
Mecca tertidur di sofa ruang tamu, hingga ia merasa hawa dingin yang mendarat di pipinya. Mecca berusaha membuka mata perlahan dan menyipitkannya, menyesuaikan dengan cahaya terang lampu di ruangan tersebut.
“Mas Fadhil?” Mecca mulai bangun dan mendudukkan tubuhnya dengan bantuan Fadhil.
“Hai sayang, kenapa tidur di sini?” Fadhil menatap Mecca dengan lembut.
“Mas tadi lewat mana? Kan aku kunci pintunya?”
“Aku bawa kunci pintu belakang. Tadi aku cari sayang ke kamar dan beberapa ruangan lainnya, eh malah ketemu di sini. Sayang kok tidur di sini?”
“Ketiduran mas, bukan sengaja. Ini jam berapa? Terus mas ketemu mama enggak?”
“Ini hampir setengah 11 sayang, tadi aku sudah putar-putar selama sejam, tapi mama juga enggak ketemu! Mama benar belum pulang?”
“Benar mas, masa aku bohong! Tadi mas sudah cek kamar mama lagi belum?”
“Sudah sih, kamar mama masih kosong.” Fadhil tertunduk dengan frustrasi.
“Mama ke mana ya, Mas? Aku khawatir banget, hiks...!” tangis Mecca mulai terdengar.
“Ssshhh... Sabar ya sayang, aku cari lagi mama di luar. Nanti aku minta beberapa orang bantu cari juga.” Ucap Fadhil memeluk Mecca sembari menggosok-gosok lengan Mecca dengan lembut.
“Mas, aku takut mama kenapa-kenapa, huhuhu...”
“Sssshhhttt... Jangan bilang begitu, kita bicara yang baik-baik aja ya. Mas cari mama lagi dulu, nanti mas minta Bi Ani ke sini temani sayang di rumah.” Mecca hanya mengangguk menanggapi ucapan Fadhil.
Fadhil mengantar Mecca ke kamar mereka di lantai 2 untuk beristirahat. Saat Fadhil ingin menghubungi Bi Ani agar dapat menemani Mecca di rumah, dering ponselnya berbunyi dan bergetar terlebih dahulu.
Tririring... Ddddrrrrttt...
Fadhil mengambil ponsel di saku celananya, ia melihat sekilas layar ponselnya dan mengangkat panggilan tersebut. Fadhil mulai menunjukkan raut wajah tegang dalam percakapan singkatnya yang selalu ia jawab dengan kata ‘Oke’ dan ‘Baik’ tersebut.
“Sayang, aku tahu mama di mana sekarang!” ucap Fadhil seusai mengakhiri panggilan teleponnya.
“Di mana, Mas?” jawab Mecca merasa lega sembari berdiri dari duduknya di tepi ranjang.
“Kamu mau ikut datangi mama?”
“Iyalah, Mas! Tapi mama di mana?”
“Ayo kita pergi dulu nanti aku ceritakan di mobil.” Ujar Fadhil sembari menggandeng tangan Mecca dan menuntunnya untuk segera berjalan.
Fadhil mengambilkan jaket untuk Mecca, sedangkan Mecca menyambar tas kecilnya yang ia isi dengan ponsel dan dompet lipatnya.
***
Mecca dan Fadhil sudah berada di salah satu rumah sakit tempat Arjun praktik. Di lantai 5 rumah sakit itu, tepat di depan sebuah kamar rawat inap, Fadhil dan Mecca melihat satu orang berperawakan tegap dengan pakaian casual serta jaket kulitnya.
Fadhil memastikan nomor kamar yang Arjun kirim melalui pesan benar adalah kamar yang dimaksud.
“Permisi, maaf apa ini benar kamar rawat Bu Alisa?” tanya Fadhil sopan pada pria yang berjaga di depan pintu kamar tersebut.
“Iya benar, bapak dan ibu ini siapa ya?”
“Kami anaknya.”
“Silakan masuk! Namun beliau masih dalam perawatan.” Jawabnya menjelaskan. Mecca dan Fadhil mengangguk sesaat dan langsung masuk ke dalam kamar tersebut.
