
Hampir dua minggu berjalan, Faiz dan Fadhil telah menyelesaikan segala pekerjaan dan tanggung jawab yang ada dengan sangat baik.
Setelah melayangkan surat pengunduran dirinya beberapa hari lalu, dewan tertinggi dengan cepat mengadakan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham).
“Siap , Iz?”
“Siap bos!” jawab Faiz mengacungkan jempol.
Dengan langkah mantap Fadhil memasuki ruang rapat yang telah dipenuhi oleh anggota dewan.
Kini Fadhil telah berada di ruang rapat yang telah dipenuhi dengan para Dewan Direksi dan Dewan Komisaris. Di ruangan itu terisi sekitar 16 orang termasuk Pak Permana.
Setelah saling salam dan sapa, Faiz menyerahkan laporan kerja Fadhil serta salinan surat pengunduran diri Fadhil kepada sekretaris perusahaan.
Dengan saksama sekretaris perusahaan membacakan surat pengunduran diri Fadhil serta laporan pertanggungjawaban dalam tugasnya selama menjabat.
Ruangan rapat terasa hening dan dingin. Beberapa anggota dewan terlihat menggeleng-gelengkan kepala, ada pula yang beberapa kali menghembuskan nafas dengan kasar, dan beberapa lainnya menatap Fadhil dengan tatap tajam menyelidik.
Setelah pembacaan laporan selesai oleh sekretaris perusahaan, diskusi dan segala pertanyaan menuntut langsung tercurah.
“Pak Fadhil, apa sebenarnya yang membuat bapak ingin mengundurkan diri?” Ucap salah satu anggota dewan dengan dahi yang dikerutkan.
“Jika alasan yang disebutkan karena masalah internal tanpa menjelaskan secara detail, saya rasa untuk menerima surat pengunduran diri bapak kurang kuat.” Timpal anggota lainnya.
“Saya rasa itu alasan yang kuat untuk saya mengundurkan diri. Saya khawatir jika menjelaskan dengan gamblang permasalahan keluarga kami, hal ini akan membuat anggota terkait lainnya menjadi tidak nyaman.” Jelas Fadhil sembari menatap Pak Permana dengan datar.
“Saya mengerti bagaimana maksud dan perasaan Pak Fadhil. Tapi ini tentang perusahaan pak, sebaiknya Anda bisa lebih profesional dalam memisahkan masalah pribadi dan pekerjaan!” timpal anggota dewan lainnya dengan nada menekan.
Mendengar pernyataan salah satu anggota dewan tersebut, seketika ruang rapat terdengar suara serempak para hadirin yang membenarkan.
“Lagi pula jika melihat dari kinerja Pak Fadhil selama ini yang selalu dapat meningkatkan profit perusahaan, Hem... Sangat disayangkan jika kami sampai menyetujui keputusan bapak yang mungkin hanya karena bawaan emosi sesaat.” Salah satu dewan komisaris ikut memberikan suara.
“Saya sangat mengerti maksud dari segala pertanyaan dan kekhawatiran para dewan sekalian, tapi dalam memutuskan pengunduran diri ini saya dengan sangat sadar melakukannya. Tidak ada suatu tekanan atau bawaan emosi sesaat apapun.”
“Dan saya khawatir jika tetap memaksa bertahan bekerja di sini akan membuat performa kerja saya semakin menurun. Bukankah pekerjaan yang dilakukan setengah hati bisa memberi dampak besar bagi perusahaan? Saya yakin para anggota dewan tidak akan senang jika saya melakukan pekerjaan dengan seenaknya dikemudian hari bukan?” sambung Fadhil menjelaskan alasan pengunduran dirinya.
Sesaat setelah mendengar penjelasan Fadhil, ruangan rapat menjadi sedikit riuh oleh diskusi dan perbedaan pendapat. Dua kubu dengan pro dan kontra terbagi dengan seimbang.
Karena tidak menemukan titik terang, akhirnya para dewan memutuskan untuk menanyakan kepada Pak Permana mengenai pendapatnya atas pengunduran diri Fadhil yang juga merupakan anak kandung beliau.
“Lalu bagaimana menurut pendapat Pak Permana mengenai permintaan Pak Fadhil ini?” tanya anggota dewan lainnya.
“Menurut saya, sebaiknya pengajuan pengunduran diri Direktur Utama dapat disetujui. Karena bagaimanapun juga kepentingan perusahaan harus tetap menjadi prioritas. Saat seorang pemimpin telah menyatakan ketidakmampuan dan tidak kompetennya dalam menjalankan perusahaan dengan optimal, maka sebaiknya kita tidak mempertahankannya menduduki posisi penting di perusahaan.” Jawab Pak Permana dengan santai, namun memberikan tatapan menantang pada Fadhil.
Mendengar jawaban Pak Permana, suasana di dalam ruangan kembali riuh. Akhirnya para anggota dewan meminta Fadhil untuk menunggu di luar ruangan rapat sampai keputusan bulat dapat diambil. Dengan langkah ringan Fadhil serta Faiz keluar dari ruangan tersebut.
