AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 83. Kasih Cucu Duluan



Happy Reading and Enjoy


Apresiasinya ya kakak-kakak semua, sebagai penyemangat Author atas karya ini. Terima kasih 💝


-------------------------------------------


Setelah berbelanja kebutuhan bayi, semuanya pergi ke restoran untuk beristirahat sejenak. Ternyata berbelanja barang-barang super lucu berukuran mini dan menggemaskan itu tidak cukup diselesaikan dalam waktu singkat.


Kegemasan oma-oma kece dan segala keribetannya semakin menambah jam berbelanja Mecca dan Fadhil semakin lama. Namun, keduanya tidak mengeluh justru merasa bahagia, karena melalui segala keribetan itu dapat mengalihkan pikiran Mama Alisa dari pertemuannya dengan Pak Permana.


Semua paham situasi canggung tersebut. Bukanlah pemandangan yang indah melihat mantan suami tampak bahagia dengan keluarga barunya yang terlihat luar biasa. Begitu juga dengan perasaan tersembunyi Mama Alisa. Di balik senyum lepasnya itu, pasti ada segurat luka yang kembali memberikan bekas tak menyenangkan.


“Belanja perlengkapan bayi itu bikin kita lupa waktu ya? Berkali-kali kalah sama gemas-gemasannya daripada milihnya.” Ujar Mami Rita.


“Iya nih, kita sampai belanja 3 jam loh di toko itu. Pasti Dina sama Arjun bosan ya?” tanya Mama Alisa menoleh pada pasangan muda-mudi itu.


“Enggak kok ma, malah ikutan senang jalan-jalannya. Seru aja!” jawab Medina dengan senyum mengembang, sedangkan Arjun hanya menjawab dengan menggeleng.


“Sayang, kaki kamu bengkak lagi enggak? Tadi harusnya kita bawa kursi roda ya?!” tanya Mama Alisa penuh khawatir.


“Enggak kok ma, Mecca baik-baik saja. Semoga enggak sampai bengkak sih. Tapi Mecca senang banget ma, semua kebutuhan si kecil sudah lengkap, gemas deh!” jawab Mecca dengan semringah.


“Iya ya, gemas-gemas banget! Mama jadi enggak sabar buka-buka lagi, mama mau lihat lagi yang kita beli. Apalagi baju-bajunya, cute banget ya?!”


“Cutelah, sebagian besarkan pilihan, Mami!” sela Mami Rita.


“Iya deh iya, terima kasih ya Rita.” Jawab Mama Alisa terkekeh.


“Tapi baju anak-anak ceweknya lebih lucu mi, nanti Arjun sama Dina yang kasih cucu cewek ke mami deh, sabar ya!”


“Jangan cuma suruh sabar terus, kayak nunggu kepastian dari gebetan. Mami mau cepat-cepat punya cucu juga tahu! Biar bisa dijadiin bahan obrolan kalau lagi arisan. Gesitlah, Jun!”


“Sok gaul banget mami ih, kayak tahu-tahunya aja gebetan?!”


“Tahulah, mami kan kekinian. Bukan orang jaman dulu!”


“Tapi ngapain sih mi, pengen punya cucu cuma buat pamer-pameran kalau lagi ngumpul?”


“Ya harus dong, kalau kumpul-kumpul semua bahasnya kalau enggak anak, menantu, atau cucu. Lah mami cuma bisa diam aja, mau bahas kamu juga enggak banyak yang bisa di ceritain!” Mami Rita menatap Arjun dengan cemberut.


“Ya sudah deh, Arjun buatin cucunya dulu aja mau?” ucapan Arjun mendapat pukulan sendok dari Mami Rita di kepalanya.


“Aaaww, Sakit Mi!” dengan spontan Arjun menggosok-gosok kepalanya yang terkena pukulan.


“Biarin! Dasar anak kurang ajar!” jawab ketus Mami Rita.


“Kan mami ngebetnya punya cucu, bukan punya menantu. Ya apa salahnya kalau Arjun kasih cucu duluan?” keluh Arjun sembari menggosok-gosok kepalanya, sedangkan Medina mencubiti pahanya.


“Apaan sih Bi, kok paha aku dicubitin? Entar adik aku kebangun loh!” celoteh Arjun santai. Medina melepaskan cubitannya dan memelototinya.


“Mulut kalau enggak punya filter ya gitu, Din.” Ujar Fadhil menunjuk Arjun dengan kode matanya. Medina hanya mengangguk setuju.


“Kayak loe punya filter aja!” protes Arjun tak terima.


