AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 55. Biarkan Aku Melindungimu



Arjun mengemudikan mobil porschenya dengan senyum yang tertoreh di wajah tampannya. Sesekali matanya menangkap sosok Medina yang duduk di sebelahnya dengan gugup.


“Kamu selalu terlihat cantik, Din.” Ujar Arjun lirih.


“Nyetir aja sana, jangan noleh-noleh terus.”


“Aku kan mengagumimu, wajar dong kalau aku lihatin terus.”


“Tapi aku risih.”


“Kenapa risih?”


“Ya malu aja!”


“Malu sama siapa?”


“Sama diriku sendiri.”


“Ciuman aja enggak malu masa dilihatin malu?” ujar Arjun menggoda. Ucapannya membuat Medina membelalakkan mata dengan lebar, seakan memberi tanda agar Arjun berhenti membahas hal tersebut.


“Masih kerasa nih di bibir aku. Manis gimana gitu.” Ujar Arjun menyapu setiap sisi bibirnya dengan ujung jemarinya.


“Ih... Jangan dibahas ah!”


“Kenapa? Kita kan bakal sering ngulangi adegan itu nanti.”


“Apaan? Enggak!”


“Kok enggak sih?”


“Ya enggak aja!” jawab Medina membuang wajah.


Arjun menanggapi ucapan Medina dengan santai. Ia mulai mempermainkan bibirnya seolah-olah mengingat ciuman pertamanya dengan Medina. Sesekali ia memajukan bibirnya dan memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Medina merasa aneh melihat tingkah Arjun yang menyebalkan baginya.


“Ih kamu ngapain?” tanya Medina mulai jengkel.


“Aku lagi ingat-ingat first kiss kita tadi. Habis kata kamu enggak bakal diulang lagi. Jadi aku enggak mau sampai lupa tiap gerakan dan rasanya.”


“Arjun, please stop!” tegur Medina mencubit lengan Arjun dengan keras.


“Aw... Sakit, Din!”


“Biarin! Kalau masih aneh-aneh aku cubit lebih keras daripada itu!” ancam Medina sembari bersedekap.


“Ampun sayang.” Jawab Arjun mendayu-dayu.


Sesampainya di restoran, Medina menggiring Arjun untuk mengikuti langkahnya. Bagai anak ayam yang takut kehilangan induknya, Arjun terus mengekori Medina dalam diam.


Kini mereka telah berada di belakang bangunan restoran yang Medina kelola dengan Mecca. Biasanya tempat itu digunakan para karyawan untuk sekedar merokok atau istirahat makan siang.


“Nah di sini enggak ada siapa-siapa, kalau kamu mau bicara silakan.” Ujar Medina menatap Arjun lekat.


“Aku cuma mau kamu kasih kesempatan ke aku untuk menunjukkan keseriusanku. Aku mau kita bisa memulai hubungan serius ini bersama. Tanpa melihat masa lalu, kita hanya akan terus berjalan menuju masa depan, boleh?” Arjun menyampaikan segala keinginannya dengan gamblang.


“Aku enggak tahu apa aku pantas memulai hubungan dengan orang lain?”


“Aku bingung sama kamu, Din. Berkali-kali kamu selalu bilang seperti itu, kamu juga bilang kalau kamu pembawa sial. Aku enggak ngerti, kenapa kamu bisa menilai dirimu seburuk itu?”


“Karena aku memang seperti itu!” jawab Medina membalikkan tubuhnya. Ia mulai memunggungi Arjun dan menurunkan tatapan matanya dengan hampa.



“Apa itu penting?”


“Apa itu tidak penting?” jawab Medina membalikkan ucapan Arjun.


“Aku jatuh cinta dengan Medina. Seluruhnya hanya tentang Medina. Bukan statusnya, bukan latar belakangnya, bukan lain-lainnya! Aku tetap mengejarmu tetap menyukaimu karena itu kamu, Medina!”


“Tapi segala hal tentang aku tidak pernah berakhir baik. Aku takut kalau kamu akan jadi korban nasib sialku selanjutnya!” Medina mulai menangisi dirinya sendiri.


“Ssssttt... Ssstttt... Jangan nangis ya. Kamu boleh cerita ke aku, kamu juga boleh tidak menceritakan semua ke aku. Tapi kalau saat kamu siap, aku akan mendengarkan semua dengan lapang hati. Aku enggak akan berubah sedikit pun baik hati maupun sikapku ke kamu, percaya aku ya?!” Arjun mendekap Medina dengan erat, membelai rambut lembutnya dengan perlahan dan mengecupi puncak kepalanya dengan sayang.


Medina merasakan ketenangan dalam dekapan tubuh Arjun, wangi maskulin yang merasuk ke hidungnya membuat Medina semakin terhanyut dalam pelukan Arjun. Medina dapat merasakan jika Arjun sungguh tulus kepadanya, bahkan ia tahu pasti jika pria tampan itu sangat takut kehilangan dirinya.


