AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 56. Pohon Mangga



Kediaman Keluarga Permana


-----------------------------------


Satu hari telah berlalu, Pak Permana duduk termangu di meja kerjanya. Tangannya gemetar memegang sebuah amplop putih yang baru ia terima sore ini. Bu Alisa berdiri tepat disisi kiri Pak Permana dengan gugup. Ia terus menerus menatap amplop putih yang masih tertutup rapat itu dengan getir.


Amplop itu berisi hasil tes DNA (Deoxyribo Nucleic Acid) yang Pak Permana jalani dengan Fahri. Dengan kekuasaannya, hasil tes DNA yang harusnya baru diterima sekitar satu sampai dua minggu lamanya, bisa Pak Permana dapatkan hanya dalam waktu satu hari.


Rani duduk di sofa yang berada tak jauh dari depan meja kerja Pak Permana. Ia pun sedikit merasakan ketegangan yang sama. Wajahnya tampak datar dan berkali-kali ia menggoyang-goyangkan kakinya dengan cepat.



“Hebat sekali ya kekuasaan dan kekuatan uang. Dalam sekejap hasil tes DNA itu sudah bisa diterima saja. Buka dong om, menunggu apa lagi?” ujar Rani menyembunyikan rasa khawatirnya. Pak Permana dan Bu Alisa secara bersamaan menatapnya dengan dahi yang dikerutkan.


Setelah mengambil dan menghembuskan nafas beberapa kali, Pak Permana mulai merobek bagian atas amplop dengan sekali tarikan. Ia mulai mengambil secarik surat yang masih terlipat rapi di dalam amplop itu.


Perlahan ia membuka surat keterangan hasil tes DNA tersebut. Bu Alisa dengan cepat mencondongkan tubuhnya, mendekatkan pandangan matanya pada surat tersebut. Mereka membaca hasil tes tersebut dalam diam.


Sesekali Rani membasahi bibirnya dan memainkan ujung kuku-kuku panjangnya tanpa sadar, sehingga menciptakan bunyi ‘cetik’ berkali-kali di ruangan yang hening itu.


“Bagaimana hasilnya om-tante? Fahri memang keturunan keluarga ini kan?”


Ucapan Rani tidak serta merta mendapat tanggapan dari kedua orang yang ditanyainya tersebut. Namun melihat ekspresi dari Pak Permana yang membelalakkan mata serta Bu Alisa yang menutup mulutnya yang menganga, membuatnya yakin bahwa hasil tes itu sesuai dengan dugaannya.


Rani pun mulai duduk dengan santai, ia juga menyunggingkan senyum puasnya dengan manis.



“Benarkan kataku, Fahri anak Om Permana.” Ujarnya dengan suara manja.


Pak Permana menghela nafas panjang, ia menjauhkan surat hasil tes itu dari tangannya. Rani mulai berdiri dan mengambil surat tersebut, lalu membacanya dengan nyaring.


“Based on the DNA analysis, the alleged father, Lukman Permana, is the biological father of the child, Abid Fahrizal.”



“Bagaimana om, puas dengan hasilnya? Harusnya om bahagia dong, karena aku bisa memberikan om anak lagi. Tidak seperti istri yang tidak memiliki kemampuan untuk ham... Ups, maaf-maaf!” Rani menutup mulutnya dengan cepat, berpura-pura menyesali ucapannya.


Mendengar ucapan Rani, Pak Permana hanya diam membisu. Bu Alisa merasa muak dengan sikap Rani yang semakin seenaknya serta sikap diam suaminya. Tanpa membalas ucapan Rani, Bu Alisa pergi meninggalkan ruangan itu dengan langkah yang mengentak-entak.


***


Mecca masih sibuk menyiapkan beberapa menu makanan di meja makan yang ia bawa dari restoran. Hari ini restoran sangat penuh pengunjung, Mecca pulang ke rumah terlalu sore. Bahkan Fadhil sudah sampai di rumah lebih dulu daripada dirinya.


“Nah sudah siap deh semua, fiuuuuh...” ujar Mecca sembari mengelap keringat di dahinya.