“Tapi... Bener juga sih kata Arjun, selama ini aku selalu bilang sudah enggak sabar pengen punya cucu, ternyata aku yang salah bahasa. Kamu benar nak, mami yang salah. Harusnya mami bilang sudah enggak sabar mau punya menantu. Maaf ya sudah mukul pakai sendok?!”


“Iya, enggak apa-apa mi. Jadi gimana mami mau cucunya kapan? Biar Arjun bikinin.”


“Iya bikin aja, ini sendok mami sudah mau mendarat lagi di kepala kamu!” senyum mengerikan Mami Rita membuat Arjun bergidik, namun hal itu justru memicu tawa semua yang menatapnya.


“Oh iya yank, ayah dibelikan makanan apa?” tanya Fadhil sembari membelai-belai perut Mecca.


“Ayah sudah makan mas, tadi aku telepon ayah sebelum ke restoran. Oh iya, kata ayah kamar bayi kita sudah selesai loh. Ah... Jadi enggak sabar mau lihat!” Mecca bertepuk tangan dengan antusias.


“Mami mau banget lihat kamar bayinya, tapi sayangnya mami harus kembali ke toko kue. Nanti kirim foto ke WA mami ya, Mec.”


“Siap mi, beres.” Mecca mengangkat dua jempolnya. “Terima kasih ya mi, sudah bantu belanja hari ini.”


“Enggak usah sungkan, kalau mau belanja lagi keperluan bayi jangan lupa ajak mami lagi ya. Soalnya mami malas kelamaan berharap sama anak mami yang enggak guna itu!” lirik Mami Rita pada Arjun. Namun Arjun dalam sekelebat mata langsung berpura-pura tidur, hal itu semakin membuat kesal Mami Rita yang merasa di acuhkan.



“Ingin rasanya mami pukul lagi pakai sendok tuh kepala!” ucapan Mami Rita mendapat perhatian Arjun dengan senyum lebarnya.


“Kenapa lihatin Arjun terus? Ganteng ya, Mi?” tanya Arjun polos dengan senyum ala pepso*ent.


***


“Masya Allah Mas Harry, ini bagus banget.” Mama Alisa masuk terlebih dahulu ke kamar bayi Mecca dengan terpesona.


“Mas Harry? Biasanya juga panggil ayah, Mas Dipta?” tanya Fadhil heran dengan panggilan baru mamanya pada ayah mertua.


“Iya, mama ganti panggilan gara-gara Mami Rita panggilnya nama depan.” Fadhil hanya mengangguk-angguk mafhum dengan penjelasan mamanya.


Semua memuji dekorasi ala Pak Pradipta pada kamar bayi itu. Mecca dan Fadhil tak henti-hentinya berterima kasih dan mengagumi usaha ayahnya dalam menata ruangan kosong itu menjadi sangat menawan.


“Sekali lagi terima kasih ya, Yah. Ini itu luar biasa bagus!”


“Sama-sama nak, jangan terima kasih terus. Ayah saja cuma main tunjuk sana-sini enggak ikut-ikut pasang atau angkat-angkat. Eh... Tapi seru juga loh menata-menata begitu, kayaknya ayah ada bakat jadi desainer interior.” Pak Pradipta terkekeh geli dengan pujiannya sendiri yang terlihat narsis.


“Uh ayahnya siapa dulu dong? Ayah Mecca...” peluk Mecca pada Pak Pradipta.


“Ayah Dina yang benar!” Medina pun ikut memeluk ayahnya.


“Ayah aku juga!” Fadhil ikut memeluk Pak Pradipta.


“Dan calon ayahku juga.” Arjun ingin ikut bergabung dengan pelukan teletubies ketiga orang itu pada Pak Pradipta, namun tangan kekar Fadhil menoyor kepala Arjun hingga mundur.


Mama Alisa tertawa terbahak-bahak melihat tingkah laku Fadhil yang tak rela Arjun bergabung. Namun dengan pantang menyerah Arjun terus berusaha ingin masuk dalam bagian keluarga itu. Begitu Arjun melihat sela dan ingin bergabung dalam pelukan tersebut, semuanya malah membubarkan diri. Menyisakan kekecewaan pada raut wajah Arjun yang terlihat masam.


“Arjun... Arjun... Kamu tuh berdua sama Fadhil kalau ketemu kenapa sih suka bikin mama ketawa terus!” kekeh Mama Alisa hingga mengeluarkan sebulir air di sudut matanya.


