AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 90. Sampai Jari-Jemarimu Terisi Penuh



Medina menemani Arjun menyelesaikan makannya sembari mengerjakan laporan restoran. Arjun menyadari banyak mata pria yang menatap Medina dengan kagum, namun hal itu tidak membuatnya bangga melainkan justru membuat dirinya merasakan hal yang aneh di hatinya. Ada rasa panas yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata menyebar di sana.


Arjun menatap dingin pria-pria yang curi pandang pada Medina, sesekali Arjun mengecupi lengan Medina untuk menunjukkan hubungannya dengan gadis itu pada orang lain. Namun kecupan Arjun malah membuat Medina merasakan risi yang memalukan.


“Be, jangan begini terus dong. Banyak orang, aku malu kalau sampai jadi bahan tontonan pelanggan.” Bisik Medina memberi jarak tubuhnya dengan Arjun.


“Lebih baik malu daripada kamu yang jadi dilihatin banyak laki-laki. Aku enggak suka tahu!”


“Idih cemburuan sama yang lihat-lihat doang. Kemarin-kemarin apa kabarnya tuh pelanggan-pelanggan ganjen yang pegang-pegang kamu, lupa?”


“Itu enggak masuk hitungan dong.”


“Enggak masuk hitungan? Aku juga enggak suka tahu!” protes Medina mendapat senyum close up dari Arjun.


Medina yang masih berkutat dengan laporannya mulai menghentikan pencatatan saat ia melihat ada pesan masuk dari Mecca.


Mecca : “Bagaimana kak, lancar?”


Mecca : “Lihat aku mau pamer nih!”



Mecca : “Mas Fadhil romantis banget kan kasih aku bunga secantik ini sama kasih hadiah yang selama ini aku mau, aku happy banget kak, hihihi.”


Mecca : “Aku tunggu cerita lengkap Kak Dina sama Kak Arjun, harus cerita loh! Btw, make up aku masih awetkan?”


Medina membaca satu persatu pesan Mecca dengan senyum mengembang, ia pun membalas pesan adiknya itu sembari melirik Arjun sesekali.


“Kenapa Bi, ada yang aneh di mukaku?”


“Enggak!”


“Terus kenapa ngelihatnya begitu? Memangnya pesan dari siapa?”


“Dari Mecca.”


“Mecca kenapa?”


“Dia pamer.”


“Pamer apaan?”


“Nih!” Medina menunjukkan foto Mecca pada Arjun. “Ikut senang deh lihat adikku sudah menikah tapi suaminya masih sering kasih surprise. Kira-kira kalau aku nikah, suami aku begitu juga enggak ya?!” Medina melirik Arjun dengan tanda tanya di wajahnya.


Namun Arjun hanya sibuk menatap piring dan mengunyah sisa makanannya yang sudah hampir habis.


“Hem... Enak banget makanan di restoran ini. TOP banget!” Arjun tak merespons pertanyaan Medina padanya.


“Ck!” decak Medina kesal merasa tak dipedulikan.


Setelah usai membereskan beberapa laporan, melakukan pencatatan dan pengecekan persediaan, juga memeriksa kebersihan restoran, Medina mengunci semua pintu dan melenggang pergi bersama Arjun menuju mobil.


“Loh kok masih pada ngumpul di depan restoran?” tanya Medina pada 4 pegawai wanita dan 2 pegawai prianya.


“Kami nunggu jemputan Bu Dina.” Jawab Lili menunjuk dirinya dan 3 pegawai wanita lainnya.


“Terus kalian berdua ngapain? Bukannya bawa motor ya?” tanya Medina kepada Dion dan Satria.


“Kalau kita sih bantu jagain cewek-cewek aja Bu Dina, biar ngerasa lebih aman gitu.” Jawab satria membusungkan dadanya.


“Padahal ya, Dion itu mau ngantarin pulang Lili tuh tapi malu karena ada kita-kita, jadi modusnya ikut jagain kita di sini, Bu!” goda Emma pada 2 kawannya itu yang diikuti oleh teman-temannya yang lain.


