AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 50. Apa Maumu Sebenarnya?



Mama Alisa jatuh pingsan secara tiba-tiba. Psikisnya sangat terguncang, emosinya dipermainkan terus menerus, luapan kesedihannya sudah tidak dapat terbendung. Tubuhnya pun mulai lelah dan melemah.


Fadhil menggendong Mama Alisa dan membaringkannya ke tempat tidurnya. Fadhil meminta Mecca menemani Mama Alisa, sedangkan dirinya menemui Papa Permana untuk meminta penjelasan selengkap-lengkapnya.


Di ruangan kerja Papa Permana, ia dan beliau saling berdebat dan berteriak. Keduanya saling melemparkan tuduhan dan amarah. Hingga di satu titik, Papa Permana menceritakan seluruh kejadian 3 tahun lalu sembari menyerahkan beberapa bukti yang masih ia simpan dengan baik.


Papa Permana menyerahkan sebuah amplop besar yang berisi sebuah majalah dewasa, catatan tertulis, beberapa lembar foto, serta alat perekam suara. Itu adalah bukti-bukti yang sama seperti yang pernah ia terima 3 tahun lalu dari anak buahnya.


Fadhil memeriksa satu persatu isi amplop tersebut sembari mendengar cerita dari Papa Permana. Beberapa kali ia terbelalak dan memijat-mijat dahi serta lehernya yang mulai mengkaku.


Bibir keduanya terasa kelu, keheningan mulai menyeruak di ruangan tersebut. Papa Permana dan Fadhil saling melemparkan tatapan tajam. Walau tanpa kata, namun tatapan keduanya tampak berbicara seperti saling menyalahkan.


Tiba-tiba ketukan pintu mulai terdengar, tanpa permisi Rani langsung membuka pintu dan masuk ke ruangan kerja itu. Ia melangkahkan kakinya mendekati Fadhil dan duduk tepat disisinya, menyentuhkan tubuhnya berdempetan dengan Fadhil.


Perbuatan Rani membuat Fadhil secara refleks menjauhkan tubuhnya. Ia berdiri dan menyandarkan punggung kekarnya pada dinding disisi lemari buku tersebut.


“Mau apa kamu masuk kemari?” tanya Papa Permana dengan geram.


“Aku mau minta om siapkan kamar untukku dan Fahri di rumah ini. Kami baru melakukan perjalanan jauh, kasihan anak kita dia butuh istirahat.” Jawab Rani tanpa rasa malu.


“Berhenti menyebut ‘anak kita’ sampai aku melakukan tes DNA padanya!” tegas Papa Permana dengan bentakan.


“Silakan om sia-siakan uang untuk melakukan tes. Aku pastikan om akan bahagia menerima kenyataan telah memiliki anak lagi.” Ujarnya sembari menyilangkan kaki kirinya dan menarik ujung gaunnya sedikit ke atas memperlihatkan kulit kakinya yang mulus.


Fadhil mendengus melihat tingkah laku Rani. Ia tidak menyangka, bahwa wanita yang pernah dicintainya itu memiliki sifat asli seperti itu.


“Kalau om tidak ingin aku menyampaikan informasi berharga ini ke media om harus mengikuti keinginanku. Aku tidak akan meminta muluk-muluk kok, aku hanya meminta sesuatu yang memang menjadi hakku dan anakku saja.” Ujarnya tersenyum licik. Ia mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menyerahkan benda itu kepada Papa Permana.


“Mungkin ini bisa jadi pertimbangan untuk om.” Ujarnya sembari meletakkan USB flash drive di meja kerja Papa Permana.


Papa Permana pun mulai membuka laptopnya dan memasukkan USB itu. Fadhil dengan segera berjalan ke sebelah Papa Permana ikut mengamati pemberian Rani. Mereka melihat sebuah data dalam bentuk video. Papa Permana pun mulai memutar isi video tersebut dan melihat video panasnya dengan Rani 3 tahun lalu. Dengan cepat Papa Permana menutup layar laptopnya dan menarik USB yang masih menempel tersebut.


Fadhil menatap Papa Permana dan Rani secara bergantian. Hanya satu kalimat yang ia ucapkan secara spontan, “Dasar manusia tanpa rasa malu!” ujarnya dengan marah.


“Kamu jangan salahkan aku sayang, kalau saat itu kamu yang datang dan bukan papamu, aku yakin kita sudah bahagia sekarang.”


“Bahagia? Apa kamu gila?” jawab Fadhil tersenyum mengejek.


“Apa maumu sebenarnya? Kenapa kamu berbuat sampai sejauh ini? Serahkan data asli video itu!” ujar Papa Permana tidak sabar.


“Tenang om, sabar dulu. Seperti yang aku ucapkan sebelumnya, aku hanya meminta sesuatu yang memang menjadi hakku dan anakku saja.”


“Sebutkan segera!” perintah Pak Permana penuh amarah.


“Pertama, aku ingin anakku dan diriku tinggal di sini. Berikan kami kamar dan pelayanan yang layak. Kedua, aku ingin anakku masuk dalam kartu keluarga Permana dan dapat menyandang nama akhir Permana saat hasil tes DNA positif. Ketiga, aku mau anakku memperoleh bagian warisan yang sama seperti yang diterima oleh Fadhil. Keempat, aku tidak menerima jika om berusaha memisahkan aku dengan Fahri. Dan kelima, aku ingin Fadhil kembali padaku. Ceraikan wanita itu dan kembalilah padaku.”


“Dasar wanita gila!” teriak Fadhil keras, namun Rani mengacuhkan.


