
Siang mulai berganti sore, matahari mulai tak berada pada posisi awalnya, jingga di langit senja tampak indah memanjakan mata.
Sore itu di rumah Pak Pradipta, Medina sedang sibuk memasang 1 set bed cover shabby chic motif bunga dengan warna hijau mint.
“Loh, anak ayah kok ada di kamar ini?” tanya Pak Pradipta pada Medina yang tengah berada di kamar Mecca.
“Eh... Ada ayah!" ujarnya terkejut.
“Dina, sedang merapikan dan membersihkan kamar Mecca, mungkin sebentar lagi dia dan suaminya akan datang. Kan mau menginap 1 minggu." Jelasnya dengan lembut.
“Kamu memang kakak yang hebat, Nak. Sejak kecil kamu selalu mengurus adikmu dengan baik. Seingat ayah, sekalipun kalian tidak pernah berantem, karena anak ayah yang satu ini sangat pengalah." Ujar Pak Pradipta sembari mengacak-ngacak rambut Medina.
“Iiihh ayah." Keluh Medina sembari merapikan rambutnya kembali dengan sela-sela jarinya.
“Nak, setelah kamu tidak sibuk bagaimana jika kita pergi berlibur bersama?”
“Hah? Ayah serius? Mau liburan kemana?”
“Ya tidak usah jauh-jauh sampai luar negeri di Indonesia juga banyak tempat wisata yang luar biasa indahnya."
“Hmmm... Kan tidak cuma Dina, ayah juga sibuk terus."
“Ayah sih gampang, bisa diatur. Yang penting kosongkan jadwal kamu."
“Nanti kita tanya Mecca, siapa tahu dia dan suaminya mau berlibur bersama."
“Jangan, kita tinggalkan saja mereka, tidak usah diberitahu. Sebentar lagi mereka pasti akan pergi berbulan madu, lebih baik jika kebersamaan mereka kita tidak ganggu."
“Aaahhh... Dina tahu, ayah pasti mau cepat-cepat punya cucu kan?” tebaknya dengan senyum tersimpul.
“Tahu saja kamu, hahaha...”
***
Tepat 30 menit waktu berlalu, Faiz datang mengantarkan gaun untuk Mecca. Gaun itu sungguh pas di tubuh ramping istri Fadhil tersebut.
Sembari menunggu Mecca bersiap-siap, Fadhil dan Faiz berbincang sejenak di ruang tamu hotel tempat mereka berada.
“Bagaimana kantor Iz? Aman?”
“Aman Bos."
“Selama 1 minggu mulai hari ini, aku akan menginap di rumah ayah mertua, mulai besok jemput dari sana ya."
“Siap bos! Oh iya bos, untuk semua bingkisan pernikahan sudah saya antar di rumah baru."
“Terima kasih ya."
“Sama-sama bos."
Tak lama kemudian Mecca telah berdiri tepat di belakang Fadhil dan menyentuh lembut bahunya.
“Mas ayo kita berangkat sekarang."
“Sudah tidak ada yang tertinggal?”
“Iya, sudah mas. Tapi itu di dalam tas aku kok ada seprai hotel sih? Mas mau bawa juga?” tanyanya heran.
“Bawa yank!” teriak Fadhil spontan mengagetkan Mecca dan Faiz yang kini menatapnya dengan heran.
“Mas ngagetin ih. Tapi buat apa mas?” tanyanya penasaran.
“Pokoknya bawa! Ayo ke rumah ayah. Ingat jangan ditinggal ya seprainya." Ujarnya mengingatkan sembari keluar dari pintu hotel lebih dulu.
“Bosnya Pak Faiz sering aneh gitu ya?” tanya Mecca menyindir.
“Baru ini kelihatan anehnya Bu Bos." Jawab Faiz menggaruk kepalanya yang tak gatal.
“Ih apaan pak, kok Bu Bos sih. Panggil Mecca saja."
“Saya yang merasa tidak enak, kalau gitu saya ganti nyonya saja."
“Ya sudah deh terserah Pak Faiz."
“Cepat yank, tangan aku nganggur nih nggak ada yang gandeng." Ujar Fadhil manja dan ditanggapi gelengan kepala oleh Faiz dan Mecca bersamaan.
Faiz dan Mecca lebih dulu masuk ke dalam mobil, sedangkan Faiz membantu bell boy meletakkan barang-barang Tuannya ke dalam bagasi mobil.
“Yank, kiss."
“Apaan sih mas, malukan kalau dilihat orang."
“Nanti saja mas, aku malu."
“Nggak mau, sekarang!" manja Fadhil sembari mengusap-ngusapkan hidungnya di pipi Mecca.