“Yang lucu cuma Arjun, Ma. Kalau Fadhil itu resek! Huuuuu... Apa loe?” ujar Arjun masih kesal dengan tingkah Fadhil tadi.


Mecca dibantu dengan lainnya mulai membuka barang-barang yang ia beli tadi. Semua tampak antusias dan gemas melihat barang-barang lucu itu. Berbagai macam ekspresi kebahagiaan muncul di raut wajah masing-masing orang saat ikut melihat barang belanjaan Mecca.


“Lihat deh, baju ini lucu kan? Ini mau Mecca pakaikan ke baby kalau dia mau dibawa pulang dari rumah sakit nanti.”



“Iya kan? Selalu ngucap ‘Hi’ ke orang. Kayak aku banget yang ramah sama orang, hihihi...”


“He’em.” Medina dan Fadhil bersamaan berdeham tak setuju mendengar ucapan Mecca.


Setelah semua membantu membuka satu persatu barang belanjaannya, Mama Alisa meminta para ART untuk mengangkat semuanya untuk dibersihkan secepatnya.


“Bi, tolong baju-baju dan perlengkapan-perlengkapan ini semua di cuci bersih dengan air hangat mengalir dan sabun khusus ini ya! Bagi tugas saja, biar cepat selesai.” Perintah Mama Alisa pada ketiga ARTnya.


“Baik Nyonya Besar.” Jawab ketiga ART serempak.


“Mas, kita harus cari-cari baby sitter juga loh. Enggak kerasa sebentar lagi aku mau lahiran, nanti kelabakan kalau enggak cari-cari dari sekarang.”


“Iya sayang, nanti aku minta Faiz carikan ya. Dia punya banyak informasi soal beginian.”


“Tapi...” ucapan Mecca terinterupsi.


“Tapi yang umur 30 tahun ke atas, tidak boleh cantik, dan sudah menikahkan?” ujar Fadhil menebak tepat ucapan Mecca.


“Dan... Yang super sabar, sudah berpengalaman mengurus bayi, dan bisa ikut tinggal di sini.” Tambah Mecca melengkapi jawaban Fadhil.


“Siap laksanakan BOS!” Fadhil memberi hormat ada Mecca yang tengah tertawa kecil melihatnya.


“Ngomong-ngomong itu apa, Yah? Kayaknya Mecca enggak ada pesan itu deh.” Tanya Mecca dengan dahi dikerutkan.


“Oh iya, hampir saja ayah lupa bilang.” Ucap Pak Pradipta menepuk dahinya. “Tadi papamu datang kesini, Nak. Bouncer itu papamu yang belikan, katanya hadiah untuk calon cucu.” Ucapan Pak Pradipta membuat seluruh mata tertuju padanya dengan terkejut.



“Papa kesini? Kapan, Yah?” tanya Mecca pelan.


“Sekitar 1 jam sebelum kedatangan kalian kalau ayah enggak salah ingat.” Jawab Pak Pradipta dengan ekspresi mengingat-ingat.


“BUA...” mulut Fadhil di bekap Mecca dengan sigap. Membuat Pak Pradipta merasa aneh dengan tingkah anaknya.


“Mecca, Fadhil mau ngomong apa? Kok di tutup begitu mulutnya sih!” tegur Pak Pradipta heran.


“Mas Fadhil enggak mau ngomong apa-apa kok, Yah. Iya kan, Mas?” Mecca memelototi Fadhil yang dengan terpaksa mengangguk.


“Wah... Boun-bouncernya bagus ya? Kelihatan mahal nih! Pasti anak loe bisa tidur nyenyak kalau ditaruh di sini, Dhil.” Ujar Arjun mengalihkan suasana, namun Fadhil justru memelototinya, membuat Arjun langsung menutup mulutnya dengan tangan.


“Papa ada mampir lama, Yah?” tanya Mecca masih penasaran.


“Tidak, masuk ke rumah saja tidak. Sepertinya buru-buru, waktu ayah bilang sekarang sibuk sekali ya keluar kota terus. Mas Mana cuma jawab ‘Iya’ lalu pamit dan titip salam untuk kalian semua. Hem... Ayah sebenarnya ingin banyak mengobrol, tapi melihat sepertinya dia terlalu sibuk jadi ayah tidak enak memaksanya mampir.”


“Iya yah, papa itu lagi sibuk banget.”


“Tapi apa tidak sebaiknya Anda pulang ke rumah dulu untuk bertemu Mas Mana?” tanya Pak Pradipta pada Mama Alisa.


