
Dear readers tersayang, apakah kalian merindukan updatenya novel ini? Sebelum kalian mendemo Author, Author akan sampaikan pembelaan diri dulu ya (Takut di cemoh 😂). Jadi Author meminta maaf sebesar-besarnya karena tidak update secara rutin sebelumnya, Author berterima kasih pada readers yang masih setia menunggu novel ini untuk up, Author juga terima kasih atas vote yang diberikan 😘 , like, dan juga komentarnya. Mohon maaf ya atas kemangkiran Author kemarin, karena keterbatasan gerak Author dalam mengetik. Mungkin karena terlalu banyak menggunakan jari jemari, pergelangan tangan Author mengalami peradangan, jadi harus diistirahatkan, so selama istirahat itu Author cuma bisa nyicil ngetik sedikit-sedikit karena masih nyeri. Mohon pengertiannya ya. ❤❤🤗❤❤ Nih Author kasih bukti, biar percaya 🤭😏
Percayakan???? Karena lihat masih ada yang vote, ada yang like, ada yang komen, Author harus semangat untuk kalian juga. Terima kasih semuanya 😘
---------------------------------------------
Langkah kaki tegas gadis cantik bertubuh semampai itu, menapaki koridor menuju ruang Presiden Direktur Grup A. Dengan pakaian serba branded yang menyilaukan, ia menatap tajam pada seorang wanita yang menyipitkan mata serta memiringkan kepala dengan bingung padanya.
Tanpa persetujuan, Rani membuka pintu ruangan Pak Permana dengan kasar tanpa memperdulikan panggilan dan larangan sekretaris Pak Permana yang mengejar serta meneriakinya.
“Bu! Maaf ibu ini siapa? Ibu dilarang masuk tanpa izin!” teriak Lina, sekretaris Pak Permana.
Rani mengedarkan matanya menatap ruangan kosong itu menyeluruh.
“Mana pimpinanmu?” tanya Rani ketus.
“Ibu ini siapa? Mohon melaporkan tujuan kedatangan Anda kepada saya terlebih dahulu.”
“Mana pimpinanmu? Aku tanya itu! Dengar tidak sih?!” bentak Rani dengan kepala mendongak dan sikap yang mendominasi.
“Sa-saya harus ta-tahu dulu tu-tujuan ibu, dan siapa ibu ini?” jawab gugup sekretaris Pak Permana yang mulai menciut dengan sikap Rani padanya.
“Aku siapa? Aku Nyonya Permana! Sudah paham?” jawab Rani mendelikkan matanya. Membuat Lina tertunduk lesu. “Jawab! Kok malah nunduk sih, Pak Permana ke mana?!”
“Pak Permana tidak mengucapkan apapun bu, hanya asistennya yang menghubungi dan mengatakan beliau mengurus masalah pribadi terlebih dahulu sebelum kembali ke perusahaan.” Jelas Lina dengan lemah lembut.
“Ya sudah kamu kembali saja di mejamu sana. Aku akan tunggu di dalam!” Rani masuk ke ruang Pak Permana tanpa menoleh dan menutup pintu itu kencang tepat di hadapan Lina.
“Ya ampun, serem banget sih! Enggak mungkin Pak Permana sama mak lampir kayak begitu, sedangkan Bu Alisa aja sudah kayak bidadari! Huuu dasar mak lampir tukang ngaku-ngaku!” sindir Lina menjulurkan lidah dari luar pintu. Namun, sesaat itu juga...
Ceklek
“Ngapain kamu masih di depan pintu pakai julur-julur lidah begitu? Kamu ngejek saya?” ujar Rani yang membuka pintu tiba-tiba.
“Ti-tidak bu, lidah saya kegigit tadi jadi saya cuma refleks saja.” Jawab Lina gugup membuat alasan dan langsung membenarkan posisi berdirinya.
