AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 72. Menahan Diri?



Mentari pagi bersinar dengan cerah, burung-burung bernyanyi dengan indah. Kicaunya yang menenangkan saling bersambut dengan hangatnya cahaya dunia. Menandakan hari baru telah dimulai.


Sinar mentari yang menerobos ke jendela kaca besar itu, tak terhalang oleh apapun. Menyilaukan kedua mata tertutup dari gadis cantik yang masih terlelap tersebut.


“Ah... Silau.” Gumam Mecca dengan suara paraunya.


“Selamat pagi sayang.” Ucap Fadhil lembut.


“Tumben bangun duluan, Mas?” tanya Mecca sembari mendudukkan dirinya.


Fadhil menarik tubuh Mecca untuk bersandar di dada bidangnya yang terekspose tersebut. Menyuapi Mecca segelas air putih yang langsung ia habiskan.


“Sama seperti kamu sayang, aku kesilauan. Semalam kita lupa tutup tirai jendela.”


“Iya mas, cerah banget ya hari ini. Jadi pengen jalan-jalan, mumpung hari libur.”


“Pengennya sih piknik, tapi kaki kamu kan masih sakit.” Kecup Fadhil di puncak kepala Mecca.



“Mau banget mas, ayo...”


“Nanti kena tegur mama kalau jalan-jalan yank, kemarin kan perjanjiannya kamu bisa bebas jalan kalau sudah sembuh kakinya.”


“Hmmm... Iya sih. Tapi kalau ke pantai doang boleh kali mas. Ajak mama sekalian, nanti Mecca ajak ayah juga biar mama ada yang temanin ngobrol.”


“Nanti kita tanya mama ya, tapi sebelum itu morning kiss dulu!” pinta Fadhil yang ditanggapi dengan saling mendaratkan bibir keduanya yang mengerucut.


“Bonus satu lagi ya.” Kecup Fadhil pada bibir merah muda Mecca berkali-kali.


“Itu sih enggak sekali namanya!” protes Mecca mengelap bibirnya yang basah.


“Namanya juga candu, hehehe...” cengar-cengir Fadhil.


Setelah mandi dan berpakaian, Mecca dan Fadhil menuju meja makan untuk melaksanakan sarapan pagi bersama. Di meja makan sudah terhidang 3 mangkok bubur ayam yang menggoda selera. Aromanya yang sedap serta uapnya yang masih mengepul membuat kelenjar saliva menghasilkan air liur lebih meruah.



“Hmmm... Harumnya. Pasti enak banget nih!” ujar Fadhil sembari menelan liurnya yang hampir menetes berkali-kali.


“Enak dong, bubur ayam kan kesukaan kamu, Nak. Dan untuk Mecca spesial mama buatkan yang sedikit rasa-rasa.” Senyum Bu Alisa tersirat bahwa menantunya tersebut masih dalam pengawasannya.


“Yah... Enggak adil nih mama ke Mecca!” jawab Mecca mengerucutkan bibirnya.


“Ya kan biar cepat sembuh sayang. Kamu tuh terlalu banyak aktivitas dan akhir-akhir ini suka makanan yang asin-asin sih!”


“Tapi ini kaki Mecca sudah kempes bengkaknya, Ma.”


“Justru itu harus tetap dijaga pola makan dan pola hidup sehatnya. Biar enggak kambuh lagi bengkaknya. Sudah enggak usah banyak protes, ayo dimakan buburnya. Habiskan semua ya!”


Setelah usai sarapan pagi, Fadhil mulai membuka suara mengenai ajakan pikniknya ke pantai hari ini. Seperti dugaan, Bu Alisa menolak dan melarang Mecca untuk banyak kegiatan terlebih dahulu.


Namun rengek Mecca yang bagai bayi itu lama-lama membuat Bu Alisa tak kuasa melarang, ia pun memberikan izin kepada Mecca dan Fadhil untuk pergi.


“Ya sudah boleh, tapi berangkatnya agak siangan aja ya. Mama soalnya minta Pak Mali jemput Nenek Uun lagi untuk pijat kaki kamu. Semoga sekali lagi dipijat bisa lebih cepat sembuhnya.”


“Terima kasih ya, Ma.” Peluk Mecca mendarat pada mama mertuanya tersebut.


