
Happy Reading and Enjoy!!! Jangan lupa apresiasinya untuk novel ini ya, novel yang Author bela-belain begadang, menghalu, dan menahan nyeri pergelangan tangan \=> agar sampai ke tangan readers semua 🤭 ini enggak hiperbola loh 😌 Terima kasih untuk yang rajin like, komentar, dan vote 🙏
---------------------------------------------
“Mumpung libur kita jalan-jalan yuk yank?”
“Mager banget mas, apalagi habis sarapan. Aku pengen santai-santai sambil nonton drakor aja deh.”
“Ya sudah deh, tapi susu sama buahnya dihabisin ya. Aku susah payah ini motongnya, susunya apa lagi aku buat pakai takaran paling pas loh.”
“Hehehe... Terima kasih suami ter-da-bes.” Kecup Mecca pada pipi halus suaminya. “Mas duduk samping aku dong, kita nonton sama-sama yuk.”
“Enggak suka drama yank, aku mau nge-gym aja sama Arjun.”
“Ih padahal kan libur, coba kek sehari aja temanin istri selama 24 jam. Ini malah mau pergi, huuh!” Mecca bersedekap dan mencemberuti Fadhil.
Fadhil menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal, merasa ucapannya salah tempat.
“Iya deh sayang, aku di sini aja ikut nonton.”
“Benaran?” tanya Mecca dengan wajah semringah.
“Benaran dong, aku kan juga mau ngehabisin waktu libur sama istri dan baby boy. Tapi bisa enggak kalau kita nonton yang lain aja?” ujar Fadhil sembari mengambil posisi nyaman di belakang Mecca. Melingkarkan tangan kekarnya ke pinggang Mecca sembari membelai lembut perut besar istrinya tersebut.
“Big No! Ini tuh drama yang sempat ramai mas, tapi aku belum pernah nonton.”
“Ya sudah deh, aku ikut aja.” Jawab Fadhil setengah malas.
Drama yang berkisah tentang perselingkuhan itu selalu membuat Mecca megap-megap emosi. Di setiap adegannya selalu memicu kemarahan serta protesnya. Ada saja scene yang membuat Mecca selalu mengomel tak henti, parahnya lagi ia sering menyalah-nyalahkan Fadhil agar tidak bertindak hal yang sama seperti dalam drama tersebut.
Fadhil terus menerus menahan tuduhan tak berdasar Mecca dengan sabar. Hampir sampai di penghujung drama itu selesai, Mecca masih saja sering mengomelinya. Bahkan kerap kali Fadhil menangkap tatapan curiga Mecca yang sangat lucu menurutnya.
“Enggak usah di tonton yank dari tadi aku kena damprat terus jadinya!”
“Sssstttt!” Mecca memberi kode diam pada Fadhil. “Ini sudah hampir habis mas, diam dulu deh.”
Fadhil pun tanpa perlawanan menghentikan protesnya dan terus melanjutkan acara menonton non faedah itu menurutnya.
“Mas-mas-mas, coba lihat deh istrinya ke mobil suaminya. Mas tahu enggak apa kira-kira yang bakal ditemuin istrinya di situ? Kalau mas benar nebaknya, aku kasih ciuman terpanas level 10.” Ujar Mecca tanpa melepaskan pandangan mata dari televisi di hadapannya.
“Janji ya?!”
“Iya! Buruan jawab sebelum kebongkar tuh.”
“Ehm... Apa ya? Mungkin aja... Ehm... Kon*om.”
“Hah? Kok kon*om sih? Kalau aku sih mikirnya pasti HP. Soalnya itu yang paling bahaya kalau ketahuan kan?”
“Yuk kita buktikan jawaban siapa yang benar.” Fadhil menggosok-gosok kedua telapak tangannya, menunggu jawaban dari tebak-tebakan itu dengan harap-harap cemas. Ia mulai membasahi bibir atas dan bibir bawahnya, bersiap memperoleh ciuman panas level 10 sebagai hadiah jika jawabannya benar.
Sekitar 2 menit berlalu dan tebak-tebakan keduanya pun memperoleh jawaban.
“Hah? Benaran ada kon*om?!” Mecca menatap Fadhil tajam, ada kecurigaan di sorot matanya. Sedangkan Fadhil masih cengar-cengir girang mendapati tebakannya ternyata benar.