“Ya sudah sana kembali ke tempat kamu! Tapi sebelum itu, aku minta teh hangat, cepat ya!” ujar Rani memberi perintah.
“Baik bu akan segera saya buatkan.”
Sekitar 15 menit kemudian, Pak Permana sampai pada koridor menuju ruangannya. Ia sempat melirik pada meja sekretaris yang tak biasanya kosong.
“Ke mana dia? Ckckck... Meja kok dibiarkan kosong begitu sih!” gumam Pak Permana menggeleng-gelengkan kepalanya.
Langkah cepatnya mulai mendekati dan membuka pintu ruangannya, hingga...
Ceklek
Mata Pak Permana langsung terpana melihat sosok gadis yang duduk pada sofa yang berada tepat di hadapan pintu ruangan. Rani menyilangkan kaki mulusnya yang terbuka dengan santai. Memosisikan tubuhnya senyaman mungkin dengan pose menggoda saat menyeruput tehnya yang masih mengepulkan uap.
“Dari mana saja om, aku nungguin loh.” Jawab Rani mengekori Pak Permana menuju meja kerjanya.
“Kamu ngapain kesini?”
“Mau ketemu sama om lah! Kangen...” jawab Rani dengan suara manja menggoda.
“Tahu dirilah kamu! Aku sudah mengusirmu, itu tandanya aku tidak mau melihatmu lagi.” Jawab Pak Permana sembari membuka-buka berkas di atas mejanya.
“Om, jangan seperti itu dong sama aku. Kasihan sama Fahri kalau aku tidak ada di sampingnya lagi loh. Bagaimanapun aku ini ibunya, ibu kandunganya! Please om, biarkan aku kembali ke rumah. Tidak apa-apa kalau om tidak menganggapku, tapi biarkan aku dekat sama anak kita ya?”
“Anak kita? Aku rasa Fahri cukup punya daddy-nya saja. Kemarin-kemarin bukankah kamu yang mengabaikannya? Sampai kamu terus bermain gila di belakangku? Ya memang benar sih kita tidak dalam ikatan pernikahan, tapi bukan berarti kamu bisa berbuat bebas juga seenaknya!” Pak Permana menatap Rani penuh kebencian.
“Om jangan begitu dong sama aku. Aku kan sudah minta maaf dan berjanji untuk memperbaiki diri. Kasih aku kesempatan dong om, jangan tega terus. Aku kan selama ini juga selalu menyayangi om, masa om mau membuangku begitu saja? Bukannya om sering bilang mencintaiku setiap kita berci*ta. Ke mana cinta itu sekarang?” ujar Rani dengan wajah mengiba. “Aku kangen banget sama Fahri dan aku yakin dia juga kangen sama aku, Om!”
“Sudahlah Rani, kamu jangan terlalu banyak alasan. Aku tidak akan mau mendengar ucapanmu lagi! Asal kamu tahu ya, aku akan rujuk bersama Alisa dalam waktu dekat ini. Fahri akan lebih baik jika memiliki ibu sebaik Alisa daripada denganmu!”
“Apa?! Apa maksud om bicara begitu ke aku? Aku menolak anakku dirawat nenek sihir itu ya! Bagaimanapun Fahri masih dalam hak asuhku, ingat kontrak yang sudah om tanda tangani denganku! Aku bisa mengajukan protes dengan surat perjanjian itu kan? Ah... Dan mungkin aku juga bisa buat berita untuk meramaikan media.”
Pak Permana tercengang mendengar ucapan Rani. Ia membatin dalam hatinya, “Bodohnya aku melupakan surat perjanjian itu! Aku tidak bisa membuatnya berbuat nekat nanti!”
“Begini saja, aku akan tetap memberikan kehidupan yang layak padamu. Aku akan menjamin segala kebutuhanmu, tapi lepaskan Fahri, jauhi dia, tinggalkan dia bersamaku dan Alisa.”
