AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 10. Lamaran



Bagai tersambar petir, Mecca dan Fadhil merasakan kaku di sekujur tubuhnya. Hal yang tak terduga di luar dari rencana kini membuyarkan segalanya. Entah hal apa yang mengubah keputusan Pak Permana hingga membuat perjodohan baru seperti ini.


“Bagaimana Dhil? Kamu bahagiakan sekarang?” tanya Pak Permana menggoncang keterpakuannya.


“Hah? Ap-Apa pa?” tanya Fadhil tak fokus.


“Kamu ini kenapa? Kok malah jadi bengong begitu?”


“Hah? Ah... Enggak pa, ini ehm... Itu... Fadhil masih kaget sama perubahan keputusan papa." Ujarnya dengan terbata-bata.


“Papa rasa Mecca memang jodoh yang sangat pantas untukmu, tapi belum tentu kamu pasangan yang pantas untuk Mecca. Semua itu tergantung usaha kamu meluluhkan hati Om Dipta agar lebih yakin untuk menyerahkan putrinya untukmu. Kamu tidak dengar tadi Om Dipta bilang sepertinya setuju, nah... bisa jadi berubah pikiran juga." Ujar Pak Permana sembari menyenggol lengan kiri putranya.


“I-iya pa." Sahut Fadhil sekenanya.


“Ayah mau tahu sebenarnya sejak kapan kalian menjalin hubungan? Bukankah kamu telah berjanji pada ayah untuk tidak memikirkan hubungan antara wanita dan pria sampai lulus kuliah nanti?” tanya Pak Pradipta mulai menginterogasi Mecca.


“Tidak yah, Mecca tidak melanggar janji. Sungguh... ayah harus percaya sama Mecca. Sebenarnya begini yah...” ucap Mecca diinterupsi tanpa permisi.


“Biar saya yang menjelaskan om." Jawab Fadhil menyela, ia tidak ingin jika gadis cantik di hadapannya itu akan membongkar kebohongannya dengan polos.


“Silakan nak, om mendengarkan."


Kemudian Fadhil menceritakan kepada Pak Pradipta dan Pak Permana dengan lancar dan sedetail mungkin tanpa ada satu hal pun yang luput dari ingatannya, tentu saja semua yang diceritakan adalah kisah buatan Mecca.


Gadis di hadapannya pun hanya terdiam tak berdaya, ia merasa jika cerita yang ia karang pasti tidak akan melukai hati ayahnya, lagi pula ia juga sudah berjanji akan membantu Fadhil.


“Hahahaha... Wah... luar biasa kamu nak, bisa-bisanya tahan menolak dan membiarkan pria hebat ini menunggu." Ujar Pak Pradipta bangga karena putrinya tidak melanggar janji sembari menepuk-nepuk bahu Mecca dengan lembut.


“I-iya yah, kan Mecca sudah janji sama ayah." Senyumnya tersungging dengan terpaksa.


“Lalu bagaimana Mas Dip? Kapan lamaran sebenarnya bisa dilakukan?” tanya Pak Permana antusias.


“Apa tidak sebaiknya menunggu Mecca lulus kuliah mas? Masih ada setengah tahun lagi kira-kira." Ujarnya memberi saran.


“Ah... Tidak-tidak mas, terlalu lama. Bagaimana jika dalam minggu ini saya mengajukan lamaran, dan seminggu kemudian baru pernikahan?” ujarnya mendesak.


“Apa tidak terlalu buru-buru Mas Mana? Sebaiknya Mecca lulus dulu saja."


“Tidak mas, saya rasa niat baik itu harus disegerakan. Mecca tetap kuliah seperti biasa, saya rasa Fadhil tidak akan keberatan. Iya kan, Nak?”


“I-iya pa, eh... maksud Fadhil, ini terlalu terburu-buru pa."


“Kemarin kamu minta papa merestui, sekarang papa sudah restui sampai melamarkan langsung kamu malah merasa ini terburu-buru."


“Bukan begitu pa, tapi Mecca kan sudah berjanji pada ayahnya akan menyelesaikan kuliahnya dulu baru bisa menjalin hubungan dengan seseorang."


“I-iya benar yah, Mecca tidak mau melanggar janji dengan ayah." Ujarnya manja membujuk.


“Tapi setelah ayah pikir, kata-kata Om Permana benar juga. Sepertinya ini tidak menjadi masalah nak, ayah memintamu menjaga janji itu karena ayah ingin menjagamu dengan baik. Kalau akhirnya kamu dipersunting laki-laki baik seperti Fadhil, ayah tidak keberatan, justru ayah tenang. Tapi kamu mau menerima Fadhil tidak?” tanyanya memastikan.