“Lihat yank jawaban sayang juga benar loh, ada HP lain yang disembunyikan.” Fadhil menggeleng-gelengkan kepala takjub atas tebakan keduanya yang tidak meleset.
“Parah banget sih! Coba lihat mas, bahkan teman-temannya semua ngebodohin perempuan itu. Bikin habis kesabaranku aja!”
Mecca mencengkeram selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, membuka selimut itu lebar-lebar dan ia mulai berdiri di atas ranjangnya dengan menggunakan lutut sebagai tumpuan.
Fadhil pun melihat aksi istrinya dengan spontan mengerucutkan bibir, berharap memperoleh ciuman panas sesuai janji Mecca padanya, namun bukan ciuman yang di dapat Mecca justru mencubit pipinya dengan kesal.
“Aaww... Aaww... Aaww... Sakit yank!” keluh Fadhil memegangi tangan Mecca yang masih mencubiti pipinya.
“Mas tahu dari mana kalau di mobil itu ada kon*om?! Mas pernah begitu ya?!”
“Sumpah yank, enggak pernah. Aku cuma asal tebak aja! Lagian jawaban sayang juga benar kok.”
“Beda mas! Kalau perempuan itu peka makanya bisa tebak, kalau cowok yang bisa tebak malah jatuhnya mencurigakan! Awas ya mas, kalau sampai mas begitu, apalagi sampai sekongkol sama Kak Arjun, aku bakal bunuh kalian berdua!” Mecca dengan kesal mencubiti pipi Fadhil, lalu beralih mencekik lehernya tanpa bersungguh-sungguh hingga ia dan Fadhil jatuh terbaring bersama.
“TOLONG! Ini sih bukan ciuman level 10, tapi cekikan level 10!” teriak Fadhil sambil tertawa melihat tingkah laku istrinya yang termakan drama.
“Ih kesel banget nih, kok mas malah ketawa sih?! Sebel deh! Ayo bangun lagi, kita lanjut episode ke 2.”
“NO! BIG NO!” jawab Fadhil spontan. “Bener-bener bisa mati aku kalau Mecca lanjut nonton itu drama, aku harus kabur!” ucap Fadhil dalam hati sambil berlari keluar dari kamar.
“MAS! KEMANA?” panggil Mecca dengan geram, namun Fadhil tak serta merta menjawabnya.
***
Selama 30 menit Rani sudah berdiri tepat di depan pagar rumah Pak Permana, ia memegangi teralis pagar dan menggenggamnya dengan erat. Rani terus-menerus meneriakkan nama Fahri berulang, berharap ada secercah harapan dari pintu rumah yang masih tertutup rapat tersebut.
Usiran dari para penjaga kediaman Pak Permana tak memberikan rasa takut bagi Rani, malah usiran tersebut bagai undangan untuknya agar lebih berusaha keras.
“Fahri! Fahri! Fahri ini mommy sayang! Keluar nak, i miss you my boy!”
“DIAM! Jangan buat keributan disini atau saya panggilkan polisi?!” ancam salah satu penjaga kediaman Pak Permana.
“Bagus! Panggilkan saja polisi sekalian, aku akan bilang kalau kalian melarangku untuk menemui anak kandungku sendiri, puas?!” lawan Rani memelototi dua penjaga bertubuh kekar di hadapannya.
“Walau tenggorokan Anda sampai kering, tidak akan ada yang peduli! Sudah kami bilang dari tadi bahwa Pak Permana membawa anaknya keluar rumah.”
“Aku tidak akan bisa kalian bodohi!” jawab Rani kekeh.
Karena merasa lelah beradu mulut dengan Rani, dua penjaga tersebut memutuskan membiarkan Rani hingga dirinya merasa lelah sendiri. Mereka pun meninggalkan Rani tetap berada di luar pagar dan kedua penjaga tersebut kembali ke posnya.
“Fahri! Mommy rindu! Mommy di sini sayang ayo keluar, Nak!” Rani meneruskan teriakannya tanpa menyerah.
Di lain tempat, Pak Permana berjalan di belakang Fahri yang tengah asyik bercerita dan bergandengan tangan dengan Bu Alisa. Tampak raut bahagia Fahri serta sikap hangat Bu Alisa yang penuh keibuan.
