
Pagi ini di Rumah sakit tempat Arjun praktik, Diana perawat yang selalu membantu Arjun mulai menyiapkan perlengkapan kerjanya.
“La, hari ini Dokter Arjun sudah masuk dari cuti kan?” tanya Diana pada salah satu perawat bernama Lala yang tengah sibuk memasukkan data diri pasien pada sistemnya.
“Tadi pagi sih aku sudah konfirmasi sama beliau, katanya akan praktik hari ini.” Jawab Lala sembari melirik Diana.
“Eh... Kenapa senyam-senyum gitu sih?” tanya Lala penasaran.
“Eh La, menurutku Dokter Arjun punya perasaan ke aku loh.” Jawab Diana yang kini telah duduk tepat di sebelah Lala.
“Hah? Kok kamu bisa sampai mikir begitu Na?” tanyanya mulai menghentikan aktivitasnya sejenak.
“Seminggu lalu sebelum Dokter Arjun ambil cutinya, masa dia ngeharapin aku untuk buka hati buat dia.” Jawab Diana serius.
“Salah dengar kali kamu.” Jawab Lala tak percaya, ia pun kembali mengerjakan aktivitasnya yang sempat tertunda.
“Serius La, aku aja kaget waktu dengar itu. Jelas-jelas dia bilang, ‘Diana...Diana... Kamu kapan sih buka hati untuk aku’, tapi waktu aku minta penjelasan kebetulan saat itu ada wali pasien yang masuk. Jadi sampai sekarang aku belum dengar deh penjelasan dari Dokter Arjun. Tapi hari ini kalau Dokter Arjun datang aku akan tanyakan lagi ke dia.”
“Dokter Arjun kan sudah punya pacar Na, tidak mungkin beliau bicara begitu ke kamu.”
“Hah? Pacar? Maksudnya?” tanya Diana memburu.
“Sepertinya beliau sedang liburan sama pacarnya itu, beberapa hari lalu aku pernah lihat postingan Dokter Arjun di sosmednya. Dia foto dengan pemandangan laut terus pas senja jadi langitnya kemerahan gitu, keren deh!” cerita Lala sembari mengingat kembali apa yang ia lihat.
“Siapa perempuan itu? Apa cantik? Tapi bisa juga kan itu bukan pacarnya?” tanya Diana mulai kesal.
“Nah... Aku juga penasaran sih sama wajah perempuan itu, soalnya ketutup rambut gitu wajahnya. Tapi kalau aku rasa sih itu memang pacarnya, karena captionnya itu jelas banget!” jawaban Lala membuat dada Diana kembang kempis menahan amarah.
“Coba lihat fotonya La!”
“Kamu bukalah di IG kamu sendiri!”
“Aku kan enggak punya IG La!”
“Hari gini enggak punya IG?”
“Iya, nanti buat. Sekarang lihat dari punyamu dululah!” ujar Diana memaksa.
Setelah Diana melihat foto dan caption yang dibuat Arjun, entah mengapa perasaannya yakin jika wanita itu bukanlah kekasihnya.
“Sebelum janur kuning melengkung kesempatanku masih banyak. Apa kemarin Dokter Arjun memanggil namamu dan bukan namaku? Apa kita punya nama yang sama sehingga membuatku salah paham? Tapi kalau memang benar seperti itu, aku masih boleh kan untuk usaha? Lebih baik merebutnya sekarang kan?” gumamnya pelan.
“Kamu bicara apa sih Na? Kok bisik-bisik begitu?” tanya Lala penasaran.
“Enggak ada kok! Nih HP kamu, terima kasih ya.” Jawabnya sambil berlalu.
.
.
.
***
Dua bulan telah berlalu, Fadhil dan Mecca semakin hari semakin mesra. Mecca telah lulus presentasi dan ujian skripsinya, kini ia hanya menunggu waktu wisuda yang akan diadakan satu bulan lagi.
Hari ini merupakan hari perdana restoran milik Mecca mulai dibuka. Pagi ini ia dan kakaknya akan melakukan potong pita di sana. Pembukaan restorannya mendapat antusias yang tinggi dari para konsumen. Hal itu dapat dilihat dari tingginya tanggapan para konsumen melalui kolom komentar di sosial media khusus restoran.
Hari ini Mecca sengaja melakukan pembukaan restoran tepat satu hari sebelum pembukaan resmi untuk umum. Hal ini ia lakukan agar para keluarga, karyawan Grup A, dan beberapa klien Fadhil dapat berkunjung lebih nyaman.
Di restoran sudah ada keluarga Fadhil dan juga Mecca. Di sana juga ada Arjun dan Mami Rita, beberapa karyawan Fadhil dan juga kliennya. Mereka semua mengagumi dekorasi dari restoran dengan tema perpaduan homey dan alam tersebut. Di setiap spotnya terasa cozy dan layak sebagai tempat berfoto ria.
