AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 68. Idola Baru



Malam ini seluruh meja restoran penuh terisi. Mecca dan Medina ikut sibuk membantu pelayanan di restoran.


Mecca sibuk dengan food plating, sedangkan Medina membantu bagian kitchen dalam menyiapkan pesanan. Bahkan Fadhil dan Arjun ikut turun tangan sebagai pelayan dadakan.


Restoran dipenuhi dengan karyawan, rekan kerja, serta klien dari Grup R yang merupakan perusahaan keluarga milik Egy.


Di setiap Fadhil dan Arjun mengantarkan pesanan ke meja-meja. Seluruh mata kaum hawa tak pernah melepaskan pandangannya dari kedua pria tampan nan gagah tersebut.


Apalagi jika senyum keramahan keduanya ikut mengembang di kedua sudut bibirnya, hal itu seakan memanah hati para wanita yang menatapnya.


“Gila nih restoran. Sudah makanan sama minumannya enak-enak eh waitersnya ganteng-ganteng gitu.” Ujar kerumunan para gadis menunjuk Arjun dan Fadhil dengan kode mata menggoda dan terpesonanya.


“Parah sih ini namanya. Kalau dari dulu aku tahu tempat ini, pasti setiap hari aku datangi deh!” timpal wanita lain dengan berbisik dan melirik Fadhil serta Arjun bergantian.


“Aku pikir enggak bakalan lihat cowok ganteng lain selain bos kita, Pak Egy.” Ujar salah satu wanita dari kerumunan di meja lain.


Ucapan yang awalnya sebagai bisikan berubah menjadi perbincangan yang terdengar di setiap sudut. Karena memang Arjun dan Fadhil bagai idola baru di sana.


Fadhil dan Arjun merasa bangga mendengar pujian demi pujian tentang dirinya selalu terucap dari para wanita tersebut.


“Ternyata pamor gue masih dipuncak, Bro.” Bisiknya pada Arjun.


“Memang loe doang? Penggemar gue lebih banyak daripada loe, Bro!” bisik Arjun kembali.


“Mimpi ya?! Makanya punya telinga itu dibuat dengar betul-betul, jangan cuma jadi pajangan.” Sindir Fadhil tidak terima.


“Terserah loe deh. Tapi yang jelas, pamor cowok single itu rasanya beda.” Jawab Arjun dengan menaik turunkan kedua alisnya. Fadhil merasa tak dapat menyanggah kembali jawaban Arjun yang menohoknya.


Setelah adegan cekcok itu berakhir, Arjun dan Fadhil kembali membantu service restoran. Walau sering melakukan adu mulut, tapi kedua sahabat itu selalu saling menyemangati di setiap saat.


Setelah semua makanan dan minuman selesai diantar dan mereka merasa dapat melepaskan tugas membantunya, Fadhil dan Arjun pun memilih untuk istirahat. Arjun dan Fadhil mendatangi Mecca yang masih berdiri di depan meja kasir yang tampak sedang berbicara dengan karyawannya.


“Hai Mec, Dina mana?” tegur Arjun pada Mecca.


“Kak Dina masuk ke ruang kerja kak.”


“Oke, aku susul ke sana dulu ya.” Pamit Arjun pada Mecca dan Fadhil.


“Sayang, kamu sudah selesaikan? Ayo rebahan dulu di dalam.” tanya Fadhil pada Mecca yang tampak lelah.


“Untuk plating makanan sih sudah mas, tapi ini aku masih cek orderan di sistem. Karena pesanannya banyak, jadi aku bantu Emma dulu, khawatir kalau ada salah input.” Jawab Mecca dengan nada lembut.


“Sudah biarin aja Emma sendiri, percayain sama dia. Kamu duduk dulu deh paling enggak.” Perintah Fadhil dengan ekspresi tidak ingin dibantah, Mecca pun hanya dapat menuruti Fadhil dengan pasrah.


“Kamu bisa sendiri kan, Em?” tanya Mecca pada Emma, karyawan yang bertugas di meja kasir untuk shift malam.


