AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 44. Jangan Masuk Frame



Tak terasa waktu liburan tinggal 1 hari. Di hari terakhir liburan ini, mereka berencana menghabiskan waktu dengan menjelajahi tempat-tempat wisata di daerah setempat yang mereka tempuh dengan menyeberang menggunakan speed boat.


Mecca menggunakan gaun cantik dengan sentuhan etnik yang ia beli beberapa hari lalu bersama Medina. Gaun berwarna dominan biru itu tampak pantas ia kenakan.



“Mas, gimana penampilanku?” tanya Mecca sembari berpose.


“Cantik banget yank! Kamu itu enggak ada lawannya, paling luar biasa!” jawabnya sembari memeluk Mecca dan mengecup bibir kemerahannya.


Kecupan itu berubah semakin dalam menjelajahi seluruh rongga mulut Mecca. Cukup lama mereka melakukan adegan itu dalam keadaan pintu kamar yang terbuka lebar.


“Ehem... Tiap malam indehoi enggak cukup-cukup juga bro?” tegur Arjun di ambang pintu yang kini memperhatikan aksi Fadhil pada Mecca.


“Mana bisa cukup.” Jawab Fadhil sembari menaik turunkan kedua alisnya. Sedangkan Mecca dengan spontan lari keluar kamar melewati Arjun dan menuruni tangga dengan malu.


“Kan istri gue sampai kabur gara-gara malu, elu tuh bisanya ganggu orang melulu deh!” protes Fadhil.


“Habisnya tiap malam sudah berisik terus, eh pagi masih aja nyosor. Kasih liburlah si Mecca, kasihan gue sama dia!” jawab Arjun penuh iba.


“Huuh bisa aja loe! Pengertianlah, gue kan lagi nabur benih siapa tahu pulang dari sini ada yang tumbuh.”


“Emang loe pikir cuma nabur aja tekniknya? Enggak segampang itu tahu!”


“Berisik loe, iri aja nih!”


“Idih... Ogah gue iri sama elu!”


“Halah enggak mau ngaku tuh!”


“Bembi loe enggak lecet tiap hari di asah?”


“Mana ada yang semakin di asah malah lecet, malah makin tajamlah. Kenapa? Punya loe tumpul?”


“Sialan loe! Bentuk kayak lemper abon aja sombong!” sindir Arjun sewot.


“Dari pada kayak punya loe, paling bentuknya bulat bantet kayak onde-onde gagal.”


“Gue buka nih! Pelototi sini, pasang mata loe!” ujar Arjun sembari membuka ikat pinggangnya.


“Enggak nafsu gue! Bikin mata sakit aja!” jawab Fadhil berlari menuruni tangga.


Setelah saling sindir dan ejek itu berakhir, mereka berempat pun langsung pergi ke tempat yang dituju.


Dalam waktu yang singkat, Arjun dan Medina semakin dekat. Kini Medina dapat santai berbicara dengan Arjun, bahkan untuk menunjukkan rasa tidak sukanya pun ia sudah tidak sungkan lagi.


Arjun tampak bahagia dapat melihat sisi dan ekspresi Medina yang beragam. Liburan kali ini sungguh membawa keberuntungan baginya. Proses pendekatannya berkembang pesat di saat mereka sering menghabiskan waktu bersama.


Kali ini Arjun memutuskan untuk melakukan pendekatan secara perlahan, ia tidak ingin mengulangi kesalahannya seperti waktu itu. Ia tidak akan buru-buru lagi dalam menuntut kepastian dari Medina.


Medina merupakan wanita yang sangat spesial bagi Arjun. Dia adalah wanita dengan penuh misteri. Ia akan berusaha untuk membuka satu per satu misteri yang terkunci rapat itu. Ia berkomitmen akan menjadi tempat ternyaman bagi Medina terlebih dahulu dan merebut hatinya kemudian.


Saat berjalan-jalan, beberapa kali Medina ingin melakukan selfie, namun Arjun selalu mengganggunya dengan muncul di setiap Medina mulai memotret.


Medina mulai kesal dengan tingkah kekanak-kanakan Arjun. Ia pun mulai protes dan mencemberuti Arjun dengan tatapan tajam.


“Aku tuh mau foto SENDIRIAN!” ucapnya menekan kata.


“Ya udah fotolah! Oh... Atau mau aku fotoin?” tanyanya menawarkan diri.


