AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 69. LUPA atau INGAT ?



Apakah 1 hari Author menghilang para readers merindukanku? eh maksudnya kangen sama novel ini... 😋. Jadi Author sempat merasakan krisis percaya diri melanjutkan novel ini, karena merasa kurang memperoleh apresiasi dari readers sekalian 😭. Jadi Author menengadahkan kedua tangan dan berdoa.


"Ya Allah tolong Baim." eh... salah dialog, maafkan!🙏


Author berdoa seperti ini : "Ya Allah ya Tuhanku, bukakanlah pintu hati para readers supaya rajin ngeVOTE, beri TIPS, kasih LIKE disetiap chapter, meninggalkan komentar yang membuat Author sering senyum-senyum sendiri, memberikan bintang 5, menjadikan novel ini favorit, dan mau membantu Author merekomendasikan novel dengan isi-isi kehaluan yang banyak "Ehem" nya ini.


Begitulah kira-kira ya... semoga setelah membaca rasa frustrasi Aurthor, para readers langsung mendapat hidayah. 🤣


Author juga berterimakasih sebanyak-banyaknya atas dukungan para readers yang sudah rajin like, komentar, dan ngevote selama ini. Author sungguh terharu... SANGAT (๑・ω-)~♥”


Oke supaya Author tidak berlama-lama ngeBeCeTe lagi, mari kita lanjut ceritanya. Happy Reading and Enjoy. 😘


---------------------------------------------


Mobil porsche Arjun masih melenggang di jalanan malam yang tak kunjung menyepi. Untuk beberapa menit, Arjun terdiam dan sesekali melirik Medina yang duduk sama tegangnya di sebelah.


Arjun memberanikan diri untuk menegur Medina, tak tahan dengan keheningan yang tercipta sedari tadi.


“Bi.” Panggil Arjun lembut.


“Hmmm.” Sahut Medina singkat tanpa menatap Arjun.


“Kamu marah?”


“Karena...?” tanya Medina kembali.


“Tadi... Yang di kamar.” Jawab Arjun malu-malu.


“Enggak.”


“Beneran?”


“He’eh.”


“Aku minta maaf ya, aku bukan cowok mesum kok. Kamu jangan salah paham ya sama aku. Ta-tadi itu a-aku cuma...” Arjun tak melanjutkan ucapannya yang terbata-bata karena diliputi kebingungan.


“Kamu sudah berapa kali ya bilang ‘aku bukan cowok mesum’?” tanya Medina dengan ekspresi mengingat-ingat.


“Maaf.” Jawab Arjun penuh penyesalan.


“Iya, enggak usah dibahas lagi ya.”


“Aku takut kamu marah terus benci aku!”


“Aku lebih marah dan benci kalau ada BANYAK perempuan menggesek-gesekkan dadanya ke lengan priaku!” dengus Medina mulai kesal mengingat kejadian tadi di restoran, sehingga membuatnya tak sadar menekan kata dengan tajam.


“Priaku?” lirik Arjun dengan wajah bersemu.


“Hmmmm!” sahut Medina singkat.


“Kamu cemburu?”


“Aku kesal, karena kamu sepertinya menikmati sentuhan dada para wanita genit itu! Padahal ukurannya juga biasa aja!” gumam Medina pelan, namun Arjun mendengarnya dengan sangat jelas.


“Hahahaha... Kamu lucu banget deh! Baru ini aku lihat kamu seperti ini. Ehm... Ternyata pacarku pencemburu.” Ujar Arjun terkekeh.


“Males ah!” Medina semakin ketus menanggapi tawa Arjun yang seakan mengoloknya.


“Jangan marah dong Bi, aku tuh seneng tahu lihat kamu cemburu begitu. Makin emesh!” Goda Arjun pada Medina.


“Huufftt!” dengus Medina masih kesal.


“Bi, aku enggak pernah merasakan atau menikmati apapun dari hal semacam itu. Malah rasanya risi, sungguh!” jawab Arjun meyakinkan.


Medina tidak menanggapi ucapan Arjun yang terdengar seperti kebohongan baginya. Medina memilih diam dan menatap jalanan yang masih padat tersebut.


“Bi.”


“Hmmm?”


“Apa kita pernah ketemu sebelum ini? Sebelum di acara pernikahan Mecca dan Fadhil?” tanya Arjun tiba-tiba secara menyelidik.


“Hah? Rasanya enggak. Memang kenapa?” tanya Medina penasaran dengan ekspresi mengingat.


“Aku enggak tahu, tapi kalau lihat kamu dalam momen atau pose tertentu aku seperti mengingat seseorang dengan samar.” Arjun menjelaskan dengan jujur.


“Ingat siapa? Mantan?” Medina mulai terpancing kecemburuan lagi.


