AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 86. Atmosfer Dingin Yang Mencekam



Hai Readers tersayang,


Author curhat sedikit ya. Maaf kalau updatenya sering malam-malam, karena Author sedang sibuk-sibuknya dengan dunia nyata. Tapi setiap selesai ngetik pasti langsung di UP kok. Terus-terus, chapter ini sudah Author ketika panjang lebar, tapi malah kena salah hapus 🙈. Jadi Author butuh waktu lebih untuk ngetik ulang, peace ✌


---------------------------------------------


Medina merasakan nyaman dengan pelukan posesif Arjun pada tubuhnya. Dirinya semakin dalam menutup kedua mata, menjauhkan kesadarannya menuju alam mimpi yang indah. Nyanyian Arjun bagai mantra ajaib yang menenangkan, membuatnya terlelap dengan mudah.


Tubuh Medina mulai melemas, menandakan ia dalam keadaan mengistirahatkan raganya. Arjun yang merasa semakin berat pada kedua kelopak matanya pun ikut terlelap menuju alam mimpi indah bersama Medina.


Tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat. Detik berganti menit, menit berganti jam, namun keduanya semakin pulas dalam tidurnya. Bahkan dering ponsel Arjun tidak mampu mengganggu tidur matinya.


Lama dering ponselnya berbunyi, entah berapa banyak panggilan yang ia abaikan. Namun beberapa saat kemudian, Arjun pun merasa waktu tidurnya mulai terganggu.


“Huft... Siapa sih yang telepon malam-malam begini?! Enggak punya a-dab...” ucapan Arjun terpotong sesaat. Tubuhnya mengkaku menatap tidur nyenyak Medina dalam pelukannya.


“Ya Lord, gue lupa mulangin anak gadis orang! Tamat, pasti tamat sudah nasib gue!” ceracau Arjun dalam hati sembari mengacak-acak rambutnya dengan satu tangan dalam diam, tak ingin tingkah hebohnya mengganggu ketenangan Medina.


Arjun mulai mengangkat kepala Medina, menarik tangannya yang mulai terasa kebas akibat dijadikan bantal empuk oleh kekasihnya.


Tangannya yang terasa tersengat listrik ia coba kepal-kepalkan lalu ia renggangkan lurus, membuatnya kembali nyaman seperti sedia kala.


Dengan melakukan pergerakan perlahan, Arjun mulai mengambil ponsel yang berada tepat di bawah kakinya, ponselnya yang sudah senyap dari dering yang berisik sebelumnya.


Arjun menatap layar ponselnya dengan terkejut.


“Ya Tuhan, jam 2 pagi?! What, 56 panggilan tak terjawab?! ” Arjun menatap layar ponselnya tegang.


Mau tak mau dirinya harus membangunkan tidur lelap Medina. Arjun pun menggoyang-goyangkan tubuh kekasihnya itu secara perlahan.


“Bi... Bi, bangun yuk.” Panggil Arjun dengan nada melembut. Namun tak ada pergerakan dari Medina. Arjun pun mengencangkan goyangannya pada tubuh Medina. “Bi, bangun please, Bi!” ucap Arjun frustrasi. Namun tiba-tiba...


Braaak!!!


Pintu kamarnya terbuka secara kasar, tanpa ketukan, dan tanpa izin darinya.


***


Pak Pradipta melihat jam tangannya, bolak balik beliau keluar masuk rumah menanti kedatangan Medina.


“Hari ini Dina tidak menelepon untuk dijemput, berarti dia dijemput Arjun, tapi kenapa sudah jam segini tidak datang juga ya? Biasanya sudah sampai rumah! Huft... Dina-Dina, di mana kamu?” gumam Pak Pradipta khawatir.


Setelah menunggu beberapa lama, kesabaran Pak Pradipta pun tak dapat diajak kompromi. Pak Pradipta dengan cepat mengambil kunci mobil dan melajukannya ke restoran anak-anaknya tersebut.


Sesampainya di sana, Pak Pradipta semakin merasa khawatir, pasalnya restoran sudah tutup dan sepi, seperti tak ada tanda-tanda orang lain di sana.


