AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 17. Makan Malam



Jingga tak lagi tampak pada senja, awan kemerahan kini mulai menggelap, matahari mulai berganti posisi dengan bulan. Semakin malam semakin menambah keromantisan bagi Mecca dan Fadhil si pengantin baru, tapi tidak dengan Karina dan Egy.


Di kediamannya, Karina selalu tampak uring-uringan. Tak ada lagi senyum yang terpancar di wajah cantiknya.


Braaak...!


Karina membuka pintu kamar Egy dengan kasar dan menutupnya sembari membanting.


“Kak, apa-apaan sih,!kasar banget buka-tutup pintu!" keluh Egy kesal.


“Maaf." Sahut Karina singkat sembari duduk di pinggir ranjang Egy dengan kasar.


“Kenapa sih sejak datang ke acara nikahan Fadhil sama Mecca kakak uring-uringan terus?”


“Memangnya kamu nggak kesal melihat cewek itu menikah?”


“Kalaupun kesal memangnya aku bisa apa? Harus nemanin kakak uring-uringan juga gitu?”


“Aku merasa ditipu sama keluarga Permana itu. Setelah mereka menyusun perjodohan dengan keluarga kita, seenaknya saja membatalkan tanpa memandang perasaanku!" curhatnya dengan nada marah.


“Semua itu karena bisnis, buktinya saja papi nggak masalah perjodohan kalian batal, semua tidak merugikan, malah papi dapat kontrak kerja samanya juga. Lagian kamu masih 24 tahun, banyak laki-laki yang lebih baik dari pada dia."


“Tapi aku sudah cinta dia cukup lama, aku nggak rela dia nikah sama cewek jelek itu!”


“Siapa yang jelek? Yang jelek itu kakak yang merengut terus kerjaannya. Kembali ke kamarmu sana!” ketus Egy mendengar Karina mengejek Mecca.


“Sudah ditinggal nikah masih saja ngebelain cewek perebut calon suami orang itu! pokoknya lihat saja, aku pisahin mereka nanti." Ancam Karina marah sembari melangkah pergi.


“Hei, jangan macam-macam. Stop jadi gila deh! awas saja ya kalau Mecca kenapa-kenapa!” jawab Egy balik mengancam, namun dihiraukan oleh Karina dengan bantingan pintu.


Sedangkan di rumah Pak Pradipta, satu keluarga itu telah duduk dalam 1 meja makan yang kini telah terhidang berbagai macam masakan hasil karya Medina dan Mecca.


Di atas meja sudah tertata rapi peralatan makan dan minum. Aroma masakan yang menyeruak ke seluruh ruangan menggugah setiap orang yang menghirupnya terutama oleh Fadhil, mengingat ia belum makan sedari pagi karena jatah makan siangnya juga dilahap habis oleh Mecca.


“Silakan di ambil makanannya, Nak." Ujar Pak Pradipta menawarkan.


“Silakan Ayah dulu yang memulai." Jawab Fadhil sopan.


Setelah Pak Pradipta mengambil makanan, Fadhil, Mecca dan Medina juga ikut mengambil makanan secara bergantian.


“Kamu masak yang mana saja yank?” tanya Fadhil penasaran.


“Tumis buncis daging, cah kangkung, sama sambal goreng kentang ini aku yang masak. Kalau ayam goreng laos, sambal, sama orek tempe ini Kak Medina ya masak." Jelas Mecca sembari menunjuk tiap menu masakan di meja.


“Yaaaah... Aku nggak suka buncis, gimana dong?”


“Pokoknya Mas harus makan setiap menu yang sudah aku dan Kak Dina masak, Mas harus adil. Aku akan marah kalau Mas pilih-pilih makanan." Jawab Mecca tegas, kemudian dia berbisik lagi pada Fadhil dengan suara yang teramat pelan. “Kalau nggak dimakan semua jangan harap bisa tidur satu ranjang denganku."


“Siap laksanakan perintah." Ujar Fadhil tiba-tiba dengan suara meninggi tanpa sadar membuat seluruh orang yang mendengar tertawa terbahak-bahak.


Piring Fadhil telah dipenuhi dengan tiap menu yang dimasak Mecca dan Medina. Fadhil mulai menyuap tiap menu ke mulutmu. Tak henti-hentinya ia memuji masakan Medina dan Mecca yang teramat enak baginya. Bahkan lebih enak dari pada masakan di restoran terkenal yang pernah ia makan.


Semua pujian itu membuat Mecca dan Medina bangga, karena hasil masakannya diterima baik oleh Fadhil.


“Nah karena Mas suka semua masakan kami, sekarang giliran tumis buncis dagingnya. Ayo di makan, pasti Mas suka deh." Pinta Mecca lembut.


“Tapi... Ehmm... Iya deh." Fadhil mulai menyuap nasi dengan tumis buncis daging masakan Mecca, ia harus menghiraukan ketidaksukaannya pada buncis demi bisa tidur seranjang dengan istri kecilnya itu.


“Bagaimana Mas?” tanya Mecca penuh debaran.


