
Sudah beberapa hari ini Fadhil terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya, dia lebih sering pergi pagi dan pulang terlalu malam. Kadang Fadhil sampai pergi ke luar kota untuk masalah pekerjaan.
Awalnya Mecca memaklumi Fadhil yang sedang berusaha mengembangkan usahanya, namun tidak dengan bayi dalam kandungannya. Sentuhan berlama-lama Fadhil yang rajin mendarat di perutnya, kini sering dirasakannya secara singkat. Seolah memberontak ingin perhatian dari seorang ayah, kini bayi dalam kandungan Mecca justru sangat pasif dalam bergerak.
Mecca berusaha terus mengajak bayinya berkomunikasi, tapi tidak seperti tendangan-tendangan kuat sebagai jawabannya, malah gerakan halus yang hampir tidak terasa.
“Baby, kenapa akhir-akhir ini kamu jarang tendang bubu lagi? Kenapa sekarang jadi pasif? Baby marah sama bubu atau baba ya?” tanya Mecca pada bayinya yang tetap tak memberi pergerakan.
“Baby, biasanya kalau bayi seusiamu yang semakin bertambah besar, pergerakannya semakin lincah loh. Bubu kangen nih sama tosnya baby di perut bubu. Tos lagi dong...” rayu Mecca pada bayinya, namun lagi-lagi tidak ada pergerakan.
“Oh, bubu tahu! Baby pasti lapar ya jadi agak enggan banyak gerak? Baby mau makan apa? Gini-gini deh, kalau bubu ucap menunya terus baby mau itu kasih pergerakan yang keras ya!” instruksi Mecca sembari membelai lembut bayi dalam kandungannya.
“Oke, bubu mulai ya. Kalau bakso? Soto? Rawon? Sate? Oh atau ini nih, mie goreng?” Mecca mengucap satu persatu nama menu sembari menunggu respons bayinya, dengan berhenti sejenak sebelum berpindah ke menu baru, namun lagi-lagi bayinya tidak merespons.
Mecca masih pantang menyerah, ia melanjutkan kembali absensinya mengurut menu-menu makanan lain.
“Yah, baby kok tetap diam sih? Hmmm... Apa baby lagi kangen baba?” sejenak Mecca merasakan pergerakan halus anaknya. Mecca pun tersenyum melembut.
“Sabar ya sayang, baba lagi kerja keras di luar sana untuk kita berdua. Doain baba terus ya, bubu yakin baba juga kangen berat sama baby, tapi baba belum bisa kasih banyak waktu dulu sekarang. Nanti kalau baba sudah enggak sibuk lagi, baba pasti lama-lama belai, doain, sama nyanyiin baby lagi.” Pergerakan bayinya pun terasa kembali, perut Mecca seolah berkedut walau tidak terlalu kuat.
Ditengah-tengah perbincangannya, dering ponsel Mecca mulai terdengar. Mecca dengan segera mengangkat teleponnya. Mecca mulai mengaktifkan sepikernya dan berbicara.
Mecca : “Assalamualaikum, Mas?”
Fadhil : “Wa’alaikumsalam, Sayangku.”
Mecca : “Sssshhhh... Uhss...” desis Mecca menerima gejolak tonjokkan bayinya yang kuat.
Fadhil : “Kamu kenapa yank?”
Mecca : “Anak kamu akhirnya gerak, Mas!”
Fadhil : “Akhirnya? Maksud dari kata akhirnya itu apa?”
Mecca : “Mas coba ingat berapa hari mas mulai sibuk dan enggak berlama-lama lagi belai anak kita?”
Fadhil : “Sibuknya sih sekitar dua minggu ini, tapi aku belai kok, setiap waktu tidur aku kan selalu peluk kalian berdua yank.”
Mecca : “Tapi bayi kita sudah lama enggak ngerasa belaian babanya yang berlama-lama sambil ngobrol, baca doa atau nyanyiin lagi. Kayaknya anak kita lagi kangen sama babanya, dia jadi ngelakuin protes dengan lebih banyak diam nih!”
Fadhil : “Maaf ya sayang-sayangnya baba, sekarang baba masih banyak kerjaan jadi pulang ke rumah sering kecapekan deh. Tapi baba janji, nanti malam walau bubu sudah tidur duluan, baba akan ajak dedek ngobrol ya. Obrolan antar lelaki.”
Mecca : “Kok bisa bilang antar lelaki sih, Mas? Tahu jenis kelaminnya aja belum.”
Fadhil : “Feeling aja.”
Mecca : “Feeling atau maunya memang anak cowok?”
Fadhil : “Dua-duanya, hehehe...”
Mecca : “Uh dasar mas ini. Terus tumben mas telepon, bukannya lagi sibuk?”
