AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 14. Lakukan Kewajibanmu



Pagi ini Pak Permana dan Bu Alisa sudah berada di restoran hotel miliknya di lantai 25. Tak lama kemudian Pak Pradipta dan Medina juga telah berada di restoran tersebut. Kedua keluarga itu memang saling membuat janji untuk sarapan bersama pagi ini.


“Selamat pagi Mas Dipta, Din." Ucap Pak Permana dan Bu Alisa bergantian.


“Selamat pagi Mas Mana, Bu Alisa." Sapa Pak Pradipta diikuti Medina. “Pagi om-tante." Sapanya ramah.


“Pengantin baru itu sepertinya tidak sarapan nih." Ujar Pak Permana dengan senyuman simpulnya.


“Maklumlah pa, pasti lelah. Kalau hari ini papa tidak ada urusan ke kantor, Mama juga pasti masih ingin istirahat di kamar." Rengek Bu Alisa.


“Biarkan saja mereka istirahat. Kita pulang saja lebih dulu." Jawab Pak Pradipta lembut.


“Loh, kenapa juga ikut pulang mas?”


“Ada yang saya urus di rumah, lagi pula Dina juga harus belajar untuk menyiapkan diri menghadapi seleksi berikutnya, iya kan Nak?”


“Benar yah." Sahut Medina singkat.


“Tante dengar Dina ingin jadi Jaksa ya? Sekarang sedang ikut tesnya?”


“Iya tante, mohon doanya ya om-tante."


“Pasti dong, semoga sukses ya." Jawab Pak Permana dan Bu Alisa kompak.


“Sudah ditahap seleksi yang ke berapa ini Din?”


“TKD (Tes Kompetensi Dasar) sudah lulus tante dan sudah keluar jadwal tes berikutnya. Beberapa hari lagi menuju psikotes, Tes Kemampuan Akademik Hukum, dilanjut wawancara langsung."


“Jangan tegang ya, itu pasti sulit. Untuk TKD saja itu sulit kan, karena ada 3 subtes ya biasanya?”


“Benar tante, tapi Dina lebih deg-degan sama tes berikutnya ini."


“Tante sih percaya kamu bisa."


“Semoga tante." Ujar Dina singkat dengan senyum merekahnya.


Beberapa saat kemudian, Pak Pradipta mulai memecah keheningan, ia mulai teringat untuk menanyakan sesuatu pada Pak Permana.


“Oh iya mas, saya mau minta izin. Kalau bisa selama 1 minggu ini Mecca dan Fadhil menginap di rumah saya dulu baru mereka kembali ke rumah Mas Mana, saya sih sudah beri tahu Mecca sebelumnya."


“Tentu mas, tidak masalah. Lagi pula Fadhil tidak mau tinggal bersama kami. Setelah acara lamaran waktu itu dia langsung mencari rumah baru untuk dia tempati bersama Mecca. Kalau tidak salah juga tidak terlalu jauh dari perumahan tempat Mas Dipta tinggal."


“Oh ya? Wah... Luar biasa sekali Nak Fadhil itu. Dia memikirkan segalanya sangat matang. Saya jadi ikut bangga."


“Fadhil itu mewarisi hampir seluruh sifat papanya mas. Pemikir, pekerja keras, perfeksionis, dan keras kepala." Ujar Bu Alisa menekan kata keras kepala sembari melirik suaminya.


“Hahahahaha....” tawa Pak Pradipta dan Pak Permana menghampur lepas diikuti senyuman lebar Medina.


Terik matahari mulai menyapa melalui sela-sela tirai jendela yang tertutup. Mecca mulai membuka matanya secara perlahan, namun kembali memejamkan matanya.


Gadis itu masih merasa sangat letih, tubuhnya masih ingin dimanjakan oleh ranjang empuknya itu. Namun sesuatu yang mengganjal pada bagian belakang pangkal paha membuatnya tak nyaman.


Ia mulai mengarahkan tangan kanannya menyentuh benda itu. Awalnya ia hanya ingin menyingkirkannya, namun benda itu terasa kenyal dan hangat, sangat nyaman untuk disentuh dan dipegang.


Masih setia dengan mata tertutup dengan kesadaran yang masih belum seutuhnya pulih, Mecca terus menerus menyentuh benda kenyal yang ia sendiri tidak dapat menebak apa itu.


