AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 63. Kamu Cinta Aku Juga Kan?



Satu Minggu telah berlalu, hari ini bertepatan dengan wisuda Mecca. Mecca telah berdandan dengan sangat cantik. Ia menggunakan kebaya berwarna hitam dengan detail payet dan mote. Sedangkan untuk rok kebayanya Mecca menggunakan yang sepanjang lutut, ditambah sepatu selop dengan hak rendah.


Mecca tampak cantik dengan riasan flawless serta rambut updo dengan tatanan chignon. Penampilan Mecca membuat perutnya yang mulai membesar lebih tampak daripada biasanya.


Fadhil menatap Mecca dengan terpesona. Entah mengapa melihat tubuh hamil Mecca membuatnya lebih bergairah. Berkali-kali dirinya berdecap kagum, memuji, dan menciumi leher belakang Mecca dengan lembut.


Tangannya tak berhenti-henti mengelus perut besar Mecca dengan sayang, sesekali tangan nakal Fadhil mere*as dada berisi Mecca dengan gemas. Posisi Fadhil yang berdiri di belakang Mecca memberikan kemudahan baginya untuk menjam*hi tubuh bagian atas istrinya.


“Mas tangannya jangan nakal deh! Aku lagi siap-siap nih.” Tegur Mecca sembari memasukkan barang-barang bawaannya ke dalam tas jinjing berukuran sedang.


“Aku suka tubuh hamilmu yank. Semua kelihatan berisi, termasuk yang ini.” Ujar Fadhil sembari meraba dan memainkan dada Mecca.


“Iya, tapi bisa nanti aja enggak? Aku risih banget nih!” jawab Mecca sembari melepas kedua tangan Fadhil dari bagian sensitifnya. Namun seakan terkena magnet, Fadhil mengembalikan posisi tangannya ke tempat semula.


“Kalau usia kehamilanmu semakin besar apa ini akan tambah besar lagi yank?”


“Mungkin. Aku juga enggak tahu!” Mecca menepis tangan Fadhil lagi dari dadanya, namun lagi-lagi Fadhil memosisikan kembali tangannya.


Seakan jengah dengan kelakuan suaminya, Mecca mempercepat kegiatannya dan menggenggam tangan Fadhil lalu menariknya keluar kamar.


“Ayo berangkat, nanti kita bisa terlambat loh!”


“Yah... Tangan aku belum puas nih yank, masih mau pegang.” Rengek Fadhil bagai anak kecil.


“Sssttt... Nanti malam aja!” sanggah Mecca gemas.


***


Pagi-pagi Arjun sudah berada di rumah Medina. Ia menunggu Medina di halaman rumah Pak Pradipta sembari melakukan sedikit perenggangan.


“Be...” tegur Medina lembut.


“Bi, jadi kan kita keluar kota? Sudah izin ayah?” tanya Arjun pada Medina yang tengah berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding.


“Semalam sih sudah izin ayah, sebelumnya ayah bilang boleh kalau ramai-ramai, tapi tiba-tiba ayah berubah pikiran dan bilang percaya sama kamu.”


“Alhamdulillah. Akhirnya dapat kepercayaan ayah. Mana ayah, aku mau salam!” ucap Arjun sembari menengok-nengok ke dalam rumah.


“Ayah sudah pergi ke kampus pagi-pagi sekali.”


“Memang hari minggu ngajar kuliah juga?”


“Bukan ngajar, tapi hari ini sebagai anggota yang ikut melantik wisudawan/wisudawati. Mecca juga wisuda hari ini.”


“Serius? Wah akhirnya lepas juga bebannya Mecca dari kampus.”


“Iya, syukurlah dia bisa lulus tepat waktu.”


“Kita harus minta traktirannya tuh.”


“Hahaha... Bisa-bisa.” Jawab Medina tertawa.


“Syukurlah hari ini cerah. Ayo berangkat sekarang Bi supaya pulangnya nanti enggak kemalaman.” Ujar Arjun sambil menatap sinar matahari pagi, namun Medina justru menundukkan kepalanya.



“Be... Kita enggak usah pergi jauh-jauh ya.” Jawab Medina lesu.


“Loh kenapa? Kan ini sudah rencana kita seminggu lalu, masa batal tiba-tiba?”


“Aku takut Be kalau pergi jauh-jauh!”