“Aku tidak mau nenek sihir itu dekat-dekat Fahri. Aku tidak mau om kembali sama dia lagi! Om sudah melewati batas dari perjanjian kita kalau om tetap ngotot! Pokoknya aku akan berbuat nekat ya kalau sampai om tidak memintaku kembali! Om tahu kan kalau aku tidak pernah hanya sekedar mengancam?!” Rani mengambil tasnya dan pergi dengan langkah cepat mengentak-entak.
“Huufftt... Dia terlalu berbahaya untuk aku lepaskan. Tapi sebentar lagi aku akan mengembalikan posisi Alisa. Aku harus apa?! Aaarrrrggghhh, sial!” ujar Pak Permana menggebrak mejanya. (Eh Pak Permana, emang Bu Alisa demen balik lagi? Hahahah... Nasib Anda dijari-jemari saya tahu!😏)
***
“Bu Kepala, kenapa saya dipindah dari membantu Dokter Arjun ke Dokter Rena?” protes Diana pada kepala perawat dengan nada dan ucapan yang menahan amarah.
“Loh, kan saya sudah jelaskan semua kemarin ditelepon. Kamu masih tidak paham juga?” ujar wanita berusia kepala empat itu.
“Bukan saya tidak mengerti bu, tapi alasan Dokter Arjun itu apa mengganti saya dengan Mirna?”
“Kalau soal itu saya tidak tahu, sebaiknya kamu tanyakan sendiri saja pada beliau.”
“Bu Kepala tidak tanya apa alasan Dokter Arjun meminta itu? Saya selama ini bekerja dengan baik bu, saya tidak merasa pernah melalaikan tugas selama bekerja.”
“Entahlah Diana, jangan protes terus! Sebaiknya kamu segera ke ruangan Dokter Rena! Saya juga sibuk, saya tidak bisa hanya terus mendengarkan keluhanmu terus pagi ini. Apa salahnya jika kamu bekerja dengan Dokter Rena sih?!” ucap Kepala Perawat menekan.
“Hmmpphh... Baik. Saya permisi.” Jawab Diana tersentak menahan nafas. Diana tiba-tiba terlihat loyo, merasa tertekan dengan ekspresi Kepala Perawat yang kelihatan tidak suka pada rengekannya.
Diana berjalan tanpa mood, wajahnya tertunduk lesu merasa tidak ada semangat.
“Biasanya setiap datang kerja, aku pasti selalu semangat karena bisa lihat wajah Mas Arjun, tapi sekarang...” gumam Diana terpotong karena berusaha menahan perasaannya yang kacau.
“Enggak! Aku enggak boleh menyerah, pokoknya nanti aku harus temui Mas Arjun. Mau minta maaf atau apapun akan aku lakukan, aku enggak boleh buat Mas Arjun memusuhiku.” Ujar Diana membatin, mengangkat kepala dari kertertundukannya.
Setiap menit yang berubah menjadi setiap jam membuat Diana semakin tidak fokus pada pekerjaannya. Diana berusaha mencuri-curi waktu demi mencari tahu keberadaan Arjun. Mengintai Arjun agar tidak lepas dari tangkapannya yang ingin ia temui segera.
Dengan memantapkan hati dan niat, Diana akan berusaha merendahkan diri untuk meminta maaf, memohon, dan mengikuti kemauan Arjun. Apapun itu asal Arjun dapat menariknya kembali menjadi asistennya. Paling tidak untuk saat ini melihat wajah Arjun dalam lebih dekat saat bekerja sudahlah lebih dari cukup bagi Diana, hanya itu dan tidak lebih.
Saat Diana melihat jam tangannya, ia menyadari jika waktu itu adalah saat Arjun menyelesaikan jam praktiknya. Diana pun mulai berjalan cepat menuju meja informasi.
Diana melihat Mirna yang tengah membantu melakukan penimbangan bayi di sana. Diana semakin mempercepat langkahnya, “Ah ada Mirna masih melakukan penimbangan, berarti Mas Arjun masih ada pasien nih, fiuh... Untunglah.” Gumam Diana mendekati Mirna.