“Enggak usah repot-repot. Pokoknya Anda cukup jangan masuk frame saya, oke?” ujarnya menegaskan.


“Siap!” sahutnya singkat.


Namun saat Medina mulai menekan hitungan mundur kameranya lagi-lagi Arjun ikut berpose. Menyadari sikap iseng Arjun, Medina pun membiarkannya berfoto bersama.



“Nah itu tahu.” Jawab Arjun membalas senyuman Medina.


Cukup lama mereka berempat berjalan-jalan di beberapa tempat wisata. Mereka juga membeli beraneka ragam makanan khas daerah setempat untuk dijadikan oleh-oleh. Hingga sore mulai menjelang barulah mereka kembali ke Villa. Dan malam ini pun mereka habiskan dengan berkemas dan beristirahat.


.


.


.


***


Sesampainya di bandara, Faiz dan Pak Mali sudah siap menunggu mereka. Fadhil dan Faiz pergi secara terpisah dengan lainnya.


Siang ini Fadhil harus langsung pergi bekerja karena ada pertemuan dengan klien yang penting. Sedangkan Mecca, Medina, dan Arjun berada pada satu mobil yang dikendarai oleh Pak Mali.


“Pak, kita antar Kak Arjun dulu ya.” Ujar Mecca memberi perintah.


“Baik Nyonya muda.”


“Kak Arjun mau diantar ke rumah atau rumah sakit?”


“Rumah aja. Besok aku baru mulai kerja lagi, hari ini istirahat dulu.”


Setelah mengantar Arjun ke rumahnya, Mecca dan Medina langsung melanjutkan perjalanannya ke rumah Pak Pradipta. Hari ini Mecca berencana akan berada di rumah ayahnya sampai sore hari.


Disisi lain, Fadhil dan Faiz masih sibuk membicarakan masalah pekerjaan yang ditinggalkan Fadhil selama seminggu ini. Di dalam mobil itu, Fadhil sedikit merasa kasihan pada Faiz yang terlihat sangat kelelahan.


“Kamu kayak kelelahan banget Iz, emang aku terlalu berat ya ngebebanin kamu kerjaan?” tanya Fadhil yang terus memperhatikan Faiz.


“Bukan capek karena kerjaan Bos. Kalau masalah kerjaan sih sudah biasa saya.”


“Loh, terus kenapa? Kamu kok kayak kurang tidur gitu?”


“Istri saya sedang hamil Bos, sudah dua bulan usia kandungannya.”


“Wah selamat ya, topcer juga kamu! Tapi kan harusnya seneng, masa lesu gitu sih?! Ujar Fadhil ikut bahagia.


“Seneng sih seneng Bos, tapi saya enggak nyangka ternyata istri nyidam itu begini banget ya?”


“Begini bagaimana?”


“Istri saya itu kalau nyidam pas ngelihat saya saja Bos, kalau saya enggak ada di rumah dia juga enggak pernah minta-minta. Saya jadi bingung, sebenarnya yang nyidam itu bayinya atau ibunya sih?”


“Oh ya? Gimana-gimana Iz? Cerita dong, siapa tahu bisa jadi pelajaran buatku. Tapi kamu harus bersyukur dong, kamu nikmatinlah momen-momen seperti itu. Terus istrimu ngalamin muntah dan mual gitu juga enggak?”


“Kalau pagi saja mulai muntah dan mual Bos. Kalau sudah saya pulang ke rumah mulai deh banyak maunya. Saya baru sampai pagar, sudah disuruh pergi lagi beli sesuatu, kadang kalau sudah dapat dia bisa berubah jadi enggak mau lagi yang dibeli itu. Terus suka minta sesuatu yang enggak pas jam jualnya. Setiap malam waktu istirahat saya ke potong di jalan Bos cuma buat nyari ini dan itu.” Cerita Faiz panjang lebar sembari menarik-narik rambutnya.


“Hahahaha.. Eh, tapi aku pengen loh bisa ngerasain itu. Menurutku saat istri hamil momen-momen berjuang disuruh ini dan itu yang paling berkesan.”


“Nanti kalau Bos sudah tahu sendiri rasanya, pasti beda sama omongan Bos.”


“Kalau gitu sabar ya!” ujar Fadhil sembari tertawa lepas.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Terima Kasih.