lalu berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Arjun hanya dapat melihat Medina yang pergi menjauhinya tanpa kata. Ia hanya dapat mematung dan duduk terpaku melihat sosok Medina yang semakin hilang dari pandangannya.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Terima Kasih.