AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 66. Penampilan Baru



Tangisan sesenggukan Bu Alisa membahana seluruh ruangan, menciptakan gema yang terdengar ke penjuru sudut rumah Fadhil dan Mecca.


Mecca masih setia dengan pelukan serta belaian lembutnya pada punggung Bu Alisa yang tampak kuat namun rapuh di dalam.


Mecca ikut meneteskan air mata kesedihan seolah juga merasakan penderitaan ibu mertuanya tersebut.


Fadhil duduk dalam posisi tegang dengan rahang mengeras serta wajah yang tertutup oleh kedua telapak tangannya.


Bu Alisa menceritakan segala prahara yang terjadi dalam rumah tangganya. Sesekali ia terdiam dan tercekat, membungkam bibir kelunya yang mengering, seakan ada kabut tebal, gelap, dan menyesakkan dalam setiap ucapannya.


“Mama jangan nangis lagi ya, Mecca sedih lihat mama seperti ini, huhuhu...” ujar Mecca menangisi kisah ibu mertuanya.


“Maafkan mama ya, nak.” Hanya kalimat itu yang terus diucapkan Bu Alisa pada Mecca dan Fadhil berkali.


“Fadhil harus ke rumah itu sekarang ma! Fadhil harus seret perempuan itu keluar dari sana! Dia harus pergi dari kehidupan mama dan Pak Permana!” ujar Fadhil dengan emosi membara.


Fadhil berdiri dan melangkah panjang menuju pintu, namun langkahnya terhenti oleh pelukan Mecca yang menahannya. Bu Alisa bahkan bersimpuh di bawah kaki Fadhil dengan lemah. Dalam setiap ucapan marahnya, sekalipun Fadhil tidak pernah menyebut kata papa lagi untuk Pak Permana.


“Tenang mas! Mas jangan seperti ini, aku mohon, huhuhu...!” peluk Mecca menahan langkah Fadhil.


“Jangan nak! Mama tidak mau kamu dipermalukan di sana! Kamu akan semakin sakit hati nanti, biarkan saja mereka! Papamu sedang berada pada pengaruh wanita ja**ng itu, huhuhu...” Bu Alisa bersimpuh menahan kedua kaki Fadhil dari langkah panjang.


Fadhil mengangkat tubuh Bu Alisa dari lantai ke dalam pelukan hangatnya. Fadhil meraih tubuh Mecca untuk ikut masuk dalam rangkulannya. Fadhil mengeratkan pelukannya kepada wanita-wanita berharga dalam hidupnya tersebut.


Setelah saling mendinginkan kepala dan menenangkan hati. Mecca menggiring Bu Alisa ke kamar tamu di lantai dasar rumahnya. Seakan telah lelah dengan keadaan, tubuh lemah Bu Alisa langsung tertidur dalam lelap.


Mecca menghapus sisa-sisa air mata di wajah ibu mertuanya yang tampak kacau. Ada lingkar hitam di bawah kedua kantung mata itu, tubuh yang mulai mengurus, wajah pucat tanpa polesan make up, serta beberapa rambut yang mulai memutih.


“Mama sampai tidak bisa mengurus diri sendiri, pasti berat yang mama jalani selama ini. Selamat tidur ma, semoga besok kebahagiaan mendatangi mama.” Gumam pelan Mecca di telinga Bu Alisa, lalu mengecup keningnya.


Mecca keluar kamar Bu Alisa dengan perlahan. Ia kini menarik Fadhil untuk kembali ke kamar mereka berdua. Di sana Mecca juga membaringkan Fadhil yang masih penuh amarah. Mecca terus menenangkan Fadhil. Lagi-lagi Mecca menggunakan bantuan bayi dalam kandungannya untuk meredam rasa marah di hati suaminya tersebut.


Mecca membelai lembut rambut Fadhil dengan cinta. Ia mengarahkan telapak tangan Fadhil di perut besarnya dengan lembut. Di sana Fadhil merasakan gerakan bayinya yang aktif, seakan ikut menghibur kesedihannya. Setelah merasakan pergerakan bayinya, Fadhil pun melembutkan tatapannya serta menyunggingkan senyum tenang di bibirnya lalu mereka tertidur dalam pelukan hangat masing-masing.


***


Beberapa hari telah berlalu, Bu Alisa masih setia mengurung diri di kamarnya. Mecca dan Fadhil tidak serta merta berhasil membujuk mamanya untuk keluar dan membaur bersama.


Selama empat hari ini, Bu Alisa selalu berdiam diri di kamar. Ia tidak keluar walau satu kali pun. Makanan pun selalu di antarkan ke kamar melalui Bi Lia. Dan Bu Alisa tidak pernah menghabiskan makanannya hingga bersih.