Pak Pradipta mencoba mengetuk-ngetuk pintu dan kaca restoran berkali-kali sembari menelepon Medina dan Arjun secara bergantian. Namun nihil, tak ada hasil dari usahanya.


Pak Pradipta pun mulai melajukan mobilnya ke rumah Mecca, menelepon Mecca dalam perjalanannya menuju ke sana.


Ayah : “Nak, assalamualaikum.” Salam Pak Pradipta memulai pembicaraan.


Fadhil : “Wa’alaikumsalam, Yah?”


Ayah : “Oh Fadhil, Mecca ada?” tanya Pak Pradipta terkejut saat Fadhil menerima panggilannya di ponsel Mecca.


Fadhil : “Ada yah, sedang tidur. Tumben ayah telepon malam-malam begini?”


Ayah : “Maaf ya nak, ayah bingung. Sudah jam segini Medina belum pulang juga!”


Fadhil : “Serius, Yah?! Mungkin Dina masih di restoran.” Suara Fadhil meninggi secara spontan menandakan dirinya sangat terkejut.


Ayah : “Tidak, ayah baru saja dari restoran. Ayah malah mau ke rumah kalian untuk mencari keberadaan Medina.”


Fadhil : “Ayah ada di mana?”


Ayah : “Hampir dekat rumahmu, Nak.”


Fadhil : “Baiklah yah, Fadhil tunggu di depan.”


***


Mecca yang mendengar suara Fadhil yang meninggi mau tidak mau memaksakan matanya untuk terbuka.


“Mas kok berisik banget sih? Aku tidur loh tadi.” Ujar Mecca dengan suara paraunya, mengucek-ngucek kedua matanya lembut.


“Maaf ya sayang, aku tadi spontan. Kamu tidur lagi deh.”


“Memang mas kenapa tadi?”


“Ayah tadi telepon ke HP kamu yank, terus aku yang angkat. Katanya ayah mau ke sini sebentar lagi.” Mendengar ucapan Fadhil, Mecca duduk dari rebahnya dan menatap Fadhil dengan bingung.


“Ayah?” Fadhil mengangguk menjawab pertanyaan Mecca. “Kok tumben?”


“Katanya Dina belum pulang yank. Ayah baru dari restoran, tapi di sana sepi. Terus ayah sudah telepon Dina dan Arjun, tapi enggak ada yang jawab, huft...!” jelas Fadhil frustrasi sembari mencoba menghubungi Arjun dan Medina berkali-kali. “Aku ke bawah dulu ya yank, mau tunggu ayah datang.”


“Aku ikut, Mas!” Mecca menunjukkan raut wajahnya yang mulai khawatir.


Sekitar 3 menit Mecca dan Fadhil menunggu kedatangan Pak Pradipta di halaman rumahnya. Pak Pradipta yang baru sampai langsung turun dari mobilnya dengan terburu-buru.


“Ayah, Kak Dina sudah ketemu belum?” tanya Mecca tak sabar.


“Belum nak, ke mana ya kakakmu itu?!”


“Masuk dulu yah, duduk di dalam. Ayah harus minum dulu.” Fadhil memandu ayah mertuanya ke dalam rumah, memberikan segelas air putih yang sudah ia sediakan di atas meja.


Lagi-lagi mereka bertiga mencoba menghubungi Arjun dan Medina secara maraton. Ketiga ponsel mereka tak henti-hentinya berhenti menghubungi kedua orang yang dikhawatirkan tersebut.


“Mas, coba ke restoran lagi. Bawa kunci cadangannya, di cek lagi siapa tahu Kak Dina ketiduran di sana, kuncinya di tasku mas, ada di kamar.”


“Benar juga yank, oke deh!” Fadhil melangkahkan kakinya, mencari kunci restoran di tas Mecca.


“Kakakmu ke mana ya? Ayah takut apa yang terjadi sama mamamu terjadi juga sama Arjun dan Dina, pikiran-pikiran buruk ayah selalu mengarah ke sana!”


