
Setelah menjalankan ibadah, Fadhil menuruni tangga menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mecca yang dengan telaten sudah menyiapkan makan malam.
Semarah apa pun Mecca, ia tidak akan melalaikan tugasnya sebagai seorang istri. Mengurus kebutuhan dan keperluan Fadhil tetap menjadi prioritasnya.
Walau hatinya masih terasa pedih dan raut wajahnya tidak dapat memaksakan senyum. Tapi semua tetap ia jalani dengan tulus.
Setelah semua sudah siap, ia pun duduk di meja makan tepat di hadapan Fadhil. Fadhil mulai mengambil makanan dan menuangkannya di piring lalu menyuapkan ke mulutnya.
“Enak banget yank rawonnya, terima kasih ya sudah dimasakkan.” Ucap Fadhil lembut ingin mengambil hati Mecca.
“Iya.” Sahut Mecca singkat.
“Rawonnya masih banyak kan yank? Besok sarapan Aku mau lagi.” Tanyanya kembali berusaha menenangkan suasana.
“Masih.” Lagi-lagi Mecca menjawab singkat.
“Ide untuk restoran bagaimana, sudah ada?” tanya Fadhil sembari menatap wajah Mecca lembut.
“Sebagian.” Jawab Mecca menundukkan kepalanya menghindari tatapan Fadhil.
“Kok jawabnya singkat terus sih?”
Mecca hanya terdiam tak membalas pertanyaan Fadhil. Beberapa kali Fadhil mencoba menetralkan atmosfer yang kaku tersebut, namun tak memperoleh hasil sesuai harapan.
Setelah kehabisan kata, Fadhil pun mulai mendiamkan Mecca. Mungkin Mecca butuh waktunya sendiri untuk menenangkan diri, itu pikirnya. Namun saat suasana menjadi hening, Mecca pun mulai membuka suara.
“Buktikan ke Aku kalau Kamu enggak bersalah Mas!” ujarnya datar dan dingin.
“Aku mau buktikan apa ke Kamu yank? Aku benar-benar enggak tahu soal bekas itu!” jawab Fadhil pelan namun menekan.
“Jangan bilang enggak tahu saat semua tanda itu tampak jelas!” jawab Mecca menatap Fadhil tajam.
“Bisa enggak, Kita bahas itu nanti. Kita masih makan loh!”
“Mas menghindar?!”
“Bukan menghindar! Kamu harusnya tahu Mecca, Aku juga merasa nggak nyaman terus-terusan mendapat tuduhan seperti itu dari Kamu. Percaya sedikit pun sama Aku saja enggak! Aku duduk di meja makan ini, karena Aku menghargai Kamu yang sudah susah payah masak untukku. Apa Kamu kira Aku masih mau makan bila ditatap dengan curiga seperti itu?”
“Kalau gitu enggak usah makan.” Jawab Mecca ketus.
“Oke, Aku selesai makannya!” ujar Fadhil penuh kesal. Ia pun segera beranjak dari meja makan dan pergi meninggalkan Mecca sendiri.
Fadhil melangkah kasar menuju ruang kerja. Ia duduk pada kursi nyamannya dan mulai mengotak-ngatik ponselnya tersebut. Ia pun menghubungi Faiz dan mulai memberikan perintah.
Faiz : “Saya Bos?”
Fadhil : “Di mana Kau sekarang?”
Faiz : “Di rumah Bos.”
Fadhil : “Kirimkan Aku rekaman CCTV hari ini di ruanganku, SEGERA!” perintah Fadhil menekan lalu mengakhiri panggilan secara sepihak.
Saat ini Fadhil hanya dapat mengandalkan Faiz, ia berharap semoga masalahnya dengan Mecca segera terselesaikan. Sebenarnya Fadhil tidak tahan berlama-lama mendiamkan Mecca, namun melihat sifat kekanak-kanakan Mecca, ia pun sedikit geram.
Sedangkan di sisi lain, Mecca masih duduk di meja makan. Menangisi kebodohannya membahas masalah itu di waktu makan.
Ia merasa bersalah, membuat suaminya harus menghentikan kegiatan makannya karena kecemburuannya itu. Mecca merasa benci dengan sikapnya sendiri. Namun, jika ia mengalah dan membujuk Fadhil untuk berbaikan lagi, ia takut hal itu malah akan membenarkan sikap Fadhil yang tidak jujur padanya. Ya, sampai detik ini Mecca masih tidak mempercayai suaminya itu.
Sekitar 10 menit menunggu, Fadhil mendapat pesan dari Faiz. Faiz mengirimkan 2 rekaman CCTV dari koridor dan ruangannya. Dengan segera Fadhil membuka isi rekaman tersebut, mempercepat part-part yang tidak perlu hingga sampai pada rekaman yang Dia inginkan.
“Karina! Lagi-lagi Dia!” ujarnya geram.
“Apa ancamanku cuma sebagai angin segar baginya?”
“Kamu pikir Aku tidak sungguh-sungguh dengan ucapanku?”
“Untuk menghentikan kontrak, sampai harus mengambil alih perusahaan keluargamu saja sangat mudah bagiku. Oh... Atau dihancurkan saja?” seringainya sinis.
Setelah memperoleh jawaban atas kekacauan yang dibuat oleh Karina, Fadhil pun segera mendatangi Mecca. Ia melihat dari kejauhan istrinya tersebut menangis tersedu-sedu. Ikut nyeri hatinya melihat Mecca tampak sedih.
“Lihatlah 2 rekaman CCTV itu, jawabannya ada di situ!” ucap Fadhil datar.
