
Malam semakin larut, di atas ranjangnya Mecca bersandar pada dada bidang Fadhil dengan nyaman. Sedari tadi keduanya sibuk mengobrol dengan bayi dalam kandungan Mecca.
Keduanya tertawa bersama dan saling melemparkan tatapan kebahagiaan tatkala bayinya merespons setiap kata dengan tendangan kecilnya.
“Tuh yank anak kita nendang lagi.” Ujar Fadhil dengan ekspresi kagum penuh takjub.
“Iya mas iya... Sudah dong mas, perut aku kaget-kaget nih ditendang adek terus.”
“Yah... Bubu enggak seru ya nak, kita kan lagi mainan.” Ucap Fadhil sembari membelai perut Mecca lembut dan mendapat balasan tendangan dari bayi dalam perut Mecca.
“Aaakkhh... Kan tuh dia nendang aku lagi. Setiap mas sentuh dia nendang perut aku.”
“Tandanya anak kita aktif dan responsif yank. Dia senang kalau baba tampannya ngajak ngobrol sambil belai-belai manja.”
“Iya-iya tamVan!”
“Tampan yank, pake huruf P.”
“Aku enggak bisa bilang P mas, jadi bisanya bilang tamVan.”
“Tadi bisa!”
“Kapan? Enggak ingat!”
“Dasar kamu tuh yank!” ujar Fadhil sembari mengunyel-nguyel wajah Mecca.
“Oh ya mas, soal cerita Kak Egy tadi... Aku tiba-tiba jadi merasa kasihan sama Karina. Kalau dia mengalami itu mana bisa aku benci dia karena perlakuannya tadi ke aku, huuufftt...” ujar Mecca sembari menghembuskan nafas dengan keras.
“Kalau aku sih, biar dia mau sakit apapun kalau sampai mencelakai anak-istriku pasti aku enggak akan tinggal diam. Bersyukurnya kamu dan anak kita baik-baik semua, jadi aku juga enggak bisa marah atau benci dia lagi. Justru aku agak merasa menyesal karena terlalu diinginkan, ckckck...” decak Fadhil dengan berpose, seakan-akan membanggakan ketampanannya.
“Hmmm... Mulai deh!” sahut Mecca memutar kedua bola matanya.
“Mas...”
“Hmmm.”
“Mas enggak mau telepon papa?”
“Buat apa?”
“Ya tanya kabar.”
“Enggak yank.”
“Kenapa? Masih marah?”
“Hmmm.”
“Mau sampai kapan begini terus?”
“Enggak tahu.”
“Huufftt... Baikanlah mas!” ujar Mecca menghembuskan nafas seakan lelah.
“Papa sendiri enggak mau berbaikan kok.”
“Kok mas bisa bilang begitu?”
“Kalau papa mau berbaikan, papa pasti akan lebih mengutamakan dan mendengarkan keluarganya, tapi buktinya apa?”
“Hmmm... Terus Mama Alisa bagaimana mas?”
“Setiap aku telepon mama selalu bilang baik-baik saja. Tapi entah kenapa suarnya selalu terdengar sedih. Aku juga ikut sedih kalau ingat mama.” Jawab Fadhil dengan ekspresi menerawang.
“Semoga keluarga kita baik-baik lagi seperti dulu ya mas!”
“Semoga...”
***
Sudah pukul 23.16 WIB, Pak Permana masih berada di ruang kerjanya. Mengerutkan dahi dan memijat-mijatnya dengan kuat.
Bu Alisa sedari tadi memperhatikan pintu ruang kerja Pak Permana yang masih tertutup. Pak Permana bekerja dalam waktu yang cukup lama. Bu Alisa khawatir Pak Permana akan jatuh sakit jika terlalu keras bekerja.
Bu Alisa pun berinisiatif ke dapur untuk membuat jamu dari campuran jahe, kunyit, ginseng, dan madu untuk diminum oleh Pak Permana. Dari kejauhan Rani melihat gerak-gerik Bu Alisa, Rani mencoba memanfaatkan keadaan dengan melakukan provokasi.
