
Sejak mengetahui hasil tes DNA saat itu, Papa Permana lebih banyak menghabiskan waktu dengan Fahri. Terkadang ia membawa Fahri untuk tidur bersama di kamarnya dengan Mama Alisa.
Sepanjang malam Papa Permana akan habiskan untuk mengorek cerita kehidupan Fahri sebelum ini. Mama Alisa dapat melihat kasih sayang tulus Papa Permana pada anak itu.
Sebenarnya Mama Alisa tidak pernah merasa keberatan atas kehadiran Fahri ditengah-tengah rumah tangganya. Bahkan, Mama Alisa pun juga mulai menyukai anak tampan itu. Kadang tingkah lakunya yang polos sering menjadi hiburan untuk Mama Alisa.
Namun dengan adanya Fahri di antara dirinya dengan suaminya, memberikan celah besar bagi Rani untuk ikut masuk bersama. Bahkan Rani semakin tidak sungkan dalam bersikap dan berkata di rumahnya.
Sering sekali Rani mengambil tanggung jawab dan kuasa Mama Alisa di rumah tanpa rasa malu. Mama Alisa juga sering melihat Rani keluar masuk kamar tidurnya dengan Papa Permana menggunakan pakaian tipis dan seksi.
Tindakan Rani sering menjadi keluhan Mama Alisa pada Papa Permana. Namun Papa Permana tidak pernah mengambil tindakan tegas atas aduannya tersebut.
Papa Permana bagai orang lain yang tidak pernah dikenalnya. Perubahan Papa Permana terlalu drastis untuk Mama Alisa terima dengan lapang dada.
Melihat sikap suaminya tersebut, membuat Mama Alisa merasa seperti orang yang terbuang. Dengan berat hati, Mama Alisa mengambil keputusan untuk pisah ranjang dengan Papa Permana.
Walau sedang menjaga jarak dengan suaminya, namun Mama Alisa masih dengan telaten mengurus kebutuhan suaminya.
Mama Alisa berjalan dengan perlahan, ia membawa nampan yang di atasnya tersedia segelas air putih dan beberapa vitamin yang biasa di konsumsi Papa Permana setiap harinya.
“Hei tante... Kenapa repot-repot, sini aku yang bawa.” Tegur Rani setengah berlari menghampirinya.
“Jangan sentuh! Ini aku sediakan untuk suamiku!” ucap Mama Alisa menekan.
“Ya sama saja kan kalau aku yang bawa. Kan suami tante papanya anak aku juga.” Jawab Rani acuh.
“Aku sedang tidak ingin berdebat, sebaiknya kamu menyingkir dari hadapanku!” ucap Mama Alisa dengan ketus.
“Tante jangan mudah marah, kasihan loh nanti tekanan darahnya bisa naik. Kan tante sudah tidak muda lagi, harus pandai-pandai menjaga kesehatan. Nah maka dari itu aku sekarang yang akan menggantikan tugas-tugas tante di rumah ini, jadi tante bisa istirahat terus deh.” Jawab Rani panjang lebar sembari merebut nampan yang dibawa Mama Alisa sedari tadi.
“Kamu jangan seenaknya bersikap di rumah ini. Kamu itu orang luar, ingat itu!”
“Kok orang luar sih tan? Aku ibu dari anak suami tante loh. Bahkan beberapa kali suami tante sering minta aku temani di kamar. Mungkin kesepian karena tante sudah pindah. Tapi bagus juga sih, soalnya ya tan... Om Permana itu sebenarnya masih kuat loh di ranjang.” Bisik Rani pada Mama Alisa.
“Dasar wanita siluman rubah! Kamu sebenarnya mau apa sih?”! Bentak Mama Alisa dengan marah. Ingin sekali Mama Alisa menjambak keras rambut Rani hingga membuatnya botak, namun Mama Alisa dengan kuat menahan diri.
“Mau aku? Semua yang tante punya! Seperti apa? Seperti rumah ini, seperti suami tante, dan seperti anak tante, Fadhil!” jawab Rani tersenyum licik sembari berlalu menuju kamar Papa Permana.
Dari kejauhan Mama Alisa berteriak histeris, membuang segala emosinya yang terpendam. Rani hanya menyunggingkan senyum puasnya tanpa menoleh.
***
Hari minggu ini, Mecca dan Fadhil berkunjung ke rumah Pak Pradipta. Di ruang keluarga mereka berkumpul bersama. Berkali-kali Pak Pradipta membelai perut Mecca dan membacakan doa-doa kebaikan untuk Mecca dan calon bayinya.
“Nak, apa tidak ada rencana membuat acara 4 bulanan untuk calon bayi kalian?”
“Tidak usah deh yah.” Jawab Mecca spontan.
“Adain ajalah yank, itu kan acara untuk mendoakan anak kita.” Jawab Fadhil memberi pendapat.
“Menurut mas begitu? Tapi aku enggak mau ramai-ramai ah...”
“Ya kita undang keluarga sama orang terdekat aja. Terus kita bisa kirim zakat untuk anak-anak yatim piatu.” Jawab Fadhil menyarankan.
“Nanti kita minta Amar yang memimpin doa, dia kan baru menyelesaikan kuliah agamanya di Kairo.” Ucap Pak Pradipta pada Mecca.
“Amar? Amar anaknya Tante Mela, adiknya ayah yang nomor dua itu?” tanya Mecca memastikan.
“Iya siapa lagi? Ya Amar anaknya Tante Mela itu.”
“Memang dia sudah pulang ke sini yah?”
“Sudah dari kemarin. Memangnya kehamilanmu ini tepat usia 4 bulannya kapan?”