Mecca pun menghapus air matanya, kemudian mengambil ponsel Fadhil dan melihat isi rekaman CCTV dengan diam.
“Mas masih sering ketemu sama perempuan itu?” tanya Mecca memastikan.
“Enggak pernah! Kalau kamu enggak percaya juga sama jawabanku, Aku menyerah!” jawab Fadhil jujur.
“Dia tidak mengindahkan ancamanku pada perusahaannya. Mungkin sekarang saatnya Aku bertindak!”
“Mas mau apa?”
“Apa saja!”
“Jangan Mas.”
“Kenapa? Sekarang Kamu yang bela Dia?”
“Bukan bela, tapi Aku khawatir.” Jawabnya tertunduk.
“Khawatir apa?”
“Dia terlalu terobsesi sama Mas Fadhil. Kalau Mas berbuat sesuatu dengan perusahaannya Aku takut Dia semakin berbuat buruk nanti.”
“Kamu enggak usah pikirkan itu, biar itu jadi urusanku!” jawab Fadhil ketus. Namun Mecca langsung berhambur memeluknya, mengeluarkan bulir bening, dan mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang suaminya tersebut.
“Maafkan Aku Mas sudah enggak percaya sama Mas Fadhil.”
“Aku sudah maafkan, Aku mengerti.” Ucap Fadhil lembut.
“Jangan berbuat apa pun pada perusahaan wanita itu Mas, Aku enggak mau Dia semakin gila.”
“Kamu enggak usah khawatir.”
“Tolong dengarkan Aku Mas.”
“Huuuffft... Baiklah.” Ujar Fadhil sembari menghembuskan nafas panjang.
“Maafkan karena Aku enggak memiliki banyak pengalaman cinta. Maaf, karena Aku baru jatuh cinta sama Mas Fadhil dan enggak pernah mengalami sakitnya putus cinta. Maaf karena sikap posesifku ke Mas Fadhil. Andaikan Aku punya cukup pengalaman, mungkin Aku lebih pandai dalam menilai hubungan.” Ucapnya tersedu-sedu.
“Hei-hei... Banyaknya pengalaman jatuh cinta dan patah hati itu enggak membuat seseorang lebih dewasa. Karena hubungan yang dijalani itu dengan orang yang berbeda. Intinya, saat Kita jatuh cinta isinya hanya keegoisan. Keegoisan memiliki, keegoisan dimengerti, dan keegoisan lain-lain. Justru Aku bahagia, karena Aku pengalaman cinta pertama untukmu yank. Kita sama-sama belajar ya, tolong lain kali percaya Aku.” Ujar Fadhil dengan tatapan dalam sembari menghapus sisa-sisa air mata pada pipi mulus istrinya, dan ucapannya ditanggapi anggukan oleh Mecca.
“Makan lagi yuk Mas.” Ujarnya hati-hati.
“Enggak nafsu ah.”
“Please, maaf.” Ujarnya sembari mengatupkan kedua telapak tangannya dengan raut wajah penuh penyesalan.
“Jadi sudah nih marahnya ke Aku?”
“Sudah Mas. Aku yang salah, Aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku cuma minta bukti dan Mas sudah buktikan. Aku menyesal sudah bersikap buruk tadi.” Jawabnya menundukkan kepala.
Fadhil gemas melihat tingkat istrinya tersebut. Istri yang mudah terpengaruh, mudah marah, namun mudah melupakan dan menyesal. Tapi ia sadar, jika sikap Mecca semata-mata karena cinta kepadanya. Ia pun merengkuh tubuh Mecca dan membopongnya ke meja makan, lalu mendudukkannya di atas meja.
“Aku lebih suka makan Kamu sekarang.” Ujar Fadhil menggoda.
“Di sini?” tanya Mecca membelalakkan matanya dan ditanggapi anggukan oleh Fadhil.
Fadhil pun mulai mengecup leher putih istrinya, menenggelamkan bibirnya pada ceruk leher Mecca. Mencium bibir manis Mecca dan meraba setiap lekuk tubuh Mecca tanpa henti.
Ia mulai membuka pakaiannya dan pakaian Mecca yang masih melekat lengkap di tubuhnya. Tidak membutuhkan waktu lama bagi Fadhil untuk melucuti Mecca hingga polos.
Fadhil memulai permainannya dengan sentuhan-sentuhan lembut. Serangan demi serangan ia lakukan sehingga membuat tubuh Mecca menggeliat kegelian. Tiap rangsangan pada bibir dan ujung jemarinya mengalirkan listrik kenikmatan pada tubuh Mecca.
Atraksinya pun terus berlanjut memberikan rasa seperti aliran air dingin dan panas yang muncul secara bergantian. Setelah ia rasa tubuh istrinya siap, dengan sigap ia mulai membombardir bagian sensitif Mecca dengan lahap.
Bagi Fadhil di setiap tempat penyatuannya dengan Mecca memberikan kesan yang menyenangkan. Ia suka melakukannya di berbagai tempat dan suasana berbeda. Hal itu membuatnya semakin semangat dalam bercumbu.
Kali ini, Mecca pun tidak dapat menolak keinginan suaminya. Ia harus rela menerima tubuhnya dihabisi oleh Fadhil. Mecca sadar jika suaminya itu sangat perkasa untuk urusan ranjang. Sepertinya ia akan jadi makan malam Fadhil hingga pagi menjelang.
“Tenang Mecca, Kamu bisa, Kamu kuat kok!” ujar Mecca dalam hati.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Terima Kasih.