Di dalam ruangan kamar cukup ramai pengunjung. Di sisi kiri ranjang ada Arjun, Medina, dan Pak Pradipta yang berdiri sejajar. Sedangkan Bu Alisa berbaring di ranjang rawatnya, di sisi kanan masih ada perawat yang memasang jarum infus, dan di belakang perawat ada dua pria berperawakan dan berpenampilan sama seperti pria yang berjaga di depan pintu.
Mecca langsung menangis melihat kondisi Bu Alisa, tubuhnya seakan lemas melihat kondisi wajah dan tangan Bu Alisa yang diperban dengan sangat rapi.
Fadhil menangkap tubuh Mecca yang hampir merosot dengan gesit, ia lalu mendudukkan Mecca di sofa sudut ruangan. Mecca di temani langsung oleh Medina dan ayah mertuanya. Mencoba menguatkan dan menenangkan keterkejutannya tersebut.
Fadhil langsung mendatangi Bu Alisa dan menggenggam telapak tangannya dengan getir. Wajahnya tampak sedih, dan matanya mulai terlihat berkaca-kaca.
“Perkenalkan, kami dari Kepolisian XX. Kami datang ke lokasi kejadian atas laporan Pak Arjun.”
“Saya Fadhil Pak, putra dari korban.” Jawaban Fadhil mendapat anggukan dari kedua polisi tersebut.
“Untuk saat ini di lokasi kejadian masih di lakukan pemeriksaan. Kami sempat mencatat beberapa keterangan dari Ibu Alisa dan petunjuk yang diingat Bu Alisa sudah cukup detail. Namun, tidak menutup kemungkinan kami meminta kerja samanya lagi jika ada beberapa keterangan yang ingin kami ketahui. Semoga bapak dan ibu sekalian tidak keberatan atas kedatangan kami di kemudian hari.”
“Kami harap Pak Fadhil dapat lebih tenang dan tidak bertindak hal buruk di luar dari pengawasan kami.” Salah seorang polisi tersebut menegaskan.
“Saya akan menyerahkan seutuhnya kasus ini kepada kepolisian, saya akan berusaha membantu sebaik mungkin jika ada informasi terbaru.”
“Terima kasih atas kerja samanya. Namun dari keterangan Bu Alisa sebelumnya, dapat kami simpulkan bahwa pelaku begal ini sudah cukup profesional. Dilihat dari pelaku yang mengarahkan Bu Alisa di jalan bebas CCTV, kesiapan pelaku dengan penutup kepala dan sarung tangan, serta tidak adanya jejak yang ditinggalkan. Bahkan plat kendaraan pelaku yang diingat oleh Bu Alisa itu adalah 2 buah mobil yang sempat dilaporkan hilang beberapa hari lalu. Namun, kami harap bapak dapat mempercayakan kasus ini untuk kami tangani, kamu akan berusaha sebaik mungkin untuk menangkap para pelaku tindak kejahatan tersebut.”
“Baik pak, terima kasih.”
Setelah mereka mengakhiri obrolannya, Fadhil mulai meminta keterangan Arjun saat ia menemukan mamanya tersebut.
“Jun, loe ketemu mama di mana?”
“Gue ketemu Mama Alisa di jalan X. Loe tahukan jalanan di situ selalu sepi dan remang-remang.”
“Terus saat itu yang loe lihat gimana? Ceritain lengkap ke gue!” ujar Fadhil tidak sabar.
“Jadi gue habis pulang nge-gym. Kebetulan tempat nge-gym gue memang dekat di daerah situ. Dan gue memang biasa lewat situ kalau pulang, karena lebih cepat aja. Kebetulan sudah jam 9, dan gue rencana pulang untuk mandi dan ke restoran buat ketemu Dina.”
“Terus?”
“Nah, dari jauh gue lihat ada 3 mobil nutup jalanan terus gue pasang sorot lampu jauh. Lah... Gue lihat ada yang enggak beres gitu, soalnya ada 1 mobil ngeblokir di depan dan 1 lagi ngeblokir di tengah jalan kayak nutup jalan 1 mobil yang ada di sana. Terus gue lihat kayak ada kerumunan orang dan ada 1 orang yang bawa senjata tajam yang gue baru tahu dari keterangan Mama Alisa itu adalah gunting.
“Lalu?” Fadhil mulai mengeratkan genggamannya, membuat kuku-kukunya meninggalkan bekas tajam di telapak tangan.