“Aku rasa syarat-syarat ini tidak akan memberatkan om. Aku tahu om tidak akan rela kehilangan seluruh perusahaan yang om bangun dari nol hanya karena video panas kita beredar. Aku hanya mengambil apa yang memang menjadi hakku dan anakku, termasuk kamu Fadhil. Kamu awalnya milikku, maka sekarang pun akan tetap begitu.” Ujar Rani kalem sembari memilin-milin ujung rambutnya.


“Aku tidak peduli dengan kemewahan atau pun segala warisan milik keluarga ini. Jika video itu benar akan beredar dan membuat kami jatuh miskin sekali pun aku tidak akan peduli!” Jawab Fadhil tegas.


“Aku akan menuruti semua kemauanmu.” Ujar Papa Permana menatap Rani dengan frustasi. “Bagaimana denganmu nak? Demi perusahaan yang kita bangun dari bawah?!” tanya Papa Permana memohon kepada Fadhil.


“Papa jangan ikut menjadi gila seperti wanita ini! Apa papa baru saja memohon padaku untuk berpisah dengan Mecca untuk bersama wanita rubah itu?” tanya Fadhil tidak percaya.


“Nak, semua ini kita bangun dengan keringat, air mata, dan darah. Tolong pikirkanlah, demi nama baik keluarga kita!”


“Itu adalah dosa papa! Berani berbuat beranilah bertanggungjawab! Papa jangan mau jatuh pada ancaman wanita itu!”


“Mulai hari ini aku resmi keluar dari keluarga ini. Aku bukan lagi anak Pak Permana! Aku tidak menyangka kalau Anda adalah seorang ayah yang mampu menjual anaknya!” amuk Fadhil meninggalkan ruangan itu.


Fadhil dengan langkah cepat menemui Mecca, ia menarik lengan Mecca untuk mengikutinya segera pergi dari rumah megah itu.


“Mas pelan-pelan, lengan aku sakit! Lagian mama belum sadar mas.” Ucap Mecca sembari mengikuti langkah Fadhil yang cepat setengah menyeretnya.


“Kita bukan bagian dari keluarga ini yank, aku sudah memutuskan hubungan sepenuhnya!”


“Hah? Maksudnya?”


“Masuk mobil, kita bicarakan lagi semua di rumah.” Perintah Fadhil yang tampak tidak ingin dibantah.


Sesampainya di rumah, Fadhil menceritakan semua yang ia dengar kepada Mecca tanpa kurang satu apa pun. Ia tidak ingin menyimpan suatu rahasia di antara hubungan mereka. Sepahit apa pun itu pasangan suami istri berhak saling tahu.


Mendengar cerita Fadhil, Mecca menangis sesenggukan. Ia tidak dapat menahan rasa sakit hati dan kecewa pada ayah mertuanya itu.


“Mas, apa mas benar-benar yakin tidak akan kembali pada wanita itu walau papa akan memohon sambil berlutut? Huhuhuhu...” Mecca bertanya masih dalam keadaan menangis.


“Tidak akan yank. Beliau bukan ayahku lagi!”


“Bagaimana mungkin mas memutuskan hubungan darah semudah itu? Walau mas tidak akan goyah, ta-tapi... Tapi aku takut kalau aku yang goyah nantinya. Huhuhu...” seakan air matanya tidak dapat berhenti, Mecca semakin mengencangkan suaranya.


“Sayang jangan menangis lagi! Kamu harus kuat mempertahankan hubungan pernikahan kita. Aku mohon jangan menyerah walau kita banyak cobaan yang menanti. Pertama cobaan itu dimulai dari suamimu ini yang bukan pewaris Grup A lagi. Suamimu ini tidak sekaya dulu.” Ujar Fadhil mulai menggoda Mecca dengan raut wajah kesedihan yang dibuat-buat.


“Enggak lucu! Walau mas jadi gembel sekali pun aku enggak peduli! Karena aku masih punya restoran.” Jawab Mecca mulai tersenyum dan tertawa kecil.


Fadhil pun ikut tertawa lalu memeluk Mecca dengan erat, ia mengecupi pangkal kepala Mecca bertubi-tubi.


“Apa sekarang kamu jadi lebih kaya dari pada aku yank?” mendengar pertanyaan Fadhil, Mecca dengan spontan mencubit perut Fadhil. Ia pun mengadu kesakitan, namun Mecca mengacuhkannya.


“Aw... Ssshhh... Aaahhh...” keluh Mecca tiba-tiba sembari memegang perutnya.


“Yank, aku yang kamu cubit kok kamu yang kesakitan?” tanya Fadhil yang melihat Mecca memegang perutnya. Fadhil mengira Mecca bercanda dan berakting sakit perut, namun saat ia melihat bulir-bulir keringat membasahi kening Mecca seketika itu pula ia merasa khawatir.


“Sakit yang mana yank? Kamu kenapa?” tanya Fadhil khawatir.


“Mas perutku nyeri banget. Seperti ada sesuatu yang menusuk dan memelintir bagian perutku, aku...” Mecca tidak menyelesaikan ucapannya, ia tiba-tiba jatuh pingsan tepat di pelukan Fadhil.


Dengan sigap Fadhil mengangkat tubuh Mecca, ia membawanya ke mobil dan menidurkannya di bangku penumpang. Kemudian ia melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat yang bisa ia jangkau dengan cepat. Sesekali ia melihat Mecca dari kaca spionnya. Ia pun tak henti-hentinya memanggil nama istrinya tersebut berharap Mecca akan membuka matanya.


“Please sayang, bagun! Kamu kenapa?” ucapnya terus berulang.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


\=>Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.