Fadhil : “Iya sih yank, memang lagi sibuk. Tapi dari tadi perasaanku gelisah melulu, ke pikiran istri dan anakku tersayang.”
Mecca : “Ke pikiran apa? Oh... Mas memang sehati nih sama si baby. Dari tadi kan kita omongin babanya terus, eh enggak lama babanya telepon, berarti sehati kan?”
Fadhil : “Sehati dong, pastinya! Ngomong-ngomong anak baba sudah makan belum?”
Mecca : “Sudah dong.”
Fadhil : “Good boy! Yang pintar ya nak, jaga bubu baik-baik, yang nurut ya sayang. Baba mau lanjut kerja lagi nih. Hati-hati di rumah, love you both.”
Mecca : “Love you too.” Tutup Mecca di akhir panggilannya.
Mecca membelai sayang bayinya yang masih bergerak aktif dalam perutnya.
“Wah anak bubu sudah happy lagi nih! Senang ya nak habis dengar suara, Baba? Nah, kamu sudah dengar kan apa kata baba tadi, kata baba nanti malam kalian bisa ngobrol berdua antar lelaki, hehehe...! Eh, tapi bubu jadi penasaran deh, kamu benar cowok atau bukan sih? Nanti bubu sama baba tanya ke Bu dr. Sarah dulu ya.” Cengir Mecca gemas.
Ditengah-tengah keasyikan Mecca berbicara dengan bayinya, Bi Asih mendatangi Mecca dan menyampaikan sesuatu.
“Permisi, Nyonya.”
“Iya Bi Asih, kenapa?”
“Ada tamu yang datang.”
“Tamu?” tanya Mecca mengerutkan dahi.
“Iya nyonya, seorang perempuan cantik.”
“Perempuan cantik? Namanya siapa?”
“Dia tidak mau bilang, katanya mau kasih kejutan ke nyonya.”
“Kejutan? Perasaan aku enggak punya teman yang dekat-dekat banget deh. Hmmm... Jadi penasaran! Ngomong-ngomong mama sudah pulang kerja belum, Bi?”
“Belum nyonya, mungkin sebentar lagi.”
“Ya sudah, terima kasih ya.”
“Sama-sama, Nyonya.”
Mecca bangkit dari duduknya dan menuruni tangga menuju ruang tamu dengan segera, rasa penasaran membuat dirinya mencepatkan langkah kakinya.
Wanita dengan rambut pendek di atas bahu, berdiri tegak melirik kedatangannya.
“Hai wanita perebut kekasihku. Apa panggilan kekiniannya? Oh iya, pelakor!” ujar Rani sinis.
“Hah? Enggak kebalik?” jawab Mecca dengan memutar kedua bola matanya.
“Dasar enggak sadar diri!” sindir Rani menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah tersenyum.
“Sudahlah, enggak usah bikin mood buruk! Langsung aja bilang apa maksud kedatanganmu kesini? Dari mana kamu tahu rumahku sih?!”
“Enggak usah berbelit-belit, cepat jawab!”
“Persilakan aku duduk dulu dong, buatkan minum atau apa begitu, sesuaikan saja dengan cara sopan santun yang kamu tahu. Ya, itu pun kalau diajari sih.” Sindir Rani kembali.
“Mana bisa pakai sopan santun sama kamu, kalau bisa terima kedatanganmu di luar pagar itu pasti lebih baik. Daripada mengotori karpet rumahku!” dengus Mecca kesal.
“Tadi aku ke restoran, tapi kata salah satu karyawan di sana kamu sudah pulang. Terus aku minta alamat rumah kamu, tadi aku bilang kita sahabat dari lama dan aku mau ketemu sama kamu karena KANGEN banget.” Jawab Rani mengabaikan ucapan Mecca dan duduk dengan nyaman di sofa. Ia menekan kata kangen sambil tersenyum geli.
"Bagaimana aktingku sebagai sahabat? Baguskan?"
“Terus tujuan kamu apa ke sini?” Mecca mengabaikan pertanyaan Rani yang tidak penting menurutnya.
“Aku mau ketemu kekasihku dong, habis aku enggak bisa hubungi dia lagi. Fadhil ganti nomor ya? Aku kangen banget sama dia. Aku mau peluk, cium bibirnya, dan merasakan hangat tubuhnya.” Ucap Rani dengan gerakan tubuh seolah memeluk seseorang.
“Kamu kenapa sih suka banget ganggu suami orang lain? Apa ngehancurin hubungan mama sama papa belum cukup? Kamu sudah dapat dukungan penuh dari papa, terus kamu mau apa lagi dengan suamiku?!”
“Kamu tahulah sayang, Om Permana yang sudah berumur aja tenaganya boleh juga, apalagi anaknya. Mau aku apa? Ya masa aku harus jelasin lagi?”