“Ayah, kok bicara begitu sih?! Jangan mikir macam-macam, Kak Dina sama Kak Arjun pasti baik-baik aja. Ayah jangan nakut-nakutin Mecca dong, huhuhuhu...” Mecca tiba-tiba menangis mendengar ucapan ayahnya. Hormon kehamilan mulai membuatnya cengeng.


“Maaf-maaf nak, ayah tidak bermaksud membuatmu takut. Jangan nangis lagi ya?!” jawab Pak Pradipta memeluk anaknya.


“Loh kok nangis yank?”


ujar Fadhil yang telah kembali bergabung dengan istri serta ayah mertuanya tersebut.


“Mas, buruan cari Kak Dina. Kelilingi jalanan juga ya!” ujar Mecca menghapus bulir-bulir air matanya.


“Iya sayang, tapi jangan nangis lagi ya?!” Mecca mengangguk mafhum mendengar ucapan Fadhil.


“Ayah ikut, Nak!”


“Fadhil saja yah, lebih baik ayah bawa Mecca ke rumah, siapa tahu Medina pulang.”


“Benar juga katamu nak, kalau begitu ayah bawa Mecca ke rumah ya?! Kabari kalau ada ketemu Dina?!”


“Pasti, Yah!”


“Terima kasih banyak, Nak.” Fadhil mengangguk menanggapi ucapan Pak Pradipta kemudian berlalu.


Fadhil melajukan mobilnya ke restoran dengan cepat, sambil terus menghubungi nomor Medina dan juga Arjun tanpa menyerah.


“Jun... Jun... Loe bawa ke mana ipar gue? Bikin pusing banyak orang aja!” gumam Fadhil kesal.


Sepanjang perjalanan Fadhil tak henti-hentinya menoleh ke sana kemari, memperhatikan setiap sisi jalanan, mencoba mencari-cari sosok yang dikhawatirkannya.


Saat Fadhil sampai ke restoran, Fadhil dengan cepat turun dari mobil. Membuka pintu restoran dan menelusuri sudut ruangan tanpa terlupa.


Fadhil mulai merasa frustrasi, ia mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar. Setelah mengetahui tidak ada tanda-tanda keberadaan orang yang dimaksud, Fadhil langsung menutup kembali restoran lalu melajukan mobilnya tak tentu arah.


“Ke mana lagi harus nyarinya?” Fadhil bergumam sambil berpikir keras.


Pandangannya menerawang, mencoba menebak tempat yang akan Arjun dan Medina datangi, tapi tiba-tiba pikiran buruknya mulai berulah. Ketakutan Fadhil teringat pada tindak kejahatan yang dialami Mama Alisa membuat Fadhil bergidik ngeri.


“Enggak-enggak! Kalian enggak akan kenapa-kenapa!”


Tanpa sadar Fadhil mengeratkan genggaman dikemudinya, terlihat samar ada getaran kegugupan di sana. Dan tanpa banyak berpikir Fadhil mulai memutar balik kemudinya, mencoba mencari keberadaan Arjun di rumahnya.


Fadhil mencoba menelepon Mami Rita, berusaha mencari keberadaan Arjun, namun di beberapa detik kemudian mulai terdengar informasi bahwa ponsel Mami Rita sedang tidak aktif.


“Ya Tuhan, pada kenapa susah dihubungi sih!” keluh Fadhil dengan kesal.


“Ah enggak-enggak! Ini bukan saatnya mengenang masa lalu!” ujarnya menggeleng-gelengkan kepala.


Penjaga rumah Arjun yang mengenali mobil Fadhil, langsung membukakan pintu pagarnya.


“Mas Fadhil? Kok tumben datang malam-malam?” tanya penjaga rumah Arjun ramah.


“Maaf pak, saya ada kepentingan sama Arjun. Dia ada di rumah?”


“Ada mas, silakan masuk. Nanti saya bantu bukakan pintu samping.” Mendengar jawaban penjaga itu membuat Fadhil mengerutkan dahinya.


“Baik pak, maaf merepotkan.” Ujar Fadhil menanggapi ucapan penjaga tersebut dengan menundukkan kepalanya sesaat, menunjukkan rasa sungkannya. “Loh, Arjun di rumah? Tapi kok... Ah jangan tebak-tebakan deh, mending aku pastiin dulu!” Fadhil membatin dalam hati. Di otaknya mulai bercamuk segala hal-hal buruk yang tak ingin dia pikirkan.


