
Malam ini Diana akan menyatakan perasaannya kepada Arjun, ia telah berdandan cantik dan menunggu kedatangan Arjun disalah satu restoran mewah yang ia pilih.
“Aku akan memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku.” Gumam Diana lirih.
“Tapi kalau aku ditolak bagaimana?” terselip keraguan dalam hatinya.
“Kalau sampai ditolak, aku tetap akan berusaha. Siapa tahu usahaku membuahkan hasil? Gagal sekali bukan menjadi halangan kan?”
“Aku sudah jatuh cinta pada Dokter Arjun sejak pertama kali bertemu, aku enggak akan menyerah dengan mudah!” ujarnya dengan senyum merekah.
Tak lama berselang Arjun tiba di restoran itu dengan penampilan yang sangat rupawan. Diana menatap Arjun dari kejauhan dengan kagum, hal itu membuatnya tak mengedipkan mata dalam waktu cukup lama.
“Sorry-sorry aku terlambat. Kamu sudah lama menunggunya, Na?” tanya Arjun sambil menduduki kursi kosong di hadapan Diana.
“Eh... Oh... Enggak kok Dok, baru 10 menit di sini.”
“Oh gitu. Terus kamu mau bicara apa sampai ajak makan malam segala? Ada yang penting?” tanya Arjun langsung ke inti.
“Pesan makanan dan minuman dulu Dokter.”
“Oke deh.”
Setelah melakukan pemesanan, Arjun dan Diana membicarakan banyak hal yang menyenangkan. Mereka tertawa bersama dan saling melemparkan pujian.
“Kalau tidak di rumah sakit boleh panggil Mas Arjun saja tidak?” tanya Diana malu-malu.
“Boleh kok.” Jawabnya singkat.
“Mas Arjun tadi pergi ke acara apa? Padahal kalau ke acara pernikahan atau undangan apa begitu kalau enggak ada pasangan bisa loh ajak Diana.”
“Kamu sih sibuk terus!” canda Arjun pada Diana.
“Sesibuk apapun kalau Mas Arjun yang ajak Diana pasti bisa.” Ujarnya tersenyum manis. Ucapan Diana membuat Arjun sedikit bingung, hal itu ditanggapinya dengan senyum yang dipaksakan.
“Terus mau bicara apa?” tanya Arjun mengulang.
“Nanti saja setelah selesai makan malam.”
“Kenapa enggak sekarang?”
“Biar enak saja kalau sudah isi perut.” Jawabnya sembari tertawa kecil.
Setelah selesai makan, Diana ingin menyatakan perasaannya langsung kepada Arjun. Namun saat Diana melihat layar ponsel Arjun menyala karena sebuah notifikasi yang masuk, ia secara tidak sengaja melihat sosok Medina yang terpampang lebar sebagai wallpaper layar utamanya.
“Itu pacar Mas Arjun?” tanya Diana sembari melirik ponsel Arjun.
“Cantikkan?” tanya Arjun tersenyum lebar sembari menunjukkan layar ponselnya.
“Boleh saya lihat lebih jelas?” izin Diana menatap datar.
“Silakan.” Jawab Arjun menyerahkan ponselnya. Hal itu Arjun lakukan dengan sengaja agar Diana tak terlalu berharap padanya.
“Ehm... Kayak kenal deh.” Ujar Diana dengan wajah berpikir.
“Kamu kenal?” tanya Arjun sedikit terkejut.
“Kayak teman SD Diana gitu deh. Tapi benar atau bukan ya?” jawabnya kembali mengingat-ingat.
“Coba kamu lihat lagi baik-baik.”
“Ehm... Ah... Diana sudah ingat!” jawab Diana dengan mengacungkan jarinya.
“Siapa coba namanya?” tanya Arjun memastikan.
“Ini Senja kan?” tanya Diana pada Arjun.
“Senja siapa? Coba sebut nama panjangnya dong biar aku yakin itu orang yang sama.”
“Medina Senja bukan?”
“Eh bener loh. Kamu bener-bener kenal Medina ya Na?”
“Dia teman SD gitu deh mas. Senja ini kan paling cantik dulu di kelas. Dia juga pandai, sering jadi juara kelas. Tapi dia dulu waktu kelas 5 langsung pindah sekolah aku enggak tahu kenapa. Tapi dengar-dengar dia sudah menikah sih. Eh... tapi kok bisa sama Mas Arjun sekarang?” tanyanya menyelidik.
“Menikah? Salah berita kali kamu!”
