
Yuk di vote dulu - di like - di kasih tips, baru baca!
😎😎😎😎😎😎😎😎😎😎😎😎😎😎😎
Rani mengendap-endap menuju ke ruang tamu, ia merasa risi dengan getar ponselnya yang sedari tadi mengganggunya.
Rani : “Iya ada apa? Kenapa telepon malam-malam?” bisik Rani menjawab panggilan teleponnya.
(.....)
Rani : “Apa?! Belum tuntas bagaimana? Kamu jangan bikin aku marah ya! Aku sudah bayar penuh di depan loh!”
(.....)
Rani : “Pokoknya aku enggak mau tahu, kalian semua masih ada utang denganku!”
(....)
Rani : “Ya aku kan enggak harus mikir kalian hampir ketahuan atau apapun. Aku maunya hasil dari kerja kalian! Pokoknya aku mau...”
“Telepon dari siapa?” tanya Pak Permana yang telah berada di belakang Rani.
Keterkejutan Rani membuatnya buru-buru menutup panggilan dan menyembunyikan ponselnya di kantong piama.
“Loh, om kok di sini? Fahri sudah tidur?” tanya Rani dengan senyum manja sembari melingkarkan tangannya ke lengan Pak Permana.
“Sudah. Malam-malam begini teleponan sama siapa?” tanya Pak Permana kembali dengan curiga.
“Bukan siapa-siapa om, itu biasa... Apa namanya? Oh iya, modus penipuan!” jawab Rani mencari-cari alasan.
“Modus penipuan apa?” tanya Pak Permana dengan mengerutkan dahinya.
“Ya biasa om, dia bilang aku menang sebuah mobil dan uang tunai sebesar seratus juta. Dia mengatas namakan dari program undian apa begitu. Padahal aku tidak pernah ikut program undian apa-apa, aneh kan?”
“Kok teleponnya malam-malam? Bukannya akan tampak semakin mencurigakan?”
“Eh? Ehm... Ya namanya juga jaman susah seperti sekarang om, orang kepepet itu banyak. Orang jahat kalau mau bertindak kadang tidak berpikir jernih. Bisa jadi kan dia kirain aku gampang ditipu.”
“Mana nomornya? Nanti kita laporkan polisi saja!”
“Tidak usah om, tadi sudah aku marahin habis-habisan kok.”
“Tapi kamu kedengaran bisik-bisik, marah apa yang bisik-bisik seperti tadi?”
“Aku menahan emosi karena Fahri kan baru bisa tidur. Aku tidak mau dong istirahat anak kita terganggu. Sudah lupakan saja, lagian itu tidak penting!” Rani tersenyum manis sembari bergelendotan pada lengan Pak Permana. “Sial, si tua ini susah sekali diyakinkannya sih!” ucap Rani dalam hati.
“Karena daddy sudah tidurkan Fahri, sekarang giliran mommy yang tidurkan daddy. Eh... Tidurkan atau tiduri ya? Hihihihi...” cengar-cengir Rani mengalihkan perhatian Pak Permana dengan godaannya. Pak Permana dengan senyum mengembang mengikuti tuntunan Rani menuju kamar mereka berdua.
***
Pagi ini Medina menyiapkan salmon panggang sebagai menu sarapan bersama. Ia sudah menata rapi masakannya tersebut di ketiga piring di hadapan Mecca, Pak Pradipta, dan dirinya.
“Dik, kamu ke restoran kan?”
“Iya, Kak.” Jawab Mecca lesu.
“Kakak sudah siapkan bekal untuk kamu dan ayah. Dihabiskan ya dik, yah untuk makan siangnya.” Ujar Medina menatap Mecca dan Pak Pradipta bergantian.
“Pasti dong sayang.” Tatap Pak Pradipta pada Medina. “Nak, kenapa lesu begitu?” tanya Pak Pradipta pada Mecca.
“Mecca khawatir sama mama, yah. Mecca mau jenguk ke rumah sakit.” Mata Mecca mulai berkaca-kaca.
“Nak, tadi pagi Fadhil telepon ayah. Fadhil minta ayah sampaikan ke kamu untuk tidak ke rumah sakit dulu, karena takut virus-virus tidak baik di sana berdampak buruk untukmu dan kandunganmu. Fadhil sudah meminta seorang perawat secara khusus menjaga mamamu sepanjang hari. Jika ada kabar terbaru Fadhil akan langsung menghubungimu. Suamimu akan selalu melakukan panggilan video saat ia sedang di rumah sakit. Nurut ya?!”
“Tapi yah, Mecca pengen di samping mama. Mecca juga kasihan sama Mas Fadhil. Dia sudah sangat sibuk dan kurang istirahat, Mecca takut nanti Mas Fadhil ikutan drop terus malah sakit.”
“Dik, bicara yang baik-baik. Doakan kesehatan Fadhil dan kesembuhan Mama Alisa. Jangan suka nethink, jelek ah begitu!” Mecca menundukkan wajahnya, merasa perkataan kakaknya memang benar adanya.