“Iya, gunting itu diarahin ke sosok wanita itu. Akhirnya gue percepat laju mobil terus gue klaksonin terus tuh. Eh... Enggak lama mereka langsung kabur dan nancap gas kenceng banget. Akhirnya gue turun mobil cepat-cepat dan datangin sosok wanita itu dan... Sumpah gue kaget banget, ternyata itu Mama Alisa.” Cerita Arjun membuat Mecca yang mendengarnya semakin berderai air mata.
“Terus loe enggak hubungi gue kan?”
“Bukan gitu, Bro! Gue langsung mau hubungi loe, tapi Mama Alisa ngelarang gue terus. Jadi gue telepon kantor polisi.”
“Oke, lanjut!”
“Waktu Mama Alisa di tanyai macam-macam masih bisa jawab lancar walau terbata-bata, tapi begitu mama mulai ingat kejadian sebelumnya, mama langsung pingsan. Nah, saat itu juga gue baru bisa telepon loe dan Dina.” Jelas Arjun panjang lebar secara cepat.
Fadhil menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar. Ia mengulang berkali-kali kegiatannya tersebut untuk mengusir amarah yang hampir menguasainya.
“Terima kasih banyak Jun, gue enggak tahu lagi apa yang akan terjadi ke mama kalau elo enggak lewat waktu itu. Thanks, Jun...” Fadhil memeluk Arjun erat dan menghapus air matanya yang telah menetes, menyembunyikan kesedihannya dari Mecca.
“Mama Alisa kan juga mama gue, loe enggak usah pakai terima kasih segala.” Arjun menepuk-nepuk punggung Fadhil dalam pelukannya.
“Nak, apa sudah menghubungi papamu?” tegur Pak Pradipta pada Fadhil.
Fadhil melepas pelukannya pada Arjun dan menatap Pak Pradipta dengan datar, memasang wajah sebiasa mungkin agar tidak membuat ayah mertuanya itu curiga.
“Tidak usah yah, papa sedang dalam proyek besar. Mama pasti juga tidak ingin papa tahu dan khawatir, hal itu bisa membuat pikiran papa bercabang nanti.”
“Tapi bukannya papamu berhak tahu kondisi mamamu saat ini?”
“Ayah tenang saja ya, biar Fadhil yang urus nanti.” Pak Pradipta hanya mengangguk mafhum mendengar jawaban Fadhil, walau dalam hatinya merasakan kejanggalan. “Yah, Fadhil boleh minta tolong?”
“Katakan saja nak, ayah akan berusaha membantu.”
“Yah, bisa beberapa hari ini Mecca tinggal di rumah ayah dulu sampai mama bisa pulang dari rumah sakit? Dan apa bisa ayah bawa pulang serta Mecca malam ini? Fadhil harus berjaga di sini, Yah.”
“Tidak! Aku mau ikut jagain mama juga, Mas!”
“Sayang, nurut ya sama aku. Pikirin anak kita! Ini rumah sakit yank, banyak virus yang enggak baik untuk kesehatan, apalagi kamu sedang hamil. Kamu juga enggak boleh capek atau banyak pikiran, karena itu bisa mempengaruhi bayi kita. Nurut aku ya, kamu pulang dulu sama ayah, mungkin Dina bisa temani kamu tidur nanti. Mau ya? Demi anak kita?!” ujar Fadhil dengan senyum hangatnya.
“Benar kata suamimu, Nak!” tegur Pak Pradipta menegaskan.
“Nanti aku temani tidur ya, kita bisa ngobrol semalaman kalau kamu eggak bisa tidur, Dik.” Ucapan Medina mendapat anggukan Mecca yang tampak terpaksa.
“Ma, Mecca pulang dulu ya. Mama harus cepat sembuh, Mecca janji akan makan masakan spesial mama yang rasanya hambar itu tanpa ngeluh lagi. Mecca sayang mama.” Kecup Mecca pada dahi Bu Alisa yang masih tertutup perban. Mecca menghapus air matanya, memeluk Fadhil beberapa saat lalu ikut pergi dengan ayah dan kakaknya. Arjun pun ikut undur diri bersama dengan yang lainnya.
Fadhil yang tinggal sendiri di ruangan itu, mulai menangis dengan deras. Mengeluarkan setiap bulir air mata yang sedari tadi tertahan.
“Ma...” panggil Fadhil dengan suara bergetar sembari menggenggam tangan hangat Bu Alisa.