
Tak terasa waktu yang dibutuhkan Fadhil dalam rapatnya dengan perwakilan Grup F lebih lama dari perkiraan. Ia sampai rumah Pak Pradipta hampir di waktu makan malam dimulai.
“Assalamualaikum.” Salamnya menggema.
“Wa ’alaikumsalam.” Jawab seluruh orang di ruang makan.
“Duduk sini, Nak. Makan malamnya hampir siap.” Panggil Pak Pradipta.
“Nanti Saya menyusul Yah, mau membersihkan diri dulu.” Jawabnya lembut.
“Baiklah kalau begitu.”
Setelah membersihkan diri, Fadhil kembali ke meja makan untuk bergabung dengan keluarganya.
“Hai Din, bagaimana kondisimu?”
“Aku sudah lebih baik sekarang.”
“Tapi kamu masih sedikit pucat. Cobalah untuk berjalan-jalan saat Kamu sudah sehat.”
“Aku pasti pinjam Mecca untuk menemaniku jalan-jalan seharian nanti. Jangan menyesal ya!”. Senyumnya usil.
“Aku tidak keberatan, asal dikembalikan saja tanpa kurang apa pun. Hahaha...” tawanya lebar disertai cubitan kecil dari Mecca. “Aduh, sakit yank!” keluhnya sembari menggosok bagian lengannya.
“Oh ya Nak, besok malam undanglah Dokter Arjuna ke rumah untuk makan malam bersama. Ayah ingin berterima kasih padanya sudah mengobati Dina.”
“Baiklah Yah, nanti Saya sampaikan.”
Usai makan malam yang penuh canda tawa itu, Fadhil kembali ke kamar. Ia mulai mengambil ponselnya dan melakukan panggilan telepon.
Arjun : “What’s up Bro?”
Fadhil : “Besok malam ke rumah Mecca ya.”
Arjun : “Loe nih, basa-basi dikit kenapa sih? Tiap telepon isinya merintah terus!”
Fadhil : “Enggak perlu! Ogah gue lama-lama teleponan sama jomblo. Entar jadi tempat curhat pula. Males!”
Arjun : “Jahat loe sama gue! Ngomong-ngomong ngapain gue ke rumah Mecca? Medina masih sakit?”
Fadhil : “Mertua gue ngundang loe makan malam. Dina sudah mendingan kayaknya.”
Arjun : “Syukurlah! Berarti besok gue datang jam berapa?”
Fadhil : “Lah, loe biasanya makan malam jam berapa mblo?”
Arjun : “Kadang jam 1, bisa juga jam 4, nggak tentulah, sesuai mood saja! Kalau lapar makan deh!”
Fadhil : “Iya-iya-iya, terserah loe!” ujarnya langsung mematikan panggilan teleponnya.
“Dasar gesrek tuh orang!” ujarnya tersenyum dengan gelengan kepala.
“Mas ngapain senyum-senyum gitu?” ujar Mecca yang baru masuk kamar.
“Astagfirullah! Bikin kaget saja sih kamu yank, biasa banget muncul nggak ada suara.” Ujar Fadhil tersentak kaget.
“Bukan salahku, tapi Mas saja tuh yang terlalu asyik sendiri sama ponselnya.” Jawab Mecca sembari melirik ponsel Fadhil.
“Curiga lagi?”
“Enggak kok!”
“Ya elah yank! Tadi Aku habis telepon Arjun.”
“Oh gitu! Oh ya Mas, Kak Arjun punya pacar, tunangan, atau orang yang disukai nggak?”
“Kenapa tanya-tanya? Kamu sudah punya suami loh!”
“Kan jadi Mas yang curiga, huuuu....!” cibir Mecca.
“Habisnya kamu tanya-tanyain cowok lain sama suami sendiri.”
“Bukan begitu Mas! Kayaknya Kak Arjun cocok deh sama Kak Dina, jodohin yuk!”
“Jangan ikut-ikut hubungan orang yank, nggak baik. Kalau soal perasaan biarkan saja mereka urus sendiri.” Nasehatnya sembari memeluk tubuh Mecca dari belakang.
“Kan kalau ada yang bantu untuk memperlancar hubungan mereka itu lebih bagus Mas.”
“Mas, kenapa Aku nggak boleh belajar nyetir?”
“Karena Aku sayang Kamu.”
“Apa hubungannya?”
“Aku nggak mau terjadi apa-apa sama Kamu yank, Aku nggak sanggup!”
“Aku akan hati-hati Mas, janji!”