Pak Permana memperhatikan senyum manis Bu Alisa dari samping wajahnya. Penampilan Bu Alisa yang semakin anggun dengan hijabnya tersebut semakin membuat Pak Permana terpesona. Terlebih lagi Fahri putra bungsunya tersebut terlihat sangat akrab dan sangat nyaman dengan Bu Alisa dibanding dengan ibu kandungnya sendiri.
Bu Alisa menengok ke belakang dengan risi, tatapannya tampak dingin dan datar pada Pak Permana. Melihat hal itu, Pak Permana mencoba menyamakan langkahnya dan berjalan beriringan tepat di sebelah Bu Alisa.
“Kenapa sih kamu menatap aku seperti itu terus? Apa kamu berharap jalan beriringan denganku?"
“Aku benci akal muslihatmu ini ya!” ujar Bu Alisa setengah berbisik, menahan suaranya agar tidak terdengar oleh anak tampan yang digenggamnya.
“Akal muslihat yang bagaimana sih sayang?”
“Stop panggil aku seperti itu!” ujar Bu Alisa dengan gigi yang saling mengatup.
“Oke-oke, sorry.” Jawab Pak Permana dengan santai.
“Kenapa kamu tipu aku sih?! Kenapa suruh ART untuk telepon dan minta tolong aku mengantar Fahri beli baju super hero? Pakai alasan Fahri merengek dan dia tidak mengerti kemauan Fahri segala pula! Dan yang paling aneh, kenapa malah kamu yang ikut bersama kami pergi sih? Cara kamu konyol tahu tidak?!”
“Kan tadi ART tidak bilang kalau dia yang akan ikut pergi berbelanja, jadi aku tidak bisa dibilang menipu dong?!” jawab Pak Permana memberi alasan.
“Tadi jelas-jelas aku kasih tahu alamat toko baju anak yang lengkap, tapi dia beralasan kalau Fahri ingin pergi bersamaku. Saat aku bilang apa pengasuhnya akan ikut dan jelas-jelas jawabannya IYA!”
“Pengasuh Fahri kan aku, walinya juga aku, Daddy-nya siapa? Aku kan? Jadi benar dong sayang, tidak ada yang menipu di sini.” Jawab Pak Permana tersenyum cerah.
“Jangan panggil aku seperti itu! Ngerti tidak sih?! Kamu juga jangan berlagak polos deh, kamu tahu apa yang aku maksud! Lebih baik kamu pergi! Biar aku dan Fahri yang berbelanja bersama.”
“Jangan gitu dong, aku kan tidak mengganggu dari tadi.”
“Kehadiranmu saja sudah cukup mengganggu bagiku! Pergi sana!” usir Bu Alisa dengan ketus.
Fahri menarik-narik ujung baju Bu Alisa, memintanya untuk merunduk dan berhenti sejenak.
“Iya sayang ada apa? Haus? capek?” tanya Bu Alisa lembut sembari berjongkok agar menyamai tinggi tubuh Fahri. Anak laki-laki itu hanya menggeleng menjawab pertanyaan Bu Alisa.
“Mama...”
“Biar Daddy pergi bersama kita ya?”
Bu Alisa mendongak sesaat, menatap singkat ekspresi Pak Permana yang terlihat sangat bahagia mendengar ucapan putra kecilnya.
“Sayang, Daddy ada urusan dan harus pergi SESEGERA mungkin, jadi Fahri sama mama saja berdua ya, maukan?” tanya Bu Alisa menekan kata ‘Sesegera’ agar Pak Permana paham kodenya.
Fahri menatap Bu Alisa dengan kecewa, namun matanya membulat menatap Pak Permana.
“Daddy ada pekerjaan? Daddy mau pergi?” tanya Fahri dengan cemberut menunjukkan raut wajah kecewa.
Dengan cepat Pak Permana menyanggah pertanyaan Fahri, lalu menggeleng-gelengkannya berkali-kali.
“Ini kan hari libur mana ada pekerjaan. Daddy akan temani kamu dan mama sepanjang hari, kamu senangkan?” tanya Pak Permana semringah.