Sedangkan untuk menu makanan, Mecca dan Medina memasukkan daftar menu nusantara dan beberapa makanan khas negara lain yang sering diminati pembeli. Untuk karyawannya sendiri, Mecca memperkerjakan 40 orang yang terbagi menjadi 2 shift kerja. Untuk urusan dapur, Mecca dan Medina juga ikut terjun langsung dalam pengawasan agar rasa masakan yang dihidangkan sesuai dengan standar mereka.
“Selamat ya sayang atas pembukaan restorannya, ini benar-benar luar biasa. Mama doakan usaha kamu dan Dina lancar ya.” Ujar Mama Alisa sembari memeluk Mecca hangat.
“Aamiin, terima kasih banyak Ma.” Jawab Mecca singkat.
“Tapi jangan kecapekan ya, kan mau buat penerus keluarga Permana.” Ujar Papa Permana mengingatkan.
“Iya, papa tenang saja.” Jawab Mecca tersenyum manis.
“Anak-anak ayah hebat. Ayah yakin kalian akan sukses menjalankan restoran ini.” Ujar Pak Pradipta sembari memeluk kedua putrinya.
Mecca dan Medina terus menerus menerima ucapan selamat dari para undangan. Tak henti-hentinya mereka mengumbar senyum ramah dan mempersilakan para tamu undangan untuk mencicipi menu masakan restoran. Mereka pun mendapat pujian dari semua orang, karena masakan yang luar biasa enak dan meninggalkan rasa yang mudah dirindukan.
Arjun dan Mami Rita mendekati Medina, Mami Rita tampak senang pada Medina. Ia sering menatap dan membelai lengan Medina berkali-kali.
“Dina cantik sekali ya.” Ujar Mami Rita tersenyum ramah.
“Terima kasih tante.” Jawab Medina canggung.
“Panggil mami saja. Kapan-kapan ke rumah ya, kita makan malam bersama.”
“Iya tan... Eh, mami maksudnya.” Jawab Medina gugup.
“Santai aja, seperti ketemu mertua deh gugup gitu.” Ujar Arjun menggoda dan ditanggapi sikutan kecil dari Medina.
“Mami sih berharap benar-benar jadi calon mertuanya Medina, tapi sepertinya Medina tidak mau.” Ujar Mami Rita dengan ekspresi sedih dibuat-buat.
“Bu-bukan begitu mami, ta-tapi... ehm...” ucap Medina terpotong.
“Hahaha... Tidak apa-apa. Mami hanya bercanda kok. Pelan-pelan saja yang penting nanti pasti jadi dengan Arjun ya?!” Ujar Mami Rita sembari mengerlingkan matanya, membuat Medina tertunduk malu.
Tak beberapa lama, Arjun pun menerima telepon dan ia langsung izin keluar meninggalkan Mami Rita dan Medina. Ia merasa akan sulit menerima panggilan di tempat yang ramai itu.
Setelah keluar ruangan, Arjun melihat layar ponselnya dan ternyata Diana yang tengah menghubunginya. Dengan dahi berkerut Arjun mulai menerima panggilan itu.
Arjun : “Iya Na, kenapa?”
Diana : “Lagi sibuk Dok?”
Arjun : “Lumayan. Saya lagi ada acara di luar.”
Diana : “Malam ini kita bisa bicara Dok? Mungkin sambil makan malam bersama?”
Arjun : “Kenapa enggak ngomong sekarang?”
Diana : “Saya mau ketemu sama Dokter, saya kangen.” Ujar Diana pelan saat menyebut kata kangen.
Arjun : “Hah?” ujar Arjun yang tidak mendengar dengan baik ucapan Diana.
Diana : “Bisa Dok?”
Arjun : “Saya enggak bisa pastikan, nanti saya kabari lagi.”
Diana : “Baiklah Dok, saya tunggu.”
Setelah Arjun memutus panggilannya, dia mulai berpikir sejenak.
“Rasa-rasanya kalau dipikir-pikir dua bulan terakhir ini Diana agak beda ke gue.” Ujarnya mengingat-ingat.
“Diana kayak lebih agresif gitu. Kadang dia suka busungin dada ke arah gue, lebih suka bisik-bisik ke telinga dari pada ngomong langsung, ehm... tatapannya agak aneh sih, kayak...” ujarnya terpotong.
“Jangan bilang Diana suka pula ke gue?” ujarnya mulai menyadari.
“Ah... Tapi pastilah dia suka ke gue, siapa sih yang enggak suka sama Arjun! Hahahaha...” ucapnya penuh percaya diri dan kembali ke dalam restoran mengabaikan pikiran-pikiran anehnya.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Terima Kasih.