“Iiihhh... Sabar mas." Sahut Mecca mendorong Fadhil menjauh dari tubuhnya.
Sedangkan Faiz dan bell boy yang sedari tadi mendengar percakapan kedua Tuannya tersebut mulai salah tingkah dan buru-buru memasukkan semua barang.
“Padahal saya juga termasuk pengantin baru 2 bulan, tapi juga nggak segitunya, pintar banget nih bos bikin kangen istri." Ujar Faiz dalam hati.
Selama dalam perjalanan, Fadhil dan Mecca menghamburkan kelopak-kelopak cinta. Fadhil bagai perangko yang menempel terus pada Mecca, tidak ada sedetik pun Fadhil melepas pelukannya pada istri kecilnya itu.
Berkali-kali ia mencium pangkal rambut dan pipi istrinya serta menatap Mecca penuh cinta, terkadang ia mencuri kecupan pada bibir merah muda istrinya tanpa menghiraukan Faiz yang mulai seperti cacing kepanasan.
Akhirnya setelah 45 menit berlalu mereka sampai di depan rumah Pak Pradipta. Dengan spontan Faiz menghela nafas lega, bagai terlepas dari jeratan ranjau.
Mecca lebih dahulu keluar dari mobil dan berlari tak sabar ingin segera masuk ke dalam rumah hingga tak sadar telah meninggalkan Fadhil di belakangnya.
“Dasar istri nakal. Bisa-bisanya suami tampannya ini ditinggal. Lihat saja nanti ya!” gumam Fadhil kesal.
Mecca masuk ke dalam rumah tanpa salam, ia langsung berteriak-teriak tak sabar.
“Ayah... Kak Dina,.. Aku sudah pulang nih! Kalian di mana?”
“Ckckckck... Sudah jadi istri orang tingkah masih tidak berubah, mana salamnya?” keluh Pak Pradipta yang sedari tadi sudah menunggu kedatangannya di ruang keluarga..
“Assalamualaikum ayah sayang, Mecca kangen ayah sama Kak Dina." Ujarnya sembari memeluk ayahnya.
“Ayah juga kangen kamu, Nak. Ngomong-ngomong di mana suamimu?”
“Di sini yah. Assalamualaikum." Ujar Fadhil dengan senyum merekah.
“Wa’alaikumsalam. Masuk Nak." Jawab Pak Pradipta menerima tangan Fadhil yang mencium punggung tangannya.
“Kak Dina mana yah?” tanya Mecca penasaran.
“Di sini." Jawab Medina yang tiba-tiba muncul masih menggunakan apron yang kemudian berpelukan dengan Adik kecilnya itu dan saling melemparkan senyum dengan Fadhil.
“Kakak lagi masak ya? Aku bantu deh."
“Kamu istirahat saja, temani suamimu. Kamu pasti masih lelah."
“Aku mau bantu kakak saja, ayo!” jawab Mecca tak mau mendengar nasehat Kakaknya dan langsung berjalan menuju dapur.
Tok ... Tok ... Tok ...
“Bos, ini barangnya taruh dimana?” tanya Faiz yang masih berada di ambang pintu.
“Di kamar Mecca saja langsung nak, ada di lantai 2, di depan pintu kamarnya ada nama Mecca." Jawab Pak Pradipta menggantikan Fadhil. Dengan segera Faiz mengantar barang-barang tersebut, lalu izin pamit pada Fadhil dan Pak Pradipta.
“Saya pamit pulang dulu bos, Pak." Izinnya sembari menundukkan kepala singkat.
“Loh Nak Asisten makan malam dulu saja di sini." Ujar Pak Pradipta menawarkan.
“Istri sudah menunggu di rumah pak." Tolak Faiz halus.
“Oh baiklah kalau begitu. Hati-hati menyetirnya ya."
“Terima kasih pak, bos, saya pamit dulu."
Sepeninggalan Faiz, Fadhil dan ayah mertuanya banyak mengobrol dan tertawa bersama. Pak Pradipta menunjukkan foto-foto kecil Mecca, foto sejak ia bayi hingga beranjak remaja.
Tak henti-hentinya Fadhil merasa gemas dengan foto istri kecilnya itu. Ia ingin sekali segera punya bayi semirip Mecca. Ia mengagumi tiap ekspresi ceria yang ditunjukkan Mecca di tiap fotonya.
“Hei anak kecil, kamu sekarang sudah bisa buat anak kecil juga loh. Tunggu aku tabur benih dulu ya." Ujar Fadhil dalam hati sambil tersenyum masih melihat foto-foto Mecca.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.