“Mama ikut ya nanti, ayah juga diajak kok.”


“Tidak ah, mama di rumah saja.”


“Yah... Ikut dong, Ma. Mama kan juga butuh refreshing.” Rengek Mecca kembali.


“Mama nanti takut salah tingkah dan banyak berbohong pada ayahmu kalau beliau tanya soal papa.” Ucap Bu Alisa dengan sendu.


“Nanti Fadhil yang akan cari alasan, biar Fadhil yang berbohong, Ma.” Jawab Fadhil menenangkan mamanya.


“Jangan! Lebih baik mama di rumah saja.”


Mecca tampak tak menyerah merayu Bu Alisa untuk ikut pergi bersamanya, bahkan saat dipijat oleh Nenek Uun, ditengah-tengah rasa nyerinya Mecca masih sempat-sempatnya memohon.


Karena jengah mendengar ucapan yang sama dan permohonan Mecca yang terus menerus, Bu Alisa pun menyanggupi keinginan Mecca. Tampak garis senyum Mecca mengembang lebar sesaat itu juga. Gadis cantik itu pun seketika berteriak “Hore”, dan membuat Bu Alisa ikut tertawa karenanya.


Sekitar pukul 3 sore, mereka berenam sampai ke pantai favorit Fadhil saat menyendiri dulu. Sesampainya di sana, mereka memutuskan untuk mengambil foto bersama sebelum acara piknik dan main air dimulai.



Bu Alisa mengingatkan Mecca berkali-kali untuk banyak duduk daripada berdiri. Melihat perhatian Bu Alisa kepada putrinya, membuat Pak Pradipta sangat bersyukur. Pak Pradipta dapat melihat ketulusan hati Bu Alisa dalam menyayangi Mecca dari sorot matanya.


Seketika hati Pak Pradipta melembut, beliau bersyukur bahwa anaknya dapat merasakan kasih sayang seorang ibu seperti harapannya selama ini.


“Sekarang kamu pasti bahagia ya, Nak? Kamu bisa mendapatkan kasih sayang seorang ibu seperti harapanmu selama ini kan?” tanya Pak Pradipta pada Mecca sembari membelai rambut halusnya.


“Iya yah, sangat bahagia.” Senyum Mecca mengembang lebar. “Walau mama agak cerewet.” Bisik Mecca pada ayahnya dan ditanggapi tawa lebar dari Pak Pradipta.



Bu Alisa dan yang lainnya mulai menata tikar serta berbagai macam bawaan mereka di atasnya. Mereka duduk melingkar dan bersenda gurau bersama.


Di pantai yang sunyi itu, suasana semakin menyenangkan bagi mereka. Seolah pantai milik pribadi, mereka pun tak sungkan mengeluarkan gelak tawa hingga membahana di setiap sudut pantai.


Medina dan Arjun mulai berjalan dan mengitari sisi pantai. Sosoknya mulai jauh dari jangkauan mata, namun Mecca masih dapat melihat genggaman tangan keduanya menaut dengan malu-malu. Hal itu dapat dilihat dari bagaimana Medina berkali-kali menengok ke belakang melihat gerak-gerik ayahnya.


“Ppfftt...” tahan tawa Mecca meledakkan air minum dalam mulutnya.


“Yank, kamu enggak apa-apa?” tanya Fadhil sembari membersihkan sisa-sisa air di mulut Mecca.


“Aku nahan ketawa mas.”


“Kenapa pakai ditahan segala?”


“Aku lihat Kak Dina malu-malu pegangan tangan sama Kak Arjun, tapi di sana Kak Arjun malah nyosor ke bibir Kak Dina sampai buat mereka jatuh berdua ke dalam air laut.” Bisik Mecca perlahan.


“Hahaha... Dasar cowok mesum. Untung selama aku dekat sama dia enggak pernah di sosor, geli banget ah!” Ucap Fadhil dengan bergidik. Mecca hanya menertawakannya sembari meledek terus-menerus.


“Mas.”


“Mataharinya sudah mau turun, sebentar lagi kita pasti pulang. Aku mau jalan ke tepi pantai sebentar saja. Mau ya ikut sama aku.”


“Ya mau dong. Ayo!”



