
Di kamar yang sunyi itu, Medina mulai membereskan buku-buku tebalnya. Ia sedikit demi sedikit memasukkan buku-buku itu ke dalam sebuah kotak besar.
Seakan ingin mengubur cita-citanya, ia menyusun buku-buku itu dengan air mata berurai. Ia mulai menatap buku-bukunya dengan hampa dan meninggalkan sesak di hatinya.
Satu persatu buku-buku telah masuk ke dalam kotak berwarna merah itu, ia mulai menutup dan mendorongnya ke sudut ruangan.
Medina mulai beranjak dari tempatnya berada, dia berjalan sembari menghapus air mata kesedihan yang terjatuh. Dengan langkah perlahan ia mulai duduk termangu memandang keluar jendela kamarnya.
Cahaya matahari yang terik siang itu, menyeruak masuk ke jendela kamar yang gelap. Pikirannya melayang-layang, tatapannya hanya terfokus pada sebuah pohon besar di depan rumah yang pernah menjadi tempat favorit membacanya dulu. Tiba-tiba ketukan pintu mulai menyadarkannya dari lamunan.
Tok... Tok... Tok...
“Masuk!” ujar Medina sedikit meninggikan suaranya.
“Hai, Kakak sedang apa?” tanya Mecca diambang pintu.
“Hai, Dik. Sedang santai saja. Masuk sini!” panggilnya dengan gerakan tangan.
“Kakak sudah sehat?”
“Sudah! Kemarin Kakak hanya kurang istirahat. Jadi begitu banyak tidur kondisinya langsung pulih cepat deh.” Ujarnya tersenyum lebar.
“Kalau temani Aku ke supermarket dekat rumah Kakak kuat jalan nggak?” tanyanya dengan raut wajah memastikan.
“Kuatlah! Ayo! Kakak sudah bosan istirahat terus.” Ujarnya semangat sembari melangkah keluar kamar.
“Tunggu! Jangan ditinggal dong!” Jawabnya dengan nada manja.
Letak supermarket hanya membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit, jika berjalan kaki dari rumah Pak Pradipta. Waktu singkat itu Mecca pergunakan untuk mengenang masa kecilnya dengan Medina.
Mecca mengajak Medina bernostalgia sesaat. Ia berharap, canda tawa sembari berjalan bergandengan tangan seperti saat ini dapat membuat hati dan pikiran Kakaknya menjadi lebih baik. Ia ingin mengalirkan segala energi positif dan semangatnya untuk Medina.
“Kakak ingat enggak, dulu waktu kita kecil Aku suka sekali es krim. Saat aku sudah menghabiskan punyaku Aku tetap mau es krim punya Kakak. Tapi Kakak dengan baiknya kasih Aku jatah Kakak. Setelah Aku makan Es Krim itu, Aku malah jadi merasa bersalah. Akhirnya Aku berbagi lagi dengan Kakak. Eh... begitu Kakak makan Es krimnya, Kakak malah mengeluh sakit gigi karena ada sesuatu yang keras di dalam es krim itu. Ternyata eh ternyata... gigi Aku yang lama goyang malah copot tanpa Aku sadari dan masuk ke mulut Kakak, hahahaha...!” tawa keduanya lepas menggema.
“Kayaknya Aku sering kena sialnya deh, Dik . Tiap mau berbuat baik malah ada saja yang salah. Sama seperti kejadian main perosotan itu, huuufffttt...” keluh Medina dengan bersedekap.
“Hahaha... Iya-ya itu lucu juga! Waktu itu habis hujan, di taman depan rumah lama Kita becek dan berlumpur. Tapi Aku ngotot mau main perosotan, padahal Kakak sudah larang Aku terus. Tapi dasarnya Aku keras kepala, naik saja terus sampai atas, eh... enggak tahunya begitu sampai atas Aku malah ketakutan karena perosotannya terlalu tinggi...” ceritanya dengan segera terpotong.
“Terus, Kakak sok jadi motivator di bawah perosotan. Sambil teriak-teriak semangatin Kamu supaya lebih berani meluncur. Begitu keberanian Kamu terkumpul penuh, malah Kamu meluncur tanpa aba-aba dan nabrak Kakak sampai Kita berdua terjatuh. Tapi sialnya, Kamu tetap cantik bersih tanpa noda, Kakak malah yang mandi lumpur seluruh badan, hmmm...” terusnya sembari memutar kedua bola matanya.
“Hahahaha...” tawa Mecca terus terdengar tak berjeda.
“Enak ya, mendarat empuk dibadan orang lain?” tanyanya sembari memelototkan kedua matanya.
“Eeennnaaaak dooooong.” Jawabnya dibuat-buat sehingga membuat Medina mencubitnya gemas.
“Aaawww... Sakit tahu!” keluhnya mengadu.