“Bisa, Bu.”


“Oke, aku istirahat dulu ya.”


“Baik, Bu.” Jawab Emma singkat.


Sedangkan di lain sisi, Arjun yang memasuki ruang kerja Mecca dan Medina tampak sibuk mencari-cari keberadaan Medina. Ia sengaja masuk ke ruangan tanpa suara untuk mengejutkan Medina. Namun keberadaan Medina tidak ditemukan di ruang kerja tersebut.


“Ah... Pasti lagi rebahan sambil mainin HP lagi nih di kamar.” Ujar Arjun pelan sembari berjinjit dan membuka pintu kamar dengan tiba-tiba.


BRAAAAAAK!!!


Arjun membuka pintu dengan tiba-tiba, membuat Medina yang memunggunginya langsung berbalik arah dan berteriak kaget.


“Aaaaahhh!” teriak Medina terkejut.


Arjun yang awalnya berniat mengerjai Medina justru mematung dan membelalakkan matanya lebar-lebar. Bagaimana tidak, wanita yang tepat di hadapannya tersebut sedang tidak menggunakan pakaian apapun dan hanya meninggalkan underwear berwarna kulit di tubuhnya.


“Be, kamu kok ngagetin sih!” ujar Medina tanpa sadar dengan penampilannya saat ini.


Arjun masih tertegun dan menelan ludah dengan kasar melihat keindahan di depan matanya. Medina berulang kali mengomeli Arjun, namun dirinya tak memberikan respons apapun atas ucapan Medina.


Medina pun merasa janggal dengan ekspresi dan tingkah laku Arjun yang tak biasa. Dan dalam sekejap, Medina menyadari bahwa tubuhnya kini tidak berbalut busana dengan lengkap. Ia pun secara spontan berjongkok untuk menutupi tubuhnya dari pandangan Arjun.


“Keluar dulu Be, aku mau ganti baju!” perintah Medina menyadarkan Arjun yang masih mematung.


Entah apa yang dipikirkan Arjun, dia tampak tak seperti biasa. Arjun yang biasanya sangat pandai mengendalikan diri, saat itu justru berlaku sebaliknya.


Arjun justru menutup pintu dengan salah satu kakinya dan menarik Medina untuk berdiri dari posisinya saat ini. Medina yang kalah kekuatan dalam sekejap mata langsung berdiri berhadapan dengan Arjun. Namun rasa malu Medina secara spontan menutupi kedua dadanya yang menyembul.


Di kedua mata Arjun, tampak sepasang gairah yang mulai membara, ia pun dengan cepat mel*mat bibir Medina dengan rakus. Mem*lin dan menyesap setiap sari manis dari bibir Medina yang selalu membuatnya candu.


Bibir Arjun tampak lihai mengeksplorasi bibir Medina yang lembut. Arjun secara bergantian menyesap bibir atas dan bibir bawah Medina dengan memburu. Lidahnya bermain-main memuaskan rongga mulut Medina yang manis.


Perlakuan Arjun membuat Medina tak kuasa menahan hasratnya. Seakan telah melupakan penampilannya saat ini, Medina mulai merangkul kan kedua tangannya pada leher jenjang Arjun dengan erat. Suara lenguhan dan desahan saling bersambut mulai mengisi ruangan.


Mendengar lenguhan Medina yang indah di telinganya, membuat Arjun semakin bergairah. Dengan sekejap ia terbawa suasana, Arjun menggiring tubuh langsing Medina ke ranjang. Ia merebahkan Medina yang masih menikmati ciuman liarnya yang menggoda.


Medina tampak tak sadar dengan posisinya saat ini, ia hanya menikmati tiap pilinan dan sesapan bibir serta lidah Arjun pada rongga mulutnya.


Walau ciuman itu semakin memanas tak berjeda, membuat Medina sering kehabisan nafas dan tersengal-sengal, namun bibirnya tak dapat atau bahkan tak ingin lepas dari serangan Arjun.