Awalnya sentuhan kecil lalu semakin intens, lama-lama menelusuri tiap lekuknya dari atas ke bawah, Mecca berusaha meraba dengan gerakan naik dan turun mengikuti bentuk benda kenyal tersebut yang kini telah mengeras, meninggalkan kekenyalan yang tak lagi di rasakannya.


Seolah-olah squishynya telah lenyap Mecca pun menarik tangannya menjauh, namun erangan dari balik tubuhnya menahan erat pergelangan tangannya.


***


Fadhil masih tertidur pulas saat itu, namun tidurnya mulai terganggu tatkala pusakanya mendapatkan rangsangan lembut. Ia masih berpikir jika apa yang ia rasakan adalah salah satu mimpi liarnya.


Fadhil merasakan secara intens Bembinya distimulasi dengan baik. Sentuhan itu menggugah gairahnya, saat sentuhan itu semakin di percepat, Fadhil tak mampu menahan erangannya. Kenapa begitu hampir mencapai puncak, tangan yang mengerjainya pergi begitu saja?


Seakan tak terima pekerjaan setengah-setengah itu Fadhil kemudian memaksakan matanya untuk terbuka dan menangkap si pelaku.


“Sayang aku tarik kata-kataku semalam, lakukan kewajibanmu sekarang denganku." Perintah Fadhil bergairah.


“Mas, aku kira tadi itu...” belum tuntas Mecca menyelesaikan ucapannya Fadhil telah membungkam bibir mungil istrinya dengan bibirnya. Ia melahap bibir Mecca tak ada ampun, gadis itu hanya pasrah terdiam.


Ciuman panas Fadhil semakin lama semakin dalam, Mecca mulai terhanyut dalam permainannya. Ia mengalungkan kedua tangan pada leher suaminya dan menekan kepala Fadhil semakin dalam menelusuri tiap inci bibirnya.


Dengan nafas tersenggal-senggal Fadhil meraba kedua bukit itu tanpa izin. Mecca melenguh tanpa sadar saat bagian sensitifnya di sentuh kasar kemudian lembut oleh suaminya.


Lenguhan Mecca membuat Fadhil semakin bersemangat, ia mulai membuka kaitan sepotong kain berwarna hitam di dada istrinya itu yang teramat mudah untuk di eksekusi, hanya 1 klik sentuhan pengait langsung terlepas. Ia kemudian memainkan dua pucuk merah muda itu dengan ujung jarinya.


“Eeehhhmmm." Lenguh Mecca lembut.


Fadhil membenamkan wajahnya pada dada istrinya dan menghirup tiap inci aroma tubuh Mecca, aroma chamomile yang menenangkan terhirup lembut masuk hidungnya. Fadhil mulai menyesap dan menggigit lemah dua pucuk tersebut dengan rakus.


Setelah puas Fadhil terus menurunkan kecupannya semakin kebawah membuat Mecca merasa teramat kegelian.


“Mas geli, aku malu." Rengek Mecca dengan nafas masih tersenggal.


“Nikmati saja sayang." Bisik Fadhil lembut.


Fadhil mulai tak sabar, ia mulai melucuti habis tiap kain yang melekat pada tubuh Mecca dengan kalap. Mecca sempat menahan 1 bagian yang tersisa, namun itu telah digenggam oleh Fadhil dan tenaganya kalah kuat dengan suaminya itu, kini ia hanya bisa pasrah dilucuti tuntas olehnya.


Fadhil menelan ludah berkali-kali, ia baru pertama kali melihat secara langsung keindahan tubuh seorang wanita. Ia melihat tiap inci tubuh istrinya dengan kagum. Kulit putih mulus tak bercela, aroma tubuh dan rambutnya yang menyeruak lembut masuk ke hidung, bentuk tubuh mungil dan ramping itu membuatnya selalu berdebar hebat, ditambah rona wajah Mecca yang memerah karena merasakan malu tubuhnya dipandang lekat-lekat membuatnya semakin gemas.


Kini Fadhil telat berada di pangkal paha Mecca, ia menghirup wangi area sensitif Mecca, kemudian ia menenggelamkan bibirnya mengecup tiap sisi yang dikunjunginya. Hal itu membuat tubuh Mecca bergetar terus menerus hingga mengeluarkan suara-suara yang makin memekik. Mecca semakin menarik ke dalam kepala Fadhil seolah berharap pria itu semakin menaikkan level gerakannya.


