
Di awali saling ledek dan canda tawa, acara makan malam itu pun berjalan menyenangkan. Arjun menatap meja makan yang penuh berbagai macam hidangan. Aroma yang menggugah selera semakin tercium. Tak henti-hentinya ia menelan air liurnya dengan kasar.
“Ini masak semua atau beli Mec?” tanya Arjun pada Mecca.
“Ya masak sendiri dong, Kak.”
“Serius? Semua ini? Sendiri?” pertanyaannya hanya dijawab anggukan oleh Mecca dengan tatapan yakin.
“Wah, hebat banget! Harusnya sih kamu enggak bakalan repot ya sama selera pemilih makanan itu.” Ujarnya sembari menunjuk Fadhil dengan bibirnya yang di majukan.
“Eits! Gue enggak pemilih makanan lagi! Asal istri cantikku yang masak. Ya kan yank?” jawabnya manja sembari memeluk istrinya di depan semua orang.
“Enggak usah lebay, sikap loe bikin sakit mata gue!” protes Arjun ketus.
“Jiwa jomblo loe meronta-ronta ya?” ledek Fadhil semakin mengeratkan pelukannya pada Mecca.
“Jijay loe!” jawabnya singkat. “Maafin sikap Kami ya Om, soalnya kalau sudah ketemu susah ngomong baiknya.” Ujar Arjun pada Pak Pradipta diikuti tawa lepas beliau.
“Jadi Aku tuh bingung, Kakak suka makanan apa dan ada alergi atau nggak, jadi Aku masak saja semua. Itu ada ikan sambal dabu-dabu, ayam bakar sambal bawang, kepiting soka goreng telur, rendang sapi, sayur kol cumi, sate sambal kacang, dan acar. Kak Arjun bebas pilih yang mana saja yang Kakak suka.” Jelasnya sembari menunjuk tiap masakan buatannya.
“Repot-repot Mec, Aku sih enggak PEMILIH MAKANAN.” Jawabnya menekan kata sembari mengejek Fadhil dengan tatapannya dan hanya ditanggapi senyuman sinis oleh Fadhil.
Begitu suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya, Arjun tak henti-hentinya memuji masakan Mecca. Ia selalu mengangkat dua jempolnya di setiap menu yang ia coba. Awalnya ia hanya mengambil sedikit di tiap menu masakan Mecca sebagai sikap sopannya menghargai Tuan rumah, namun sekarang justru ia terus menerus makan dengan kalap.
“Woi pelan-pelan, lapar atau rakus sih?” celetuk Fadhil cuek diikuti pukulan kecil dari Mecca.
“Enak Bro, parah sih ini! The Best!” jawabnya mengangkat kedua jempolnya.
"Jelaslah! istri gue!" ujarnya sombong.
“Kak Dina juga jago masak loh Kak.” Ujar Mecca sembari melirik Kakaknya yang diam sedari tadi.
“Pas dong!” jawab Arjun singkat.
“Maksudnya?” tanya Mecca bingung.
“Mamiku jago baking and pastry kalau Aku dapat istri kayak Dina yang jago masak, surga dunia namanya.” Jawabnya cengar-cengir. Namun hal itu ditanggapi Mecca, Medina, dan Pak Pradipta sedikit serius. Pak Pradipta berharap ucapan Arjun mengandung kebenaran.
“Loe bakal susah bedain mana masakan Mecca atau Dina, karena rasanya sama-sama sempurna.” Bangga Fadhil pada istri dan iparnya.
“Oh ya? Aku kira-kira bisa ada kesempatan nggak ya coba masakan Dina?” ujar Arjun sembari melirik Medina dengan senyum manis. Medina hanya sedikit meliriknya dan tersenyum kecil.
“Lain kali makan malam lagi ke sini ya Nak Arjun supaya bisa merasakan masakan Dina.” Ujar Pak Pradipta tersenyum lebar.
“Ayah...!” tegur Medina malu.
Setelah acara makan malam itu berakhir, seluruh orang berkumpul mengadakan shalat isya berjamaah. Setelah selesai, Mereka pun berkumpul dan mengobrol di ruang keluarga. Pak Pradipta banyak bertanya tentang Arjun.
“Nak Arjun Dokter spesialis Anak ya? Tapi obat-obatnya manjur juga ya buat Dina.”
“Iya Om, Saya Dokter Anak. Tapi kemarin obat yang saya beri untuk Dina dari stock pribadi Saya sendiri.”
“Oh pantas. Kalau malam tidak pernah praktek, Nak?”
