AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 24. Hanya Kelelahan



Setelah 30 menit perjalanan, Arjun telah sampai dan memarkirkan mobilnya di halaman rumah Mecca yang sudah terbuka lebar pagarnya.


Fadhil sudah berada di teras menunggu kedatangan Arjun, ia segera meminta Arjun untuk masuk ke kamar tamu tempat Medina berada. Masih dengan tatapan kesal ia mencibir Fadhil yang tersenyum padanya.


“Orang stres loe!” ujarnya ketus sembari memasuki rumah Pak Pradipta.


“Woles dong Pak Dokter.” Jawabnya terkekeh dari kejauhan.


“Permisi, boleh saya masuk?” ujar Arjun lembut.


“Kak Arjun, masuk-masuk sini Kak. Tolong Kak Dina ya.” Ujar Mecca menarik lengan Arjun.


Pak Pradipta dan Mecca menjelaskan satu persatu kejadiannya di saat Arjun melakukan pemeriksaan. Arjun dengan cermat memeriksa tiap bagian tubuh Medina, ia sempatkan matanya melihat paras cantik Medina yang tak sadarkan diri. Keningnya mulai mengernyit mengingat sosok Medina yang mungkin pernah ditemuinya.


Arjun menelusuri wajah Medina tiap inci, ia mulai terpesona akan kecantikan Medina. Sesaat matanya terpukau bagai kena sihir, namun keterpakuannya kembali di buyarkan oleh suara Pak Pradipta yang penuh dengan nada cemas.


“Apa Dina baik-baik saja, Nak?” tanya Pak Pradipta khawatir.


“Tenang ya Om, dia hanya kelelahan, kurang asupan gizi, dan kurang minum air putih. Saya akan beri beberapa obat, ada penurun demam dan vitamin, takaran dan aturan minumnya sudah tertera, saya harap bisa diminum rutin ya.” Jelasnya panjang lebar pada Mecca dan Pak Pradipta.


“Terima kasih banyak ya, Nak Arjun atas bantuan dan kedatangannya.” Ucap Pak Pradipta lega.


“Terima kasih ya Kak, sudah mau periksa Kak Dina.” Ucap Mecca dengan senyuman.


“Sama-sama Om, Mec. Kalau begitu saya permisi dulu.” Pamitnya sebelum beranjak pergi.


Di teras depan pintu masuk rumah, Fadhil memberikan wawancara singkat serta peraturan-peraturan yang harus ditaati oleh 3 orang ART yang telah dibawa oleh Faiz.


Fadhil memilih Mirah untuk membantu pekerjaan di rumah Pak Pradipta mulai hari ini. Sedangkan untuk 2 ART lainnya, yaitu Asih dan Lia juga mulai bekerja di rumah barunya. Walau belum di tempati, tapi Fadhil ingin jika rumahnya itu harus dibersihkan setiap hari.


“Iz, kamu antarkan mereka ke rumah baruku. Perkenalkan mereka pada Pak Aang satpam di rumah. Beri tahu Pak Aang secara rinci tentang mereka.” Perintah Fadhil memberikan arahan.


“Baik Bos, tapi hari ini Bos ke kantor atau bagaimana?”


“Aku tetap ke kantor, setelah kamu dari mengantar mereka kamu kembali lagi jemput aku di sini.”


“Siap Bos.”


Setelah kepergian Faiz, Fadhil mengajak Mirah masuk ke rumah Pak Pradipta. Ia mengenalkan Mirah pada seluruh anggota keluarga. Pak Pradipta sempat enggan menerima kebaikan Fadhil, namun lagi-lagi Fadhil meyakinkan Pak Pradipta jika keputusannya memperkerjakan ART akan sangat membantu, dan Pak Pradipta pun akhirnya menyetujuinya. Setelah penjelasan panjang lebarnya itu Fadhil mengantar Arjun ke luar rumah.


"Kenapa sama Dina?"


"Kecapekan dia."


"Dia terlalu ngoyo belajarnya sih!"


"Belajar buat apaan?"


"Dia mau ikut tes kejaksaan."


"Wuidih, hebat benar ya!"


"Tapi malah pingsan, belum bertarung sudah gugur. Kasihan usaha kerasnya jadi sia-sia." Ujar Fadhil penuh iba.


"Tinggal daftar tes lagi tahun depan, bisalah!"


"Loe kira tiap tahun pasti di adain gitu?"


"Hehehe... ya, nggak tahu juga sih." Ujarnya terkekeh. "Eh... tapi usahain ya buat dia nggak stres dulu, nanti malah semakin drop."


"Iya, nanti gue kasih tahu Mecca, thanks ya. By the way, loe mau kemana?"