“Takut apa? Takut sama aku? Aku kan enggak gigit Bi!”


“Bukan! Takut sama orang jahat!”


“Jangan banyak mikir jelek, sudah sana siap-siap. Aku tunggu di sini. Pokoknya kita buat banyak kenangan hari ini.” Ujar Arjun memegang kedua lengan Medina dari belakang tubuhnya dan mendorong Medina masuk ke dalam rumah.


“Iya deh iya, sebentar ya.” Jawab Medina berlari ke dalam rumah.


Saat ini Medina dan Arjun telah berada di dalam mobil. Mereka saling berpegangan tangan, tersenyum, dan saling menatap. Hari ini mereka akan berdua seharian, mereka sangat bahagia dengan kebersamaan ini.


Arjun pun mulai menyalakan musik dengan lantunan nada ceria untuk melengkapi perjalanannya. Ia pun mulai menyalakan lagu Bruno Mars dengan judul Just The Way You Are.


“Lagu ini tuh ngewakilin perasaan aku banget setiap lihat kamu Bi.”


“Gombal banget!”


“Serius. Kamu tuh bagiku terlalu memesona. When I see your face. There is not a thing that I would change. Cause you're amazing. Just the way you are... And when you smile. The whole world stops and stares for a while. Cause, girl, you're amazing. Just the way you are...” Ujar Arjun sembari menyanyikan dua bait lagu tersebut dengan menatap wajah Medina dan meletakkan tangan Medina di dadanya dengan lembut.


Medina tersenyum lebar sepanjang lagu yang dinyanyikan Arjun untuknya. Tatapannya pun ikut mengunci tatapan Arjun yang menyiratkan kekaguman padanya. Sesekali ia melihat ciuman Arjun mendarat di punggung tangannya. Medina merasa sangat tersanjung atas perlakukan Arjun padanya.


Hampir 2 jam mereka berkendara, melewati hiruk pikuk jalanan sampai ke jalur sepi dengan banyak batu kerikil.


“Perjalanannya enggak mudah ya Be, kamu pasti capek.” Ucap Medina dengan suara bergetar karena medan yang tidak mulus.


“Kalau sama kamu enggak ada yang sulit kok, Bi.” Jawab Arjun dengan kerlingan matanya.


“Nanti perjalanan pulangnya aku aja yang nyetir Be, kamu gantian istirahat.”


“Ah... Senengnya di perhatiin. Love you!” ucap Arjun memajukan bibirnya.


“Love you too.” Jawab Medina dengan gerakan bibir tanpa suara.


Setengah perjalanan sudah semakin siang, Medina dan Arjun berhenti sesaat di sebuah warung kecil di sudut jalan. Mereka memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu, serta membeli beberapa botol air minum, roti-rotian, serta snack lainnya sebagai camilan nanti.


Setelah mengisi perut, mereka pun kembali melajukan mobilnya menaiki jalanan menanjak di hadapannya. Sedikit demi sedikit tempat tujuan terakhirnya semakin terlihat.


“Yeah sampai!” teriak Arjun dengan riang. Medina terkikik melihat tingkah laku Arjun yang seperti anak kecil.


“Turun yuk Be.”


“Ayo!”


Mereka sampai ke daerah pegunungan yang cantik nan indah. Udara sejuk mulai menerpa kulit keduanya, membuat mereka bergidik sesaat.


“Kamu kedinginan sayang?”


“Enggak kok, cuma kaget sedikit kulitnya.” Cengir Medina.


Keduanya menanjaki tangga yang semakin ke atas. Saling mengaitkan jari jemari, memandangi wajah masing-masing, dan mengagumi pemandangan di sekitar.


“Ternyata yang datang enggak ramai ya Be, cuma 1 rombongan, 1 kumpulan keluarga, sama kita.”


“Iya. Tapi bagus juga kan, jadi kita bisa puas-puas ambil fotonya.” Ujar Arjun melingkarkan kedua tangannya di pinggang Medina.


Mereka menatap lurus ke depan. Memandang awan yang selalu berubah bentuk tertiup angin. Arjun mulai menyelinapkan ujung hidungnya di belakang leher Medina, sehingga membuat Medina sedikit bergidik.


“Aku cinta banget sama kamu, Bi.”


“Ehm...” sahut Medina singkat masih menikmati embusan nafas Arjun.


Arjun pun membalikkan tubuh Medina berhadapan dengannya.


