AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 82. Baby Shop



Pagi ini Mecca menyerahkan tugas restoran pada orang kepercayaannya. Karena hari libur ini Mecca ingin manfaatkan untuk berbelanja kebutuhan calon bayinya.


Awalnya Mecca ingin pergi dengan Fadhil lalu mengajak serta kakaknya dan Arjun. Namun, Mama Alisa dan Mami Rita yang mendengar kata ‘Baby shop’ langsung ingin ikut juga.


Beda halnya dengan Pak Pradipta yang memilih tinggal di rumah, untuk menunggu dan mengawasi para pekerja yang akan mengantarkan pesanan Fadhil untuk mengisi kamar calon bayinya.


“Ayah benar enggak mau ikut jalan juga?” tanya Mecca memastikan.


“Iya nak, ayah di rumah kamu saja ya. Ayah mau tunggu pesanan Fadhil dan mengawasi pekerjaan mereka. Biar pasangnya lebih teliti, kan ini untuk calon cucu ayah.”


“Hehehe, iya sih. Terima kasih banyak ya, Yah. Ayah kalau lapar bilang saja sama bibi ya, nanti biar disiapkan.”


“Tenang saja, kamu yang happy ya jalannya.”


“Siap, Yah!”


“Ngomong-ngomong di list ini sudah lengkap? Semua akan datang hari ini?”


“Iya yah sudah kok. Nanti 1 box bayi pasang di kamar Mecca, 1 lagi di kamar si baby. Nah di sana nanti diisi single bed, lemari pakaian, lemari tv, lemari mainan, tempat ganti popok, meja, nakas, cermin bulat, lampu baca, sofa. Oh iya yah, sofa ini yang bisa buat selonjorin kaki itu loh yah, terus terakhir ayunan bentuk bulat. Ehm... Di list ini sudah semua kok, Yah.”


“Siap Bu Bos, saya akan perhatikan satu persatu dan menatanya dengan baik.”


“Ih ayah nih, apaan coba.” Gemas Mecca sembari memeluk ayahnya.


Di tengah-tengah menunggu Mama Alisa dan Mami Rita bersiap-siap, Mecca berfoto ria dengan Fadhil di depan rumahnya.


“Senyum yang lebar mas, biar tambah gantengnya!”


“Yank, suamimu ini biar tanpa ekspresi aja sudah kayak maha karya mevah!”


“He’em.” Sahut Mecca malas-malasan. Sambil memotret dengan angle wide, sehingga Medina dan Arjun yang tidak siap berpose ikut terpotret juga.



Selama perjalanan ke toko perlengkapan baby and toddler, Mami Rita dan Mama Alisa tidak henti-hentinya mengingatkan Mecca dan Fadhil tentang apa saja yang wajib di beli, kata-kata itu bagai kaset berulang tanpa jeda yang masuk ke telinga mereka berdua.


“Ingat ya, Dhil-Mec yang tadi mama sama mami ucapin. Jangan sampai enggak kebeli loh!”


“Halah, kita jangan andalin mereka, nanti kita muter aja cari-cari sendiri.” Sela Mami Rita sebelum Fadhil dan Mecca menjawab.


“Ya ampun mami, ingat kok. Nanti begitu sampai Fadhil langsung gerak ambil semuanya satu persatu, tinggal mama sama mami yang cek ulang deh.” Geleng-geleng Fadhil dengan engap, Mecca hanya terkikik melihat kedua sahabat paruh baya itu terus berceloteh serasa lebih antusias dari dirinya.


Sesampainya di tempat tujuan, Mami Rita dan Mama Alisa sudah mengedarkan pandangannya. Mencari titik pertama targetnya untuk di jelajahi.



“Ini surganya para calon orang tua dan oma-oma kece kayak kita!” ucap Mami Rita antusias pada Mama Alisa.


Setiap Mecca dan Fadhil ingin mengambil barang, kedua oma-oma kece itu selalu memberikan pendapatnya tak henti, berharap pilihan Mecca dan Fadhil harus yang terbaik.


“Kalian harus percaya sama pilihan mami, mami ini punya perusahaan mebel loh, enggak main-main ih!”


“Iya mi, iya. Percaya banget kok.” Jawab Fadhil dan Mecca bersamaan.


“Lihat nih Jun pilihan mami, nanti kalau kamu sama Dina punya anak, mami sudah enggak kagok lagi.”


“Uhuk-uhuk.” Medina dan Arjun terbatuk bersamaan mendengar ucapan Mami Rita.


“Ih kenapa sih anak jaman sekarang lemah banget, kalau dibahas soal nikah atau anak, gampang banget batuk-batuk sama keselaknya, heran!” gumam Mami Rita sembari menggeleng-gelengkan kepala.