Setelah masuk melalui pintu samping yang langsung terhubung dengan dapur, Fadhil sempat memicingkan matanya, menemukan sebuah tas berwarna hitam yang seingatnya persis seperti tas yang dibawa oleh Medina tadi.


Fadhil mengambil tas itu, memutarnya di setiap sisi, memastikan bahwa itu adalah tas yang sama seperti tas yang dia kenal. Fadhil pun mencoba menelepon nomor Medina dan betapa terkejutnya Fadhil, saat dering ponsel berbunyi di dalam tas itu. Bahkan di meja makan ada baju berwarna putih yang telah terlipat rapi, sama persis seperti baju yang Medina kenakan tadi.


Fadhil menggenggam erat ponselnya dengan geram. Ia membawa serta tas itu bersamanya, menapaki tiap ruangan dengan amarah. Langkah lebarnya mulai menaiki tiap anak tangga dengan gesit, matanya mengunci sebuah pintu berwarna biru yang ia sangat hafal sebagai pintu kamar Arjun.


“Semoga loe enggak seperti yang gue pikirin, Jun!” ucap Fadhil terasa berat.


Setelah mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar, Fadhil membuka pintu kamar Arjun dengan paksa.


Braaak!!!


Fadhil terkejut melihat Medina tertidur di ranjang Arjun. Rahang Fadhil mulai mengeras, rasa kecewanya menjadi amarah.


“Sialan loe, Jun! Loe apain ipar gue hah?!” geram Fadhil mendekati posisi Arjun.


“Tenang dulu bro, gue enggak ngapa-ngapain kok, SUMPAH!”


Mendengar pintu yang dibuka secara paksa, serta suara kegaduhan membuat Medina mendadak sadar lantaran terkejut. Medina menatap Arjun dan Fadhil sedang beradu mulut dengan kebingungan.


“Ada apa ini?” gumam Medina ketakutan.


Fadhil mulai menekan tubuh Arjun ke dinding dengan kuat.


“Jangan banyak bacot loe, gue sudah lihat dengan mata kepala gue sendiri, Dina tidur di ranjang loe bede*ah!” Fadhil mulai mencengkeram kerah baju Arjun dengan setengah tenaga, membuat Arjun tercekik olehnya.


Medina turun dari ranjang dan berlari ke arah Fadhil. Medina menarik-narik lengan Fadhil agar melepaskan cengkeramannya pada Arjun.


“Lepasin Arjun, Dhil! Kamu kenapa sih?!” Medina menarik-narik lengan Fadhil dengan kuat, namun tenaganya tidak menggoyahkan cengkeraman Fadhil pada Arjun.


“Loe kenal gue, Dhil! Gue enggak ngapa-ngapain!”


“Apa bisa gue percaya loe lagi kalau lihat yang beginian?” tanya Fadhil dengan tatapan membunuh.


“Tapi loe lihat juga kan kita pakai baju lengkap! Gue bisa jelasin kalau loe bisa tenang!” Arjun memegang tangan Fadhil, mencoba melonggarkan pegagan Fadhil pada kerah bajunya yang mencekik.


“Baju kedodoran loe di badan Dina maksudnya? Silakan loe jelasin, tapi jangan ke gue! Jelasin semua ke ayah!” Fadhil melepaskan cengkeraman tangannya pada Arjun setelah ia melihat raut wajah Arjun yang memerah.


“Uhuk-uhuk-uhuk!” Arjun mulai terbatuk saat nafasnya yang hampir habis kembali bekerja dengan baik.


“Kamu enggak apa-apa, Be?” ucap Medina memeluk Arjun sambil menangis hebat. Arjun hanya mengangguk-angguk disela batuknya. “Kamu ini kenapa sih, Dhil? Salah Arjun apa?” teriak Medina marah.


“Salah dia apa? Salah dia itu enggak mulangin anak gadis orang tepat waktu! Malah enak-enakan ngajakin tidur di kamarnya!” jawab Fadhil apa adanya. Medina hanya terdiam mematung mendengar ucapan Fadhil yang menusuknya.