“Jawab yang bener dong Bi. Kamu cinta aku juga kan?”


“Iya Be, aku cinta juga sama kamu. Banget!” Medina menekan kata terakhirnya.


Arjun tersenyum bahagia mendengar jawaban Medina, ia pun melayangkan kecupan bertubi-tubi di bibir Medina.


“Malu ah... Entar dilihat orang!” Medina memukul dada Arjun spontan.


“Mana orangnya?”


“I-itu...” Medina melongo melihat kekosongan di area tempatnya berada.


“Hahaha... Mereka turun barusan Bi.”


“Oh...”



Mereka pun memutuskan berjalan-jalan dan mengambil beberapa foto bersama. Tanpa terasa hari sudah semakin sore, mereka pun mulai turun gunung dan berhenti sejenak menikmati pepohonan berdaun merah yang tertanam di sekitarnya.



Arjun menjadikan dada bidangnya sebagai sandaran tubuh Medina yang mulai sedikit lelah. Tanpa terduga hujan turun dan membasahi keduanya, mereka pun berlari cepat menuju mobil yang tak jauh jaraknya.


“Wah tiba-tiba hujan deras. Kita pulang aja yuk Bi.”


“Iya ayo, sini aku yang bawa mobilnya.”


“Jangan, biar aku aja!”


Perjalanan keduanya tampak mulus awalnya, namun tiba-tiba salah satu ban belakang mobil Arjun terjebak dalam kubangan lumpur yang licin.


“Ban belakang ke masuk lubang lumpur.” Ujar Arjun sambil melihat ke arah kaca spion.


“Terus gimana?”


“Aku turun dulu buat lihat dan dorong, Bi gantiin posisi aku di kemudi ya.” Medina hanya mengangguk mendengar instruksi Arjun.


“Pakai payung, Be!” cegah Medina menarik lengan Arjun yang akan membuka pintu.


“Mana bisa maksimal dorongnya kalau sambil bawa payung, Bi.” Jawab Arjun tersenyum lalu keluar mobil. Medina menatap Arjun dari kaca spion dengan khawatir.


Saat Arjun mulai mendorong mobil, Medina pun ikut menancapkan gasnya. Beberapa kali upaya mereka tak membuahkan hasil. Mobil masih berada pada posisi semula.


“Ya Allah, masa enggak ada satu pun sih yang lewat untuk bantu. Kasihan Arjun basah kuyup begitu. Mana petir pula...!” keluh Medina khawatir sembari melihat langit yang gelap dengan hujan deras dan gemuruh menggelegar.


Medina pun tanpa sengaja melihat sebuah papan kayu yang berada pada jarak kira-kira 20 meter dari mobil. Papan itu sedikit tersembunyi di antara semak-semak. Medina memutuskan untuk turun dan mengambil papan kayu tersebut.


“Be coba pakai ini, lumayan panjang papannya.” Ucap Medina gemetar.


“Bi, kok turun? Ya ampun harusnya kamu kasih kode aja sama aku, biar aku yang ambil.”


“Enggak apa-apa, coba pasang Be.”


Arjun pun sedikit menggali kubangan lumpur dengan bantuan Medina, lalu memosisikan papan kayu tersebut dan mencoba mengeluarkan mobil dari kubangan lumpur tersebut, dan... Berhasil!


Setelah usai mereka bersama-sama masuk ke dalam mobil dan duduk pada bangku belakang mobil.


“Kamu basah semua deh jadinya!” keluh Arjun sembari mencari-cari handuk kecil di tasnya.


Arjun memang sudah biasa membawa-bawa perlengkapan mandi dan beberapa pakaian serta perlengkapan dirinya di mobil.


Dengan segera Arjun mengusap wajah basah Medina dengan handuk bersih di tangannya. Ia menyapu setiap tetesan air hujan dari wajah dan rambut Medina dengan telaten.


“Bi pakai baju aku dulu ya sementara. Ada celana karet juga kok, kayaknya bisa dipakai. Paling bajunya aja yang kedodoran.” Ujar Arjun sembari mencari-cari pakaian yang dimaksud.


Arjun pun menyerahkan baju dan celana tersebut ke Medina lalu ia keluar lagi dari mobil berdiri di kehujanan. Medina menatap Arjun dengan sendu.