“Rasain tuh, selama ini Kakak terlalu baik sama Kamu, tuh balasannya!”
“Iya deh, Aku enggak apa-apa dicubiti, asal Kakak tetap baik terus ya sama Aku.” Ucapnya manja sembari menyandarkan kepalanya di bahu Medina.
Kurang lebih 15 menit perjalanan, sampailah kedua Kakak beradik itu di sebuah supermarket. Dengan cepat Mecca dan Medina mengambil bahan dan barang yang tertera di daftar catatan yang Mecca tulis dan memasukkannya ke dalam troli.
“Belanja bahan makanannya banyak banget, Dik?”
“Iya dong Kak, hari ini kan Ayah undang Kak Arjun makan malam di rumah.”
“Iya sih Kakak tahu, tapi masa ikan, ayam, daging sapi, kepiting, cumi sampai dibeli semua?”
“Ya kan Aku enggak tahu selera Kak Arjun. Jadi mending masak saja semua.”
“Hmmm... ya sudah terserah Kamu saja!”
“Nanti malam Kakak dandan yang cantik ya."
“Emang kenapa?”
“Loh, kok kenapa sih! Kan mau ada tamu.”
“Tapi kan Dia teman Fadhil juga, Dik. Seperti biasa saja lah!”
“Ish... nurutlah Kak!”
“He’em.” Jawabnya singkat.
“IYA, cerewet!” jawab Medina menekan.
“Anak pintar.” Ujar Mecca sembari membelai pangkal kepala Kakaknya, diikuti lirikan tajam dari Medina.
Setelah kegiatan berbelanja keduanya selesai, mereka segera pulang ke rumah. Matahari terasa amat panas menyentuh kepala Medina, ia mulai berkeringat dan sedikit pusing. Mecca melihat Kakaknya dengan khawatir.
“Kakak kenapa? Sakit?”
“Terlalu panas, Dik. Cuma sedikit pusing.” Jawabnya sembari mengelap keringatnya yang deras.
“Yah, tadi Aku lupa bawa payung sih. Maaf ya Kak, masih kuat jalankan? Sebentar lagi sampai.”
“Tenang saja, Kakak enggak apa-apa kok.”
Sesampainya di rumah Pak Pradipta, Mecca segera memapah Kakaknya masuk ke kamar tamu, mendudukkannya di tepi ranjang, lalu menuangkan air putih di nakas dan memberikan langsung kepada Medina. Setelah meminum air putih, Medina dengan segera beranjak dari tepi ranjangnya, namun dengan segera pergerakannya ditahan Mecca.
“Mau kemana?” tanya Mecca menyelidik.
“Mau bantu masak.” Jawabnya polos.
“Pusing begitu masih juga enggak mau istirahat! Sudah baring saja ya, biar semua Aku yang urus.” Perintahnya tegas.
“Tapi...” ucapnya terpotong.
“Enggak ada tapi-tapian.” Jawab Mecca tak mau dibantah sembari melangkah meninggalkan kamar tamu.
Hari mulai sore, dengan bantuan Bi Mirah kegiatan masak-memasak itu pun segera di mulai.
“Bi Mirah bantu Aku kupas dan cuci bahan saja ya, nanti untuk urusan memasaknya serahkan sama Aku semua.”
“Baik non.”
“Kalau semua sudah selesai bilang ya Bi, Aku mau menanak nasi dulu.”
“Baik non.”
Mecca mulai mengambil beras, mencucinya di air mengalir, kemudian menanaknya pada rice cooker, tak lupa ia memasukkan 2 helai daun pandan yang telah di remas dan diikat ke dalamnya, lalu ia memasukkan air dengan takaran yang tepat dan menekan tombol cook.
Setelah memasak nasi, ia mengambil ponselnya dan mengirimkan beberapa pesan singkat pada Fadhil.
Mecca : “Mas, hari ini enggak ada meeting yang sampai selesai malam-malam lagi kan?”
Fadhil : “Enggak yank, why?”
Mecca : “Kan nanti ada Kak Arjun makan malam di rumah Ayah, mas lupa?”
Fadhil : “Ingat sayangku.”
Mecca : “Ingatkan lagi Kak Arjun ya Mas, jam 7 makan malamnya.”
Fadhil : “Siap Nyonya Fadhil.”
Mecca : “Love you my everything 😍😘❤.”
Fadhil : “Love you too my world 😍😘❤💜.”
Pesan singkat itu pun berakhir diikuti senyuman manis dari sepasang suami istri tersebut.
“Permisi Non, saya sudah kupas dan cuci bersih semua bahan.” Ujar Bi Mirah lembut.
“Terima kasih Bi.” Jawab Mecca mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Bi Mirah.
“Let’s cook!” ucapnya meninggikan suara menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.