“Hah? Oh itu, anu mas... Ehm...” Mama Alisa sulit menjawab pertanyaan Pak Pradipta, membuatnya merasa tidak nyaman jika harus berbohong lagi.


“Fadhil yang minta mama tinggal di sini menemani Mecca sampai lahiran, Yah. Karena Fadhil kan akhir-akhir ini sangat sibuk. Fadhil enggak tega kalau harus tinggalin Mecca sampai malam-malam.” Jawab Fadhil menggantikan mamanya yang terlihat gugup.


“Papa kamu sudah memberi izin?” tanya Pak Pradipta memastikan.


“Iya. Beliau justru meminta mama di sini lebih lama. Karena beliau masih mengerjakan proyek dalam jangka waktu lama di luar kota.” Jelas Fadhil berbohong dengan lancar. Pak Pradipta hanya mengangguk mafhum mendengar penjelasan Fadhil.


“Ya sudah kalau begitu. Ayah pulang dulu ya, Nak. Sore ini mahasiswa ayah ada yang mau ke rumah.” Pamit Pak Pradipta.


“Kalau gitu Medina juga ikut pulang sama ayah.”


“Saya yang antar om, mau mampir juga. Sekalian mau antar Medina ke restoran sorenya.”


“Oke, ayok kita pulang sekarang.”


“Terima kasih ya ayah, Kak Dina, Kak Arjun.” Ucap Mecca diikuti ucapan terima kasih Fadhil juga.


Setelah kepergian Pak Pradipta, Medina, serta Arjun. Mama Alisa terduduk lemas di ruang keluarga. Meminum segelas air putih yang disiapkan untuknya di meja.


“Mama gugup, mama takut salah bicara tadi, tapi malah gelagapan bikin curiga ayahmu. Apa kita ceritakan saja dengan jujur ke ayahmu ya, Nak?” tanya Mama Alisa meminta pendapat.


“Pelan-pelan saja kalau mau diceritakan, Ma.” Jawab Mecca menggenggam tangan Mama Alisa yang dingin.


“Fadhil mau kembalikan bouncer itu ke rumahnya.”


“Jangan nak, terima saja. Tadi kita juga tidak belikan? Enggak apa-apalah, itu hadiah untuk anakmu.”


“Fadhil tidak mau menerima pemberiannya, Ma!”


“Mas, lupakan kata-kata buruk papa. Enggak baik mendendam pada orang tua sendiri.”


“Tapi dia itu sudah berlaku tidak baik sama kita semua yank, mana bisa sih aku lupakan begitu aja?!”


“Ya enggak sekarang, tapi pelan-pelan lupakannya. Kita doakan saja yang terbaik, semoga papa diberi petunjuk, dikembalikan ke jalan yang benar. Itu tugas kita sebagai anak, Mas.”


“Enggak semudah itu yank. Aku akan semakin marah kalau melihat barang pemberiannya nanti.”


“Mas, bagaimanapun ini juga cucu kandung papa. Wajar kalau seorang kakek ingin memberikan hadiah untuk calon cucunya. Mas berpikir positif saja, lihat dari manfaatnya enggak usah lihat dari siapa yang kasih kalau mas masih ada perasaan kesal.” Ucapan Mecca membuat Fadhil frustrasi dan mengacak-acak rambutnya kesal.


Mecca menepuk-nepuk bahu Fadhil, mengangkat lengannya dan masuk ke dalam pelukan Fadhil yang mulai bersandar pada sofa. Mecca mengarahkan telapak tangan Fadhil ke arah perutnya yang bergoyang-goyang karena tendangan anaknya. Dengan seketika senyum Fadhil mengembang lebar, melupakan segala kemarahannya dalam sekejap mata.


“Wah, lagi aktif ya dia yank?”


“He’eh. Dari tadi kayaknya mau ikutan ngobrol juga. Perut aku sampai kencang ditendang terus, hihihi...”


“Mama juga mau dong rasain tendangannya.” Mama Alisa menaruh telapak tangannya juga ke permukaan perut Mecca yang menari-nari. Tawa ketiganya saling bersahut-sahutan memenuhi ruangan.


“Coba deh mama lihat ya, juniorku ini sangat responsif kalau babanya yang nyentuh. Sebentar-sebentar...” Fadhil pun mulai menyentuh perut Mecca dengan telunjuknya, seketika itu juga bayinya bergerak di tempat yang di sentuh Fadhil.



Mama Alisa dan Mecca berkaca-kaca dan kagum dengan pertunjukkan itu.


“Lagi-lagi, Mas!” pinta Mecca dengan girang.