“Saya tidak ambil jadwal malam Om, dari pagi sampai sore saja, itu pun Saya harus ke 3 rumah sakit.”
“Kalau orang tua Nak Arjun di sini atau beda kota?”
“Di sini Om, Saya tinggal sama Mami. Sedangkan Papi sudah almarhum lama sekali.”
“Maafkan Om ya.”
“Ah... Tidak apa-apa Om, sudah lama berlalu. Kalau Om sendiri saya dengar seorang dosen ya?”
“Ayah sudah deh wawancarai Kak Arjun, kayak lagi nyari calon menantu saja.” Ujar Mecca polos ditanggapi tatapan tajam dari Medina.
“Saya bersedia kok Om jadi menantu!” ucap Arjun spontan dengan nada tegas membuat seluruh orang terpana kemudian tertawa lepas.
“Boleh... Boleh... Boleh, kalau anak gadis Om yang satu ini ada yang melamar lega sudah Saya sebagai Ayah.” Jawab Pak Pradipta menggoda Medina yang telah menunjukkan raut wajah kemerahan karena malu, namun pernyataan Pak Pradipta ditanggapi serius oleh Arjun.
“Om mau Saya melamar besok?” tanyanya memastikan dengan raut wajah lugu.
“Hahahaha... Coba Nak Arjun tanyakan saja langsung pada Dina, Dia mau dilamar kapan.” Jawab Pak Pradipta dengan tawa bahagia.
“Kapan Din?” tanya Arjun polos pada Dina.
“Aku permisi!” jawab Dina sembari melangkah pergi.
“Hahaha... Dina enggak suka sama loe Bro! Tuh kabur langsung!” ledek Arjun.
“Lagian Kak Arjun bukannya PDKT dulu malah mau main ngelamar langsung!” protes Mecca.
“Aku kan mau mengikuti jejak kalian.” Jawabnya jujur.
“Ya sudah, Nak Arjun sering-sering main kesini ya, supaya lebih dekat.” Saran Pak Pradipta.
“Siap Om.” Jawabnya mantap mendapatkan lampu hijau dari Pak Pradipta.
“Jujur, Saya suka dengan karakter Nak Fadhil dan juga karakter Nak Arjun. Kalau Nak Arjun jadi pasangan Medina, Saya bisa tenang.”
“Terima kasih Om, sudah dikasih lampu hijau. Kayaknya saya harus pintar-pintar menarik perhatian putri Om nih.” Senyumnya merekah diikuti anggukan oleh Pak Pradipta.
Setelah bincang-bincang santai, Arjun pun pamit pulang kepada seluruh penghuni rumah kecuali Medina. Karena sejak masuk ke kamar, Medina tak kunjung keluar lagi. Setelah mengantar Arjun sampai depan pintu rumah, Pak Pradipta pun langsung masuk kembali, sedangkan Mecca dan Fadhil masih bersama Arjun di teras depan rumah.
Sebelum pergi Arjun bertukar nomor dengan Mecca dan ia pun meminta nomor telepon Medina dari Mecca.
“Jangan telepon, SMS, atau apa pun ke istri gue kalau enggak perlu. Ingat itu!” ancam Fadhil serius.
“Idih, posesif amat loe! Sorry gue enggak dengar!” jawabnya berpura-pura menggaruk telinganya.
“Oh enggak dengar? Gampang, entar tinggal gue block nomor loe dari HP Mecca, terus gue pengaruhi Medina biar enggak gubris loe!” ancamnya menyeringai.
“Kejam amat loe jadi sahabat sejati! Loe enggak kasihan sama Mami gue yang sudah pengen punya menantu?” ujarnya bersungut-sungut.
“Bisa masuk Rumah Sakit Jiwa gue kalau punya sahabat sejati kayak loe!”
“Oh iya, kan bukan sahabat! Gue kan Adik loe ya? Kita saudara Bro.” Jawabnya sembari menaik turunkan kedua alisnya.
“Kita? Loe saja kali sama para jomblo!” ujarnya terkekeh.
“Kakak pulang dulu ya Adik Ipar. Kakak sarankan sering-sering refreshing supaya kuat menghadapi orang aneh.” Ujarnya pada Mecca tanpa menolehkan pandangannya pada Fadhil.
“Sialan loe! Loe yang aneh!” celetuk Fadhil kesal. Namun keluhannya tak ditanggapi Arjun, ia terus melangkah pergi tanpa menoleh, dan hal itu membuat Fadhil semakin kepanasan.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.