“Serius mas, aku ingat sekali dulu pernah dengar kabar dia menikah.”
“Kamu datang ke nikahannya?”
“Boro-boro datang, enggak diundang kok. Katanya cuma orang-orang tertentu saja yang hadir.” Jawabnya sedikit cemberut.
“Aku pergi dulu ya.” Jawab Arjun sembari berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan Diana tanpa menoleh.
Sebelum meninggalkan restoran, Arjun melakukan pembayaran terlebih dahulu di kasir. Diana hanya terdiam melihat kepergian Arjun yang tiba-tiba.
“Yah... Gagal lagi pernyataan cintaku!” dengusnya kesal.
Arjun mengendarai mobil porschenya dengan perasaan yang kacau. Ia baru saja membuka satu pintu misteri dari Medina. Entah mengapa hatinya sulit menerima kenyataan tersebut. Mungkin jika berita itu ia dengar langsung dari Medina dan bukan Diana hatinya tidak akan sepahit ini.
Dengan kencang ia mulai melajukan mobilnya ke restoran. Ia tahu jika Medina masih di sana untuk melakukan pengecekan. Arjun sengaja tidak memberi tahu kedatangannya kepada Medina.
Setelah sampai restoran, Arjun langsung masuk ke dalam. Di sana ia melihat Medina sedang sibuk melihat buku laporannya. Arjun menarik nafas kuat dan menghembuskannya dengan lembut, kemudian perlahan ia mulai mendekati Medina dengan menyunggingkan senyum manisnya.
“Hai Din.” Sapa Arjun lembut.
“Hai... Kok kesini lagi?” jawab Medina sembari menatap Arjun.
“Memangnya enggak boleh nih?”
“Bukan begitu, aku pikir ada yang tertinggal atau apa gitu.”
“Bener sih, ada yang ketinggalan.”
“Hah? Apaan?” tanya Medina dengan wajah serius.
“Kamu.” Ujarnya menggoda.
“Apaan sih, modus melulu nih!” ucapnya tersipu malu.
“Kamu sendiri? Mecca mana?”
“Mecca cuma sampai sore. Dia kan sudah menikah jadi ya harus urus suami juga di rumah.” Jawabnya sembari melihat kembali laporannya.
“Kalau kamu?”
“Maksudnya?”
“Eh... Enggak! Salah bicara aku.”
“Ih apaan? Kamu kayak aneh gitu deh.”
“Aneh bagaimana?”
“Tatapan mata kamu tuh!”
“Kenapa tatapan mata aku?”
“Seperti ada yang mau ditanyai ke aku tapi takut-takut gitu deh.”
“Sok tahu kamu, kayak dukun!”
“Enak aja!”
“Aku mau jemput kamu pulang.”
“Baik banget sih, pakai repot-repot jemput.”
“Iya dong! Kamu masih lama?”
“Enggak, ini tinggal tanda tangan terus closing.”
“Oke deh kalau begitu.”
Setelah pekerjaan Medina usai, ia dan Arjun langsung naik ke mobil dan pergi menuju rumah Pak Pradipta.
“Din, rumah kamu kan dekat dari restoran, mau jalan-jalan dulu sebentar enggak?”
“Memang mau kemana? Kalau cuma mau ngobrol enakan di rumah saja, ada coklat panas loh?” jawab Medina melirik Arjun dan ditanggapi senyuman olehnya.
“Ya aku pengen aja jalan-jalan sebentar sama kamu, mau kan?”
“Ya sudah deh, tapi jangan lama-lama ya, Ayah kasihan di rumah sendiri.”
“Iya tenang saja.”
“Tapi aku agak lapar nih.”
“Kamu mau makan apa? Tadi di restoran enggak makan?”
“Enggak sempat, lihat sendiri tadi tamu undangannya banyak gitu.”
“Jadi mau makan di mana?”
“Nyemil aja. Di dekat taman di depan sana ada yang jual takoyaki, beli itu aja yuk?!”
“Kok cuma nyemil? Enggak usah diet-diet dong, badan kamu sudah kurus gitu!”
“Aku enggak diet Arjun. Tapi aku memang cuma mau nyemil aja.”
“Bener?”
“Iya bener.”
“Ya udah, kalau gitu meluncur.”
Arjun pun melajukan mobilnya ke sebuah taman yang tak banyak pengunjung namun cukup indah dengan lampu-lampu gemerlapannya.
Setelah membeli beberapa camilan dan minuman dingin, ia dan Medina kembali ke dalam mobil yang telah terparkir.