“Hai, Mir.” Tegur Diana sembari berpura-pura melihat berkas pasien.
“Hai, Na.” Jawab Mirna dengan senyum dan tolehan singkatnya.
“Tumben jam segini masih nimbang bayi Na, lagi banyak pasien ya Dokter Arjun?” tanya Diana tanpa mengalihkan pandangannya pada berkas pasien yang dibolak-baliknya berulang kali.
“Justru ini pasien terakhir Dokter Rena, aku kebetulan lewat dan bantu saja waktu aku mengarsip berkas pasien. Dokter Arjun sudah pergi 15 menit lalu kok.”
“Hah?” Diana berbalik dengan cepat, menatap Mirna secara terkejut.”
“Kenapa sih? Ngagetin aja kamu, Na.”
“Eng-enggak apa, aku tinggal dulu ya.” Diana melangkahkan kakinya dengan cepat berharap dapat mengejar Arjun, namun langkahnya terhenti oleh tangkapan Mirna pada pergelangan tangannya.
“Mau kemana? Ini pasien Dokter Rena diurus dulu. Aku masih mau input laporan.” Ujar Mirna tanpa melepas pegangan tangannya.
“Nanti aku kesini lagi, aku lagi ada perlu sebentar.” Diana bersikeras untuk melangkahkan kakinya.
“Urus dulu pasiennya, Na. Kasihan bayinya sakit.” Mirna berucap dengan menekan dan berbisik lalu menyerahkan berkas pasien yang ada di genggamannya lalu meninggalkan Diana.
Diana menatap koridor rumah sakit dan menatap bayi serta orang tuanya secara bergantian. Rasa iba dan tanggung jawabnya harus berjalan lebih dulu dari pada masalah pribadinya, itu yang ada dipikirkannya sesaat.
***
Arjun telah berada di depan restoran Mecca, berdiri menunggu kedatangan Medina.
Medina yang menatap Arjun dari kejauhan berjalan mengendap-endap, ingin mengejutkan Arjun yang tengah asyik menatap jalanan.
“1...2...3...” hitung Medina dalam hati, lalu...
“BAAAA!” teriak Arjun lebih dahulu. Membuat Medina melompat kaget dibuatnya.
“Iiiiihhh... Dasar jahat!” Medina memukuli lengan Arjun berkali-kali disela-sela jantungnya yang berdegup kencang dengan ritme berantakan.
Buk... Buk... Buk...
“Hahahaha... Kok aku yang jahat? Tadi siapa yang niat mau ngagetin?”
“Iya, aku! Tapi kan aku enggak akan sekeras kamu ngagetinnya. Tadi suara kamu tuh bikin jantung aku mau copot tahu enggak!” kesal Medina bersedekap dan memunggungi Arjun.
“Ullu-ullu-ullu, jangan ambekan dong cantik, nang-ning-ning-nang-ning.” Arjun mulai menghibur Medina ala bayi-bayi gemas dengan gerakan tangannya. (Kalian tahulah bagaimana nadanya nang-ning ini 😅)
Medina pun mulai tertawa melihat kelakuan Arjun yang sama sekali tidak menjaga image-nya.
“Sudah ah Be, aku malu.” Medina mulai menggenggam tangan Arjun menurunkannya dari gerakan tarian-tarian menggelikan itu.
“Malu kenapa coba?”
“Malu, kamu kayak orang aneh joget-jogetnya.”
“Daripada aku joget India kan ribet, Bi. Harus cari-cari pohon, keliling sana sini, pakai nyanyi-nyanyi, terus harus nunggu hujan biar lebih menjiwai. Ribet bangetkan? Mending aku joget ala oma-oma nimang cucunya.”
“Hahahaha... Iya deh iya. Terus kamu kenapa enggak masuk? Malah cuma berdiri sendiri di sini?”