“Maaf yah, Mecca tidak tahu." Sahutnya singkat sembari berlari menaiki tangga tanpa permisi.


“Loh... Hahaha... Maafkan Mecca ya Mas Mana, Fadhil. Sepertinya dia malu, sehingga tidak sanggup memberikan jawaban." Ujarnya memberikan alasan dengan tawa terbahak-bahak melihat kelakuan putrinya itu.


Setelah panjang lebar Pak Pradipta menceritakan dari kisah awal ia dapat berkawan dengan Pak Permana hingga kedatangan tiba-tiba Pak Permana ke rumah untuk melamar Mecca membuat kedua anak gadisnya hanya terdiam termangu memperhatikan.


“Bagaimana menurutmu Din? Apa kamu tidak keberatan jika adikmu menikah lebih dulu?” tanyanya hati-hati.


“Ayah tidak perlu memikirkan perasaan Medina, Medina bahagia untuk Mecca yah. Lagi pula Dina kan sudah pernah berumah tangga juga." senyumnya tersungging lembut.


“Tapi pernikahanmu itukan...” ujar Pak Pradipta tak meneruskan pembicaraannya.


“Tidak usah dipikirkan yah, Dina bahagia sekarang. Kalau Mecca menikah otomatis dia akan tinggal dengan suaminya, Dina lega bisa ada di sini menemani ayah." Ujarnya menenangkan.


“Aku sebenarnya.... Aku tidak mau menikah yah!” ujar Mecca mantap.


“Loh... Kenapa tiba-tiba tidak mau? Ayah sudah merestui kalian kok. Tidak usah memikirkan ayah, ada kakakmu di sini." Jawab Pak Pradipta sembari membelai rambut Mecca dan merangkul Medina.


“Kak, maafkan aku." Ucap Mecca pelan.


“Kenapa minta maaf? Kamu jadi istri harus pandai mengurus rumah tangga ya." Nasehatnya lembut dan diikuti anggukan dari Mecca.


“Ayah tidak menyangka, putri bungsu ayah akan menikah dan meninggalkan rumah ini." Ujarnya menahan air mata disertai pelukan hangat kedua putrinya.


Matahari tenggelam dengan sempurna tergantikan pesona bulan purnama yang temaram. Kekalutan, khawatir, serta berbagai macam pikiran yang berkecamuk selalu menghantam hati dan pikiran Fadhil serta Mecca. Walau berada di tempat yang berbeda, bagai memiliki telepati perasaan dan pikiran keduanya dapat saling terhubung bersahut-sahutan.


***


Hari-hari tak lagi tenang bagi dua insan yang terjebak dalam hubungan palsu itu. Fadhil dan Mecca selalu berdiskusi untuk mencari solusi atas masalah yang terjadi di luar rencananya tersebut. Namun, bukan solusi yang mereka dapatkan justru selalu ada jalan buntu dan mereka pun memilih pasrah atas keputusan yang sudah dibuat oleh kedua keluarga tersebut.


Hari minggu sore keluarga besar Fadhil yang terdiri dari Pak Permana, Bu Alisa, dan beberapa kerabat dekatnya mendatangi rumah Mecca, mereka melakukan lamaran secara resmi sembari membawa seserahan mewah atas nama putranya.


Sore itu kedua belah keluarga melakukan perbincangan yang serius dengan suasana tenang namun sangat harmonis. Semua berjalan dengan lancar sesuai rencana.


Hari-hari setelah lamaran itu diisi Fadhil dan Mecca dengan memesan cincin pernikahan dan fitting pakaian pengantin. Untuk urusan penghulu dan surat menyurat diurus oleh orang kepercayaan Pak Permana, melalui kekuasaan Pak Permana tanpa menunggu lama berkas-berkas untuk mendaftarkan pernikahan dapat diselesaikan dengan singkat.


Untuk pemilihan catering dan sebagainya mereka mempercayakan kepada WO (Wedding Organizer) yang cukup terkenal di kotanya, sedangkan untuk tempat acara mereka akan menggunakan ballroom hotel milik keluarga Permana.


Waktu berlalu tanpa terasa, hari pernikahan Mecca pun segera tiba. Besok merupakan hari bersejarah untuk Mecca dan Fadhil. Segala kecemasan dan rasa takut menghampiri keduanya.


Di relung terdalam Mecca dan Fadhil selalu tumbuh pertanyaan-pertanyaan. Apakah ini keputusan yang tepat? Apakah pernikahan tersebut dapat menumbuhkan cinta bagi mereka? Akankah rumah tangga mereka dapat terjalin dengan baik?


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.