“Kalian berdua ikut gue ke rumah ayah, tanggung jawab kalian, sudah bikin banyak orang khawatir!” Fadhil melangkah pergi keluar kamar, namun langkahnya mulai terhenti sesaat. “Kamu Dina, ikut mobilku! Biarin si bede*ah itu sendirian di mobilnya!”


***


Pak Pradipta menatap Arjun dan Medina yang duduk di hadapannya secara bergantian. Tatapan mata dingin dan tajam yang tak pernah Pak Pradipta tunjukkan pada anak-anaknya.


Medina seketika ketakutan menatap ayahnya, ia hanya dapat tertunduk pasrah sembari menggenggam kedua tangan dan memainkan kuku-kuku panjangnya.


Mecca dan Fadhil yang duduk menjauh dari ketiga orang itu, memilih diam di pojok ruangan menunggu kejelasan. Mereka tidak ingin ikut masuk dalam atmosfer dingin yang mencekam itu.


“Aku enggak pernah lihat ayah seperti itu, Mas.” Bisik Mecca pada Fadhil.


“Huft... Kita lihat dan dengar saja yank, jangan ikut-ikut!” peringatan Fadhil mendapat anggukan dari Mecca.


Setelah saling berdiam diri, Pak Pradipta mulai membuka suaranya.


“Jadi, kalian dari mana saja?” tanya Pak Pradipta pelan namun menekan.


“Be-begini yah, ta-di Dina main ke rumah Arjun.” Jawab Medina masih tertunduk.


“Lalu? Apa kamu sudah menganggap ayah tidak ada, sampai memberi kabar saja tidak?! Lihat, kamu sampai rumah jam berapa ini?”


“Bu-bukan begitu, Yah! Ma-maafkan kami.” Medina mulai mengeluarkan air mata penyesalan.


“Apa hanya dengan kata maaf semua selesai, Din? Ayah butuh penjelasan!”


Melihat Medina yang mulai menangis dan tak dapat berkata-kata lagi, Arjun dengan jantan mengambil alih. Ia menjelaskan tentang semua yang terjadi, namun dirinya tentu saja mengecualikan adegan kemesraannya dengan Medina.


“Be-begitu ceritanya, Yah.” Jawab Arjun tergagap menatap raut wajah dingin Pak Pradipta dan mengedarkan matanya pada Fadhil dan Mecca di sudut ruangan.


“Ayah menjaga kamu dan Mecca baik-baik untuk menjadi gadis yang bermartabat. Gadis yang menghargai dirinya sendiri, bukan gadis yang dimakan cinta buta! Kamu tahu sendiri bagaimana ayah sangat keras kepada Mecca dan dirimu tentang lawan jenis?! Tapi melihatmu yang sudah cukup matang, ayah kira pasti kamu bisa dilepas dan mampu diberi kepercayaan utuh, tapi ternyata ayah salah! Kamu mengecewakan, Dina!”


Baru kali ini Mecca dan Medina mendengar ayahnya berbicara panjang lebar, menasihati dengan tegas dan dingin. Mecca merasakan tubuhnya gemetar mendengar dan melihat sikap ayahnya yang tak biasa tersebut. Sedangkan Medina semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyesali kesalahannya.


“Ini bukan salah Dina, Yah. Ini sepenuhnya salah Arjun.”


“Ayah tidak menganggap kamu benar Arjun! Kalian berdua jelas-jelas salah! Kalau kamu sebegitu inginnya dengan Medina, tolong jangan kamu rusak dia! Dina anak yang rapuh, kamu belum mengenalnya dengan baik!” ucapan Pak Pradipta selalu menekan sejak awal berbicara. Membuat setiap orang yang mendengar merasa terintimidasi.


“Sungguh yah, Arjun tidak berniat merusak Dina. Bagi Arjun, Medina adalah wanita terbaik yang dapat menjadi pendamping Arjun.”


