AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 37. Aku Rindu Kamu



Pagi ini Fadhil membuat janji untuk sarapan bersama Arjun di toko kue milik Mami Rita yang letaknya ditengah-tengah antara Grup A dan rumah sakit tempat Arjun bekerja.


“Mas, Aku ikut ya sarapan bareng nanti.”


“Ayo saja yank.”


“Tapi sekarang jemput Kak Dina dulu terus Kita ke tempat yang bakal jadi restoranku nanti ya.”


“Hah? Nanti Aku terlambat dong yank.”


“Enggak Mas, sebentar saja! Semalam karena terlalu antusias Aku cerita semua ke Kak Dina dan janjian pagi-pagi sekali untuk cek tempat, boleh ya sayang?” mohonnya dengan wajah memelas.


“Oke deh! Ya sudah kabari Dina, Kita berangkat sekarang yank.”


“Mas enggak ganti baju kerja?”


“Nanti saja di kantor, ada baju gantiku kok.”


Setelah menjemput Dina dan mampir sebentar ke gedung restoran Mecca, Mereka langsung menuju toko kue Mami Rita. Sesampainya di sana Arjun sudah tiba lebih dulu dan duduk dengan manis.


Arjun menyadari kedatangan Fadhil, namun ia terkejut ternyata Fadhil membawa serta Mecca dan juga Medina, seketika hatinya merasa senang luar biasa.


“Dik, kok ada Dia?” bisik Medina pada Mecca yang menyadari Arjun yang juga menatapnya.


“Ini toko kue Maminya Kak Arjun, Kak.” Jawab Mecca berbisik.


Seketika Medina merasa canggung dan tidak nyaman. Ia buru-buru mengeluarkan buku di dalam tas kemudian membacanya dan menghiraukan Arjun.


“Lama amat Bro, sampai lumutan Gue nunggu di sini. Hai Mecca, hai Dina...” sapanya pada Fadhil, Mecca, dan Medina. Mecca membalas sapaan Arjun, sedangkan Medina hanya memberi tanda mengangguk.


“Sorry, Gue jemput Dina sama ke restoran Mecca dulu tadi.”


“Restoran? Kamu punya restoran Mec?” tanya Arjun pada Mecca.


“Akan Kak, masih on progress, hehehe...” cengir Mecca.


“Sayang, nanti untuk interiornya bisa pesan di tempat Mami Rita di sana apa saja ada kok.” Ujar Fadhil kepada Mecca sembari memegang rambut Mecca.


“Buat juga bisa kok Mec, jadi desainnya dari Kamu gitu. Tapi ya pasti agak lama selesainya, tergantung tingkat kesulitan dan jumlah pesanan.” Jelas Arjun pada Mecca yang sekali-sekali menatap Medina yang masih serius dengan bukunya.


“Serius Kak? Bisa begitu?”


“Serius! Kan Kita punya pabrik gitu di belakang gedung. Kalau Kamu mau, habis sarapan ini Aku bisa kenalin sama Mami langsung, tempatnya cuma di seberang toko ini kok, tuh yang ruangan kaca di sana.” ujar Arjun sembari menunjuk.


“Wah... Asyik banget deh, tapi nanti saja Kak, Aku sama Kak Dina belum nentuin tema dekorasinya nih. Memangnya Mami Kak Arjun enggak di sini ya sekarang?”


“Enggak tentu Mec, biasanya Mami sih kesininya jam makan siang atau sore selesai dari kerjanya yang di sana. Tapi kadang juga pagi dari siang di sini, ya sebisa Mami saja. Seperti sekarang, Mami enggak di sini kan?!”


“Ooohh... Tapi toko kue ini boleh juga jadi contoh. Suasananya tuh enak banget untuk nongkrong lama-lama.” Jawab Mecca yang kini melihat sekeliling dengan kagum.


“Eh... Mumpung ngumpul foto yuk!” ajak Arjun yang kini telah mengeluarkan ponselnya.


“Boleh-boleh, sini Mas dekat-dekat Aku, Kak Dina sudah dulu dong bacanya.”


“Kalian saja Dik, lagi seru nih.” Jawab Dina menghindar.


Fadhil menyadari jika Medina tidak ingin berfoto karena menghindari Arjun. Ia pun memegang bahu Mecca dan menggelengkan kepalanya memberi tanda pada istrinya untuk tidak memaksa Medina lagi. Akhirnya sesi foto bersama itu pun selesai dengan wajah Medina tampak samping yang masih serius membaca.



Setelah menyantap sarapan dan mengobrol beberapa saat, Fadhil dan Arjun pamit untuk bekerja pada Mecca dan Medina. Mecca mencium tangan Fadhil kemudian mereka saling berciuman sekilas lalu berpelukan.


