
Setelah usai makan malam, Mecca dan Fadhil memutuskan untuk menghabiskan waktu kebersamaannya di kamar.
Mecca mengistirahatkan tubuhnya di ranjang dengan posisi duduk dan kaki yang menyelonjor, sedangkan Fadhil duduk di tepi ranjang sembari memijat kaki bengkak Mecca yang hampir mengempis.
“Wah... Bengkaknya sudah hampir hilang nih yank.” Ujar Fadhil sembari memijat lembut kaki Mecca.
“Pijatan sama minyak balur racikan Nenek Uun memang top mas! Aku ngerasain banget khasiatnya. Cuma kalau buat menapakkan kaki masih rasa nyeri sedikit sih.”
“Kalau mau jalan, usahakan pakai kursi roda dulu ya. Pokoknya kalau sudah sembuh baru boleh jalan lagi.”
“Iya suamiku sayang.” Ujar Mecca lembut.
“Bagus! Yank pijatnya sudah dulu ya, aku mau ke kamar mandi nih.”
“Oke mas.” Fadhil pun langsung meninggalkan Mecca dan menuju ke kamar mandi.
Berselang 5 menit dari kepergian Fadhil, ponselnya yang diletakkan di atas nakas tepat di samping Mecca berbunyi singkat.
Triiing...
Mecca yang mendengarnya hanya mengabaikan begitu saja. Namun ponsel itu terus berbunyi sekitar 7 kali secara bertahap.
“Mas, HP nya bunyi terus nih!” teriak Mecca dari kejauahan.
“Diangkat, dibuka, atau dibiarin aja yank!” balas Fadhil dengan suara meninggi dari dalam kamar mandi.
Mecca pun mencoba melihat notifikasi dari layar ponsel Fadhil, dalam waktu singkat Mecca menegakkan tubuhnya dan membelalakkan matanya dengan terkejut.
“Nomor siapa ini? Kenapa pakai sayang-sayangan segala?” tanpa menunggu lama, Mecca masuk pada aplikasi chatting Fadhil dengan kesal.
Pada aplikasi itu hanya sekitar 6 orang yang intens melakukan obrolan dengan Fadhil. Di sana terlihat nama Arjun, Malik, mama mertuanya, Pak Mali, dirinya, dan nomor tidak dikenal tersebut.
Mecca heran, kenapa 5 kontak lainnya selalu dibaca oleh Fadhil, namun nomor yang tidak dikenal itu malah meninggalkan sekitar 993 pesan yang diabaikan.
Mecca memicingkan matanya lalu mulai menarik dan membuang nafas beberapa kali. Setelah dirinya siap, dia mulai membuka pesan itu dan me-scroll pesan tersebut dari atas.
Walau hal itu membuat jarinya agak sedikit lelah, namun rasa penasarannya lebih besar daripada apapun.
Di awal pembicaraan, nomor tersebut terus-terusan mengirimkan pesan, namun selalu diabaikan oleh Fadhil. Hingga Fadhil membalas satu kali dan hanya berucap “Ini siapa?”.
Namun seolah bermain teka-teki, nomor tidak dikenal itu berpura-pura menjadi lebih misterius, hingga ia lelah dengan abaian Fadhil dan mengaku bahwa dia adalah Rani.
Hingga obrolan ke bawah, tampak Fadhil tidak menggubris pesan-pesan tersebut. Mungkin sejak ia mengetahui itu Rani, Fadhil memutuskan untuk tidak membuka aplikasi obrolan pada nomornya.
Mecca membaca setiap kata dengan geram. Rani seolah berusaha keras masuk dalam hati Fadhil. Beberapa kali Rani mengingatkan Fadhil tentang masa lalu indah mereka dulu.
Rani kerap kali mengirimkan foto-foto kemesraannya dahulu dengan Fadhil yang mana di sana terpampang 4 foto kebersamaannya.