“Kalau begitu bawa orang tuamu untuk melamar Medina, jangan hanya kamu sentuh dan ajak menginap saja anak perempuanku itu!” geram Pak Pradipta menahan amarah. Arjun tertunduk lesu mendengar ucapan Pak Pradipta. Runtuh sudah citra baik yang ia bangun selama ini.


“Baik, sa-“ ucapan Arjun terpotong.


“Tapi Dina belum siap menikah, Yah!” jawab Medina menyela ucapan Arjun.


“Jadi kamu memilih untuk berduaan di kamar dengan pria tanpa ikatan daripada dengan ikatan?!” tanya Pak Pradipta mendelik pada Medina.


“Bu-bukan begitu, Yah. Ayah salah paham. Arjun pria yang baik, Arjun yang selalu meminta Dina untuk segera menikah, ta-tapi Dina belum siap.”


“Lalu kapan kamu siapnya? Sampai ayah mati karena sering mengkhawatirkan tingkah laku kalian berdua?!” setelah mengucapkan hal itu, Pak Pradipta beranjak dari duduknya. “Mau Dina siap atau tidak, kalau kamu tidak datang lagi untuk melamar Dina, lebih baik hubungan kalian sampai di sini saja!” Pak Pradipta melangkah pergi, menggubris kedua muda-mudi yang habis diceramahinya hingga lemas.


Melihat kepergian Pak Pradipta, Fadhil serta Mecca juga ikut pergi. Mereka naik ke lantai 2 di mana kamar Mecca berada, meninggalkan Medina dan Arjun yang masih mematung di tempatnya.


“Maafin aku Be, aku sudah buat ayah marah sama kamu, hiks...” ucap Medina terisak.


“Ini salahku juga, Bi. Maafin aku ya, kalau tadi aku enggak maksa kamu ke rumah pasti semua ini enggak terjadi.” Arjun menggenggam tangan Medina dengan menyesal.


“Bukan, ini semua salahku, maafin aku ya?! Kamu jadi kena imbas dari kecerobohanku.”


“Berhenti menyalahkan diri, Bi. Yang jelas aku enggak bisa berpisah sama kamu. Kamu mau ya nikah sama aku?” tanya Arjun lemah lembut.


“Aku belum siap, Be. Aku belum bisa jadi istri yang baik.” Medina menutup wajahnya dengan kedua tangan.


“Tapi kenapa? Lihat aku Bi, please.” Arjun menurunkan kedua tangan Medina dan menggenggamnya kembali.


“Traumaku masih ada, aku wanita sakit, aku enggak bisa melayanimu sebagai istri!”


“Aku tahu dan aku enggak peduli. Apa kamu lebih suka kita berpisah daripada menikah?”


“TIDAK!”


“Terus aku harus bagaimana sekarang kalau kamu menolakku terus?”


“Kamu pulang dulu ya, kita jangan ketemu dulu beberapa hari sampai ayah tenang, nanti aku akan bicara secara baik-baik lagi sama ayah. Aku akan hubungi kamu lagi setelah keadaan kembali baik.”


“Apa menikah sama aku sesulit itu, Din? Apa aku terlalu enggak pantas untuk jadi pendampingmu? Menemanimu lepas dari traumamu? Apa aku belum pantas menunjukkan perasaan dan niatku selama ini?” Medina hanya menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali, melihat mata jernih Arjun yang mulai berkaca-kaca.


Mendengar ucapan Arjun dan melihat pria itu memiliki perasaan tak pantas padanya membuat hati Medina teriris merasakan sakit yang mendalam.


“Bukan begitu...”


“Ya sudah aku pulang dulu ya, kamu istirahatlah. Assalamualaikum.” Arjun melangkahkan kakinya keluar pintu rumah Medina dan pergi membawa kegetiran.


Medina yang melihat langkah Arjun yang semakin menjauh membuat dirinya semakin tersedu. Kakinya yang tiba-tiba lemas membuat tubuhnya merosot terduduk di lantai.


Suara mobil Arjun yang menyala dan terdengar semakin menjauh, membuat Medina semakin tersiksa. Dengan sekuat tenaga Medina mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, ia mencoba berdiri dan berlari keluar mengejar mobil Arjun yang telah hilang dari pandangannya.


“Arjun, huhuhuhu...”