“Sudahlah nak, turuti saja apa keinginan suamimu. Dia juga berpikir tentang kebaikanmu dan bayi kalian!” ucapan Pak Pradipta lembut, namun menegaskan tidak ingin dibantah.
Pak Pradipta mencepatkan sarapannya dan mengambil bekal buatan Medina lalu segera pergi bekerja.
“Ayah pergi dulu ya.” Pamit Pak Pradipta pada kedua putrinya. “Ingat apa kata kami semua Mecca?!” ujar Pak Pradipta kembali sebelum melangkah pergi. Mecca hanya dapat mengangguk mafhum mendengar peringatan ayahnya.
“Ya sudah, sana ke restoran. Pak Mali sudah nunggu tuh di depan.” Ujar Medina menyadarkan Mecca.
“I-iya kak, hahahaha...” tawa Mecca lepas saat menatap tingkah laku kakaknya dengan masker yang digunakannya.
“Nah, ketawa juga akhirnya. Gitu dong, kamu jadi tambah cantik kalau ceria begitu.” ujar Medina melepaskan maskernya. “Bekalnya dihabiskan ya sayangnya aunty.” Medina membelai perut besar Mecca dengan penuh kasih.
***
Fadhil menceritakan tragedi yang menimpa mamanya pada Malik dan Faiz di kantor. Kedua orang itu berkali-kali menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Raut wajah kesal yang mengeras terlihat pada garis rahang ketiganya.
Faiz dan Malik yang melihat keletihan pada wajah Fadhil memintanya untuk istirahat dan tidak bekerja dulu sampai ia siap. Karena mereka paling mengerti usaha keras Fadhil dalam beberapa minggu ini dalam mengembangkan usaha bukanlah hal main-main.
Waktu dan tenaganya sungguh terkuras banyak untuk membuktikan kemampuan dirinya. Terlebih lagi, penghinaan yang pernah ia terima dari sang papa membuatnya semakin tak patah arang.
“Mending sekarang kamu pulang dan istirahat dulu di rumah. Jangan balik ke rumah sakit lagi. Ingat harus pulang! Bukannya apa Dhil, tapi kan kamu sudah minta perawat untuk menjaga mamamu. Dan pastinya istri serta calon bayimu juga butuh kehadiranmu sekarang. Kalau soal kerjaan santai aja, ada aku dan Faiz. Percayakan sama kita berdua, oke?”
“Aku juga kangen Mecca sama calon anakku, tapi...”
“Sudah bos, enggak usah pakai tapi-tapian. Saran Pak Malik juga demi kebaikan bos, nanti kalau bos memaksakan diri malah tumbang kan jadi berabe.”
“Jangan doain dong kamu, Iz!”
“Oke deh! Aku bolos dulu ya hari ini, besok aku masuk kerja lagi.”
“Besok mau masuk kerja?” tanya Malik memastikan.
“Ya masuklah, memang kenapa?”
“Ya kamu masuk saja sendirian, besok kan hari libur bro, hahahaha...!” tawa Malik disusul tawa Faiz. Fadhil hanya menepuk dahinya dengan kuat.
“Sudah tua memang banyak lupanya.” Geleng-geleng Fadhil meratapi kebodohannya.
***
Fadhil memarkirkan mobilnya di restoran Mecca. Fadhil tahu bahwa istrinya tersebut tidak akan betah di rumah, ia lantas memasuki restoran dan langsung masuk ke ruang kerja Mecca.
“Mas Fadhil?! Kok enggak kerja?” Mecca terkejut mendapati kedatangan suaminya yang tiba-tiba tersebut.
“Aku libur sehari yank, aku mau istirahat dan kangen-kangenan dulu sama istri dan anak baba.”
“Tapi mama bagaiamana?”
“Jangan khawatir, di sana ada perawat yang jaga. Dia akan hubungi aku begitu mama sadarkan diri. Sini peluk aku dulu.” Ujar Fadhil merentangkan tangannya. Mecca berjalan cepat menuju dekapan Fadhil yang ia rindukan.
Setelah mengobrol beberapa saat, Fadhil meminta Mecca untuk pulang bersamanya dahulu untuk istirahat di rumah. Mecca pun menuruti keinginan Fadhil tersebut, karena dirinya juga ingin memiliki waktu yang lama dengan suaminya itu.
Sesampainya di rumah, Fadhil dengan segera membersihkan tubuhnya dan berganti dengan pakaian yang nyaman. Ia menggiring Mecca untuk merebahkan diri bersamanya di ranjang.
Beberapa menit, Fadhil habiskan mengobrol dengan Mecca dan bayinya. Mereka saling bergurau dan melepaskan tawa, mengurangi kepenatan dan beban di hati serta pikirannya selama ini.
“Yank, kepala aku pusing.”
“Hah? Sakit banget?” Mas belum makan ya?”
“Sudah, tadi pagi aku dibelikan sarapan sama Faiz, masih kenyang.”
“Ya sudah aku ambilkan obat dulu ya.”