“Padahal kalau bikinnya enggak pakai batuk-batuk atau keselak ya, Ta.” Bisikan Mama Alisa mendapat cekikikan Mami Rita.


“Bi, lucu ya baju-bajunya. Apalagi yang untuk anak perempuan, jadi pengen cepat-cepat deh.” Ujar Arjun menggoda Medina yang masih mencemberutinya.


“Sana cepat-cepat buat sama Diana! Ya ampun kesel banget nyebut nama perempuan itu!” Protes Medina dalam hati.


“Bi, kamu suka anak perempuan atau laki-laki? Kalau buatnya sama aku bisa diatur loh adonannya.” Arjun menaik turunkan kedua alisnya, namun Medina masih tidak menggubrisnya.


“Memangnya kue di adon!” lagi-lagi Medina menjawab dalam hati.


“My Bebi, aku lagi ngomong loh ini. Masa dicuekin terus sih? Aku kan lagi berusaha mencairkan suasana masa di kacangin?” protes Arjun memonyongkan bibirnya mengikuti bentuk bibir Medina.


“Biarin, makan tuh kacang!” Medina masih setia menjawab pertanyaan Arjun dalam hatinya.


“Kalau lama-lama diam sambil monyong-monyong gitu aku lu*at, aku sesap, aku gigit, aku pi*in tuh bibir sama lidah kamu sampai mendesah!” ucapan Arjun menarik lirikan mata pengunjung lain yang melewatinya. Medina membelalakkan matanya sembari menutup mulut lancang Arjun dengan cepat.


“Malu ih! Tadi kamu dilihatin orang loh!” protes Medina mencubiti perut eight pack Arjun.


“Biarin! Aku lebih rela dipelototin orang daripada dipelototin kamu. Aku lebih rela malu ketimbang dicuekin melulu.”


“Aku dari tadi jawab kok!”


“Bohong! Kamu diamin aku terus kok, huuh!”


“Aku jawab!”


“Kapan?”


“Dalam hati!”


“Kamu kira aku ahli baca hati bisa dengar suara kamu di sana?” tanpa sadar Arjun menunjuk dada Medina, menyentuhkan ujung jarinya tepat di pu*ing Medina yang dilapisi bra dan kemejanya. Medina menurunkan pandangannya menatap arah jari telunjuk Arjun yang membuatnya merasa tersengat.


“Dasar mesum!” pukul marah Medina pada dada bidang Arjun yang keras.


“Enggak sengaja, Bi! Maaf sayangku! Jangan marah lagi please!” Arjun mencepatkan langkahnya mengejar Medina.


Langkah Medina tiba-tiba terhenti, membuat Arjun menabrak punggungnya.


“Aduh, kenapa Bi kok ngerem mendadak?!”


“Sssttt, itu Pak Permana sama...” Medina menunjuk ke arah pintu masuk toko.


Setelah ketemu sosok Mama Alisa yang tengah sibuk memilih handuk bayi, Arjun dengan panik mendorong-dorong tubuh Mama Alisa untuk keluar dari toko itu.


“Ya ampun! Ini apa-apaan sih, Jun? Kenapa mama didorong-dorong? Mama lagi cari handuk nih!” protes Mama Alisa tanpa jeda.


“Tadi Arjun lihat ada toko lain ma, kayaknya lebih lengkap, kita lihat sama-sama ke sana yuk.”


“Ta-tapi...”


“Lihat dulu di sana ma, baru tapi-tapian!” ujar Arjun bersikukuh.


Namun dalam perjalanannya hampir menuju pintu keluar, Pak Permana tepat berbelok ke arahnya. Di luar dari rencana, Arjun jadi menghentikan dorongannya pada tubuh Mama Alisa.


“Alisa?” tegur Pak Permana membuat Mama Alisa mengkaku.


Tak berselang lama muncul kehadiran Rani dan Fahri di belakang Pak Permana. Fahri langsung menghampiri Mama Alisa dan memeluknya, memanggilnya mama dengan bibir mungilnya.


“Mama.” Tegur Fahri memeluk Mama Alisa. Mama Alisa tersenyum hangat menatap Fahri, tangannya dengan spontan ingin membelai puncak kepala anak tampan itu, namun dengan tiba-tiba Rani menarik Fahri dan mengungkungnya dalam gendongannya.


“Wah enggak sengaja kita ketemu di sini ya tante.” Senyum manis Rani membuat raut wajah Mama Alisa berubah. “Hahaha... Kerjaan anak buahku boleh juga di wajah nenek reot itu.” Ujar Rani membatin.


“Alisa, wajah kamu kenapa?” tanya Pak Permana maju selangkah dengan raut khawatir.