“Ih apaan sih! Enggak kok Bu Dina, lagian siapa juga yang mau pulang sama anak Dajjal.” Lirik Lili pada Dion dengan bergidik.


“Ssstt... Lili dijaga dong omongannya.” Tegur Medina memberi kode menutup mulut dengan 1 jari telunjuknya.


“Biarin aja, Bu. Memang sembarang kok tuh anak raja iblis, hiii...!” jawab Dion tak kalah tajam.


“Eh, Dion! Kamu ini juga kalau ngomong sembarangan deh!” Tegur Medina kembali dengan tatapan tajam.


“Hei hati-hati loh, biasanya dari ejek-ejekan itu nanti lama-lama naik tingkat jadi sayang-sayangan.” Ujar Arjun menatap Dion dan Lili bergantian sambil menaik turunkan alisnya.


“Kalau Dion kayak Pak Arjun, saya mah menyerahkan diri aja, tapi Dion kayak walang kekek gitu, iuh deh!” ejek Lili masih tak terima dengan ucapan Arjun.


“Lihat aja nanti ya! Awas kalau sampai jatuh cinta ke gue, jangan sampai ngejar-ngejar lu!” ujar Dion dengan wajah penuh percaya diri. Lili membalasnya dengan berpura-pura merasa mual. Membuat semua yang menyaksikan pertengkaran dua orang itu tertawa geli.


“Ya sudah kalian baik-baik ya, kami duluan.” Ujar Medina menggandeng tangan Arjun. Dan dibalas lambaian para pegawainya.


Sebelum langkahnya mencapai mobil, Arjun melirik Medina dengan gugup. Ia pun mulai membuka suara begitu posisinya ia rasa telah pas.


“Bi, tolong ambilin sepatu aku dong di bagasi.” Mendengar permintaan Arjun, Medina langsung melangkahkan kakinya ke tempat yang dituju.


Medina yang sudah berada di bagian belakang mobil memperoleh perhatian mata Arjun. Terlihat jelas Arjun menyembunyikan perasaan gugupnya dari matanya yang selalu mengekori pergerakan Medina. Dan...


KLEK


Medina membuka pintu bagasi mobil tanpa curiga. Namun sedetik kemudian Medina menutup mulutnya, memundurkan langkahnya, menajamkan mata mencoba menatap apa yang ada di hadapannya. Medina tampak terpesona sekaligus tak menyangka dengan apa yang dilakukan kekasihnya tersebut padanya.



Medina yang mematung dan terdiam tanpa kata mulai terlihat berkaca-kaca pada kedua manik matanya. Ia masih dengan posisi terkejut menatap hal yang disiapkan Arjun di bagasi mobilnya tersebut.


Arjun mendatanginya dengan perlahan, langkahnya semakin mendekat dan terus mendekat. Ia memberikan sebuah bunga mawar kristal yang indah ala Enchanted. Menyodorkan bunga itu pada Medina yang hanya dapat mengangakan mulutnya tak percaya.



“Be, semua ini...?” ucapan Medina tak sanggup ia teruskan.


“Iya Bi, ini semua aku siapkan untukmu. Harusnya tadi aku bawa kamu ke mobil dulu sebelum aku tanyakan jawaban kamu mau terima lamaranku atau enggak. Tapi rasa penasaranku ternyata jauh lebih besar daripada kejutan ini.” Arjuna menggenggam tangan Medina, menuntunnya pada kotak besar yang berada di dalam bagasi mobilnya.


Arjun meminta Medina membukanya dengan kode mata. Medina pun hanya dapat menurut dan melakukan semua sesuai instruksi. Rasanya pikirannya merasa beku sesaat, ia tidak tahu harus berbuat atau bereaksi apa lagi karena efek kejutan ini.


Di dalamnya ada dua kotak kecil dengan warna berbeda. Medina menatap Arjun meminta petunjuk, Arjun mengambil kotak berwarna merah muda itu dan membukanya. Di dalam sana ada sebuah gelang emas dengan inisial huruf M dan A yang terjuntai. Arjun mengenakan gelang itu pada pergelangan tangan mulus Medina yang masih kosong tanpa perhiasan.