“Wah... Banyak banget makanannya!” ujar Fadhil dengan ekspresi heboh.


“Aku tadi sibuk banget mas di restoran, jadi aku enggak sempat masak di rumah. Bahkan mas aja sampai rumah duluan daripada aku. Jadi ya sudah, aku bawa saja makanan dari restoran.”


“Tapi aku lagi pengen yang lain yank.” Fadhil menatap tiap menu di atas meja kurang berselera.


“Tapi ini semua enak loh mas.”


“Aku tahu yank, tapi aku tetap mau yang lain.”


“Memang mas mau apa? Jangan-jangan mie ayam lagi?” tanya Mecca mulai memajukan bibirnya.


“Bukan itu yank.”


“Terus mau apa dong?”


“Aku mau mangga yang dipetik dari pohonnya langsung. Dari tadi aku pengen banget itu. Faiz aja enggak dapat-dapat, aku jadi agak kesal. Rasanya nafsu makanku jadi turun drastis kalau enggak kesampaian.”


“Ya ampun mas! Bener-bener deh mas kayak orang ngidam. Hmmm... Ya sudah aku turuti tapi kalau mau dapat buah itu mas harus usaha keras sendiri, bagaimana mau enggak?”


“Mau... Mau... Mau...” ucap Fadhil cepat sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Oke, let’s go! Kita ke rumah ayah.”


“Memang ayah punya pohon mangga?”


“Loh yang di halaman depan itu kan pohon mangga.”


“Oh... Aku enggak perhatiin yank. Tapi lagi berbuahkan?”


“Berbuah dong.”


“Yes! Ayo cepat yank!”


“Bentar dulu, aku mau minta bibi bungkus lagi makanan ini dulu.”


“Bi... Bibi...” panggil Mecca meninggikan suaranya.


“Iya nyonya muda.” Jawab Bi Asih mendekati Mecca.


“Bi Asih tolong bungkuskan makanan-makanan ini ke dalam rantangan ya, aku mau bawa ke rumah ayah. Tapi jangan semua, sisihkan untuk bibi-bibi, Pak Mali, dan Pak Aang untuk makan bersama.”


“Baik nyonya muda, ditunggu sebentar.” Jawab Bi Asih mengangguk lalu undur diri.


Mecca memang sudah biasa membuat atau membeli banyak makanan dalam jumlah besar untuk dibagi dengan para pekerjanya di rumah.


***


Sesampainya di rumah Pak Pradipta, Mecca menunjukkan pohon mangga yang tingginya lebih dari 3 meter kepada Fadhil.


“Tuh mas pohonnya. Lihat deh buahnya banyak banget kan?”


“Wuih... Banyak banget yank. Tapi aku mau yang agak asam. Aduh... Air liurku sudah mulai netes nih yank.”


“Ih... Mas ini jorok ah! Ya sudah mas panjat ke atas sana.”


“Hah? Aku manjat? Kamu bercanda kan yank?” pertanyaan Fadhil hanya mendapatkan anggukan dan gelengan dari Mecca.


“Tapi lumayan tinggi tuh yank. Memang enggak ada kayu atau apa gitu untuk ambilnya?”


“Enggak ada mas! Tadi katanya mau usaha? Kalau bukan mas terus siapa yang manjat? Masa aku?”


“Iya deh.” Jawab Fadhil menggaruk-garuk kepalanya sembari menatap pohon mangga itu dengan bingung.


Fadhil mendekati pohon mangga itu dengan ragu, sesekali ia menoleh ke belakang meminta belas kasihan Mecca. Tapi Mecca terus memintanya segera naik ke atas pohon dengan antusias.


Fadhil naik ke pohon mangga tersebut dengan gemetar. Baru kali ini dia main panjat pohon seperti ini. Sesekali ia menengok ke bawah, jantungnya tiba-tiba berdegup dengan kencang. Ia pun memutuskan untuk duduk sejenak di batang pohon yang menurutnya kokoh.


“Bagaimana mas, aman?” teriak Mecca dari bawah.


Fadhil menyembunyikan ketakutannya akan ketinggian yang ia rasakan saat ini. Dengan tersenyum lebar sembari mengangkat jempolnya yang masih bergetar ia mengatakan baik-baik saja pada Mecca.