“Yeay!” sahut singkat Fahri sembari berlarian dan melompat-lompat bahagia.
Bu Alisa berdiri dari jongkoknya, menatap tajam pada Pak Permana yang memainkan sebelah mata padanya.
“Dasar tidak tahu malu!” ujar Bu Alisa ketus lalu membuang muka dan mendengus kasar.
***
Arjun dan Medina kompak membaca buku bersama di ruang kantor restoran. Arjun sudah berdiam diri dan fokus selama 20 menit, sedangkan Medina harus keluar masuk setiap ada panggilan dari karyawannya yang membutuhkan bantuan.
“Ehem.” Deham Lili yang sengaja masuk tanpa mengetuk pintu.
Arjun menoleh secara spontan saat tangan lihai Lili memotret kebersamaan bos dan tunangannya tersebut.
“Nah kejepretkan?!” ujar Lili sambil tertawa cekikikan.
“Ada paparazi tuh Bi, main ambil foto tanpa izin.” Ujar Arjun menyenggol lengan Medina yang tengah tenggelam dalam novelnya.
“Lili!” panggil Medina dengan nada menekan.
“Janji bu fotonya bakal langsung dihapus, tapi setelah buat status dulu.” Jawab Lili mengangkat tangan dan membentuk huruf V pada jarinya.
“Ih apaan sih pakai di buat status segala?!” protes Medina menunjukkan ketidaksukaannya.
“Ya kan lucu aja bu, masa ketemuan tapi pacarannya sama buku masing-masing, hihihihi...” ujar Lili tertawa kecil sambil menutup bibirnya dengan telapak tangan.
“Sudah deh enggak usah ganggu! Hapus itu!” tegas Medina dengan memelototi Lili.
“Iya-iya bu, tapi setelah di upload!” jawab Lili sambil menutup rapat pintu dan pergi tanpa permisi.
“Ih anak itu, benar-benar deh...” Arjun menangkap tangan Medina yang mulai beranjak dari tempat duduknya.
“Eits mau kemana?”
“Mau kejar anak itu dulu Be, suruh dia hapus foto kita.”
“Biarin aja Bi, enggak apa-apa.”
“Loh kok dibiarin?”
“Dia kan janji mau hapus setelah upload. Jadi terkenal di akunnya Lili kan enggak masalah Bi, hahahaha...”
“Ih apa-apaan coba, Be!” ujar Medina menanggapi ucapan Arjun dengan mencubit lengannya pelan.
“Ampun nona, saya jangan dianiaya, disayang aja dong.” Ujar Arjun mengatupkan kedua telapak tangannya seolah memohon. Medina mengacuhkan tingkah laku Arjun yang berlebihan tersebut dengan kibasan rambut terurainya.
“Oh iya Be, tadi mami pergi ke bandara jam berapa? Padahal aku mau ikut ngantar loh.”
“Enggak tahu. Aku juga enggak lihat mami pergi kok, kayaknya diantar sopir.” Jawab Arjun lesu.
“Loh kok bisa enggak tahu?”
“Ya buru-buru kali.”
“Tapi mami kan biasanya pamit, Be.”
“Sudah kok semalam.” Jawab Arjun lirih sembari membuka kembali bukunya.
“Be.” Panggil Medina setengah menunduk, mencari-cari keberadaan mata Arjun untuk ditatapnya. Sedangkan satu tangan Medina yang lain dengan sigap menutup buku bacaan Arjun yang masih terbuka.
“Hmmm?” sahut singkat Arjun sembari mengangkat pandangannya yang bertemu mata dengan Medina. “Kok sampai nunduk-nunduk gitu, Bi?”
“Ya kan kalau lagi bicara aku mau sambil lihat wajah tampan tunanganku dong.” Cengir Medina mendapat tawa tipis dari Arjun.
“Maaf ya Bi, sampai dicari-cari gitu wajah tampanku.” Medina memutar kedua bola matanya mendengar kenarsisan tunangannya. “Ada apa?”
“Be ada masalah sama mami?” tanya Medina to the point namun dengan nada bicara berhati-hati.
“Kenapa mikir begitu?”
“Ya kali aja, habis waktu bicarin mami kelihatan sedih gitu.”