“Gue balik dulu ke rumah.” Pamit Arjun pada Fadhil.


“Loe liburkan? Ke kantor gue yuk.”


“Ogah, gue mau santai di rumah.”


“Temaninlah, gue rada malas hari ini. Karina bakal datang lagi.”


“Calon perjodohan loe itu?”


“Hmmm...”


“Hahaha, syukurin. Tambah malas gue ada dia.”


“Loe kan butuh jodoh, siapa tahu kalian cocok.”


“Kenapa? Kata loe dia cantik.”


“Gue kan nggak butuh sekedar cantik bro, banyak kebutuhan gue kalau lihat cewek.”


“Pantasan lama jomblo, banyak milih juga banyak tingkah sih.” Ejeknya terkekeh.


“Sialan loe!” Jawabnya ketus sembari memukul sebelah lengan Fadhil dan berlalu pergi masuk ke mobilnya.


Setelah kepergian Arjun, Mecca keluar kamar dengan menjinjing tasnya.


“Ayo Mas kita berangkat ke kantor, sudah telat nih.” Ujar Mecca membelai lengan Fadhil dengan lembut.


“Beberapa hari ini kamu jaga Dina saja yank, kalau dia sudah baikan kamu kembali lagi ke kantor.”


“Loh, kok begitu? Nggak apa-apa Mas, ada Ayah juga Bi Mirah yang jaga Kakak.”


“Yank, nurut ya sama aku. Aku yakin saat Dina sadar dia akan mulai kecewa gagal hadir tes hari ini, cuma kamu yang bisa kuatin dia. Kamu yang tahu banget perjuangan dia sampai ke titik ini.” Jelasnya dengan lemah lembut.


“Hmmm, iya deh.” Jawabnya sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


"Ingat ya yank, tadi kata Arjun, Dina nggak boleh stres dulu, nanti dia bisa semakin drop kondisinya."


"Aku harus bagaimana dong mas?"


"Ya hibur sebisa kamu saja yank, bahas hal-hal yang bikin dia happy."


"Tapi..."


“Sudah, nggak usah tapi-tapian. By the way, soal status ART baru itu nggak apa-apa kan yank?”


“Iya nggak apa-apa Mas, aku sudah tanya-tanya sedikit tadi. Aku jadi kasihan sama dia Mas, kisah hidupnya bikin aku terharu.”


"Semoga cocok ya dia kerja di sini."


"Semoga Mas."


“Ya sudah kalau begitu, Mas pergi dulu ya. Faiz sudah menunggu di depan.” Pamitnya sembari mencium kening istrinya.


“Hati-hati ya Mas, jangan pulang malam-malam, karena rindu itu berat.” Ujarnya sembari mencium punggung tangan Fadhil kemudian memeluknya singkat.


“Iya cantik.” Sahutnya sambil berlalu menuju mobil yang di kendarai Faiz.


Mecca memperhatikan punggung suaminya dengan lekat, ia menunggu Fadhil hingg masuk ke dalam mobil. Dengan saling melambaikan tangan ia mengantar kepergian suaminya.


Saat di dalam mobil Fadhil memerintahkan pada Faiz agar meminta seorang sekretaris pengganti sementara dari devisi lain. Ia meminta sekretaris yang berusia 30 tahun ke atas dan sudah menikah. Faiz pun menyetujuinya dan langsung melakukan panggilan telepon ke kantor.


"Sudah beres Bos, nanti Bu Nina yang mengisi posisi sekretaris sementara."


"Good job."


"Oh iya Bos, untuk perwakilan Grup F jadwal mereka bisa dipindah di jam 3 sore ini."


"Oke. Oh ya, tolong kamu batalkan pertemuanku hari ini dengan perwakilan Grup R. Aku yakin pasti Karina akan datang lagi menemuiku. Aku malas berhadapan dengannya kalau istriku sedang tidak di kantor."


"Maaf Bos, Bu Karina sudah menunggu di ruangan Bos lagi pagi-pagi sekali, tadi beliau melakukan panggilan telepon dengan saya." Jelas Faiz dengan nada menyesal.


"Shit ! Perempuan itu sulit sekali di kasih tahu! Kalau gitu kita ke perusahaan properti Grup A saja. Inspeksi dadakan! terlalu malas jika pagi-pagi sudah ketemu perempuan itu!"


"Nanti Bu Karina semakin marah loh Bos jika dibiarkan menunggu." Jawab Faiz memberi pendapat.


"Biarkan saja! bagus jika dia sadar kalau aku menghindarinya." Seringai pahit dari sudut bibirnya.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.


Terima Kasih.