“Ini aku pesan khusus loh Bi buat kamu.” (Sa ae Arjun! Serius ngedit gelang ini tuh butuh ketelitian, dan parahnya sempat kehapus berkali-kali 🙄)


“Dan untuk kotak kedua ini...” Arjun mengambil kotak berwarna putih itu, lalu berjongkok dan menggenggam tangan kiri Medina dengan gemetar.


Arjun mendongakkan kepalanya, menatap mata Medina yang kini sudah lancar meneteskan bulir bening yang tertahan sedari tadi.


“Terima kasih ya sudah mau menerima lamaranku. Aku akan berusaha membahagiakanmu, mencintaimu, dan menjadikan kamu istri yang selalu dilimpahi senyum dan tawa.” Arjun memasangkan cincin itu dijari tengah Medina tepat di sebelah cincin batu topaz pemberiannya.



Medina menarik tangan Arjun untuk berdiri dan bersejajar padanya. Medina menatap wajah Arjun dengan perasaan yang bercampur aduk. Rasanya mulutnya yang kelu tidak dapat berucap walau hanya sekedar kata terima kasih. Medina hanya dapat menggetarkan bibirnya dan terisak bahagia.


“Tadi kalau aku di tolak lagi sama kamu, aku bakal ngelakuin lamaran lagi, ngasih kamu cincin lagi, sampai jari-jemari kamu terisi penuh sama cincin-cincin lamaran aku yang kamu tolak.” Senyum Arjun hangat sembari menyapu sisa-sisa air mata Medina.


Medina menaruh bunga kristal dalam genggamannya, memandang Arjun kembali, melingkarkan kedua tangannya pada leher jenjang Arjun.


“A-aku enggak tahu harus ngomong apalagi selain ucapan terima kasih. Terima kasih sayang, terima kasih sudah bersabar denganku, menerimaku, dan terus mencintaiku. Terima kasih...” Medina menjinjitkan kakinya, menyamakan tingginya dengan Arjun. Melahap bibir kemerahan Arjun dengan kecupan yang dalam. Arjun membalas kecupan Medina dengan ciuman memabukkannya. Namun tak berselang lama ciuman itu harus terlepas lantaran...


Eeecciiiieeee


Suit... Suit... Suit...


Godaan dan siulan bising para pegawai Medina yang masih berdiri tak jauh dari tempatnya berada mulai heboh dan membuat keduanya merona.


Semua pegawai Medina telah mengabadikan momen lamaran romantisnya pada ponsel masing-masing, dan mungkin ini akan menjadi berita besar bagi mereka saat bukanya restoran esok hari atau mungkin saat itu juga? (***Who knows* ya kekuatan dunia sosmed bergerak lebih cepat, hahaha. Medina sama Arjun ini sweet banget, Serius! Bikin Author agak dendam (IRI akut) waktu buat ceritanya**)


"Sini-sini Bu Dina sama Pak Arjun aku fotoin." ujar Emma menawarkan diri. Medina dan Arjun pun dengan cekatan mengambil posisi.


1... 2... 3... CEKLIK



"Yah kok kaku gitu sih Bu Dina wajahnya?!" protes Emma saat melihat hasil jepretannya.


"Mau kamu ambil berkali-kali aku juga pasti masih tegang Em, aku masih syok nih!" ujar Medina dengan jujur.


***


Pagi-pagi Pak Permana sudah berada di depan rumah Fadhil, menatap pagar rumah itu dengan jarak yang tak terlalu jauh. Pak Permana terlihat seperti agen rahasia yang bertugas memata-matai targetnya.


Pak Permana melihat mobil Fadhil keluar dari pagar, dan tak lama kemudian mobil lain yang serupa dengan mobil Fadhil yang ia yakini pasti milik Mecca. Dan saat ia melihat sosok Bu Alisa yang keluar dari pintu rumah menuju mobilnya, Pak Permana memasukkan mobilnya tanpa permisi ke halaman luas rumah itu.


Pak Aang selaku penjaga rumah mengikuti dan meneriakinya dari kejauhan, menarik perhatian Bu Alisa pada keributan yang ditimbulkannya. Bu Alisa menatap kedatangan mobil mewah itu yang mulai terparkir tepat di belakang mobilnya.