Sekitar 15 menit Fadhil dan Faiz menunggu di luar ruangan, ada sedikit rasa gugup yang terlihat di raut wajah Faiz. Berkali-kali ia mondar-mandir di depan Fadhil dengan panik.
“Kamu ngapain Iz? Kayak setrikaan tahu enggak, pusing aku lihatnya!” tegur Fadhil heran.
“Bos tidak gugup?”
“Enggak tuh.”
“Saya gugup banget bos.” Jawab Faiz bersedekap menyembunyikan tangan dinginnya.
Tak berselang lama, Fadhil pun kembali dipanggil untuk memasuki ruangan rapat. Di dalam sudah terlihat wajah-wajah tegang para dewan. Fadhil pun mengambil kembali posisi duduk awalnya.
Melihat semua para anggota RUPS telah berada pada posisinya, sekretaris mulai menaiki podium dan membacakan hasil keputusan RUPS.
Dari hasil itu telah diputuskan bahwa Fadhil akan mengalami pemberhentian sementara dari segala tanggung jawabnya di perusahaan. Keputusan akhir akan kembali diberikan setelah tim audit menyelesaikan pemeriksaan laporan kerja Fadhil selama menjabat sebagai Direktur Utama.
Dalam jangka waktu kurang atau lebih dari 30 hari, Fadhil akan menerima keputusan akhir dari para Dewan Komisaris, Dewan Direksi, dan juga para pemegang saham Grup A dalam RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa).
Setelah keputusan dibacakan, beberapa dewan ada yang menampakkan wajah kecewa dan beberapa anggota lainnya tampak puas dengan keputusan tersebut.
“Anggap aja cuti panjang, lumayan jadi punya waktu buat bangun perusahaanku sendiri.” Gumam Fadhil pelan di telinga Faiz.
Satu persatu para anggota dewan meninggalkan ruangan rapat meninggalkan Pak Permana dan Fadhil yang masih duduk di tempatnya semula. Faiz pun menyadari situasi dengan tanggap, ia pun ikut keluar ruangan dengan segera.
“Kamu akan menyesal membuat keputusan seperti itu. Papa yakin kamu tidak akan bisa hidup di luar dari kekuasaan serta kemewahan dari nama besar Permana dan Grup A. Sikapmu terlalu ceroboh anak muda!” ujar Pak Permana dengan sikap meremehkan.
“Saya rasa tidak ada yang salah dengan keputusan yang saya ambil. Paling tidak saya meninggalkan semua ini setelah menyelesaikan seluruh tanggung jawab perusahaan. Dan... Harta, kekuasaan, kemewahan, atau pun jabatan tinggi tidak akan membuat saya gelap mata. Lebih baik kehilangan semua dan memulai dari awal dengan kerja keras daripada mempertahankan semua tapi kehilangan... KELUARGA!” jawab Fadhil dengan formal menekan kata di akhir kalimatnya.
Kata terakhir Fadhil seakan menohok Pak Permana. Semua itu terlihat dari tatapan sinis dan dengusan beliau yang membuang wajah ketika itu.
“Anak kemarin sore tahu apa sih!” ujar Pak Permana mengakhiri obrolannya dengan Fadhil sambil melangkah pergi.
Fadhil dan Faiz kembali ke ruang Direktur Utama untuk membereskan barang-barang pribadinya yang ada di sana.
Nindy melihat Fadhil dengan tatapan tak mengerti, beberapa kali Fadhil melihat Nindy mengerutkan dahinya dan sering menghembuskan nafas keras.
“Kamu kenapa, Nin?”
“Pak Fadhil benar-benar sudah pasti dengan keputusan ini?”
“Iya pasti dong Nin, masa main-main? Sudah! Daripada kamu di sini cuma ngelihatin saya terus, lebih baik kembali ke meja kerjamu lagi dan pindahkan semua jadwal ke Wakil Direktur.” Perintah Fadhil pada Nindy. Sesaat itu pula Nindy meninggalkan ruangan tanpa kata.
“Saya kagum sama bos.” Ujar Faiz yang masih memasukkan beberapa barang-barang ke dalam kotak berwarna hitam.
“Kagum kenapa?”
“Ya kagum saja. Bos itu berani mengambil keputusan besar seperti ini. Padahal posisi dan karier bos kan sudah nyaman di sini.”
“Itu bukan posisi nyaman, Iz. Tapi beban tanggung jawab yang harus aku pikul bahkan sebelum lahir.”
“Hahaha... Iya juga ya. Terus rencana selanjutnya apa bos?”
“Ya kita ke perusahaanku besok. Kita temui Malik dan ngobrol-ngobrol dulu sambil susun rencana buat pengembangan perusahaan.”
“Bos mumpung lagi jadi pengangguran sementara begini, kasih saya libur 1 hari saja bos.”
“Pengen banget libur?”
“Siapa sih bos yang enggak suka libur?”
“Ya sudah boleh.”
“Serius bos?”
“Iya serius! Tapi libur selamanya!”
“Ya ampun kejam banget sih bos...” ucap Faiz lesu.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!
Terima Kasih.