Arjun memberanikan diri menurunkan telapak tangannya yang sedari tadi berada di leher Medina. Telapak tangan Arjun memberikan sentuhan di dada Medina. Ia menempatkan telapak tangannya tepat di atas bra berwarna kulit tersebut.


Tangannya bagai terkena sengatan listrik yang cukup besar. Sedari tadi tangan Arjun tampak bergetar hebat, jantungnya pun berpacu cepat tak terkendali. Ingin sekali ia mer*mas bukit itu dengan erat. Namun tangannya tak dapat mengikuti instingnya. Tangannya hanya dapat diam terpaku di atas gundukan bulat itu.


Arjun mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengeksplorasi dada Medina yang menggoda gairahnya. Setelah cukup lama menahan diri, Arjun pun mulai menggerakkan telapak tangannya perlahan, namun...


Ceklek


Suara pintu terbuka membuyarkan keduanya dari gairah yang mulai memuncak tersebut. Dengan cepat Arjun dan Medina melepaskan diri dari tubuh masing-masing.


Medina mengambil baju gantinya di sofa dan berlari ke kamar mandi yang tak jauh dari tempatnya berada. Sedangkan Arjun berpura-pura menonton televisi yang sedari tadi menyala dengan posisi duduk di sofa.


Tak lama berselang Mecca dan Fadhil membuka pintu kamar. Mereka dikejutkan dengan kehadiran Arjun di kamar dengan pintu yang tertutup rapat.


“Hei, ngapain di sini? Loe enggak aneh-anehkan?” tanya Fadhil curiga.


“Gue lagi istirahat. Lihat sendiri nih lagi nonton TV juga.” Elak Arjun berpura-pura.


“Dina mana?” tanya Fadhil menyelidik.


“Di kamar mandi dari tadi enggak keluar-keluar.” Jawab Arjun membuat alasan.


“Terus kenapa pintunya ditutup?” tanya Fadhil memburu.


“Lupa, hehehe...” jawab Arjun dengan wajah sepolos mungkin.


“Lupa... Lupa...! Awas loe macam-macam, gue kebiri nanti!” ancam Fadhil dengan wajah serius.


“Enak aja main potong, huuuu...!” protes Arjun tak terima.


Fadhil dan Mecca mengelilingi ruangan dengan kedua mata curiganya.


“Hem... Kayaknya aman yank, enggak ada kelihatan pemaksaan apa-apa di sini!” ujar Fadhil pada Mecca yang tengah duduk meluruskan kakinya di ranjang dengan nada menyindir Arjun.


“Huuuu... Tukang curiga loe!” jawab Arjun gemas.


“Enggak-enggak, Dina tadi juga nikmatin kok!” ucap Arjun dalam hati.


“Untung Fadhil sama Mecca datang, kalau enggak gue pasti khilaf tadi. Payah! Gue harus bisa lebih ngendaliin diri lagi, kalau kebablasan bisa ditembak mati gue sama si lemper abon!” gumamnya pelan mencerca dirinya.


“Apa?! Lagi ngatain gue?” tanya Fadhil melihat bibir Arjun yang mengoceh, seakan mengatainya.


“PeDe amat loe! Pengen bener di omongin!”


Tak berselang lama, Medina keluar dari kamar mandi. Ia tampak menyembunyikan kegugupan dengan memasang wajah datarnya.


“Kak Dina ngapain di kamar mandi lama banget?” tegur Mecca penasaran.


“Oh... Aku ganti baju dan merapikan diri sedikit. Karena tadi kan habis dari dapur, jadi bajuku menempel aroma masakan yang bercampur-campur. Aku jadi kurang nyaman, Dik.” Jelas Medina jujur.


“Oh begitu...” sahut singkat Mecca sembari mengangguk-angguk.


“Tapi alien di sofa itu enggak macam-macam kan waktu kamu di kamar mandi?” tanya Fadhil dengan melirikkan matanya pada Arjun yang tampak protes dengan sebutannya.


“Hah? Eh... Ap-apa? Ya eng-enggaklah!” jawab Medina gugup.