“Wanita jahat! Pergi dari rumahku sekarang!”
“Tidak! Sampai aku dapat ketemu atau dapat nomor ponsel Fadhil yang baru! Kamu enggak ngerti apa-apa, Fadhil itu merindukanku. Dia hanya merasa bersalah karena perut buncitmu itu. Coba kalau kamu tidak hamil, pasti Fadhil akan langsung kembali padaku. Huufftt... Fadhil terlalu baik dan tidak tegaan sih, jadi mudah dijerat sama wanita ja*ang.” Lirik sinis Rani pada Mecca.
“Oh... Atau aku bunuh saja anak itu ya biar tidak jadi penghalang lagi?!” Seringai Rani sembari berdiri dan menatap perut Mecca dengan benci.
“Jangan macam-macam kamu! Di sini banyak orang, kalau aku teriak semua akan datang kesini langsung dan melaporkanmu ke kantot polisi!” ucap Mecca tak ingin terintimidas. Mecca melebarkan telapak tangan melingkari perut besarnya seolah sedang melindungi bayinya.
Rani mulai berjalan mendekati Mecca, memasang wajah wanita gila yang tak takut apapun. Senyumnya yang harusnya terlihat manis, berubah seperti Joker.
“Jangan dekat-dekat! Bi Asih, Bi Lia, Bi Ani!” panggil Mecca dengan suara lantang yang bergetar.
“Percuma panggil mereka, hihihi... Mereka semua pada sibuk kok.”
“Mak-maksud kamu a-apa?” tanya Mecca tergagap dengan gugup.
“Kamu takut ya sama aku?” senyum licik Rani semakin mengembang.
Mecca memundurkan langkahnya, ia mulai menaiki tangga untuk berlari ke kamarnya, mengambil ponsel yang ia tinggalkan di sana. Tapi saat kakinya beranjak pada anak tangga ke 10, Rani menarik tangan Mecca dengan kencang.
Kasih sayang Tuhan masih melindungi Mecca dan bayinya, Mecca dengan sigap mengencangkan pegangannya pada railing tangga dan merapatkan kedua kakinya agak dalam pada bordes tangga, membuat tubuhnya lebih seimbang berpijak.
Rani yang merasa tak puas dengan hasil tarikannya semakin menguatkan tarikannya pada tubuh Mecca, berusaha menjatuhkan ibu hamil itu agar terlihat sebagai kecelakaan yang tak disengaja, namun...
“JA*ANG! APA YANG KAMU LAKUKAN PADA ANAKKU?!” teriak Bu Alisa dari jauh melemparkan tasnya di lantai sembari berlari mendekati kedua wanita tersebut.
Bu Alisa menjambak rambut Rani dan menariknya menjauhi Mecca yang mulai kesulitan mempertahankan pegangannya.
“Aaaww... Aaaww... Aaaww... Lepaskan rambutku nenek sihir reot tak tahu diri! SAKIT!” bentak Rani di akhir ucapannya.
“Apa waktu anakku bilang ‘lepaskan’ kamu langsung lepaskan tangannya? Tidakkan? Jadi jangan kamu pikir aku akan lepaskan rambut jelekmu ini!” Bu Alisa semakin menariknya kuat, membuat beberapa helai rambut Rani terlepas dari akarnya.
Bu Alisa menarik kuat rambut Rani, mengambil tas wanita itu dan terus menyeretnya hingga keluar pagar lalu melemparkan tas wanita itu dengan kasar.
“Awas kamu kesini lagi! Jangan dekati anak-anakku lagi!” bentak Bu Alisa pada Rani yang masih kesakitan memegang rambutnya, menatapnya dengan kebencian.
“Aang! Mali!” panggil Bu Alisa dengan berteriak.
“Iya Nyonya Besar?” jawab Pak Mali dan Pak Aang bersamaan dengan nafas tersengal-sengal sehabis berlari.
“Ingat baik-baik wajah wanita gila ini! Kalau dia datang lagi, JANGAN SEKALI PUN kalian bukakan pintu. Langsung usir saja! Paham?!” sorot mata mengancam Bu Alisa tampak berapi-api.
“Paham nyonya!” jawab serentak kedua laki-laki tersebut.
Bu Alisa meninggalkan halaman tanpa menoleh, ia mengabaikan teriakan-teriakan Rani yang seperti orang gila itu menyumpahinya dan seluruh keluarganya.
Bu Alisa kembali ke dalam rumah mencari keberadaan Mecca. Di sana Mecca masih duduk melantai pada bordes. Menangis sesenggukan terus menerus.
“Sayang, kamu tidak apa-apakan? Apa ada yang sakit?” tanya Bu Alisa khawatir.