“Enggak kok Bi, aku cuma sedih aja sendirian lagi di rumah besar itu. Coba aja kita sudah nikah 3 hari lalu, pasti aku ada yang nemanin kalau mami pergi-pergi gini.” Jawab Arjun beralasan. Namun ucapan Arjun membuat Medina tersipu malu.
“Sabar ya. Kita berdoa saja semoga kakek cepat sembuh, jadi mami bisa cepat-cepat lamar aku untuk jadi istri kamu ke ayah.” Ucap Medina malu-malu dengan pipi kemerahan. Arjun mengangguk mendengar ucapan Medina, menangkup wajahnya dan menciumi kening, kedua pipi, hidung, dagu, dan bibir Medina dengan lembut.
“Aku enggak sabar banget Bi, bisa sama-sama kamu terus. Apapun yang terjadi, apapun dan siapa pun yang menghalangi, apapun yang menjadi rintangan percaya sama aku Bi, aku akan selalu berjuang untuk tetap berdiri disisimu.” Ucap Arjun bersungguh-sungguh dengan mata berbinar penuh ketulusan. Di setiap ucapannya, Arjun mengingat jelas tiap perkataan Mami Rita yang masih menyayat hatinya tersebut.
“Iya sayang! Walau aku tahu kamu gombal, tapi aku percaya aja kok.” Jawab Medina tertawa kecil menganggap janji-janji Arjun sekedar angin lalu.
“Serius, Bi!”
“Iya, aku kan bilang percaya.”
“Tapi aku enggak bercanda.”
“Iya BeBi, aku percaya kok.” Jawab Medina dengan nada menyepelekan.
Arjun merasa gemas dengan sikap Medina yang tak menganggap kata-katanya, dengan sekali gerakan Arjun mengangkat tubuh Medina dan menggendongnya masuk ke dalam kamar di pintu lain di sebelahnya.
“Aaaakhhh! Apa-apaan ini, Be?”
“Hukuman!”
“Hukuman apa?”
“Hukuman nyepelein kata-kataku.”
“Enggak ada yang nyepelein kok!” ucap Medina kalang kabut, berusaha meronta dari gendongan Arjun. “Ini aku mau di apain?” tanya Medina kalut.
“Mau aku ciumi sampai puas!”
“Ih jangan!” Medina menggerak-gerakkan kakinya penuh berontak. Namun dadanya berdebar menantikan, seolah ciuman Arjun sesuatu yang sangat ia ingin dan rindukan. (Namanya juga perempuan ya guys, beda di mulut beda di hati. <\= katanya sih 🤭)
Arjun merebahkan Medina di ranjang berseprai putih tersebut. Memandang mata kecokelatan Medina yang berkilau. Semburat cinta terpancar dari pandangan keduanya, mengunci dan saling menyatukan. Genggaman tangan yang menaut bagai sengatan listrik nikmat yang menjalar.
Jarak demi jarak mereka lewati tanpa kedipan, hingga permukaan benda kenyal keduanya pun saling bersentuhan dan membagi kehangatan. Seolah menahan dahaga yang menahun, lu*atan manis itu berubah semakin liar. Pilinan dari benda lunak tak bertulang tersebut menambah rasa nikmat yang semakin bergelora.
Jambakan Medina pada sela-sela rambut Arjun membuncahkan pengendaliannya. Tak ada lagi tuas penahan, hanya ciuman membara yang semakin bergelora yang tersisa.
“Ehm.” Desah Arjun tertahan.
Semakin panas gerakan dan semakin dalam tarian-tarian di rongga mulut keduanya, semakin terbakar pula api gairah keduanya.
Setelah 15 menit berlalu, Arjun tiba-tiba menyudahi ciuman itu secara sepihak, membalik tubuh Medina untuk membelakanginya. Mengunci tubuh Medina dalam pelukan panasnya, dan membiarkan posisi itu tanpa gerakan berlebih lainnya.
“Terpaksa kita sudahi dulu ya Bi ciumannya, jangan kecewa ya. Aku takut keterusan lagi.” Ujar Arjun menggoda.
“Ih... Si-siapa juga yang ke-kecewa?!” jawab Medina gugup masih menahan gairah. Arjun hanya tersenyum mendengar jawaban Medina yang jelas penuh kebohongan tersebut.