“Ya kali sama mantan lupa! Biar mantan aku banyak, tapi aku enggak mungkin ingat mereka samar-samar dong.” Arjun terkekeh tanpa dosa.


“Oh jadi maksudnya masih ingat? Dengan JELAS?” tanya Medina menekan kata terakhirnya.


“Uhuk... Uhuk... Uhuk...!” Arjun tersedak oleh liurnya sendiri.


Arjun pun memukul-mukul mulutnya sendiri dengan kesal. Seakan memberi pelajaran pada kebodohannya tersebut.


“Bukan gitu maksud aku, Bi. Kalau sama mantan sih sudah lupa semua, mak-maksudnya ingat kalau ditanya, tapi kalau ingatan yang samar-samar itu aku yakin bukan dari mantan.” Jawab Arjun tegas walau sedikit tergagap.


“Jadi intinya LUPA atau INGAT?!” tanya Medina memastikan sembari mengerutkan dahinya.


“Eh buset! Mulut sampah gue salah ngomong lagi!” gumam Arjun menepuk-nepuk kembali mulutnya berkali-kali.


Arjun lebih memilih diam daripada melanjutkan ucapannya. Ia tidak ingin jika bibirnya jadi bertambah seksi karena bengkak atas perilakunya sendiri.


“Jawab dong!” Medina menuntut kepastian.


“Jawab apa, Bi?” tanya Arjun bingung.


“Jadi masih Ingat atau sudah lupa?!” tanya Medina mengulang.


“Lupa, Bi! Lupa semua! Semenjak sama kamu, aku enggak bisa ingat apa-apa selain kamu terus! SUMPAH!” jawab Arjun dengan cepat dan menunjukkan keyakinannya sembari membuat tanda V pada jari telunjuk dan jari tengah dari tangan kanannya ✌.


Medina pun menatap Arjun beberapa saat untuk melihat kesungguhan pria tersebut. Setelah puas, ia langsung menghembuskan nafas lega di sela-sela senyum tipisnya.


“Mending gue cepet-cepet antar pulang deh, takut salah lagi nanti. Gue enggak siap jadi jomblo lagi! Padahal yang mau dibahas bukan itu loh!” ujar Arjun membatin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.


“APA?!” tanya Medina curiga melihat tingkah laku Arjun.


“Enggak kok, Bi.” Jawab Arjun menggeleng-gelengkan kepala. “Ya ampun sensi banget dah!” ucap Arjun dalam hati dengan tubuh tegap, tidak mau memancing kemurkaan Medina.


***


Fadhil menggendong Mecca ala bridal style memasuki rumahnya. Di ruang tamu Bu Alisa sudah menyambut kedua anaknya tersebut dengan senyum mengembang, walau tak lama senyumnya itu sekejap memudar.


“Loh, Mecca kenapa?” tanya Bu Alisa khawatir.


“Kaki Mecca bengkak ma.” Jawab Fadhil yang masih menggendong Mecca ke arah kamarnya dengan diikuti Bu Alisa dari belakang.


“Kok bisa?” tanya Bu Alisa kembali.


“Enggak tahu ma, mungkin karena terlalu banyak berdiri?” jawab Fadhil menerka-nerka.


“Kamu biasa ke restoran dari pagi sampai malam begini, Nak?” tanya Mama Alisa yang duduk pada tepi ranjang di sebelah Mecca.


“Enggak ma, biasanya sampai sore aja. Tapi tadi restoran ramai banget, Mecca enggak tega kalau pulang.” Jawab Mecca cengar-cengir.


“Ini enggak apa-apa kok ma, biasanya besok sudah mendingan lagi.”


“Ikuti nasihat mama, Mecca!” Bu Alisa mulai melotot pada Mecca.


“Marahin aja ma, kalau sama Fadhil enggak mau dengar, Fadhil sering kalah argumen sama menantu cantik mama itu.” Adu Fadhil dengan polos. Mecca memberi ancaman pada Fadhil melalui matanya. Fadhil hanya terkekeh melihat reaksi Mecca padanya.


“Mecca nurut ya sama mama?”


“Iya ma.” Sahut Mecca pasrah.


“Jangan jalan-jalan dulu, istirahat aja di kamar. Takutnya kalau sering dibuat menapak kakinya bisa tambah bengkak. Mama pijitin sebentar ya supaya lebih enakkan. Besok biar Fadhil panggil bibi pijat yang lebih ngerti. Sama besok belikan garam epsom untuk merendam kaki Mecca ya, Nak. Oh iya satu lagi, bilang sama bibi-bibi makanan untuk Mecca harus sedikit rasa-rasa dulu.” Cerocos Bu Alisa tanpa jeda. Fadhil dan Mecca hanya manggut-manggut tanda paham.