Mecca pun membaca keluhan Rani yang membuatnya gemas bukan kepalang. Mecca membaca isi tulisan Rani dengan mencibir, “Sayang, selama 3 tahun kita memadu kasih coba lihat masa hanya 4 foto ini saja yang pernah kita ambil. Aku ingin berfoto bersamamu lagi sayang, dengan bibir kita yang saling menaut penuh gairah. Aku yakin kamu akan suka merasakanku.”
Mecca dengan kesal memilin-milin ujung bajunya dengan keras hingga jemarinya berubah kemerahan. Setiap isi pesan Rani terbaca dengan vulgar. Bahkan ia dengan berani mengirimkan foto-foto tubuhnya yang setengah telan**ng hingga polos tanpa sehelai kain pun.
“Dasar perempuan gila!” ucap Mecca dengan geram.
Mecca mulai membuka galeri foto di ponsel Fadhil, mencoba mencari-cari foto-foto Rani yang kemungkinan ikut masuk secara otomatis.
Namun Mecca lega, ternyata Fadhil membuat pengaturan ponselnya untuk tidak mengizinkan foto dari aplikasi obrolannya ikut ditautkan ke dalam galeri fotonya. Dengan sigap Mecca menghapus seluruh histori pesan Rani dan memblokir nomor tersebut dengan emosi.
“Wanita tidak tahu diri! Bisa-bisanya menggoda suamiku dengan tubuhnya!” Mecca meletakkan kembali ponsel Fadhil pada nakas di sebelahnya dengan genggaman kuat.
Setelah beberapa saat berlalu Fadhil keluar kamar mandi dengan siulan-siulan merdunya, ia melihat Mecca yang menatapnya dengan cemberut serta sorotan mata membunuh.
“Kenapa yank? Aku ada salah? Kok nyeremin gitu sih lihatnya?!” tanya Fadhil bingung.
“Nomor yang tidak ada namanya itu mas tahu kan kalau dia, Rani?”
“Oh... Iya tahu. Tapi saat aku tahu identitasnya aku langsung berhenti membuka pesan-pesan darinya kok. Kalau sayang enggak percaya aku berani bersumpah!”
“Kenapa enggak pernah cerita kalau dia sering kirim pesan?"
"Dia kan enggak penting, buat apa aku harus mengorbankan perasaan istriku? Lagi pula aku enggak pernah gubris dia."
"Tapi bagaimanapun mas tetap harus cerita!"
"Iya sayang maafkan suamimu yang penuh salah dan dosa ini ya?" ujar Fadhil menampakkan ekspresi penyesalan yang mendalam.
"Hmmm! Terus kenapa enggak diblokir?”
“Bukan aku enggak mau blokir tapi aku berpikir, kalau aku blokir dia bisa aja kan pakai nomor baru lagi untuk menghubungiku? Aku kan jadi harus tebak-tebakan lagi siapa orang tersebut. Lagi pula aku takut kalau dia malah semakin menjadi-jadi nanti. Jadi ya diabaikan saja!”
“Tapi aku sudah blokir! Untung mas enggak buka pesan-pesannya, kalau mas buka pasti mas jadi kesenangan!”
“Hah? Maksudnya yank?”
“Enggak usah dibahas! Pokoknya aku mau mas ganti nomor HP besok!”
“Yah... Kan semua bank notifikasinya ke nomor itu yank, teman-teman aku dari jaman sekolah dulu juga tahunya nomor itu, kalau relasi aku tidak pusing karena mereka hanya tahu kontak Faiz daripada nomorku, tapi urusan lain-lain notifikasinya ke sambung di nomor itu!”
“Itu yang buat dia semakin halu mas! Mas ingat kan bagaimana dia ngehubungi mas terus selama kalian putus dulu. Walau dia enggak bersuara sekalipun, tapi dia cukup puas bisa dengar suara Mas Fadhil! Mas tahu enggak apa yang dia pikirkan? Dia merasa mas enggak ganti nomor karena mas memang menunggu kabar dari dia! Jangan bilang aku cuma asal tebak, tuh dia sendiri yang bilang lewat pesannya!” Mecca bicara dengan berapi-api mengeluarkan segala kedongkolan dalam hatinya.
