
Di meja makan telah tersedia berbagai macam menu masakan Mecca. Seperti hari-hari biasa, masakan Mecca selalu dibanjiri pujian-pujian menyanjung suaminya. Makan malam Mereka selesaikan dengan senda gurau dan mengobrol ringan.
“Anak Mbak Nindy tadi cantik banget ya Mas. Sudah lucu, gemes, imut pula.”
“Iya yank. Aku jadi pengen cepat-cepat punya Anak juga nih.”
“Sama Mas. Kalau bisa disuruh pilih, Mas mau Anak cewek atau cowok?”
“Ehm... Cowok! Biar bisa jagain Mommynya kalau Aku lagi enggak di samping Kamu yank.” Ujarnya berandai-andai.
“Kalau Aku justru pengen Anak cewek Mas, biar bisa masak bareng, hehehe...”
“Ya semoga saja dapatnya kembar cewek-cowok biar adil.”
“Aamiin. Yang penting doanya di kencangi.”
“Yang penting juga usaha yank, yuk Kita usaha dulu di kamar.” Ajaknya menggoda.
“Ih... Mas ini, coba deh sehari libur dulu.” Celetuk Mecca cemberut.
“Enggak Mau, Aku cuma bisa kasih libur tujuh hari dalam sebulan sekali.” Protesnya di tanggapi Mecca dengan putaran kedua bola matanya.
“Oh iya Mas, tadi siang Mama telepon Aku loh. Mama sama Papa mau akomodasiin Kita bulan muda, terus Kita diminta pilih tempat tujuan.”
“Ya ampun Mama! Sudah 3 bulan nikah masa masih bisa disebut bulan madu sih yank? Lagian Kita kan selalu bulan madu setiap hari, ya kan?” ujarnya sembari mencium kening Mecca.
“Iya sih Mas, tapi enggak baik juga Kita terus-terusan nolak kemauan Mama loh. Setelah dipikir-pikir tujuan Mama itu baik, supaya Mas yang sibuk terus akhir-akhir ini bisa istirahat sejenak. Terus waktu Mas untukku juga bisa lebih banyak, ya kan?”
“Iya yank. Tapi Aku enggak mau Mama sama Papa yang akomodasiin, kayak Aku enggak mampu saja bawa Kamu jalan-jalan.”
“Itu bisa Mas bicarakan dengan Mama, Aku rasa Mama cuma mau kita punya waktu berdua lebih banyak Mas.”
“Iya sayang, maaf ya sudah sibuk terus belakangan ini. Memangnya Kamu mau ke mana sih?” tanya Fadhil sembari mencubit ujung hidung Mecca.
“Aku maunya di dalam negeri saja Mas, tapi enggak tahu mau ke mana.”
“Ke pulauku saja yank.”
“Mas punya pulau?”
“Punya.”
“Wah... Keren! Aku mau Mas! Aku ajak Kak Dina sama Ayah ya.” Tanyanya antusias.
“Loh, kalau ngajak-ngajak bukan bulan madu dong namanya.” Keluh Fadhil.
“Ya sudah ganti saja namanya jadi liburan, boleh ya Mas?” tanyanya berharap.
“Nanti Mama lagi yang cerewet yank kalau kita pergi rame-rame.”
“Cari alasan dong Mas ke Mama, kan yang penting kebersamaan Kita.”
“Iya deh iya, Kamu Bosnya yank, Aku mah apa atuh.”
“Aaaah... Baek syekale suami Akoh.” Ujar Mecca dengan ucapan yang dibuat-buat sembari memeluk Fadhil erat.
Setelah makan malam selesai, Mecca membuka buku catatannya dan mulai menulis beberapa hal sebagai coretan-coretannya sebelum menggarap kembali skripsinya.
Sudah cukup lama Mecca berkutat dengan kesibukannya, hingga ia merasa penat. Beberapa kali Dia menghembuskan nafas secara kasar, hal itu tak luput dari perhatian Fadhil yang sedari tadi duduk di sofa.
“Kenapa yank?”
“Bosan Mas. Aku capek, otakku stuck!”
“Ya sudah dilanjut besok saja ya, sekarang tidur yuk.”
“Enggak mau, Aku pengen nonton film horor Mas.”
“Sekarang sudah jam 9 malam loh yank.”
“Sekali-sekali Mas. Besok kan hari libur, boleh ya?” ujarnya memohon.