“Aah... Aah... Aaaw... Panas.” Ujar Medina kepanasan saat menggigit takoyakinya.
“Ih... Kepanasan juga malah diketawain!” jawab Medina kesal.
“Habis sudah tahu panasnya ngepul-ngepul gitu main embat aja!”
“Resek kamu ah.”
“Maaf-maaf. Sini lihat bibirnya.” Ujar Arjun sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Medina. Tatapannya terfokus pada bibir kemerahan Medina yang menggoda.
Tatapannya terpaku pada bibir itu, ingin sekali ia mengecupnya walau sebentar. Matanya beralih pada kedua mata Medina yang kini juga menatapnya tajam. Seketika keduanya pun tersadar dan saling menjauhkan diri kembali ke posisi semula.
“Bagus efek kena panasnya, ada jontor-jontor gimana gitu.” Canda Arjun pada Medina mengalihkan suasana.
“Dasar jahat!” jawab Medina sembari memukul lengan Arjun dengan kesal. Mereka berdua pun saling ejek dan tertawa bersama.
“Din, kamu kenal sama Diana enggak?” tanya Arjun melirik Medina.
“Diana siapa?”
“Diana Azkayra.”
“Siapa ya?”
“Dia perawat disalah satu tempat aku praktik. Katanya dia teman SD kamu.”
“Teman SD?”
“Hmmm.” Sahutnya singkat.
“Kok dia bisa cerita tentang aku tiba-tiba?” tanya Medina penasaran. Arjun seketika bingung mendengar pertanyaan Medina.
“Ehm... Gara-gara ini.” ujar Arjun menunjukkan layar ponselnya.
“Ya ampun. Kapan kamu ambil foto ini? Kayaknya kita enggak pernah foto seperti ini.”
“Ini yang ambil fotografer handal.”
“Pasti Mecca ya? Kamu sekongkol sama dia?”
“Enggak kok!”
“Hapus ih.”
“Enggak mau!”
“Arjun.”
“Medina.”
“Ya sudah deh!” ucap Medina menyerah.
“Kamu enggak keberatan?”
“Sudah enggak, asal itu kamu.” Ujar Medina tertunduk malu. Hal itu membuat Arjun salah tingkah.
“Terus Diana cerita apa lagi ke kamu?” tanya Medina mengalihkan suasana canggung itu.
“Dia ada cerita sesuatu yang aku mau tanyai ke kamu.”
“Apa itu? Tanya aja.”
“Katanya...” ucapnya terpotong.
“Iya katanya apa?”
“Kamu...” ucap Arjun terpotong lagi.
“Apaan sih? Kok bicaranya terputus-putus? Apa Arjun?”
“Katanya kamu sudah menikah.” Ucap Arjun cepat.
Seketika Medina terdiam, ia menghentikan kegiatan makannya. Ia pun mulai mengalihkan pandangan keluar jendela mobil. Medina hanya terdiam tanpa kata, hal itu membuat Arjun tampak serba salah.
“Din? Kalau kamu enggak mau cerita enggak apa-apa kok.” Ucapnya lembut.
“Iya aku sudah pernah nikah! Kita pulang yuk, kasihan ayah sendiri di rumah.” Ujarnya masih mengalihkan perhatian. Medina merasa sulit menatap Arjun untuk saat ini.
“Kamu enggak mau kasih aku penjelasan?”
“Saat aku siap!”
Mendengar ucapan Medina, membuat Arjun tak dapat berkata-kata lagi. Ia hanya mengangguk dan melajukan kembali mobilnya mengantar Medina pulang dengan segera.
Setelah kejadian itu, beberapa hari telah berlalu. Selama itu pula Medina kembali menghindari Arjun. Ia hanya mengirimkan pesan teks pada Arjun sekali dan tidak ada penjelasan lain yang diberikan padanya.
Arjun sering menatap layar ponselnya, ia berkali-kali melihat pesan terakhir Medina yang bertuliskan, “Pertanyaanmu saat itu membuatku tersadar bahwa aku tak sepantasnya membuka hati dan berbahagia sendiri.”
Arjun mengulang-ulang membacanya namun ia tetap tak mengerti cara berpikir Medina. Arjun pun mencoba bertanya pada Mecca, namun Mecca pun ikut bungkam. Mecca tidak ingin mencampuri privasi kakaknya itu.
Sepertinya hal itu membuat usaha Arjun mendekati Medina kembali ke titik nol. Dengan hati gusar ia terus menjambak-jambak rambutnya dengan kasar.