Rani pun memasuki ruangan kerja Pak Permana dengan pakaian tidur tipisnya. Rani sengaja tidak menutup pintu dengan erat. Ia membawa sebuah botol minuman keras dalam genggaman tangannya. Ia meletakkan botol itu di meja kerja Pak Permana dengan hati-hati.
“Sedang apa kamu kemari? Apa itu?” lirik Pak Permana pada Rani dan botol minuman tersebut secara bergantian.
“Aku tidak bisa tidur tanpa om di sampingku. Jadi aku memutuskan untuk menemani om di sini. Om masih lama kerjanya? Aku mau kita minum bersama.” Ujar Rani manja sembari menggoyang-goyangkan botol minuman tersebut.
“Aku tidak minum itu!”
“Ayolah om, sedikit saja.”
“Ehm... Oke deh kalau om tidak mau.” Rani membuka botol minuman tersebut dan menuangkannya sedikit ke dalam gelas. Ia meminumnya dalam sekali teguk.
Pak Permana memandang Rani sesaat lalu memalingkan kembali wajahnya pada pekerjaannya. Rani mulai duduk di atas meja, menyelipkan sebelah kakinya di antara kedua paha Pak Permana. Pak Permana terkejut melihat aksi Rani yang berani.
“Hei! Apa-apaan?!” tegur Pak Permana menghindar.
“Aku tahu om sedang banyak pikiran. Jadi aku kemari untuk menghilangkan stres dan pusing om itu.” Rani mulai turun dari meja dan bergerak ke belakang kursi Pak Permana.
Rani memijat leher hingga bahu Pak Permana dengan kekuatan yang pas. Pak Permana pun merasakan kepuasan dalam pijatan Rani. Tangan Rani kembali memijat kepala dan dahi Pak Permana, sentuhannya membuat mata Pak Permana terpejam.
“Enak pijatanku ya om?”
“Hmmm... Kamu pintar memijat.” Jawab Pak Permana masih memejamkan matanya.
“Aku juga pintar menghilangkan pusing om kok.” Ujarnya lembut di telinga Pak Permana.
“Oh ya?”
“Iya... Om cukup rasakan saja, pasti semua pusing om hilang. Om tahu bagaimana caraku melakukannya?”
“Tidak.”
“Om cuma butuh pelepasan.” Jawab Rani menurunkan tangannya menggapai benda kenyal di antara paha Pak Permana.
Pak Permana tidak merasa kaget dengan perlakuan Rani, justru beliau sangat menikmati pelayanan Rani kepadanya. Rani pun mulai berjongkok di bawah Pak Permana, melakukan tindakan lebih pada benda kenyal tersebut.
Lama Rani berdiam dan melakukan kegiatannya, hingga tiba Pak Permana merasa telah berada diambang batasnya. Dalam seketika Pak Permana melepaskan lahar yang sedari tadi tertahan dalam dirinya. Lenguhan panjang keluar dari mulut beliau. Semua cairan itu ia lepaskan ke wajah Rani dengan rata.
Rani pun mulai duduk di atas meja kerja Pak Permana, menyingkirkan segala berkas yang berserakan di sekitarnya. Ia kemudian membuka lebar kedua kakinya tepat di depan wajah Pak Permana. Seakan gelap mata, Pak Permana mulai menurunkan tali baju Rani dan menelusuri paha putih mulus itu dengan rakus.
Rani menengokkan wajahnya ke ambang pintu. Di sana ia melihat Bu Alisa berdiri mematung memegang nampan berisi jamu buatannya. Rani menyunggingkan senyum kepuasan sembari melenguh dan mendesah tak karuan. Bu Alisa hanya dapat menangis dalam diam melihat perbuatan suaminya dengan wanita lain.