Fadhil menggenggam tangan Mecca mengajaknya berjalan di tepi pantai, menenggelamkan kaki mereka untuk diterpa ombak berkali-kali. Tawa keduanya saling bersahutan, saling memandang dengan cinta. Ciuman hangat pun melengkapi momen senja dengan langit lazuardi sebagai penyempurnaannya.


“Indah ya mas?” tatap Mecca pada ombak yang menderu dengan latar belakang langit berwarna jingga.


“Iya indah, sangat!” tatap Fadhil pada wajah samping Mecca.


“Yang indah itu pemandangan di depan sana!” senyum Mecca malu-malu melihat tatap mata Fadhil yang masih mengunci padanya.


“Tapi bagiku kamu yang terindah yank.” Bisik Fadhil sembari mengecup cuping telinga Mecca. Membuat gadis itu bergerak dengan spontan.


Pak Pradipta dan Bu Alisa masih asyik mengobrol. Saling menceritakan diri masing-masing, membahas soal anak-anak, dan juga pekerjaan. Namun obrolan tersebut membuat hubungan keduanya menjadi lebih akrab. Sehingga mengalihkan pandangan keduanya dari dua pasang muda-mudi tersebut.


Entah apakah Pak Pradipta mengetahui kerenggangan hubungan Bu Alisa dengan Pak Permana atau tidak, namun dalam obrolan tersebut keduanya tak satu pun membahas atau menyebut nama Pak Permana.


Hal itu justru membuat Bu Alisa lebih nyaman dalam berbicara, menghilangkan segala kekhawatirannya jika harus mengucapkan kata kebohongan pada Pak Pradipta.


Setelah puas bermain ombak dan berganti pakaian, mereka menyantap beberapa camilan dan ice cream bersama. Piknik hari ini sungguh menyenangkan bagi mereka semua.



Mecca, Fadhil, Bu Alisa dan Pak Pradipta pulang dalam satu mobil bersama, sedangkan Arjun akan mengantarkan Medina menuju restoran dengan mobilnya.


Mobil Fadhil lebih dahulu meninggalkan pantai, sedangkan Arjun dan Medina masih sibuk menata bawaan keduanya yang berantakan di mobil itu.


“Sudah beres Be, kita ke restoran yuk. Di sini gelap banget, aku jadi enggak bisa lihat kamu dengan jelas nih!”


“Kenapa? Kamu kangen sama wajah gantengku, Bi?”


“PeDe banget sih kamu!” cubit Medina pada lengan Arjun, namun dengan sigap Arjun menangkap tangan halus Medina dan meletakkannya melingkari pinggangnya.


“Suara ombaknya enak didengar ya Bi, suasana pantai yang sepi ini bikin jadi lebih romantis kan?”


“Enggak romantis ah, tapi seram. Lihat aja, masa cuma kita berdua di sini. Aku agak takut sih.” Ujar Medina di dekat telinga Arjun.


Ucapan Medina bagai tiupan lembut yang menerpa lehernya, membuat Arjun sedikit bergidik karenanya. Arjun memeluk tubuh Medina dan menenggelamkan wajahnya pada bahu Medina yang terasa kecil baginya.


“Aku mau berlama-lama sama kamu dulu di sini, Bi. Berdua sama kamu, menyentuh kulit lembutmu, saling bertatapan, menghirup nafas masing-masing, dan saling berbagi kehangatan dengan pelukan.”


“Apaan sih Be, tumben banget puitis gini.” Ujar Medina berusaha melepaskan diri dari pelukan Arjun. Namun Arjun menahannya dengan kuat, menarik tubuhnya semakin mendekat.


“Bi, kamu mau ya menikah denganku. Rasanya aku hampir gila kalau terus-terusan menahan diri seperti ini.”


“Menahan diri?”


“Hmmm... Aku mau kamu jadi milikku seutuhnya. Setiap hari otakku cuma mikirin kamu terus, kalau kita enggak ketemu hatiku rasanya sakit karena rindu. Aku mau kita bisa lebih sering ketemu, Bi. Kita menikah ya?”


“A-aku belum siap.” Medina menundukkan kepalanya dengan perlahan.


“Terus kapan siapnya? Apa kamu belum yakin sama aku?”


“Bukan begitu, tapi aku belum yakin pada diriku sendiri.” Wajah Medina mendongak langsung.