Setelah usai berganti pakaian, Medina mengetuk kaca pintu mobil memberi tanda pada Arjun untuk masuk. Ia pun berpindah posisi duduk di depan. Arjun masuk ke mobil dan mengganti seluruh pakaiannya yang basah kuyup dengan cepat.


“Sudah selesai gantinya, Be?”


“Sudah, tapi masih beres-beres dulu di belakang.”


“Sini aku bantu!”


“Jangan, aku saja!” tanpa menuruti perintah Arjun, Medina sudah pindah ke bangku belakang kembali. Medina dengan cekatan membersihkan sisa-sisa air hujan serta bekas-bekas lumpur di jok mobil.


“Huh... Akhirnya selesai juga.” Ucap keduanya lega sembari menghempaskan tubuh ke bangku belakang.


Medina melihat tubuh Arjun yang masih gemetar kedinginan, sedangkan tubuhnya sendiri sudah berada di suhu normal. Tanpa meminta persetujuan, Medina menarik tubuh Arjun mendekat pada tubuhnya. Arjun tersentak kaget melihat tindakan Medina yang tak biasa.


Medina menggenggam tangan Arjun dengan kedua tangan hangatnya, menggosok-gosoknya menyalurkan kehangatan genggamannya. Arjun hanya dapat terdiam merasakan perlakuan Medina yang tampak manis di matanya.


Medina pun mulai memeluk tubuh Arjun dan melekatkan bibirnya ke benda kenyal berwarna merah muda milik Arjun. Keduanya saling berciuman dengan lembut, perlahan, dan menggoda. Hingga ciuman itu semakin menggelora dan membara.


Hujan deras dengan suara gemuruh yang menggelegar meredam lenguhan suara Arjun dan Medina yang terbawa suasana. Bibir keduanya tampak betah berlama-lama untuk saling bertautan. Menyesap setiap rasa manis dari sengatan benda kenyal yang berpagutan itu.


Tangan Arjun semakin bergetar ingin menjelajahi tubuh Medina, namun niatannya selalu tertahan dengan kuat. Medina melingkarkan kedua tangannya ke leher jenjang Arjun dengan perlahan, menyusupkan jari jemarinya ke rambut basah Arjun yang tampak menggoda.


Arjun tampak tak kuasa menerima perlakuan tersebut, ia pun mendorong tubuh Medina ke belakang, merebahkan tubuh Medina pada bangku dengan lapisan kulit tersebut. Medina mengikuti keinginan Arjun tanpa mengeluh.


Keduanya saling terbuai dengan sentuhan dan ciuman panas tersebut. Arjun mulai tak kuasa menahan diri, salah satu tangannya mulai menyelinap dibalik kaos kedodorannya yang dikenakan Medina. Menelusuri punggung Medina yang polos dibalik kaosnya.


Arjun tak menemukan pengait bra apapun di punggung Medina. Ia pun sedikit melirik dada Medina yang menyembul dengan lekukan pucuk di dadanya yang tampak melekat pada kaosnya.


“Dina enggak pakai bra...” ujar Arjun dalam hati. Matanya masih terbelalak memperhatikan kedua pucuk tersebut. Pikirannya mulai tak karuan hingga benda kenyal di antara pahanya menjadi tegang.


Medina yang awalnya terbuai dengan perlakuan Arjun tiba-tiba menyadarkan dirinya. Medina mulai merasakan sesuatu di pahanya yang mengeras. Ia pun dengan segera membuka kedua matanya yang kini bertatapan dengan Arjun. Mereka pun langsung bangun dan saling merapikan diri.


“E-ehm... A-aku... Ma-maaf ya!” ujar Arjun gelagapan.


“Jalan lagi yuk.”


“I-iya.” Arjun dan Medina secara bergantian pindah ke bangku depan dan melanjutkan kembali perjalanannya untuk pulang.


Mereka tampak canggung dan saling menghindari tatapan masing-masing. Jantung keduanya pun masih berdebar kencang dan rona wajah kemerahan masih menghiasi pipi dan telinga keduanya.


Terus dukung Author dengan TIPS, VOTE, LIKE, KOMENTAR, RATE 5, DAN KLIK FAVORIT. Setiap dukungan Readers sangat berarti untuk Author dan setiap komentar kalian selalu Author sempatkan untuk membacanya, seneng aja kalau lihat para readers suka dengan novel ini. Terima kasih. 💜