Seakan tubuhnya menjadi lemah, Bu Alisa tak kuasa menahan nampan dalam genggamannya, ia pun menjatuhkan nampan tersebut tanpa sadar. Jamu panas serta pecahan gelas mengenai kedua kakinya, memberikan goresan luka dan kulit yang merah melepuh.
Rupanya goresan beling serta siraman air panas tersebut tidak sebanding dengan derita hatinya, tanpa merasakan apapun pada kedua kakinya Bu Alisa masih tetap berdiam pada pijakan kakinya.
“Mama!” ujar Pak Permana terkejut.
“Tega kamu pa!” teriak Bu Alisa sejadinya.
Rani menutup tubuhnya yang telah polos tersebut. Ia pun turun dari meja yang ia duduki dengan perlahan. Rani pun berpura-pura baik dan bersikap khawatir berlebihan.
“Ya ampun tante, itu kakinya kena pecahan gelas sama siraman air panas. Luka dan melepuh sampai seperti itu.” Ujar Rani mendekati Bu Alisa lalu berjongkok dan mengambil pecahan beling yang berserakan.
Bu Alisa jengah dengan kepura-puraan Rani, ia pun menampar kuat pipi Rani berkali-kali hingga wanita itu terjatuh ke belakang tubuhnya.
“Dasar wanita ja**ng! Wanita tidak tahu diri! Wanita tidak tahu malu! Parasit! Hama! Aku benci kamu!” caci Bu Alisa tanpa berhenti sembari membombardir pipi dan tubuh Rani dengan pukulan kerasnya.
Rani mengadu kesakitan, ia seperti telah lemas tak berdaya menerima serangan Bu Alisa yang penuh amarah. Bahkan Pak Permana yang ikut berusaha merelai pun juga ikut terkena pukulan Bu Alisa.
“STOP!” teriak Pak Permana menghentikan serangan Bu Alisa pada Rani.
Rani pun mendorong Bu Alisa lalu meloloskan dirinya segera dan berlari ke belakang punggung Pak Permana.
“Kamu keterlaluan pa!” teriak Bu Alisa histeris.
“Aku laki-laki yang butuh pelepasan!”
“Kamu punya istri pa!”
“Sejak kamu keluar dari kamar kita, kamu bukan istriku lagi. Aku jatuhkan talak padamu Alisa!” ujar Pak Permana dengan marah sembari menggenggam tangan Rani untuk ikut pergi bersamanya.
Pak Permana melewati Bu Alisa tanpa menoleh, sedangkan Rani menyunggingkan senyum liciknya di hadapan Bu Alisa.
Bu Alisa terduduk di lantai dengan derai air mata dan teriakannya yang menggelegar. Memukul-mukul dadanya yang sakit dengan keras.
Malam itu juga Bu Alisa memutuskan pergi dari kediaman Pak Permana. Bu Alisa meninggalkan semua hal pemberian Pak Permana. Bu Alisa hanya mengemasi pakaian serta perlengkapan yang ia beli dengan jerih payahnya sendiri.
Setelah melakukan pemesanan taksi, Bu Alisa keluar rumah dengan buru-buru. Masih dengan air mata yang berderai Bu Alisa menaiki taksi tersebut. Air mata yang sedari tadi ia keluarkan tak juga kunjung berhenti, justru semakin menambah rasa sesak di jantungnya.
***
Ting Tong... Ting Tong...
Setelah beberapa menit bel berbunyi, Fadhil dan Mecca membuka pintu rumahnya. Dengan mata terbelalak ia mendapati Bu Alisa yang menangis terisak-isak menghambur ke dalam pelukan Fadhil dan Mecca secara bersamaan.
“Mama kenapa?” tanya Fadhil dan Mecca serentak.
“Huhuhu... Hiks... Hiks... Papa menceraikan mama!” jawab Bu Alisa di tengah isakannya.
Dear Readers, jangan lupa untuk terus beri TIPS, VOTE, KOMENTAR, LIKE, dan RATE 5 ya. Ajak juga yang lain untuk baca novel ini. (Aku maksa! Iya Author memang maksa! 😅)