“Apa hatimu belum kamu serahkan seutuhnya ke aku, Bi? Seperti hatiku untukmu?” mendadak mata Arjun menjadi sendu dan berkaca-kaca.


“Bukan begitu, Be. Tapi aku cuma belum siap untuk berumah tangga.”


“Karena?” tanya Arjun menyelidik. Namun Medina hanya membisu, mengatupkan kedua bibirnya dengan rapat.


“Ya sudah kalau belum mau, yuk kita pergi ke restoran.” Ucap Arjun dengan senyum yang dipaksakan.


Medina dengan cepat menahan tangan Arjun untuk melangkah pergi. Medina membuka pintu mobil dan menutup bangku depan, ia mengarahkan Arjun agar masuk menduduki bangku di belakang kemudian Medina menyusulnya.


Dengan sekali dorongan Arjun merebahkan tubuhnya ke bangku mobil dengan bingung. Medina duduk di atas tubuh Arjun dan membuka kaos putihnya, menampakkan tubuh bagian atasnya yang masih tertutup bra berwarna putih berenda tersebut.


Medina mencium bibir Arjun dengan agresif, lebih tepatnya memaksakan dirinya untuk menjadi lebih agresif. Arjun yang kebingungan dengan perilaku Medina hanya terdiam tak merespons ciuman tersebut.


Namun tangan Medina yang dingin membimbing tangan Arjun ke arah kedua dadanya. Menangkupkan telapak tangan Arjun di sana untuk menja*ahnya. Arjun menelan liurnya dengan kasar, membalas ciuman Medina dengan ganas, mere*as kedua dada Medina dengan gemas.


Medina mengalirkan air matanya yang menetes di kedua pipi Arjun. Arjun yang diburu oleh nafsu tak dapat merasakan tetesan air mata tersebut. Arjun semakin memperdalam ciuman dan gerakan tangannya menjadi lebih bergai*ah.


Dengan jantung yang sama-sama berdebar kencang, Medina menjauhkan tubuhnya dari Arjun. Medina duduk tegak menatap sorot mata Arjun yang kemerahan menahan hasratnya untuk berbuat lebih. Medina pun dengan tangan dan tubuhnya yang gemetar hebat mulai berusaha membuka kaitan branya yang masih menutupi dadanya tersebut.


Arjun melihat air mata Medina yang semakin membanjiri pipi kemerahannya dengan sedih. Ia pun menahan tangan Medina dan kembali mendudukkan dirinya serta mengaitkan kembali dua kancing bra Medina yang terbuka.


“Kamu kenapa sampai begini, Bi?” tanya Arjun dengan nafas tersengal-sengal, memeluk tubuh Medina yang terus bergetar kuat. Menahan gai*ahnya yang memuncak, dan meredamnya dengan tarikan dan embusan nafas berulang.


“Kalau kamu menginginkanku menikah karena tidak tahan dengan nafsu, aku akan memberikan tubuhku saat ini juga. Selama ini semua laki-laki hanya menginginkan tubuhku kan?!” isak Medina dalam ucapannya dengan suara bergetar.


“Kenapa kamu bicara seperti itu? Apa aku serendah itu dimatamu?” tatap Arjun dengan mata tak percaya.


“Aku trauma Arjun! Aku baru bisa membuka hati kepada pria itu hanya dengan kamu! Aku belum siap, aku masih harus belajar menerimamu dan menerima diriku sepenuhnya!” tangis Medina semakin pecah terdengar.


“Trauma kenapa? Cerita sama aku!”


“Aku... A-Aku...”


ucap Medina terbata, bibirnya seakan membeku.


“Iya kamu kenapa, Bi?” tatap Arjun meyakinkan Medina untuk terbuka.


“AKU 2 KALI PERNAH MENJADI KORBAN PEMERKOSAAN!” teriak Medina pecah bersama getaran tubuhnya dan tangis kuat yang terisak-isak.


“APA?!” teriak Arjun dengan membelalakkan matanya.


Gimana gaes? seakan jedar-jeder enggak baca pernyataan Medina? 🤭


Yuk budayakan VOTE, beri TIPS, LIKE di setiap chapter, jadikan novel ini FAVORIT, follow Author jangan lupa, beri KOMENTAR, dan RATE 5 ⭐ nya ya. LANGSUNG PENCET!!! Author lihatin loh dari sini ⬇️