
Lagi-lagi malam ini Fadhil pulang terlalu larut. Ia sampai di rumahnya sekitar jam 10 malam. Pada saat itu Mecca sudah tidur lebih awal. Lagi-lagi dia tidak bisa bercengkerama dengan istrinya tersebut.
Sudah sekitar 2 minggu, Fadhil terus saja sibuk. Tapi raut wajah lelahnya selalu menampilkan senyum merekah setiap ia menatap Mecca dan perut besar istrinya tersebut.
Setelah membersihkan badan dan berpakaian, Fadhil mengecup lembut tiap titik wajah Mecca, lalu merebahkan dirinya di samping istrinya dengan menempelkan pipinya ke permukaan perut besar Mecca.
Fadhil meletakkan salah satu telapak tangannya untuk membelai perut Mecca, tak berselang lama tangannya mendapat tendangan halus dari bayinya. Fadhil tampak bahagia dengan sambutan anaknya pada sentuhannya itu.
“Hi boy, nungguin baba ya? Baba menepati janji untuk mengobrol antar lelaki denganmu. Lelaki itu harus bisa pegang janji, kamu mengertikan?” seolah paham dengan ucapan Fadhil, bayi dalam perut Mecca memberikan gerakan lagi. “Good!” jawab Fadhil atas respons anaknya.
“Bagaimana hari ini? Apa kamu menjaga bubu dengan baik?” tendangan halus itu kembali terasa pada pipi Fadhil.
“Bagus! Anak laki-laki memang harus jadi jagoan untuk perempuan terutama, Bubunya.”
“Maafkan baba ya sayang, akhir-akhir ini baba sibuk terus dan kalau sampai rumah selalu kecepekan. Tapi baba seperti ini untuk masa depan kita semua. Kalau nanti perusahaan yang baba bangun sudah lebih stabil, kita pasti lebih banyak waktu bersama lagi. Untuk sementara ini bersabar dulu ya, Nak. Gantikan baba untuk jaga bubu saat baba jauh dari kalian, mengerti?” tanya Fadhil pada anaknya. Dan ia pun memperoleh tendangan kuat di pipinya.
“Waduh, kencang banget nendangnya. Hampir aja baba salto tadi, hehehe...” tawa geli Fadhil di tengah obrolannya dengan bayinya, namun menggunakan suara merendah.
“Maaf ya boy, kita ngobrolnya bisik-bisik. Soalnya bubu lagi bobo tuh, ssstttt...”
Setelah beberapa lama mengobrol, Fadhil mulai merasakan matanya menjadi berat, ia pun membacakan doa-doa kebaikan untuk anaknya, lalu menyanyikan lagu-lagu lullaby untuk bayinya tersebut, namun bukan semakin tenang, bayi dalam kandungan Mecca malah semakin aktif, tapi yang menyanyikan lagu malah tertidur lebih dulu. (Wkwkwkwk... Biasa ya bapak-bapak tuh sering gitu 😅)
Mecca yang merasakan pergerakan bayinya semakin aktif mulai membuka mata beratnya dari kantuk. Ia melihat suaminya yang tertidur dengan menempel pada perutnya. Mecca pun mulai menutup matanya kembali, dan meletakkan tangannya di atas tangan Fadhil pada perutnya.
***
Hari ini adalah jadwal pemeriksaan kandungan Mecca. Setiap jadwal pemeriksaan tiba, Fadhil selalu lebih antusias daripada Mecca. Bukannya Mecca tidak antusias sama sekali, hanya saja jika dibandingkan dengan respons Fadhil yang terlalu berlebihan itu jelas terlihat berbeda.
“Yank, cepetan siap-siapnya dong. Aku sudah enggak sabar mau ketemu anak kita nih!”
“Ya ampun, buru-buru amat, Mas. Sabar dong, ini masih make up dikit.”
“Kamu enggak usah make up juga sudah cantik banget kok.” Kecup Fadhil pada pipi Mecca.
“Ya harus make up dong, kan buat suamiku juga biar senang kalau bawa jalan istrinya itu sudah rapi, cantik, wangi, ya kan?”
“Iya sayangku, tapi buruan ih...” ujar Fadhil gemas.
“Mas enggak kerja aja? Ntar aku pergi sama mama aja deh, kan mas lagi sibuk.”
“Loh kok gitu? Ya enggaklah! Aku harus dan wajib ikut pemeriksaan, karena aku mau lihat wajah anak kita sekarang seperti apa.”
“Kalau begitu, sabar dong. Kalau aku diburu-buru nanti aku risi terus malah jadi bad mood, akhirnya aku milih pergi sama mama loh!” ancam Mecca dengan nada datar sembari melirik Fadhil lewat pantulan cermin di hadapannya.
“Uuhh sayang, pakai lagi bedaknya yank. Itu lipstiknya kurang pink, nih rambutnya juga sisir dikit lagi.” Ujar Fadhil sembari memeluk Mecca dari belakang dan sibuk mengoreksi penampilan Mecca yang dari tadi ia acuhkan. Mecca hanya tersenyum melihat perubahan sikap Fadhil yang tiba-tiba.
“Oh iya mas, nanti aku mau tanya jenis kelamin anak kita. Habis aku penasaran setelah mas panggil ‘boy’ kemarin.”
“Hahaha... Bukannya kemarin-kemarin bilangnya mau jadi rahasia aja? Biar apa, biar bisa tebak-tebakan terus sekalian dapat hadiah kalau yang benar tebak? Sekarang kok jadi pengen tahu? Ah... Takut kalah tebak ya? Khawatir kalau aku menang aku minta macam-macam ya? Alasan penasaran pula...” ujar Fadhil gemas sembari menekan kedua pipi Mecca dari belakang hingga membuat bibirnya membulat.