“Kalau dari hitungan USG sih jatuhnya 2 hari lagi, yah.”
“Wah... Agak mepet ya, tapi bisa sih kalau diusahakan dari hari ini.” Jawab Pak Pradipta menimbang-nimbang.
“Bisa yah, tenang saja.” Jawab Fadhil optimis.
Setelah berbincang-bincang dan menyusun rencana untuk acara 4 bulanan Mecca, Pak Pradipta langsung ke kamarnya untuk menelepon para kerabat yang akan diundang. Sedangkan Fadhil seperti biasa, ia meminta bala bantuan Faiz yang serba bisa.
Kini Mecca hanya tinggal berdua dengan Medina di ruang keluarga. Mecca mendekati Medina dan duduk di sofa yang sama dengan kakaknya.
“Kak jawab jujur ya.”
“Jawab apaan?”
“Kakak sudah jadian ya sama Kak Arjun?” tanya Mecca sembari menaik turunkan kedua alisnya.
“Ih pengen tahu banget deh kamu.”
“Jawab ih.” Paksa Mecca menarik lengan kakaknya.
“Menurut kamu?” Medina berbalik bertanya.
“Sudah! Ya kan?”
“Hmmm.” Jawab Medina singkat.
“Ssssttt... Jangan berisik ih!” perintah Medina sembari menyumpal mulut Mecca dengan tangannya.
“Terus... Terus... Terus... Sudah ngapain aja?”
“Ih kamu ini tanyanya enggak sopan banget deh!” jawab Medina merasa malu mendengar ucapan Mecca, ia pun segera beranjak dari duduknya lalu pergi.
“Kak... Kalau ciuman sudah belum?” tanya Mecca sedikit berbisik dan diacuhkan oleh Medina.
“Huh Kak Dina enggak asyik!” celetuk Mecca dengan cemberut.
Di tengah ocehannya itu, Mecca mendengar suara mobil terparkir di halaman rumah. Ia pun keluar rumah untuk melihat tamu yang datang. Dari kejauhan Mecca melihat Arjun yang mulai mendekatinya.
“Assalamualaikum Mecca.” Salam Arjun pada Mecca.
“Wa ’alaikumsalam calon kakak ipar.” Panggilan Mecca pada Arjun, membuat laki-laki itu tersenyum bahagia.
“Dina ada?”
“Ada. Kayaknya lagi di kamar. Kalian mau pergi?”
“Enggak, cuma di rumah aja terus nanti mau antar Medina ke restoran sekalian. Jadi biar waktu ketemunya agak lama gitu.” Jawab Arjun dengan kerlingan mata.
“Masuk yuk kak.” Ajak Mecca dengan tersenyum.
“Thanks ya.”
“Bentar aku panggil kakakku dulu ya.” Ujar Mecca sambil berlalu.
Tak berselang lama Medina menghampiri Arjun di ruang tamu. Dia pun duduk di single sofa sebelah Arjun.
“Jangan jauh-jauh dong Bi, duduk sebelah aku sini.” Ujar Arjun dengan manja.
Sejak keduanya memutuskan untuk memulai hubungan, Arjun menetapkan panggilan sayang yang harus digunakan. Panggilan itu pemenggalan dari kata ‘Bebi’ yang dibagi menjadi dua kata, yaitu ‘Be’ panggilan Medina untuknya, sedangkan ‘Bi’ panggilannya untuk Medina.
“Panggil nama aja jangan itu!” ucap Medina berbisik sembari duduk di sebelah Arjun.
“Enggak mau. Kan kemarin sudah deal mau pakai panggilan itu.”
“Ya sudah deh, tapi kalau di luar aja.”
“Enggak mau. Pokoknya mau di mana aja tetap manggil itu.” Jawab Arjun kekeh.
“Ya ampun! Harus banget gitu?”
“Harus!” tatap Arjun tegas.
"Kayak gaya pacaran anak SMA ah, malu tahu!" protes Medina.
"Yah... Kok malu sih, Bi." Keluh Arjun memajukan bibirnya dengan ekspresi pura-pura sedih.
"Ya ampun, jangan gitu dong mukanya. Iya deh... Iya..." jawab Medina pasrah.
“Coba tes panggil aku.” Pinta Arjun manja.
“Be...” panggil Medina setengah berbisik.
“Apa? Enggak dengar nih.” Tanya Arjun dengan gerakan memasang telinga.
“Be...” Medina mengulangi panggilannya masih dengan suara yang pelan.
“Apaan sih Bi, kok bisik-bisik. Panggil yang bener dong. Senengin aku gitu.” Ujar Arjun lesu.
Medina menghembuskan nafasnya dengan kuat, merasa konyol dengan sikap kekanak-kanakan Arjun. Namun ia tidak ingin membuat laki-laki itu merasa kecewa hanya karena permintaan sederhananya yang tidak ia penuhi.
Sekali lagi Medina mulai menarik nafasnya, kemudian Medina mulai bersiap menyebut panggilan sayangnya untuk Arjun, namun belum sempat bibirnya berucap dari seberang ruangan terdengar suara keras Mecca tiba-tiba.
“Beeee-Biiiiii sudah lapar ya?” ujar Mecca mengeraskan suaranya dan memperpanjang kata be dan bi yang dibuat-buat.
Dari suara Mecca yang sengaja dikeraskan, Medina sangat yakin jika Mecca tidak sedang berbicara dengan bayi dalam kandungannya, hal itu pasti ditujukan khusus untuk mengejeknya. Medina pun dengan cepat mengambil bantal sofa lalu menutup wajah dan menyembunyikan kepalanya di belakang Arjun dengan malu.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!
Terima Kasih.