.
.
.
***
Saat Fadhil mandi setelah pulang kerja, Mecca dengan telaten menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Ia memilih kaos polos berwarna putih dan celana panjang kain motif batik untuk Fadhil. Di saat ia melakukan kegiatannya itu, ponsel Fadhil berdering tepat di atas ranjang.
Mecca pun dengan segera mengambil ponsel milik Fadhil. Ia melihat nomor yang masih dalam ingatannya itu, nomor yang pernah menghubungi suaminya setiap bulan. Nomor seseorang yang tak pernah berbicara sepatah kata pun. Karena penasaran, Mecca pun menerima panggilan tersebut.
Mecca : “Halo, ini siapa?” ucapnya tak memperoleh tanggapan.
Mecca : “Kamu siapa? Bisa bicara?” namun lagi-lagi pertanyaannya tidak memperoleh jawaban.
Mecca : “Kalau hanya iseng tolong jangan telepon lagi!” ucapannya lagi-lagi tidak mendapat respons.
Mecca : “Kalau tidak mau bicara, saya tutup sekarang!”
...... : “Tunggu! Apa ini masih nomor Fadhil?”
Mecca terdiam sesaat, ia mendengar suara wanita yang sangat lembut. Ia penasaran kenapa wanita ini terus menerus menghubungi suaminya selama 2 tahun ini.
Mecca : “Kamu siapa? Kenapa menghubungi suami saya terus menerus?” tanya Mecca memburu. Namun seketika panggilan itu terputus secara sepihak.
Fadhil keluar kamar mandi dengan santai, ia melihat tatapan istrinya itu tidak biasa.
“Kamu kenapa yank?”
“Mas siapa sih wanita di nomor ini?” tanya Mecca sembari menunjukkan layar ponsel milik Fadhil.
“Wanita? Kok kamu tahu dia wanita? Aku aja enggak tahu yank. Dia kan setiap telepon enggak pernah ngomong.”
“Barusan dia bicara sama aku mas. Di wanita mas, suaranya lembut sekali.”
“Kamu cemburu lagi sama aku yank? Tapi aku benar-benar enggak tahu siapa dia.”
“Kenapa enggak diblokir sih mas?”
“Ya sudah sayang saja yang blokir.”
“Bener enggak apa-apa?”
“Iya diblokir saja sayangku.” Ucap Fadhil sembari mengecup bibir Mecca sekilas.
Saat itu pula Mecca mengotak-atik pengaturan ponsel Fadhil dan melakukan blokir pada nomor tersebut.
.
.
.
***
New York
------------
Wanita itu mulai menutup panggilan teleponnya secara sepihak. Ia tercengang saat mendengar suara wanita lain menerima panggilan telepon Fadhil, pria yang pernah menjadi kekasihnya itu.
Rani menatap nanar layar ponselnya, lidahnya mulai keluh saat mengetahui kenyataan yang belum bisa ia terima.
“Apa katanya? Suami?”
“Tidak! Aku yakin Fadhil masih mencintaku!” ujarnya menggelengkan kepala berkali-kali.
Di saat ia mulai terhanyut dengan pikirannya, seorang anak laki-laki tampan berusia sekitar 2 tahun lebih keluar dari sebuah ruangan dan mulai mendekatinya.
“What’s wrong mom, are you sick?” tanya anak laki-laki itu mulai membelai rambut halus Rani.
“Hi handsome. Sudah selesai mainnya?” jawabnya sembari memeluk anak laki-laki itu menuju pangkuannya.
“Aku sudah bosan. Mommy tidak apa-apa? Kenapa mommy seperti sedang sedih?” tanyanya khawatir sembari membelai pipi halus Rani.
“Sayang, apa kamu suka jika kita pergi menemui daddy?”
“I’m verry verry verry happy.” Jawabnya sembari menuruni pangkuan Rani lalu melompat-lompat ke sana kemari dengan bahagia.
“Kalau begitu ayo kita temui daddy.” Gumam Rani lirih sembari tersenyum melihat kebahagiaan anak laki-lakinya.
Dear Readers.
Terima kasih karena telah setia membaca novel "An Ineffable Serendipity". Untuk chapter ini Author sudah membuat lebih panjang dari biasanya, sebagai apresiasi atas karya ini Author harap para readers mau memberikan LIKE dan juga VOTE.
\=> Sebenarnya Author juga ingin mengetahui seberapa banyak pembaca yang minat pada novel ini, tolong tunjukkan diri melalui LIKE kalian ya.