“Tapi yank...” ucap Fadhil terinterupsi oleh Mecca.
“Kalau mas enggak mau juga enggak apa-apa, tapi berhenti bicara lagi sama aku!” Mecca merebahkan diri dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Fadhil tampak frustrasi melihat sikap cemburu Mecca yang kekanak-kanakan menurutnya, namun dirinya lebih memilih pasrah dan menuruti perintah Mecca dengan lemah lembut.
“Bener ya mas? Jangan bohong! Aku maunya besok mas sudah pakai nomor baru!” dengan hati gembira Mecca membuka selimutnya dan kembali duduk tegak dengan mata berbinar.
“Iya sayang, buat kamu apa sih yang enggak?!” ujar Fadhil sembari membelai pipi mulus istrinya.
“Aku sayang, aku cinta Mas Fadhil.” Peluk Mecca erat.
“Aku sayang dan cinta kamu juga yank!” balas Fadhil dengan pelukan yang mengerat.
“Mas.”
“Hmmm?”
“Kalau mas lihat tubuh telan**ng wanita lain apa mas akan tergoda juga?” tanya Mecca berdebar masih menyembunyikan kepalanya di dada bidang suaminya.
“Ya pasti tergodalah, aku kan laki-laki normal, ta...” ucap Fadhil terputus dengan omelan Mecca.
“Tuh kan tergoda! Mentang-mentang aku gemuk sekarang, pasti mas jijik kan kalau lihat tubuh aku sekarang? Mas lebih suka lihat yang langsing-langsing kan? Jujur deh?!” cerocos Mecca penuh emosi.
“Hei... Hei... Hei... Kok bicaranya begitu sih? Aku saja belum selesai ngomong tadi. Dengar dulu ya jangan dipotong! Pria normal mana sih yang enggak tergoda kalau lihat tubuh wanita? Tapi aku lebih memilih berpaling dengan segera kalau hal itu terjadi di depan mataku. Lebih baik aku langsung cari istriku ini kalau mau lihat yang polos-polosan, hehehe...” goda Fadhil sembari mencolek-colek pipi halus Mecca.
Wajah Mecca yang menunjukkan amarah perlahan berubah menjadi senyum manis yang memesona. Melihat raut wajah Mecca yang menggemaskan, mengundang gairah Fadhil saat itu juga.
“Aku jadi pengen lihat kamu polos-polosan yank, ehm...” lenguh Fadhil mengecup ceruk leher Mecca.
“Eehhmm... Maaaaas.” Lenguh Mecca merasakan ciuman Fadhil dan deru nafas yang meniup-niup di area sensitifnya.
Fadhil mengeksplorasi permukaan kulit Mecca dengan kecupan dan gigitan kecilnya yang menggoda, jari-jemarinya perlahan membuka kancing demi kancing baju Mecca dengan pergerakan lembutnya.
Tangannya mulai melu*uti setiap helai kain yang menempel di tubuh Mecca dengan menggebu. Memberikan sensasi menggelitik di setiap sentuhannya.
Telapak tangannya mulai memainkan dada Mecca dengan rakus, gerakannya seperti meme*as membuat Mecca mengadu kesakitan namun dengan suara yang terdengar menggoda bagi Fadhil.
“Uuuhhh... Sakit mas, pelan-pelan.” Ujar Mecca di antara de*ahannya.
“Hmmm.” Sahut Fadhil singkat, tak ingin melepas lu**tannya pada pu*ing kanan Mecca yang sudah mengeras. Sedangkan tangannya mulai melembut dan terus mere*as dadanya yang lain.
Is*pannya yang kuat memberikan sensasi luar biasa bagi Mecca, membuatnya tak kuasa menahan nikmat. Mecca pun menarik rambut Fadhil dan semakin menenggelamkan wajah suaminya ke dalam dada.
Tindakannya membuat Fadhil sempat kehabisan nafas sesaat, namun Fadhil yang sudah dikuasai gai*ah tampak lebih menikmati hal itu.