Di hari kelima saat sarapan pagi, Bu Alisa tiba-tiba keluar dari kamar persembunyiannya. Ia mendatangi Mecca dan Fadhil yang berada di meja makan dengan senyum cerah mengembang di sudut bibirnya.


Mecca dan Fadhil tampak tercengang melihat penampilan baru Bu Alisa. Bu Alisa terlihat lebih cerah dan segar dari terakhir yang mereka ingat. Ditambah lagi kecantikan dan keanggunan Bu Alisa semakin terpancar dari hijab berwarna jingga yang dikenakannya.


“Mama!” ucap Fadhil dan Mecca bersamaan.


“Bagaimana? Apa mama cocok pakai hijab?” tanya Bu Alisa malu-malu sembari memegang ujung jilbabnya.


“Cantik ma, aku suka dengan perubahan mama.” Jawab Fadhil dengan senyum haru.


“Terima kasih ya.” Ujar Bu Alisa singkat.


Mereka pun melakukan sarapan bersama dengan riang. Obrolan dan canda tawa selalu melengkapi acara makan tersebut. Mecca dan Fadhil tidak lagi melihat kegundahan di wajah Bu Alisa. Mereka sangat bahagia melihat perubahan mamanya tersebut, Bu Alisa sungguh menghilangkan segala kekhawatiran anak-anaknya dalam sekejap.


Dalam beberapa hari kesedihannya, Bu Alisa semakin mendekatkan diri kepada pencipta. Jiwa dan raganya semakin tenang, hatinya pun mulai ikhlas menerima perpisahannya dengan Pak Permana. Bu Alisa yakin ini adalah jalan terbaik baginya. Walau disela-sela rasa sakitnya, Bu Alisa tak pernah satu kali pun berhenti mendoakan kebaikan untuk Pak Permana.


Kini Bu Alisa hanya dapat menyimpan perasaan dan rasa sakitnya yang lalu dengan rapat, walau rasa itu masih ada dan pasti menetap di hatinya. Bu Alisa tidak ingin kesedihannya yang berlarut-larut malah merusak kebahagiaan anak dan menantunya dalam menunggu kelahiran calon bayi mereka.


“Aku ikhlas...” ucap Bu Alisa dalam hati saat melihat raut wajah bahagia Mecca dan Fadhil saat menyambutnya.


Bu Alisa memohon kepada Fadhil dan Mecca untuk tidak pernah membahas tentang Pak Permana lagi. Bu Alisa juga meminta kepada Fadhil untuk tidak melakukan apapun kepada papanya tersebut.


Bu Alisa sangat takut jika hubungan Pak Permana dan Fadhil akan benar-benar terputus seperti hubungan pernikahannya. Fadhil pun mengikuti keputusan Bu Alisa walau di dalam hatinya rasa marah itu masih sangat besar.


“Mama akan tetap jadi mamaku selamanya. Aku tidak peduli jika tidak punya papa, tapi aku sangat membutuhkan mama.” Ujar Fadhil memeluk Bu Alisa erat.


“Ssssttt... Bicara apa sih anak ini!” cubit Bu Alisa pada pinggang Fadhil.


“Aduh sakit ma!” ucap Fadhil mengadu sembari membelai-belai pinggangnya yang kesakitan.


“Habis sembarangan banget bicaranya!”


“Fakta kok!”


“Hei nak, mau baik atau buruk orang tuamu tetaplah orang tuamu. Ingat itu! Mama tidak mau mendengar kamu bicara seperti itu lagi!” cemberut Bu Alisa dengan raut wajah kesal.


“Iya deh iya.” Jawab Fadhil dengan nada malas-malasan sembari mengecup kening Bu Alisa dan mengecup singkat bibir Mecca lalu pamit pergi.


Mecca dan Bu Alisa mengantarkan kepergian Fadhil dengan senyum dan lambaian tangan.


“Ma, Mecca mau ke restoran. Daripada mama bosan bagaimana kalau ikut dengan Mecca juga?”


“Mama harus pergi kerja juga sayang, mama sudah meninggalkan perkerjaan selama seminggu. Bagaimana pun juga mama masih punya tanggung jawab di sana.”


“Ya sudah kalau begitu. Mau pergi sekarang ma? Ayo sama-sama!”


“Oke, let’s go!”


Happy Reading and Enjoy.


SELALU vote, beri tips, komentar, like, dan rate 5 ya. HARUS!!! (kenapa kata SELALU dan HARUS di capslock? karena Author lagi-lagi maksa. hahaha 😅)