“Enggak apa-apa, aku cuma mau mampir sebentar lihat sayangku. Terus mau jemput mami di bandara.”
“Kamu enggak kerja?”
“Kerja, nanti sore. Yang jadwal ini teman aku nebus ganti jadwal yang kemarin itu loh.”
“Hmmm gitu, ya sudah sana jemput mami.”
“Memang kamu sudah cukup lihat akunya? Belum juga 5 menit akunya sudah di usir-usir sih? Nanti masih kangen loh...” Goda Arjun dengan colekan di pipi Medina.
“Ih apaan, setiap hari kan juga sudah lihat-lihatan, Be.”
“Tapi aku setiap hari lihat wajah cantikmu enggak pernah puas sih?”
“Gombal banget, malas deh!” Medina memutar kedua bola mata dengan senyum malasnya.
“Sampai jam berapa di restoran?” tanya Arjun merapikan anak rambut Medina.
“Sampai sore. Mecca tukar jadwal soalnya. Dia hari ini cek kandungan, terus ke kantor Fadhil. Sore Fadhil sama teman-teman kantornya mau ke restoran, katanya sih lagi ngadain acara makan bersama gitu.”
“Ehm... Ramai dong ya nanti malam.”
“Sepertinya. Ya sudah ih kamu sana jemput mami.”
“Iya deh. Tapi kuatin aku ya.”
“Maksudnya?”
“Semalam mami telepon aku, tanya ada apa antara aku sama Fadhil sampai Fadhil telepon mami malam-malam. Yang waktu kejadian itu loh, Bi.”
“Terus kamu jawab apa, Be?” Medina gugup mendengar ucapan Arjun, tanpa sadar ia membunyi-bunyikan unjung kukunya.
“Ya aku ceritain semua ke mami.”
“Semua? Bener-bener semua?” tanya Medina tak percaya. Arjun mengangguk dengan pasti mendengar pertanyaan Medina. “Terus mami gimana?” wajah Medina mulai menegang.
“Ya aku dimarahi habis-habisan. Mami kecewa sama kecerobohanku, mami mau nemuin ayah buat minta maaf dan cepat-cepat ngelamar kamu, Bi.” Jawab Arjun mencolek pipi Medina gemas. “Jadi enggak sabar pengen cepat-cepat deh, iiiihhh gemas.” Kecup Arjun sekilas.
“Apaan sih Be, dilihat orang loh nanti. Ya sudah sana pergi deh. Aku enggak mau mami tambah marah nanti karena lama nungguin kamu. Semoga mami enggak nilai aku sebagai perempuan...” mulut Medina ditutup cepat oleh Arjun.
“Enggak kok! Mami enggak gitu.” Arjun tersenyum sembari membelai puncak kepala Medina. “Ya sudah aku pergi dulu ya, bye sayangku. Doain aku ya supaya mami enggak lanjutin omelannya di mobil, mmuuuaaah...” Arjun melambaikan tangannya sembari mengirimkan ciuman jarak jauh pada Medina.
***
Sedari menjemput di bandara, wajah Mami Rita selalu saja mengerutkan dahinya. Arjun mencoba mencairkan suasana hening dengan memainkan musik favorit Mami Rita pada Audionya. Sambil sesekali melirik raut wajah maminya yang selalu tampak datar.
“Ehem... Ini lagu kesukaan mami loh, biasanya enggak tahan kalau enggak ikut nyanyi?” ujar Arjun menatap wajah maminya melalu sudut matanya.
Namun seolah menulikan telinganya, Mami Rita tetap diam tak berekspresi menanggapi anaknya itu.
“Cause I'm keeping you forever and for always. We will be together of our days. Wanna wake up every morning to your sweet face-always...” Arjun mencoba memancing respons maminya dengan menyanyikan penggalan lagu ‘Forever and for Always’ favorit Mami Rita. Namun lagi-lagi usahanya gagal, tidak memperoleh tanggapan yang ia harapkan.