“Katanya enggak, tapi kok gugup gitu jawabnya?” sindir Mecca.


“Habis Fadhil tanyanya tiba-tiba begitu, Dik!”


“Kakakku ini pemalu mas, jadi jangan tanya tiba-tiba yang menyerempet-nyerempet begitu ih!” ujar Mecca memperingatkan.


“Ya kali aja yank, kan tanya doang.”


“Ya sudah mas jangan kebanyakan tanya, jangan kebanyakan curiga, pijat kaki aku yang kuat sedikit mas!” perintah Mecca manja.


“Iya sayang. Aku tahu kamu capek banget pasti. Dari pagi sampai malam begini nonstop kerja terus.” Mecca meringis menanggapi suaminya yang sangat pengertian.


Sudah sekitar 1 jam lamanya mereka berempat istirahat dan mengobrol di ruangan privasinya. Setelah itu, mereka kembali keluar ruangan. Di sana para pengunjung sudah banyak berkurang dan hanya menyisakan Egy dengan 4 orang laki-laki lainnya, serta sekerumunan wanita yang terdiri dari 7 orang.


Begitu para wanita-wanita itu melihat kehadiran Fadhil dan Arjun, mereka serempak mengerumuni kedua pria tersebut tanpa melihat kehadiran Mecca serta Medina.


Mecca dan Medina yang awalnya berada di samping Arjun dan Fadhil dengan seketika digeser terus menerus hingga menjauh dari posisi semulanya.


Medina dan Mecca tampak kesal dengan tingkah laku para wanita genit itu. Secara bersamaan kedua kakak-beradik tersebut mendengus keras.


“Mas ganteng namanya siapa?” tanya seorang wanita dengan tubuh tinggi semampai, berkulit putih, dengan rambut diikat satu ke belakang, serta pakaian mini yang memperlihatkan dada besar dan paha mulusnya.


“Yang pakai baju hitam Sarimin, kalau yang baju abu-abu Sariman. Dua-duanya panggilannya Sari!” jawab Mecca mengeraskan suaranya menunjuk Fadhil yang memakai pakaian berwarna abu-abu dan Arjun dengan pakaian hitamnya.


Para wanita tersebut menatap Mecca dengan tidak suka. Namun Mecca tampak cuek menanggapi tatapan membunuh wanita-wanita genit itu. Fadhil hanya tersenyum geli melihat tingkah laku istrinya tersebut, ia semakin gemas dengan kecemburuan Mecca yang kekanak-kanakan.


Dari kejauhan Egy menahan tawanya, sedangkan Medina hanya terus menerus mencemberuti Arjun yang tidak menoleh sekali pun padanya.


“Jawab dong mas, siapa namanya? Boleh minta nomor teleponnya enggak?” ujar salah seorang wanita dengan perawakan tubuh biasa saja, namun memiliki wajah yang manis dan enak dilihat.


“Iya dong, bagi nama sama nomor ponselnya. Nanti kami rajin deh datang ke sini.” Ucap wanita genit lainnya yang mulai berani memegang lengan Fadhil tanpa permisi, dan wanita lainnya menggesek-gesekkan dadanya di sisi kanan dan kiri Arjun serta Fadhil.


Sebelum Fadhil dan Arjun melakukan penolakan secara langsung, Mecca dan Medina sudah bertindak dengan cepat.


“MAS SARI! ANAKMU DALAM PERUTKU LAPAR NIH!” ucap Mecca menekan setiap kata dengan tajam.


“Siap ratuku!” jawab Fadhil tergopoh-gopoh mendekati Mecca dan memapahnya duduk di kursi.


Seketika tindakan Mecca dan Fadhil menarik perhatian setiap mata. Egy yang sedari tadi menahan tawanya melihat kelucuan Mecca, kini terkekeh geli mendengar Mecca memanggil Fadhil dengan Sari.