“Mantan suamiku meninggal karena aku, kejadian itu tepat di hari pernikahan kami.” Ujar Medina yang menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Arjun.


Mendengar ucapan Medina, Arjun yang tertegun pun tetap tidak melepaskan pelukannya dari tubuh gadis ramping itu. Arjun ingin pelukan yang menyatukan tubuh mereka dapat menjadi penguat bagi keduanya.


“Saat mobil pernikahan kami melewati jalanan sepi, sekelompok perampok menghentikan mobil dengan paksa. Mereka menggedor-gedor pintu mobil dengan kuat, bahkan kawanan lainnya berusaha merusak kaca pintu mobil dengan suatu alat. Dia mulai keluar dari mobil karena tidak ingin aku terluka. Dia membiarkan para perampok itu mengambil segala barang berharga yang kami miliki bahkan dia juga merelakan mobil yang kami tumpangi untuk diambil. Tapi salah seorang kawanan perampok itu mulai melihatku dengan tatapan menjijikkan. Orang itu mulai menarik lenganku dan memaksa untuk menyentuh tubuhku. Dia tidak membiarkan hal itu terjadi, mereka berkelahi dengan mengerikan. Tapi... Tiba-tiba orang itu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari saku celananya, lalu menusuk dia berkali-kali tepat di perutnya. Mereka tanpa belas kasih meninggalkan kami di jalanan yang sepi...” ujarnya terpotong sesaat. Medina menceritakan kisah pilunya dengan sedih, air matanya mulai menetes, dan bibirnya mulai kelu.


Arjun mulai mengeratkan kembali pelukannya, ia menenangkan Medina dengan belaian lembut tangannya di punggung gadis itu. Arjun mendengarkan cerita Medina dengan geram. Ingin rasanya ia menghajar para perampok itu satu persatu hingga cacat.


Arjun hanya terdiam tanpa kata, ia hanya ingin mendengarkan semua beban hati Medina. Berharap keberadaannya dapat mengangkat segala rasa sakit pencuri hatinya itu.


“Sa-saat itu aku tidak tahu harus berbuat apa?! Mobil, ponsel, dan segalanya dibawa pergi oleh para perampok itu. Aku hanya dapat berteriak sekencang-kencangnya berharap ada bala bantuan yang mendekat. Aku mulai menekan luka-luka tusukan ditubuhnya dengan kedua tanganku. Aku melihat darah segar mulai membanjiri aspal, entah kenapa saat itu kepalaku mulai berkunang-kunang dan aku tiba-tiba pingsan. Saat aku mulai sadar aku sudah berada di rumah sakit. Tapi semua sudah terlambat, dia meninggal! Meninggal karena telah melindungiku! Semua itu karena aku! Ibunya terus memaki dan menyebutku pembawa sial. Aku tidak marah karena aku sadar memang seperti itulah aku, huhuhuhu...!” tangis Medina meraung.


Medina ingin sekali meneruskan ceritanya tanpa jeda, namun lubang hitam di dadanya yang mulai membaik kini terbuka lagi. Rasa sakit dan sesak mulai menjalar di seluruh ruang hatinya. Ia hanya dapat terisak sesenggukan menahan derita ingatan di masa silamnya.


“Sayang... Sayang... Tenanglah! Ada aku di sini. Jangan menangis lagi, aku mohon!” ujar Arjun meninggikan suaranya yang mulai teredam raungan Medina.


“Itu sudah terjadi berkali-kali! Bahkan... Bahkan... Ibuku juga meninggal karena diriku! A-aku takut nanti ka-kamu, huhuhu...” ujar Medina terpotong.


Kakinya mulai lemas dan tubuhnya perlahan terduduk di lantai. Arjun dengan sigap berjongkok menopang tubuh Medina dan berusaha untuk menegakkannya kembali. Ia memeluk tubuh Medina, mencoba menyalurkan segenap ketulusan cintanya. Ia pun menyembunyikan air matanya yang juga menetes dalam diam.


“Aku akan selalu baik-baik saja asal bisa terus bersamamu, tapi kalau kamu terus menerus menjauhiku justru itu yang membuatku menjadi terluka. Jadi aku mohon terima aku dalam kehidupan kamu, Din. Kamu berhak bahagia, semua itu bukan kesalahanmu!”


“Semua salahku! Aku hanya menceritakan sebagian kecilnya. Jika kamu mengetahui seluruhnya, aku yakin kamu akan memandangku sebagai wanita yang mengerikan, wanita pembawa nasib buruk!”


“Tidak akan!” tegas Arjun menatap Medina dengan mantap.


“Tapi aku takut...” ujar Medina disela-sela isak tangisnya.


“Biarkan aku melindungimu. Kalau memang nasib buruk itu benar ada, aku yang akan menangkalnya untukmu! Please Din, aku sangat ingin bersamamu!” tanpa bersuara Medina menjawab permohonan Arjun dengan anggukan berkali-kali.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.