Tiba-tiba Medina keluar dari rumah Pak Pradipta. Ia mengangakan mulutnya lebar-lebar melihat Fadhil yang tengah berjuang mengambil buah mangga dari pohonnya.


“Ya ampun dik, Fadhil ngapain di situ? Kan di belakang ada pohon yang... Ehmph...!” Mecca membungkam bibir Medina dengan cepat dan membawa Medina masuk ke dalam rumah bersamanya.


“Ssssttt... Biarin aja kak, jarang-jarang ngerjain Mas Fadhil. Lagian dia selama ini sering minta aneh-aneh, masakanku suka dianggurin sama dia.”


“Ih jahat banget deh kamu. Itu kan bukan kemauan dia, tapi karena memang pengaruh si jagoan kecil yang ada di sini.” Ujar Medina sembari membelai-belai perut Mecca dengan lembut.


“Enggak apa-apa kak. Sekali-sekali Mas Fadhil biar usaha sendiri kalau mau apa-apa, hahahaha...” tawa Mecca ditanggapi helaan nafas kasar dari Medina.


“Kak sini deh, fotoin aku di halaman belakang ya.” Mecca menyerahkan ponselnya kepada Medina yang terus mengikuti langkahnya dengan pelan.


Sesampainya di halaman belakang rumah Pak Pradipta, Mecca mulai mengambil posisi dan berpose dengan tawa lebar kepuasan hasil mengerjai suaminya.


“Siap ya, 1... 2... 3...” hitung Medina diikuti suara kamera yang mulai terdengar beberapa kali.


"Wah bagus! Buah mangganya jadi kelihatan kayak buah raksasa." Mecca melihat hasil jepretan Medina dengan puas. Ia pun dengan segera mengirim fotonya ke ponsel Fadhil.


“Yup, send!” ujarnya singkat.


Fadhil yang masih susah payah mengambil beberapa mangga di atas pohon tersebut sedikit terganggu dengan getaran ponsel di kantong celananya. Ia memutuskan untuk beristirahat sejenak untuk memeriksa ponselnya. Ia pun melihat notifikasi pada layar ponselnya tertera ‘My World’, sebutan Fadhil untuk Mecca.


“Kenapa kirim foto saat aku lagi sibuk manjat sih yank?” gumam Fadhil sembari mencari keberadaan Mecca di bawah.


Karena Fadhil tak kunjung menemukan sosok istrinya tersebut, ia pun membuka kunci ponselnya dan mulai melihat isi pesan dari Mecca.



Fadhil membaca pesan itu dengan bingung, ia pun membuka hasil kiriman foto Mecca. Seketika Fadhil merasa kesal dan gemas, ia menggertakkan giginya kuat lalu berteriak dengan keras.



“MECCAAAAAA!!!” teriak Fadhil setengah menggeram.


Mecca yang mendengar suaminya meneriaki namanya dengan kesal hanya tertawa geli tanpa henti. Medina mulai gemas dengan tingkah konyol adiknya itu, ia pun dengan segera memanggil Bi Mirah untuk mencari tangga di gudang dan memberikannya kepada Fadhil.


Fadhil yang masih di atas pohon tampak kebingungan mencari cara untuk turun dengan mudah dan aman. Di tengah kepanikannya itu, Fadhil tidak menyadari jika mobil porsche milik Arjun telah terparkir di halaman rumah Pak Pradipta, hingga suara klakson mulai mengejutkannya.


Tin...!


“Ngapain loe di situ? Itu kan pohon mangga, bukan pohon pisang!” teriak Arjun dari celah jendela mobilnya yang telah diturunkan.


“Sialan loe! Kaget gue tahu!”


“Hahaha... Masa kecil loe dulu memang kurang bahagia sih, gue ngerti banget kok.”


“Berisik loe! Sini bantuin gue turun. Jadi tangga gue sebentarlah!”


“Sorry bro, gue terlalu ganteng buat keringetan!” jawab Arjun cuek sembari menuruni mobilnya dan berjalan masuk menuju rumah Pak Pradipta.