Medina dan Arjun merasa canggung dengan cara berpamitan pasangan suami istri itu yang merasa biasa saja melakukannya di tempat umum. Mereka hanya dapat mengalihkan pandangan dari Mecca dan Fadhil.


Setelah Fadhil dan Arjun pergi, Mecca dan Medina masih berada di toko kue Mami Rita menyelesaikan sarapannya sembari menunggu Pak Mali, sopir pribadi Mecca menjemput.


Tak berselang lama Pak Mali pun tiba, dengan segera Mecca dan Medina naik ke mobil yang telah dibukakan pintunya oleh Pak Mali dengan sopan.


“Dik, mobil baru nih, bagus banget! Sama seperti mobil Fadhil ya?” kagum Medina pada interior dan eksterior mobil lexus tersebut.


“Iya Kak, ini mobil yang dibelikan Mas Fadhil 3 hari lalu. Mobil ini sama persis seperti mobil Mas Fadhil, cuma beda warna saja. Cuma Aku dilarang nyetir mobil sendiri, jadi kemana-mana harus ngerepotin Pak Mali deh.” Jawab Mecca sembari melirik Pak Mali dari kaca spion.


“Kita mau kemana Dik?” tanya Dina bingung.


“Kakak enggak ke perusahaan Ayah?”


“Enggak, semalam Kakak cerita ke Ayah soal restoran, terus Ayah bilang Kakak fokus saja dulu ke situ. Kamu sendiri enggak kuliah?”


“Aku kan sudah tidak ada mata kuliah lagi Kak, jadi cuma fokus skripsi dan bimbingan saja.”


“Sudah sejauh mana skripsimu?”


“Hampir selesai Kak, tapi malah sering kena revisi. Hmmmm... Nanti setelah pulang liburan Aku lanjut lagi deh.”


“Dik, bukan berarti ada restoran kuliah Kamu jadi keteteran ya. Utamakan dulu kuliahnya, baru yang lain-lain!”


“Iya Kakakku sayang, tenang saja. Jadi kita ke rumah Ayah atau bagaimana nih Kak?”


“Ke restoran lagi saja yuk, cari inspirasi di sana.”


“Ayo-ayo! Pak Mali kita ke restoran ya.” Perintah Mecca lembut.


“Baik Nyonya muda.”


.


.


.


***


Seperti menjadi sebuah kebiasaan, Karina ke kantor Fadhil pagi-pagi sekali di saat suasana kantor masih lenggang, bahkan Nindy pun belum sampai di meja kerjanya. Seolah mengabaikan ancaman Fadhil, Karina mulai masuk ke ruangan Fadhil tanpa permisi.


“Aku rindu Kamu Dhil.” Ujarnya lirih.


“Kenapa Kamu jahat sekali sama Aku. Salah Aku apa? Sampai kapan Kamu akan melarangku kemari?”


“Kalau Aku menunggumu, apa Kamu akan langsung mengusirku?”


“Apa tidak ada sedikit pun rasa cinta untukku di hatimu Dhil? Aku sudah mengikutimu sejak berusia 14 tahun, apa Aku sungguh tidak memiliki arti apa pun untukmu?” berbagai pertanyaan ia layangkan dengan penuh kesedihan. Ia hanya menatap ruang kosong itu dengan hampa.


Dengan raut wajah sendu, ia menuju ke meja kerja Fadhil yang telah tertata rapi. Di sana ia melihat sebuah foto dengan bingkai berwarna hitam, ada gambar diri Mecca dan Fadhil yang berdiri bersebelahan.



“Kenapa harus Dia? Kenapa bukan Aku yang memilikimu?”


“Apa lebihnya Dia dibanding Aku?”


“Dasar wanita perebut tunangan orang lain!” ujar Karina sembari meletakkan bingkai foto itu dengan kasar.


Tatapannya beralih pada satu setel jas, kemeja, dan dasi yang telah tergantung rapi di pojok meja. Karina menghampiri pakaian kerja ganti milik Fadhil tersebut, ia pun mulai mengambil dan merengkuhnya dalam pelukan, menghirup setiap aroma yang menempel pada pakaian itu.


Entah apa niat Karina, ia meninggalkan bekas ciuman bibirnya pada bagian kerah belakang kemeja putih milik Fadhil. Bekas lipstik berwarna merah muda melekat samar di sana, di tempat yang sulit di lihat bila tidak seksama.


Setelah puas dengan tindakannya tersebut, Karina pun meletakkan kembali kemeja itu kemudian pergi meninggalkan ruangan Fadhil dengan senyum mengembang di wajahnya.


.


.


.


**Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Terima Kasih**.