“Ya sudah deh, yuk ke mini theater Kita!”
“Asyik-asyik, love you cinta.” Ujarnya tersenyum lebar.
"Ganti baju dulu yuk Mas... Di ruangan itu terlalu dingin."
"Kamu saja yank, Aku tunggu di sini."
Sudah berbulan-bulan Mecca tinggal di rumah itu, namun rasa kagumnya tak kunjung tuntas. Ia selalu menunjukkan ekspresi yang berlebihan di setiap ruangan yang dikunjunginya, hal itu membuat Fadhil tertawa geli melihat tingkah istrinya tersebut.
“Dasar penakut yang sok berani.”
“Biarin blee.” Jawabnya sembari menjulurkan lidah.
Hampir 45 menit film berjalan, namun Mecca sudah tertidur pulas. Ia menjadikan dada bidang suaminya sebagai bantal tidurnya.
Fadhil menyadari jika istrinya tersebut sudah terlelap dan mungkin sudah berada di alam mimpi saat ini. Kemudian Fadhil dengan perlahan mengambil ponselnya, memotret lalu membagikannya pada laman social medianya dengan caption “Si pelaku yang melarangku tidur.” Senyumnya mengembang saat itu juga.
Tak lama berselang Fadhil pun ikut merasakan kantuk teramat besar, ia pun mulai tertidur sembari memeluk Mecca dan bergabung ke alam mimpi.
Mentari pagi mulai menyinari bumi, Mecca telah bersiap di dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuknya dan Fadhil.
“Yank, mau buat apa?”
“Ini Aku lagi goreng telur ayam kampung setengah matang. Nanti Aku jadikan ini eggs benedict, jadi ada telur, potongan tomat, beef ham, sama beef bacon. Seratus persen enak versi halal.” Jelas Mecca tanpa jeda.
“Walau Aku enggak suka tomat, tapi kalau istriku yang masak pasti berkali-kali lipat enak.”
“Pasti dong!” sahut Mecca percaya diri.
“Masak yang enak ya, Aku jadi kameramen saja.” Ucapnya sembari memotret Mecca beberapa kali.
Tak butuh lama bagi Mecca menyelesaikan masakannya. Ia pun segera menyiapkan makanan buatannya itu di meja makan.
Fadhil sudah merasa tidak sabar sedari tadi, melihat penampilan eggs benedict buatan istrinya, membuat selera makannya naik dengan pesat. Tanpa berlama-lama Mereka pun menyantap cepat sarapannya.
“Hmmmm... Enak banget yank, Aku suka.”
“Tomatnya enak juga kan?”
tanyanya menyelidik menaikkan sebelah alisnya.
“Enak!” ujarnya sembari mengangkat dua jempol.
“Mas ini kan hari libur, Kita ke rumah Ayah terus ke rumah Papa yuk.”
“Siang saja ya yank, karena nanti jam 10 akan ada orang ke rumah.”
“Hah, siapa Mas? Kok tiba-tiba? Kenapa baru bilang?”
“Bukan siapa-siapa yank, Mereka cuma para ahli yang Aku minta datang setiap 2 minggu sekali ke rumah untuk ngerawat Kamu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Jadi istriku ini tetap cantik, tetap relax tubuhnya, dan semakin luar biasa.”
“Mas juga kan?”
“Iya dong, Aku kan juga butuh dirawat yank.” Jawabnya dengan kerlingan mata.
“Tapi yang ngurus Mas laki-laki atau...?”
“Laki-laki yank!”
“Aaahhh... Mas pengertian banget. Aku beruntung bisa punya suami yang luar biasa seperti Mas. Love you so eemmmuuuaaahhh...” ujarnya sembari mengecup bibir Fadil lama.
***
Pagi ini Medina habiskan waktunya dengan duduk di bawah pohon besar di halaman rumahnya. Ia menatap lurus ke depan dengan hampa, hal ini sudah ia lakukan sejam lamanya.
Ketika ia tengah menikmati hangatnya matahari pagi dan semilir angin yang lembut menerpa kulit wajahnya, sejenak membuatnya menutup mata. Seketika wajah Arjun muncul dalam benaknya, saat itu pula ia tersontak kaget dan membuka mata dengan cepat.
“Kok ada dia di pikiranku?”
“Enggak... Enggak... Enggak... Aku enggak boleh jatuh cinta sama Arjun. Dia terlalu baik untukku.” Ucapnya sendu.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.