“Bukan gitu, tapi memangnya mas enggak penasaran?” tanya Mecca balik.
“Ya penasaran sih! Tapi kan seru juga kalau tebak-tebakan yank.”
“Aku penasaran banget mas, biar kita bisa mulai prepare nama.”
“Bukannya sudah cari-cari nama untuk anak cowok dan cewek?”
“Tapi kalau kita tahu gendernya dengan jelas, kan kita bisa fokus untuk cari namanya.”
“Hmmm... Ya sudah deh, aku ikut aja. Kan awalnya yang mau tebak-tebakan tuh sayang, nah kalau sekarang berubah lagi jadi mau tahu gendernya aku mau bilang apa?!”
Karena Mecca sudah melakukan pendaftaran via telepon 1 hari sebelumnya, sesampainya di tempat praktik dr. Sarah, Fadhil dan Mecca hanya menunggu seorang pasien saja dan langsung masuk ke ruang pemeriksaan.
“Halo Bu Mecca dan Pak Fadhil, apa kabar?” sapa dr. Sarah yang semakin akrab dengan kedua pasangan itu.
“Alhamdulillah kami sehat dokter.” Ucap Fadhil dan Mecca bersamaan sembari menduduki kedua kursi kosong di hadapan meja dokter.
“Bagaimana perutnya Bu Mecca? Masih sering kencang? Apa kakinya ada bengkak lagi?”
“Kakinya sudah baik-baik saja dokter. Di rumah, saya punya ahli gizi dan pengatur jadwal kerja yang hebat soalnya, mama mertua saya, hahaha...!” tawa Mecca mengundang tawa dr. Sarah dan Fadhil pula.
“Kalau kencang sudah tidak dokter.”
“Memang kamu sering kencang perutnya yank?”
“Enggak sering juga kok mas, cuma pernah beberapa kali.”
Dalam konsultasi kehamilan Fadhil selalu lebih banyak bertanya tentang ini dan itu daripada Mecca. Dan dengan sabar dr. Sarah akan menjawab satu persatu pertanyaan Fadhil hingga ia merasa puas.
Setelah konsultasi, Mecca menjalani pemeriksaan dengan alat USG 4 dimensi. Pemeriksaan berjalan seperti biasa, dr. Sarah melihat kondisi bayi Mecca dengan teliti dan menyeluruh. Dari pemeriksaan itu semua mengarah pada hasil yang baik, hingga tiba waktunya mendengar suara detak jantung dan penampakan terbaru bayi Mecca dan Fadhil yang selalu keduanya nantikan.
Setiap mendengar suara detak jantung bayinya yang bagai alunan musik terindah, membuat Mecca dan Fadhil merasakan haru mendalam. Mereka selalu berkaca-kaca saat momen itu tiba.
Lalu dr. Sarah mencari-cari letak wajah bayi Mecca dan Fadhil, seolah main petak umpet si bayi selalu menutupi wajahnya dengan tangan mungilnya.
Sesekali Fadhil dan Mecca merayu anaknya untuk menunjukkan wajahnya, hingga anaknya menurut menunjukkan wajahnya walau dalam waktu yang sangat singkat, namun dr. Sarah sudah sigap memotret wajah si bayi dengan tanggap.
“Nah, kena foto kan... Sembunyi terus nih, malu ya mau dilihat?” ujar dr. Sarah sambil menggerak-gerakan probenya. Mecca dan Fadhil tertawa bersama mendengar ucapan dr. Sarah.
"Ulu-ulu, lucu banget sih anak kita, Mas."
"Siapa dulu yang buat?" jawab Fadhil bangga.
"Siapa dulu pabriknya kali maksud, Mas?" ujar Mecca antara cemberut dan tersenyum.
"Iya sayang, iya..." jawab Fadhil mencolek dagu Mecca.
“Dokter, bisa lihat gendernya kan?” tanya Mecca antusias.
“Bisa dong, apalagi ini kehamilan Bu Mecca sudah mau jalan ke 8 bulan. Tapi kemarin katanya mau dirahasiakan saja, apa berubah pikiran?”
“Iya dokter, ternyata saya yang enggak kuat tahan penasaran.”
“Sebentar ya saya lihat dulu.” Jawab dr. Sarah dengan senyum tersimpul.
Setelah beberapa detik tangan lihai dr. Sarah bergerak ke sana kemari, dr. Sarah menunjuk pada monitor dengan pointernya.
“Ini Bu Mecca dan Pak Fadhil, bisa dilihatkan ada antenanya di sini? Nah, artinya kalau anak yang punya antena itu anak laki-laki. Selamat ya ibu dan bapak ada si ganteng di dalam sini.”
“Serius dok? Yakin?” tanya Mecca masih tak percaya.
“Insha Allah yakin, Bu.”
Fadhil menggenggam tangan Mecca dengan hangat, mengecupi tiap ruas jari Mecca gemas dan meremasnya lembut.
“It’s a boy. Terima kasih sayang...” kecup Fadhil pada sisi perut Mecca yang bersih dari gel. Mecca tersenyum dan mengangguk pelan sembari membelai rambut Fadhil.
Hai readers, Jangan lupa selalu like, vote, tips, comment, follow, jadikan favorit, dan bantu rekomendasikan novel ini ya. Happy Day!!!