“Parah... ! ini sih enak banget, nggak pernah ada buncis yang bisa seenak ini walau dimasak dengan cara apapun untuk lolos indera perasaku. Ini enak banget yank, tambah dong. Kamu hebat banget, Dina juga hebat." Pujinya jujur kepada Mecca dan Medina secara bergantian dengan kerlingan kedua mata.


“Ah lebay deh kamu Mas. Nih aku tambahin banyak biar makin cinta sama buncis, hahaha...” jawabnya sembari tertawa usil dan diikuti gelengan Pak Pradipta dan Medina melihat tingkah keduanya.


Usai makan malam penuh canda tawa itu, Mecca membantu Medina merapikan meja makan dan mencuci peralatan makan di dapur, sedangkan Pak Pradipta mengajak Fadhil berkeliling rumahnya mengenalkan tiap ruang dan area pada Fadhil agar menantunya itu bisa lebih nyaman serta akrab dengan seluk beluk rumah tersebut.


“Rumah Ayah nyaman sekali, sepertinya saya sudah betah."


“Hahaha... syukurlah kalau kamu betah, Ayah juga berharap begitu. Dengar-dengar, Nak Fadhil membeli rumah dekat area sini ya?”


“Bagus Nak, karena Ayah pasti kesepian tidak ada Mecca. Ayah senang kalau jarak rumah kita tidak terlalu jauh, Ayah jadi merasa dekat dengan Anak itu."


“Iya Yah."


“Bagaimanapun walau ada Dina di sini, pasti rasanya beda. Dina lebih tertutup, pendiam, dan lugas. Sedangkan Mecca anak yang ceria, cerewet, penuh humor. Si Adik selalu bisa menghidupkan suasana rumah yang sepi ini. Mecca itu kebahagiaan di rumah ini." Ujar Pak Pradipta dengan mata berkaca-kaca.


“Kami pasti akan sering berkunjung Yah”. Jawab Fadhil menenangkan mertuanya itu yang mulai sendu.


“Harus ya!" Ujar Pak Pradipta memaksa.


“Pasti Yah. Ngomong-ngomong rumah Ayah unik, tiap ruangan di cat dengan warna berbeda. Jadi setiap masuk ke ruangan tertentu, moodnya juga bisa berubah. Asyik loh seperti ini Yah”.


“Ini semua ide kakak beradik itu. Mereka berdua kan suka warna-warna pastel seperti ini. Jadi mereka ingin semua warna kesukaannya ada di dalam rumah ini."


“Oh begitu."


“Nak kalau mau istirahat langsung saja ke kamar Mecca, silakan naik ke lantai 2 ya. Ayah permisi dulu mau mengirim email kerjaan."


“Baik Yah."


Setelah kepergian Pak Pradipta, Fadhil mencari Mecca untuk memberi tahunya bahwa ia akan istirahat di kamar. Sesampainya di kamar, Fadhil mulai membongkar tas-tas yang tergeletak di lantai dan menata rapi semua pakaiannya dan pakaian Mecca di lemari dan barang-barang lainnya sesuai dengan tempatnya.


Tak luput dari ingatannya tentang seprai kenangannya tersebut. Dia mengambil dan memasukkan seprai itu pada tasnya yang sudah kosong. Sedangkan Mecca dan Medina masih mencuci peralatan makan di dapur.


“Dik gimana jadi istri?” tanya Medina memecah keheningan.


“Seru Kak. Kan masih awal masih seru-serunya Kak, kalau sudah tinggal berdua lebih lama nggak tahu deh masih seru nggak."


“Huussttt... nggak boleh bicara begitu, omongan adalah doa Dik. Kamu harus bicara dan berperilaku yang baik-baik saja."


“Eh iya, maaf Kak keceplosan." Cengirnya menunjukkan deretan gigi putihnya yang tersusun rapi.


“Kamu harus bisa lebih dewasa dalam berpikir dan bertindak, pandai-pandailah mengurus rumah dan suamimu. Jangan sembrono lagi, ingat nasehat Ayah dan Kakak."


“Iya-iya Kak, aku tahu. Ngomong-ngomong, Kakak ngobrol apa saja sama Kak Arjun? Dia ganteng kan Kak?” goda Mecca sembari menabrak lembut tubuh samping Medina dengan tubuhnya.


“Arjun siapa?” tanyanya bingung.


“Ya Kak Arjun yang datangin Kakak setelah dia ngobrol sama aku, aku lihat Kakak sepintas melihat ke arah kami waktu Kakak sibuk sama ponsel Kakak itu."


“Sebentar Kakak ingat-ingat dulu." ujar Medina dengan kening berkerut berusaha mencari-cari sosok Arjun di ingatannya."


“Ah... laki-laki aneh itu? Kakak nggak ngobrol, waktu Kakak sadar ada sosok yang mendekati, Kakak langsung pergi." Jawab Medina santai.


“Hah? Kak Dina jahat banget deh. Kak Arjun itu baik, dia lucu, juga ganteng. Lagian ngobrol enggak uda bilang orang lain aneh, nggak sopan tahu Kak!" ujarnya balik menasehati.


“Ih Anak kecil ini sudah pintar nasehati orang lain ya. Iya deh Kakak salah bicara."


“Lain kali aku kenalkan lagi ya?"


“Tidak mau!"


“Kaaaaaaaak....!”.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.


Terima Kasih.