“Woi, Jun! Bantuin dulu ini!” teriak Fadhil berkali-kali, namun teriakannya hanya ditanggapi lambaian tangan Arjun tanpa menoleh.


***


Di ruang makan rumah Pak Pradipta dipenuhi gelak tawa Mecca dan Arjun. Medina juga ingin sekali ikut menertawai Fadhil, namun hatinya sedikit tak tega melihat iparnya itu dikerjai oleh adiknya.


“Ini mangga yang mas ambil tadi loh, sudah dikupas dan sudah dibuatin sambal cocolnya juga nih.” Ujar Mecca menghidangkan potongan-potongan mangga muda beserta sambal gula merah di hadapan Fadhil. Mecca pun menyunggingkan senyum terindahnya untuk merayu suaminya yang masih merajuk.


“Males ah!” jawab Fadhil kesal dan cemberut.


“Kayak cewek PMS (Premenstrual Syndrome) aja loe! Manyun melulu tuh mulut dari tadi.” Goda Arjun menahan tawa.


“Enggak setia kawan loe!”


“Gue datang pas lagi ganteng bro, masa tega loe jadiin gue pijakan?” jawab Arjun beralasan.


“Seganteng-gantengnya loe tetep aja pas-pasan menurut gue!” celetuk Fadhil emosi.


“Biasa kalau orang kalah ganteng suka aneh-aneh omongannya.” Jawab Arjun santai.


“Suamiku sayang jangan marah lagi ya. Sini ‘Aaakk’ dulu.” Ujar Mecca sembari menyodorkan mangga muda yang telah dicocol sambal ke arah mulut Fadhil.


Fadhil yang sedari tadi sudah tergoda dengan mangga itu pun menuruti perintah istrinya dengan patuh, ia membuka lebar-lebar mulutnya dan memakan suapan Mecca dengan lahap.


Rasa puas tampak di wajah Fadhil. Keinginannya untuk menyantap buah mangga dari pohonnya telah terpenuhi. Dengan seketika suasana hatinya kembali membaik, ia dengan cepat melupakan rasa marah dan kesalnya tadi.


“Hormon serotoninnya dibawa dari mangga kayaknya, cepet bener baiknya tuh hati.” Celetuk Arjun menggeleng-gelengkan kepalanya.


Arjun menelan ludah berkali-kali melihat Fadhil menyantap buah mangga itu dengan nikmat, ia pun mulai mengambil satu potongan buah mangga tersebut.


“Ini mangga mudakan? Kok loe enggak keaseman sih?” tanya Arjun pada Fadhil yang masih memakan buah mangga tersebut tanpa mengernyit.


“Karena memang enggak asam, manis kok.” Jawab Fadhil meyakinkan.


“Bohong loe.”


“Kalau enggak percaya juga enggak masalah.”


“Tapi loe makannya kok enak gitu sih?”


“Karena memang enak.”


Melihat ekspresi Fadhil yang tampaknya jujur, Arjun pun mulai memasukkan potongan buah mangga itu ke mulutnya. Dengan seketika lidahnya tersengat oleh rasa asam yang hebat. Tanpa menjaga image segala ekspresi buruk tertoreh di wajahnya. Fadhil tertawa terpingkal-pingkal melihat Arjun.


“Hahahaha... Sumpah muka loe jelek banget Jun! Ngeri gue kalau inget-inget!” ejek Fadhil terus terang.


“Sialan! Ngerjain gue, loe!” geram Arjun.


Special thanks untuk seluruh para pembaca novel "An Ineffable Serendipity."


Terima kasih untuk votenya yang sangat berharga.


Terima kasih atas like di setiap chapternya.


Terima kasih atas komentar-komentar positifnya.


Terima kasih sudah menjadikan novel ini favorit kalian semuanya.


Semoga para pembaca terus setia menunggu updatean novel ini hingga tamat ya.


Author usahakan untuk bisa up 1 chapter/hari.


Agar para readers tidak bosan, novel ini saya sering sisipi dengan komedi-komedi receh. jadi biar enggak tegang melulu gitu... ✌