Medina juga ingin melakukan hal yang sama, tapi dia cukup malu dan tidak tahu harus beralasan apa. Namun rasa cemburunya seakan meledak, tak tahan dengan perlakuan para wanita itu yang menyodor-nyodorkan tubuhnya ke tubuh pria miliknya tersebut. Ia pun mulai berdehem, mengatur nada suaranya dengan baik.


“Ehem...!” dehem Medina tak menarik perhatian Arjun, karena suaranya tertutup sempurna oleh suara manja dan menggoda para wanita itu.


“Ma-mas Sari...!” panggil Medina gugup, namun dengan nada suara yang ditinggikan.


Hal itu sontak menggiring setiap mata padanya. Medina seketika menjadi berdebar, ia takut mempermalukan dirinya sendiri. Namun lagi-lagi ia berusaha memberanikan diri untuk menyingkirkan para wanita yang mengelilingi Arjun.


Arjun masih terpana menunggu ucapan Medina untuk menyelamatkannya dari wanita-wanita yang mengitarinya.


“Mas Sari! Anakmu dalam kandunganku lapar!” ucap Medina sembari mengelus-ngelus perut ratanya dengan wajah kesal.


“Saya datang permaisuriku!” ucap Arjun heboh dengan wajah serius. Ia dengan segera menghampiri Medina dan mengelus lembut perut rata Medina, berakting sedang berbicara dengan bayi di dalamnya.


“Huuuh... Dasar enggak kreatif Kak Dina!” gumam Mecca pelan.


Melihat perlakuan Arjun dan Fadhil pada kedua wanita tersebut, secara otomatis memancing rasa cemburu dan kesal para wanita tersebut. Dengan kaki yang serentak di entak-entakkan mereka semua pergi meninggalkan restoran.


Setelah beberapa lama, para pengunjung restoran sudah menjadi sepi dan menyisakan Egy seorang. Para karyawan mengubah tanpa open menjadi close, lalu mereka bergegas gotong royong membersihkan restoran yang super berantakan.


Egy duduk satu meja dengan dua pasangan tersebut. Mereka mengobrol bersama. Tidak ada rasa sakit hati atau marah lagi di hati Fadhil pada Egy. Justru ia berkali-kali meminta maaf atas pukulannya waktu itu.


Egy pun memaklumi sikap Fadhil padanya selama ini. Setelah beberapa lama mengobrol, Egy memberikan kotak berwarna hitam kepada Mecca, kemudian berpamitan kepada semua orang. Memohon maaf dan berterima kasih lalu pergi meninggalkan restoran dengan langkah leganya. Semua orang menatap punggung tegap Egy yang semakin menjauh dengan sendu.


Hanya lambaian tangan dan ucapan doa dalam hati masing-masing yang ikut mengantar kepergian Egy. Mecca masih menggenggam sebuah kotak kado hitam pemberian Egy untuknya. Dengan perlahan ia membuka kotak itu, Mecca mengangakan mulutnya tak percaya.


Egy memberikannya emas batangan 24 karat seberat 100 gram. Di dalamnya ada sepucuk surat kecil yang terselip. Mecca dan Fadhil membacanya dengan hati-hati.



Dear calon ibu,


Mungkin saat kamu melahirkan


putra/putrimu kelak, aku tidak dapat


melihat kelucuannya secara langsung.


Jadi aku berikan hadiah untuk calon


malaikat kecilmu saat ini juga,


Semoga bermanfaat ya.


Aku berdoa dengan tulus


untuk kesehatan, keselamatan,


dan kebahagiaanmu.


Jangan lupa untuk terus menjaga


komunikasi ya... Kirimi aku


foto bayi yang HARUS mirip denganmu.


Mecca tertawa membaca kalimat terakhir surat Egy padanya, namun Fadhil sedikit protes karena Egy tidak menyebut ‘dan calon ayah’ di surat itu.


Happy Reading and Enjoy,


Ingat untuk SELALU vote, beri tips, like di setiap chapter, beri rate 5 ⭐, klik sebagai favorit, rekomendasikan novel ini kepada teman-teman lainnya, dan tulis komentar-komentar positif ya. Terima kasih 💜