“Terima kasih ya ma. Mecca senang mama di sini.” Ucap Mecca dengan terisak.


“Loh... Loh... Loh... Kok tiba-tiba anak cantik mama nangis?” tanya Bu Alisa yang bingung dengan perubahan suasana Mecca. Bu Alisa hanya dapat memeluk sembari membelai pangkal kepala Mecca dengan lembut.


“Mecca senang ma. Ini kayak mimpi ma, mimpi bisa dapat perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu yang selama ini Mecca rindukan. Ini seperti mimpi yang jadi kenyataan. Mecca kangen ibu, Ma. Selama hamil, Mecca sering mimpiin ibu. Seorang ibu yang Mecca sendiri sudah hampir melupakan wajahnya, hiks...” ujar Mecca belingsatan di dada Bu Alisa yang bajunya telah basah oleh air matanya.


“Cupcupcup... Mama kan ibu kamu sayang. Sekarang ada mama di sini, Mama akan jaga, sayang, dan kasih perhatian mama untukmu. Jangan nangis lagi ya...” ucap Bu Alisa menenangkan Mecca. Fadhil hanya dapat tersenyum hangat melihat pemandangan di hadapannya tersebut.


***


Pagi ini Mecca sudah memulai acara makannya dengan makanan yang sedikit rasa, malah lebih tepatnya hambar.


“Kenapa manyun yank?” tanya Fadhil yang melihat wajah cemberut serta dahi berkerut Mecca.


“Aku enggak mau oatmeal plain ini mas, enggak enak!” ucap Mecca mendorong mangkuknya.


“Biar bengkaknya cepat hilang, yank.” Fadhil kembali mendekatkan mangkok outmeal Mecca di hadapannya.


“Outmeal yang rasa buah juga sehat mas, enggak mau yang ini.” Mecca menggeleng-gelengkan kepala, menolak dengan cemberut.


“Sini mama yang suapin.” Bu Alisa mengambil mangkok Mecca dengan gemas. “Aaakkk... Ayo buka mulutnya anak pintar.” Ucap Bu Alisa lemah lembut.


“Mecca kan bukan anak kecil lagi ma,” senyum Mecca menyungging.


“Iya mama tahu, mama cuma mau suap aja. Ayo buka mulutnya.” Mecca menatap mangkok oatmeal itu dengan enggan.


Bu Alisa pun menaruh mangkok Mecca di meja, lalu beranjak menuju dapur. Dengan sekejap mata Bu Alisa kembali ke tempatnya semula dan menaburkan buah blueberry ke dalam mangkok oatmeal Mecca.


“Kalau begini sudah bisa di makan kan?” pertanyaan Bu Alisa mendapat anggukan dari Mecca dengan semringah.


Mecca pun akhirnya melahap habis sarapan paginya dengan senang hati berkat ibu mertuanya tersebut. Namun Mecca kembali membayangkan makan siang dan makan malam apa yang akan menyiksanya nanti. Membayangkan hal yang belum terjadi tersebut membuat tubuh Mecca bergidik ngeri sesaat.


Mecca masih sangat sulit berjalan, karena setiap menapakkan kakinya nyeri menjalar sampai ke pinggulnya. Jadi Fadhil meminta Faiz membawakan kursi roda untuk dipergunakan Mecca sementara.


“Ini kursi rodanya, Iz?” tanya Fadhil pada Faiz sembari melihat-lihat kondisi kursi roda elektrik tersebut.


“Iya bos, bagus kan? Kalau pakai yang elektrik kan nyonya jadi tidak capek mendorong rodanya.


“Betul-betul.” Angguk-angguk Fadhil setuju.


“Terus ini nenek Uun namanya bos. Nenek Uun ini biasa juga pijit istri saya. Ini rekomendasi langsung loh dari istri saya, bos. Istri saya juga sering bengkak kakinya, tapi begitu kena pijit Nenek Uun ini langsung enakan. Ya kan nek?” ujar Faiz sembari melihat Fadhil dan Nenek Uun secara bergantian.


“Enggeh, Le.” Jawab nenek tersebut dengan halus. Fadhil pun ikut menyapa dan mengajak Faiz dan nenek tersebut masuk ke dalam rumahnya.


Fadhil menunjukkan pada Mecca kursi roda tersebut serta cara kerjanya. Mecca memperhatikan dengan baik tutorial singkat dari Fadhil. Walau dengan kursi roda itu pergerakan Mecca menjadi lebih terbatas, namun dia bisa lebih mandiri dalam melakukan banyak hal lainnya.