Pak Permana turun dengan segera setelah ia mematikan mesin mobilnya. Pak Permana mengunci tatapannya pada Bu Alisa. Beliau merapikan jas yang ia kenakan dan menghampiri Bu Alisa dengan langkah angkuhnya.


“Selamat pagi.” Sapa Pak Permana dengan senyum mengembang.


Bu Alisa mengalihkan pandangannya pada Pak Aang yang masih berlari mendekati Pak Permana. Bu Alisa memberikan kode pada Pak Aang untuk tidak perlu khawatir dan kembali ke posnya.


“Ada apa ya Anda kemari pagi-pagi sekali? Kalau tidak penting tolong sebaiknya Anda pergi, karena saya harus segera pergi bekerja.” Ujar Bu Alisa menatap jam tangannya.


“Alisa... Cintaku...” mendengar ucapan Pak Permana yang tak masuk akal membuat mata Bu Alisa terbelalak.


“Apa?! Apa saya tidak salah dengar?” tanya Bu Alisa memastikan.


“Tidak sayang, pendengaranmu benar.” Bu Alisa membulatkan matanya merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.


“Apa-apaan sih?! Jangan bikin pagiku jadi buruk deh!” Bu Alisa mencoba masuk ke dalam mobil, namun Pak Permana menahan pintu mobil dan menarik tangan Bu Alisa.


Pak Yogi yang melihat tindakan Pak Permana mulai mendekat untuk melindungi Bu Alisa, namun Bu Alisa memintanya untuk tetap tenang, lalu Bu Alisa menghempaskan tangan Pak Permana yang menggenggamnya dengan kuat.


“Aku ingin kita rujuk sayangku.” Ujar Pak Permana mengiba. “Aku masih mencintaimu, aku membutuhkanmu. Maafkan aku sayang, maafkan semua kesalahanku padamu, Fadhil, dan juga Mecca. Aku akan memperbaiki semua ini dari awal. Kita utuhkan lagi ya rumah tangga kita?!” Pak Permana menganggukkan kepalanya berharap Bu Alisa meng-copy tindakannya.


“Huuuufffttt... Kenapa? Sudah bosan sama si ja*ang itu? Atau sudah sadar kalau sudah membuang yang berharga?” tanya Bu Alisa menghembuskan nafas kasarnya.


“A-aku memang salah! Aku tahu semua ini akan butuh waktu lama untuk aku tebus, tapi a-aku akan berusaha lebih baik. Lebih baik menjadi suami untukmu, lebih baik menjadi papa untuk Fadhil dan Mecca, la-lalu... Le-lebih baik menjadi kakek untuk calon cucu kita.”


“Semudah itu ya bagimu? Tapi tak semudah itu untukku ataupun Fadhil dan Mecca. Cukup kamu mendapatkan maaf kami, tapi jangan memaksa mengutuhkan yang sudah putus. Bukankah ini semua keinginanmu? Bahkan kamu menjanjikan 3 bulan lagi aku akan bisa menerima akta cerai kita kan? Sekarang aku justru menanti-nantikannya!” Bu Alisa melenggang pergi, memasuki mobil dan menguncinya dari dalam. Gerakan cepat Pak Yogi pun tak kalah dengan Bu Alisa.


“Lock, Pak!” perintah Bu Alisa tanpa menoleh Pak Permana yang sedari tadi mengetuk kaca jendela, memanggil-manggil namanya dan berusaha membuka pintu mobilnya.


“Siap!” jawab Pak Yogi tegas.


Mobil Bu Alisa melaju meninggalkan sosok Pak Permana yang masih berdiri di tempa semulanya, mengacak pinggang dan melonggarkan dasinya dengan kasar.


“Habis manis sepah dibuang? Terus apa yang sudah kamu buang mau kamu ambil lagi? Jangan bermimpi! Hatiku tak semulia itu untuk mudah menerima permintaan rujukmu. Tak masuk akal, cih!” ujar Bu Alisa membatin, merutuki sikap Pak Permana yang menyepelekannya.


Semangat 45 kakak semua! Apresiasi novel ini dooooooong!!!