Jari-jemarinya mulai menuruni lekuk tubuh Mecca dengan perlahan, menggelitik tiap titik dengan sentuhan di ujung jarinya yang terus mendarat pada pusat tubuh Mecca. Menyibakkan kaki Mecca yang masih mengapit dan mulai mengeksplorasi bagian bawahnya yang telah basah.
“Ehhmm... Kamu sudah basah yank, aku suka dengan cairan yang memudahkanku menja*ah li*ng kewanitaanmu.” Ujar Fadhil dengan deru nafas tersengal-sengal.
“Cium aku mas.” Mecca mengangkat kepala Fadhil yang sedari tadi tak puas-puas meny*su padanya.
Fadhil tak serta merta mengikuti keinginan Mecca, Fadhil seolah menggoda Mecca dengan memberikan jarak dua senti di antara wajahnya. Ia menahan tarikan Mecca untuk mel*mat bibirnya. Fadhil mengunci tatapannya pada wajah nikmat Mecca yang lebih merang**ngnya.
“Ehmm... Cium aku mas, aaahhh....” pinta Mecca lagi.
Fadhil masih tidak menuruti keinginan Mecca yang teramat candu baginya. Fadhil tampak senang mendengar permohonan Mecca yang menginginkan bibirnya untuk menerobos rongga mulutnya.
Fadhil hanya terus memperhatikan raut wajah nikmat Mecca yang menggoda untuk segera melakukan penyatuan. Namun Fadhil masih menahan dirinya untuk menikmati tubuh Mecca yang cukup siap menerima gempurannya.
Jarinya yang lebih basah dari sebelumnya membuat Fadhil semakin diburu oleh nafsu. Fadhil pun merebahkan tubuh Mecca, melebarkan kedua pahanya dengan dada naik turun seakan tak kuasa ingin segera menye*ap habis cairan tubuh Mecca.
Pendaratan jari jemarinya kini terganti dengan mulutnya yang telah mengeksplorasi inti tubuh Mecca dengan pi*inannya. Lidahnya terus menari-nari dengan lihai, membuat Mecca menggelinjang ke sana dan kemari dengan kacau.
“Ehm... Mas, sudah... A-aku enggak kuat lagi, aaaahhhh...” pekik Mecca menyemburkan pelepasan pertamanya.
Fadhil menyesap dan membersihkan cairan itu sampai habis hingga tiap ujung jarinya pun tak luput dari sesapannya.
“Hemm... Nikmat!” ucap Fadhil yang masih memasukkan jari-jarinya ke dalam mulut satu persatu. Mecca menatap Fadhil dengan malu, ia pun memalingkan wajahnya yang merona.
Fadhil pun mulai membuat tubuhnya polos dengan seketika. Mecca bangun dari posisi rebahnya dan mulai mendorong Fadhil ke ranjang.
Kini Mecca berganti posisi menjelajahi tiap titik Fadhil dengan lihai. Mecca langsung mengu*um benda keras yang telah tegak sempurna tersebut semakin dalam ke mulutnya. Menyesap dengan kuat, membuat Fadhil men**sah, me*enguh, dan memekik beberapa kali.
Fadhil menarik tubuh Mecca. Memasukkan dengan sempurna bagian inti keduanya. Menjadikan penyatuan itu dengan tarian-tarian nikmat Mecca di atasnya.
"Cium aku mas... Please!” mohon Mecca menggoda.
Fadhil dengan cepat meraih tubuh Mecca dan menyesap bibir Mecca yang ranum kemerahan tersebut dengan ganas.
Kegiatan panas itu mereka lakukan sampai lewat tengah malam dengan pelepasan yang tak terhitung lagi bagi keduanya.
ATTENTION-ATTENTION or WORO-WORO 🤭 AYO Semua gerakkan jari jemari kalian untuk mengapresiasi Author dengan :⬇️
VOTE✔️
TIPS✔️
LIKE✔️
RATE 5 ✔️
KOMENTAR✔️
JADIKAN FAVORIT✔️
BANTU SHARE NOVEL INI✔️
Tatap Mata Saya, dalam hitungan 1-2-3, Anda akan melakukan semuanya!!!