“Perut Mecca keras banget ma, rasanya sakit dan semakin berat, huhuhu...”
“Tapi kamu masih bisa berdiri dan jalan ke kamar tidak?” tanya Bu Alisa mendapat anggukkan dari Mecca.
Bu Alisa memanggil-manggil ketiga nama ART nya secara bergantian, namun yang datang hanya Bi Ani.
Dengan bantuan Bi Ani dan Bu Alisa, tubuh Mecca dibopong dengan menyampirkan kedua lengangnya di bahu kedua wanita di sisinya tersebut. Mecca mencoba berjalan perlahan menaiki anak tangga menuju kamarnya dengan raut wajah meringis dan suara berdesis di setiap langkahnya.
Sesampainya di kamar, Mecca merebahkan diri dan menyelimuti sebagian tubuhnya hingga sebatas dada.
“Para bibi tadi ke mana waktu aku panggil-panggil? Kenapa enggak langsung datang?” tanya Mecca menyelidik.
“Ma-maaf nyonya, kami tidak dengar. Yang saya tahu dari cerita Asih, nona yang datang tadi memberitahukan kalau seorang laki-laki yang mengaku suami Asih kecelakaan di ujung jalan depan Komplek, terus anehnya nona itu juga bilang hal yang sama ke Lia begitu Asih sudah pergi tergopoh-gopoh. Lia dan Asih sempat menangis terisak juga tadi tapi ternyata begitu berlari ke sana tidak ada apa-apa. Kalau saya tadi membersihkan air jus buah kotakkan yang ditumpahkan nona itu di halaman depan karena takut mengundang semut, jadi saya cepat-cepat pergi karena nona itu bilang dia tidak mau dibuatkan minum.” Jelas Bi Ani tertunduk, merasa bersalah karena terkecoh dengan seseorang yang ingin mencelakai majikannya.
“Ya sudah enggak apa-apa bi, ini bukan salah kalian kok. Kalau begitu tolong buatkan aku teh sari jahe hangat, Bi.” Bi Ani menganggukkan kepala dan pamit undur diri segera.
“Huuuuh... Dasar si ja*ang itu! Banyak banget cara liciknya! Dia pasti sudah ada niat ingin mencelakaimu, Nak! Mama akan telepon Fadhil!”
“Jangan ma, please!” Mecca menggenggam erat tangan Bu Alisa.
“Kenapa sayang? Fadhil harus tahu loh, wanita itu membahayakan untukmu!”
“Mas Fadhil akhir-akhir ini sibuk ma, dia sering kecapekan, Mecca enggak mau nambah beban pikiran Mas Fadhil lagi.”
“Keselamatanmu dan anak dalam kandunganmu ini bukan beban siapa-siapa. Bagaimanapun Fadhil harus tahu situasinya.” Bu Alisa membelai lembut perut besar Mecca dengan sayang, menenangkan perut Mecca yang masih terasa keras mengkaku. Bu Alisa menatap Mecca iba karena masih berdesis menahan ketidaknyamanannya.
“Mecca tahu ma, tapi kali ini enggak usah kasih tahu Mas Fadhil dulu ya. Sikonnya belum pas aja, Ma. Lebih baik mama bantu Mecca telepon dokter Sarah, Mecca mau tanya kenapa sama perut Mecca ini, Mecca khawatir sama baby, Ma.” Rengek Mecca meminta persetujuan Bu Alisa.
“Ya sudah deh, tapi kalau nanti Fadhil tahu sendiri dan marah jangan salahin mama ya?” pertanyaan Bu Alisa mendapat anggukan dari Mecca.
“Eh... Hp mama dalam tas, Nak. Tadi tasnya mama lempar di ruang tamu.” Bu Alisa menepuk dahinya setelah mengingat kelakuannya tadi yang terbawa emosi.
“Hahaha... Ya sudah pakai HP Mecca dulu aja ya ma, ada di sofa.”
Mecca mulai menenangkan dirinya dengan teh jahe buatan Bi Ani sembari mengatur nafasnya secara berirama. Ia membelai-belai perutnya penuh cinta sembari menenangkan bayi dalam kandungannya untuk tidak merasa takut lagi.
Beberapa lama Mecca melakukan panggilan via telepon dengan dr. Sarah. Mecca mengikuti instruksi-instruksi yang diberikan dr. Sarah padanya dengan bantuan Bu Alisa. Secara perlahan, kontraksi palsunya mereda bersamaan dengan tenangnya pikiran dan hatinya yang memanas tadi.
Hai Readers maafkan Author yang tidak UP kemarin, karena app MT Author ngeLOAD terus. Coba berkali-kali masuk tapi hasilnya nihil. Jadi Author stop mantau lagi dan baru bisa up hari ini 🙏