“Enggak mau obat, aku mau cara alami aja.”
“Cara alami gimana?”
“Cara alami seperti ini!” Fadhil mulai mencium bibir Mecca dengan lembut.
Tangannya yang sedari tadi berada di dada Mecca perlahan mere*as benda kenyal tersebut.
“Eehhmmm...” lenguh Mecca dan Fadhil bersamaan.
Dalam hati, Fadhil sempat mencaci dirinya. “Mama lagi sakit, sempat-sempatnya juniorku pengen dapat jatah!” Namun, ia merasa jika kebutuhan biologisnya terpenuhi, itu pasti dapat menghilangkan segala beban-beban yang tertahan selama ini.
Ciuman Fadhil semakin memburu, ia melu*at, mengu*um, memi*in, dan menyesap bibir atas dan bibir bawah Mecca dengan kuat. Memaksakan lidahnya menerobos rongga mulut Mecca yang mulai terbuka. Menari-narikan benda tak bertulang itu di dalam rongga mulut Mecca yang terasa manis baginya.
Tangannya masih aktif memainkan pu*ing Mecca yang mulai menegang, mere*as kekenyalan itu dengan liar. Sedangkan tangan satunya bergerilya ketiap titik tubuh Mecca dengan intens, meninggalkan sengat kenikmatan di sana.
Hingga telapak tangannya mulai menyingkap rok selutut Mecca hingga terbuka lebar. Tanpa aba-aba, Fadhil memasukkan telapak tangannya pada sela-sela ce*ana dalam istrinya, membuat Mecca merasakan geli tiba-tiba.
“Uuuhhhmmmaashh” racau Mecca merasakan ujung jari Fadhil pada bagian intinya.
“Sudah lama yank, aku pengen kamu!”
“Aaaahhh... It-tu enak banget emmmhh.” Gerakan jari Fadhil yang semakin cepat membuat tubuh Mecca bergelinjang tak karuan.
Melihat tubuh istrinya yang mulai kenikmatan, membuat Fadhil semakin tak sabar. Ia melepaskan kain penutup inti Mecca dengan buas dan melemparnya ke sembarang arah. Ia mulai memosisikan wajahnya tepat di liang kewanitaan Mecca dengan mata penuh na*su.
“Eehhmmm...” desah Fadhil saat lidahnya mulai menyentuh bagian utama istrinya.
“Aaaakkkhhh!” pekik Mecca menarik kepala Fadhil semakin dalam.
Mecca merasa banyak kupu-kupu beterbangan di dalam tubuhnya, sensasi geli dan sekaligus nikmat. Mecca memejamkan matanya menikmati godaan suaminya di bagian sensitifnya.
“Ennnaaakk maaasshh, uuuhhh...”
“Eehhmm.” Fadhil mulai mengubah posisinya, ia mulai menung*ing di atas tubuh Mecca dengan arah tubuh saling berlawanan.
“Puasin aku juga yank!” Fadhil mengarahkan tonjolannya yang sudah mengeras memasuki mulut mungil Mecca, sedangkan dirinya kembali menikmati cairan tubuh Mecca yang sudah meleleh untuk kedua kalinya.
Cukup lama mereka berada pada posisi tersebut, hingga Mecca merasa sudah tak kuat lagi melayani pusaka suaminya tersebut.
“Mas, aku capek aaaahhhhhh... sssshhhh... uuuuhhhh...”
Fadhil pun mengubah posisinya berdiri setengah badan dengan menopang tubuhnya menggunakan lutut. Ia kemudian meminta Mecca menung*ingkan tubuhnya.
Mecca pun mengikuti instruksi Fadhil dengan pasrah. Ia mulai menung*ing dan menopang tubuh dengan lutut serta kedua telapak tangannya.
Fadhil mencium kembali bagian inti Mecca dan membasahinya. Kemudian ia mulai menancapkan pusakanya dengan sekali sentakan.
Plop
“Aaahh...” Mecca terjatuh pada posisi semulanya, kini ia menjadikan kedua lengannya sebagai tumpuan tubuh atasnya.
Fadhil mulai melancarkan aksinya dalam menggenjot tubuh Mecca yang mulai tak berdaya oleh kenikmatan.
Plak... Plak... Plak...
Suara-suara keras dari gesekan tubuh keduanya semakin terdengar nyaring dan cepat. Bersahutan dengan suara-suara kenikmatan keduanya yang saling bersambut.
Entah berapa kali Mecca mengucap kata ‘Aku keluar mas’ pada Fadhil, tapi pria itu masih memiliki stamina yang kuat dalam membombardir Mecca. Mecca sampai berkali-kali merasakan pelepasan namun Fadhil tak jua menunjukkan tanda-tanda yang sama.
“Sabar ya sayang, aku masih ingin berlama-lama.” Seringai Fadhil dengan senyum tak terbaca, membuat Mecca merasa ngeri sesaat.
Nah jangan lupa komentar dan tinggalkan jejak penyemangat untuk Author ya!!!