“Bukan urusan Anda!” jawab Mama Alisa dengan ketus. Pak Permana memundurkan langkahnya kembali.


“Ma, ayo ke toko lain.” Ujar Arjun mengingatkan Mama Alisa. Namun sedetik kemudian Fadhil, Mecca, dan Mami Rita justru ikut bergabung di tempat yang sama.


Pak Permana memandangi satu persatu semua wajah yang ia kenal. Matanya menatap Mecca dan menurunkan pandangannya pada perut besar Mecca yang menonjol.


“Kamu hamil, Nak? Kenapa papa tidak dikabari?” tanya Pak Permana dengan raut wajah bahagia.


“I-ya pa, ehm...” jawab Mecca gugup.


“Saya rasa tidak perlu, karena kita kan tidak ada hubungan apa-apa LAGI!” ujar Fadhil mengangkat wajahnya dengan angkuh. Arjun menyikut pinggang Fadhil, namun Fadhil tidak meresponsnya.


“Ini kan cucu papa, jadi apa yang kamu pesan biar papa yang belikan ya, hadiah.” Ujar Pak Permana pada Mecca, tidak menggubris ucapan Fadhil.


“Tidak perlu!” jawab Mama Alisa tegas.


“Sudah deh daddy, tidak usah memaksa lagi. Lihat! Mereka jadi tidak nyaman berbelanjanya tuh! Kita pindah saja yuk?!” Tarik Rani pada lengan Pak Permana dengan manja.


“Berapa bulan kandunganmu?”


“Jangan kasih tahu yank, aku larang kamu jawab ya!” cegah Fadhil dengan tatapan tajam. Membuat Mecca menunduk tak nyaman.


“Lain kali papa akan ngobrol lagi sama kamu ya, Nak. Di sini terlalu banyak yang membenci papa, papa pergi dulu.” Ujar Pak Permana lalu pergi meninggalkan toko itu dengan menggandeng tangan Rani dan Fahri, tampak seperti keluarga bahagia.


Mama Alisa merasa hatinya seperti tergores benda tajam, namun luka itu tidak dapat membuatnya menangis. Mama Alisa baru sadar ini yang dinamakan luka tapi tak berdarah.


"Aku enggak izinkan kamu ketemu dia diam-diam ya yank?!"


"I-ya, Mas!"


Mecca melihat Rani melakukan gerakan ciuman jarak jauh kepada Fadhil, lalu melambaikan tangan, dan menggerakkan pinggulnya dengan genit. Seolah mencari perhatian Fadhil untuk menatapnya. Namun saat Mecca melihat pandangan Fadhil, suaminya itu justru langsung memandang Mama Alisa, tidak memperdulikan tingkah laku Rani padanya.


Mecca tersenyum lega, bahwa tubuh molek Rani, wajah cantiknya, serta tingkah lakunya yang manis tidak menggetarkan hati suaminya LAGI.


***


Pak Pradipta sedang sibuk melihat pesanan yang datang, beliau menghitung dan memeriksa satu persatu barang sesuai daftar yang ia pegang.


Setelah mencocokkan daftar, Pak Pradipta melihat pemasangan satu persatu bagian peralatan dengan teliti, memastikan bahwa semua sudah sesuai, rapat, dan rekat.


Pak Pradipta mengarahkan para pekerja ke kamar Mecca untuk menata box bayi pada tempat yang telah disediakan.



Kemudian Pak Pradipta mengawasi dan mengarahkan para pekerja lainnya untuk merakit, menyusun, dan mendekorasi di kamar calon cucunya.


“Pak tolong single bed, box bayi, ditaruh dekat jendela. Saya mau posisinya banyak dapat cahaya matahari. Nanti nakas, meja, lampu, dan kaca taruh di sebelah sana, di sana, dan di situ ya, lampunya ditempel dekat single bed.”



“Untuk ayunan gantung tolong taruh di dekat jendela besar.”



“Di depan ayunan gantung taruh lemari tv dan sofa panjang.”



“Disudut ruangan sebelah sana buat tempat ganti popok.”



“Di sebelahnya untuk lemari mainan ya.”



“Yang di sudut lainnya untuk lemari pakaian.”



Pak Pradipta mengatur sedemikian rupa kamar calon cucunya tersebut. Dia harus membuatnya sesempurna mungkin, berharap Mecca dan Fadhil menyukai penataannya.


“Wah... Bagus banget!” Pak Pradipta mengangkat jempolnya tinggi-tinggi untuk para pekerja. Para pekerja tersenyum bahagia atas pujian Pak Pradipta.


“Ternyata mengatur kamar bayi itu seru juga ya!” gumam Pak Pradipta puas.


Apresiasinya untuk novel ini ya Readers. sesukarelanya!