“Mi ngomong dong, jangan diam aja. Mami kalau marah lagi sama Arjun silakan, Arjun terima kok. Hmmm... Daripada dicuekin mami gini.” Seketika Arjun melorotkan duduknya dengan posisi setengah melengkung sambil mengemudi.
Mami Rita mematikan musik pada mobil Arjun dan menegurnya dengan ketus, “Duduk yang benar!”
Mendengar maminya yang mulai buka suara, Arjun dengan seketika menegakkan duduknya mengikuti instruksi dengan cepat. Senyumnya kini sudah mengembang semakin lebar.
“Mami enggak nyangka anak yang paling mami percaya ternyata mesum sama perempuan yang belum menjadi istrinya!” ujar Mami Rita melirik tajam anaknya.
“Bukan mesum, tapi...” ucap Arjun terinterupsi.
“Tapi apa? Kalau Dina enggak sampai gemetar begitu kamu mau terusin sampai Dina hamil? Otak kamu dimana sih, Jun?!”
“Enggak gitu mi, tapi...” lagi-lagi ucapan Arjun terpotong.
“Enggak bagaimana sih? Semisal memang kamu hanya terbawa suasana dan tidak berniat untuk berbuat lebih, tapi kondisinya rumah itu kosong Arjun! Siapa yang enggak salah sangka? Bahkan kamu ketangkap Fadhil sedang berduaan dengan Dina. Malu tahu mami ini! Untung kamu enggak cerita yang kamu lakuin ke Dina sama Mas Harry, mau taruh dimana lagi wajah mami ini, Heh?!”
“Tapi kan Arjun memang serius sama Dina, Arjun tahu batasan kok. Walau begitu, tapi Arjun punya rem tersendiri.”
“Rem apa? Rem blong maksudmu?!” Arjun menunjukkan wajah bersalahnya yang kentara.
“Maafkan Arjun, Mi.”
“Makanya dari dulu mami bilang langsung saja nikahi Dina, kamunya bilang nanti-nanti terus sih! Bikin kesal saja kamu ini!” Mami Rita bersedekap dengan wajah ditekuk yang memerah karena emosi.
Arjun hanya terdiam menerima omelan maminya tersebut. Arjun memang tidak mengatakan pada Mami Rita, bahwa Medinalah yang belum siap dan sering menolak ajakannya dalam berumah tangga. Arjun selalu menutupi itu dan melimpahkan semua kesalahan pada dirinya sendiri, hingga dirinya tidak harus menyanggah atau mencari pembelaan apapun.
“Kabari Dina dan ayahnya, kita nanti malam ke sana!” Mami Rita menatap Arjun yang mengangguk padanya. “Paling tidak kalian bertunangan saja dulu. Mami belum selesai mengurus kakek yang sakit, mami pulang hanya sengaja untuk menyelesaikan masalahmu ini, setelah kalian bertunangan mami akan kembali lagi ke rumah kakek. Paling tidak kita menunjukkan niat baik terlebih dahulu.”
“Arjun ikut saja bagaimana keputusan terbaik mami. Terima kasih banyak ya, Mi.”
“Hmmm. Tapi ingat, kalau mami enggak ada di rumah lagi jangan aneh-aneh di rumah!”
“Enggaklah! Mana berani lagi!” Arjun menggeleng-gelengkan kepalanya cepat.
“Awas saja! Mami keluarkan kamu dari KK (Kartu Keluarga), enggak mami anggap anak lagi baru tahu rasa!”
“Ampun, Mi. Asal jangan dikutuk jadi batu ya, Mi.”
“Jadi kalau dikeluarkan dari KK masih boleh?” lirik Mami Rita mengancam.
“Enggak-enggak-enggak!” geleng Arjun dengan cepat. (gak-gak-gak kuat, aku nggak kuat sama playboy-playboy, eeaaaa auto nyanyi kan jadinya 😂)