“Tidak!” jawab Fadhil spontan sedikit menyentak.
“Mas kok bentak Aku?” Jawab Mecca terkejut dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Ma-maafin Aku yank, Aku nggak bermaksud membentak. Benar yank, bukan itu maksudku.” Ujar Fadhil lembut sembari memegang kedua lengan Mecca.
“Ayah saja tidak pernah membentak atau berbicara kasar sekali pun, lagi pula menyetir bukan masalah besar sampai Mas harus marah seperti itu, huhuhu...” tangisnya mulai terdengar.
“Bukan masalah besar? Kalau bukan masalah besar, Kakak dan Mama kandungku nggak akan meninggal dalam kecelakaan mobil!” jawab Fadhil pelan menahan suaranya yang mulai bergetar.
“Mas...?” Tatap Mecca pada kedua manik mata Fadhil penuh heran. “Mama kandung? Maksudnya?” tanyanya bingung.
Fadhil menghembuskan nafas dengan kasar sembari duduk di sisi ranjang, ingatannya akan kehilangan dua orang terkasihnya kembali muncul.
“Mama Alisa itu ibu tiriku. Mama Ayunda, ibu kandungku meninggal bersama Kakakku dalam satu mobil. Aku ingat jelas saat itu Aku, Kakakku Fatih dan Mama naik mobil yang dikendarainya setelah menjemput kami dari sekolah. Padahal Mama berkendara dengan baik, tapi hanya karena ingin menghindari pejalan kaki yang tiba-tiba menyeberang Mamaku harus membanting setir dengan kuat sampai kami mengalami kecelakaan. Dan sayangnya, yang selamat hanya Aku!” jelasnya dengan wajah tertunduk kemerahan menahan hatinya yang mulai perih.
“Maafkan Aku, Mas. Aku nggak seharusnya berkata begitu, huhuhu...” ujarnya dengan air mata yang semakin deras memeluk punggung suaminya.
“Itu trauma terbesarku yank, Aku harap kamu nggak mengalami apa yang Aku khawatirkan. Untukku bisa kembali menyetir mobil sendiri saja butuh waktu yang lama. Aku sudah berusaha sangat keras untuk terbebas dari trauma itu. Jadi, tolong yank... Jangan memaksa!”
“Nggak Mas! Aku memang salah! Maafkan Aku ya.” Jawabnya masih terisak menunjukkan tatapan menyesal.
“Aku cinta Kamu.” Ucap Fadhil lirih memeluk erat tubuh Mecca, Mecca pun membalas pelukan Fadhil tak kalah eratnya.
.
.
.
***
Malam ini terasa sangat panjang bagi Arjun, pikirannya melayang-layang membayangkan undangan Fadhil ke rumah Mecca besok.
Ingin rasanya ia mempercepat waktu, jantungnya mulai berdebar kencang, hatinya rasa tak sabar untuk bertemu Medina.
“Eh, gue kenapa sih? Kok perasaan gue sesenang ini!”
“Hmmm... Dina... Dina... Besok akhirnya Kita ketemu!”
“Loh kok gue sebut nama Dina sih? Aneh banget! Masa gue naksir?” ujarnya dengan diri sendiri.
“Besok gue bawa apaan ya? Masa ke rumah orang tangan kosong? Apa tanya Mami ya? Eh... Nggak-nggak, berabe kalau sampai Mami banyak tanya! Apa buah saja?” ujarnya dengan ekspresi berpikir.
“Sambil mikir, mending gue cari-cari baju yang cocok buat dipakai besok. Buset deh! Kayak mau ngapel, sibuk banget milih baju, ckckck...!” keluhnya dengan mengacak-ngacak rambut rapinya.
Hampir satu lemari Arjun membongkar tiap pakaiannya yang sudah tersusun rapi, kini semua sudah tergeletak di atas ranjangnya.
Usahanya dalam mencari pakaian yang cocok belum juga berhasil. Ia berharap bisa berpenampilan luar biasa agar dapat menarik perhatian keluarga Medina di pertemuan besok.
“Ah ini saja lah! Kalau ganteng mau pakai apa saja pasti baguslah!” ujarnya sembari menyambar pakaian yang menurutnya tepat.
Ia mulai menggantung kemeja lengan panjang berkerah warna hijau lumut dan juga meletakkan celana panjang berwarna hitam dalam satu gantungan pakaiannya. Tak lupa sepatu casual berwarna hitam dengan sol putih sebagai pelengkap.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.