Fadhil menerima kode Mecca dengan baik, ia semakin melancarkan aksinya membuat Mecca bergelinjang ke kanan dan ke kiri hingga mencapai batasnya, Mecca menjambak rambut Fadhil dengan kuat berusaha mendorong wajah suaminya untuk menjauh dari tubuh sensitifnya tersebut. Namun sia-sia, tenaganya tak cukup kuat, ia sudah terkulai lemas mengalirkan cairan bening yang kini telah habis disesap oleh suaminya.


Melihat istrinya mulai terkulai lemas, Fadhil dengan sigap jongkok di antara kedua paha Mecca yang dibuka lebar, ia meletakkan tubuh Mecca agak tinggi dengan menopangnya menggunakan kedua pahanya. Mecca hanya pasrah tubuhnya di arahkan ke sana dan ke sini.


“Sayang, tahan sedikit ya. Ini mungkin sakit tapi aku akan melakukannya perlahan." Ujar Fadhil menjelaskan dan dijawab anggukan oleh Mecca.


Fadhil mulai mengarahkan pusakanya pada area sakral Mecca, pelan namun pasti ia mulai memasuki sebagian tubuh Mecca. Mecca menarik seprai disisi kanan dan kirinya lalu mulai mengaduh kesakitan.


“Aaaah... Stop mas! sakit banget! Aku nggak tahan!" Keluh Mecca sejadi-jadinya.


Fadhil pun mulai menghentikan gerakannya, setelah memberikan sentuhan-sentuhan kecil pada bagian sensitif Mecca, Fadhil mulai memompa kembali aksinya. Dengan sekali hentakan, bagian tubuh Fadhil melesak masuk ke dalam tubuh Mecca.


Mecca mengadu kesakitan tanpa henti, air mata mulai mengalir di kedua pelupuk matanya, Fadhil sedikit merasa kasihan pada istri kecilnya tersebut, namun lagi-lagi Fadhil memberikan sentuhan-sentuhan pada tubuh sensitif istrinya diikuti gerakan maju-mundur hingga tak terdengar kembali kesakitan Mecca.


Siang itu menjadi hari yang sangat panjang, kedua pasangan pengantin baru tersebut berkali-kali melakukan penyatuan yang tak terhitung lagi. Entah kemana perginya rasa lapar dan lelahnya itu, yang ada hanyalah ingin penyatuan lagi dan lagi.


“Mas kamu kuat banget sih, bagian bawahku sampai perih sekali. Aku rasa sudah nggak bisa jalan lagi deh, sekarang bagaimana aku mau ke kamar mandi?" keluh Mecca cemberut.


“Maaf ya sayang, habis kamu gemesin. Pengen aku terkam terus deh jadinya. Ayo aku gendong." Ujarnya sembari membopong tubuh istrinya yang disambut Mecca dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher Fadhil,


“Mandi sama-sama yuk yank." Ajak Fadhil manja.


“Enggak mas, stop ya! nanti kalau mas ikut yang ada malah ngulang kejadian tadi. Aku mau berendam mas. Tubuhku sakit semua."


“Iya deh. Terima kasih ya yank, aku mencintaimu." Bisik Fadhil penuh kasih.


“Sama-sama mas. mas yakin sudah cinta aku?” tanyanya menyelidik.


“Hanya butuh 1 detik untuk mencintaimu sayang. Aku yakin hatiku utuh untukmu."


“Kenapa bisa secepat itu?”


“Karena kamu sudah mencuri perhatianku sejak pertama bertemu. Kamu dengan mudah membuatku jatuh cinta padamu, lagi pula tidak ada alasan untukku tidak mencintai istriku sendiri."


“Aku juga cinta kamu mas." Ucap Mecca sembari mendorong Fadhil keluar kamar mandi dengan paksa lalu dengan buru-buru ia mengunci pintu kamar mandi.


“Hahaha... Dasar kamu ya yank, bisa-bisanya ngusir suami sendiri."


“Biarin bleee." Jawabnya mengejek.


Saat ini Rani langsung hilang dari pikiran Fadhil. Ia sadar bahwa wanita buruk itu tidak pantas untuk ia pikirkan terus menerus. Kini hati dan pikirannya hanya penuh dengan istri tercintanya.


Senyum Fadhil kian merekah tatkala ia melihat noda darah yang melekat pada seprai putih di ranjangnya itu. Ia merasa bangga melakukan hal bersejarah mereka sama-sama untuk pertama kalinya. Dengan sigap dia menarik seprai itu, dan melipatnya rapi.


“Simpan ah, buat kenang-kenangan." Ujarnya senang.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.