Fadhil juga mengenalkan Nenek Uun kepada Mecca serta Bu Alisa secara bergantian. Nenek berusia 67 tahun itu walau terlihat kurus, namun tubuhnya masih sehat bugar dan kuat. Walau untuk berkomunikasi dua arah memiliki kendala, Nenek Uun tidak bisa berbicara Indonesia dengan baik. Nenek tersebut lebih kental menjawab dengan bahasa Jawanya, walau beliau mengerti jika diajak bicara bahasa Indonesia.


Hari ini pun demi menemani menantunya tersebut, Bu Alisa juga izin tidak datang bekerja. Ia lebih memilih merawat Mecca hingga sembuh terlebih dahulu daripada harus mengkhawatirkan Mecca terus menerus di kantor.


Mecca meringis kesakitan tatkala kakinya mendapat pijatan dari sang ahli. Namun dengan setia Bu Alisa menjadi tumpuan Mecca dengan genggaman tangannya.


Fadhil yang merasa tidak tega melihat istrinya kesakitan, lebih memilih berangkat kerja terlebih dahulu. Sebelum keberangkatannya, Fadhil memberikan perintah kepada Pak Mali untuk mengantarkan Nenek Uun ke rumahnya dengan selamat setelah tugasnya selesai. Pak Mali pun mengangguk berkali-kali tanda mengerti.


Akhir-akhir ini Fadhil lebih banyak bekerja di lapangan daripada berdiam diri di kantornya yang ia bangun bersama Malik tersebut. Fadhil lebih banyak mencari kolega serta klien-klien baru untuk menarik minat mereka pada perusahaannya tersebut.


Walau pada awalnya kesulitan selalu menghampiri Fadhil. Kerap kali Fadhil juga menerima penolakan berkali-kali, namun semangatnya tak lantas jatuh begitu saja. Justru penolakan demi penolakan tersebut semakin membangkitkan semangatnya dari keterpurukan.


Alhasil dari kerja kerasnya, kini perusahaan Fadhil berjalan semakin pesat dalam waktu singkat. Walau masih belum dikatakan sebagai perusahaan besar, namun usahanya sungguh lebih maju dua kali lipat daripada sebelumnya.


Darah bisnisnya sebagai pengusaha hebat memang sangat kental dalam diri Fadhil. Ia bisa dengan mudah membuat orang lain menaruh kepercayaan pada dirinya. Kejujuran serta caranya berkomunikasi menjadikan kharismanya lebih terpancar saat berbicara.


Seperti hari ini, bahkan matahari belum berada di atas kepala dengan sempurna, lagi-lagi Fadhil bisa menarik dua klien baru sekaligus.


Faiz dan Malik sering dibuatnya kagum berkali-kali. Faiz yang sudah menemani Fadhil sejak lama dalam bekerja pun masih sering merasa kagum kepada pimpinannya tersebut.


Faiz bisa melihat semangat baru Fadhil yang lebih membara dalam menjalankan perusahaannya saat ini daripada saat Fadhil berada di Grup A. Faiz merasa Fadhil lebih terlihat menikmati pekerjaannya bukan hanya sekedar menjalankan tanggung jawabnya.


“Hebat banget deh si bos. Semoga saya bisa ketularan hebatnya ya bos.” Ujar Faiz cengar-cengir.


“Kamu itu lebih hebat daripada aku, Iz.” Jawab Fadhil dengan senyum mengembangnya.


“Hebat bagaimana, bos?” tanya Faiz bingung.


“Kamu bisa menjalankan apa saja yang aku perintahkan tanpa mengeluh. Dan semua selalu beres. Kerjaan kamu kan lebih beragam daripada aku. Tapi kamu bisa lakuin semua tuh.”


“Ah... Si bos bisa aja. Saya kan jadi enak dipuji, hehehe...” jawab Faiz menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.


“By the way, besok aku dapat panggilan dari Grup A lagi. Sepertinya besok penentuan nasibku di Grup A akan diputuskan. Kamu siap mendampingiku kan, Iz?”


“Selalu!” ucap Faiz optimis. Membuat Fadhil menepuk-nepuk bahu Faiz dengan senang.


**Berikut adalah ekspresi-ekspresi Author saat memeriksa siapa saja yang menikmati novel ini dengan sebaik-baiknya.


Saat ada yang vote, like, kasih tips, sekaligus komentar** :



Sampai pengen nangis sangking terharu.



Saat tidak ada vote, tidak ada tips, tidak ada komentar, dan sedikit like.



Lama-lama berubah jadi gemes.



Semakin gemas lagi.



Tapi tenang, Author ENGGAK PERNAH sampai seperti ini kok :



Just For Fun... Jangan dimasukkan ke hati ya para readers tersayang... Author lagi gemes aja pengen nampilin stiker-stiker si unyu ini. cup... cup... cup... 😘