AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 92. Debaran Jantungku Untukmu



Di pintu masuk perusahaan, Faiz dan Malik telah menunggu kedatangan Mecca dan Fadhil.


Dari kejauhan Mecca menatap Faiz dan Malik dengan senyum dan anggukan tanda menyapa. Mecca melihat tangan Faiz yang menggenggam sebuket bunga indah dalam gendongannya.


“Pak Faiz sweet banget ya mas, pakai mau kasih aku bunga segala.” Bisik Mecca pada Fadhil.


“Enak aja! Itu aku yang belikan yank.”


“Mas beli sendiri?”


“Nyuruh Faiz!”


“Berarti Pak Faiz yang kasih aku bunga!”


“Tapi aku yang bayar!”


“Tapi Pak Faiz yang usaha beli, usaha milihin bunga, sama usaha bawa!” ujar Mecca mendetail.


“Enggak! Itu tetap kehitung usahaku dong!”


“Iya mas iya, usaha nyuruhkan maksudnya?” lirik Mecca dengan senyum menyindir.


“Kalau enggak dilihat mereka berdua, sudah aku bawa ke hotel kamu yank!”


“Mau ngapain?”


“Maaaaauuuuuu...” Fadhil mendekatkan bibirnya pada telinga Mecca. “Ada deh!” ucapan Fadhil yang meniup-niup di telinga Mecca membuat bulu kuduknya berdiri dengan seketika. Mecca pun memiringkan kepalanya spontan hingga telinga dan bahunya mengatup.


“Selamat datang Nyonya Fadhil.” Ucap Malik menjulurkan pergelangan tangannya.


“Terima kasih.” Mecca menyambut uluran tangan Malik yang mengambang di udara. “Ini pasti Pak Malik ya? Sering dengar namanya, tapi baru ketemu sekarang, hehehe...” ujar Mecca dengan tawa kecil.


“Iya nih, sama. Saya juga sering dapat cerita aja, enggak pernah dikenalin.” Senyum lebar Malik menatap Mecca penuh keakraban.


“Selamat datang Bu Mecca.” Ucap Faiz sembari menyerahkan buket bunga pada Mecca. Mecca menerima buket itu dengan suka cita.


“Terima kasih pak, bagus banget bunganya.”


“Pilihan saya memang selalu bagus, Bu.” Jawab Faiz bangga menatap Mecca dan Fadhil bergantian. Fadhil memberikan kode dengan bibir komat-kamit tanpa suara, membuat Faiz seketika terdiam dan mengalihkan tatapannya ke sembarang arah.


“Ya sudah, ayo kita masuk.” Ajak Fadhil menggenggam tangan Mecca untuk turut melangkah.


“Tunggu, Mas!” Mecca menghentikan langkah, ucapannya membuat Fadhil, Faiz, dan Malik juga berhenti lalu menatapnya.


“Kenapa yank?”


“Aku mau foto berdua sama mas di depan sini dulu sebelum masuk.”


“Ya ampun, kirain apaan. Ya sudah, yuk!”


Mecca memberikan ponselnya pada Faiz, meminta Faiz mengabadikan momen keberhasilan suaminya dalam mengembangkan perusahaan dalam bentuk gedung baru itu. Jepretan foto kenangan itu akan menjadi salah satu bukti nyata pencapaian Fadhil dalam berusaha menggapai citanya.


“Haduh, lihat ke’uwuan begini jiwa dudaku jadi bergejolak, ckckck.” Ujar Malik menggeleng-gelengkan kepala menatap Mecca yang bersandar pada dada bidang Fadhil.



“Mending Pak Malik masuk aja ke dalam. Jangan sampai nanti pingsan di sini.” Jawab Faiz tanpa menoleh pada Malik.


“Sialan lu, Iz!” tatap tajam Malik pada Faiz yang masih mengabaikannya.


“Siap-siap ya. Saya ambil fotonya cepat nih, takut ada yang iri akut soalnya. 3... 2... 1... Oke!” hitung mundur Faiz saat memotret, tak memperdulikan Malik yang terus menerus mencibir di sebelahnya.


Mecca dan Fadhil memasuki gedung 20 lantai, dimana perusahaan baru Fadhil akan beroperasi. Gedung baru untuk perusahaan Fadhil ini adalah salah satu bukti nyata hasil dari kinerja Fadhil dan tim selama beberapa bulan terakhir.


Layaknya bangunan baru, aroma cat serta furnitur tambahan yang berada di sana masih sangat tajam menyeruak indra penciuman. Mecca menatap setiap sudut ruangan perusahaan Fadhil dengan antusias dan penuh ketelitian. Mengedarkan tatapannya pada tiap lorong yang masih membutuhkan penataan.


Para karyawan dan karyawati mulai membenahi beberapa posisi meja kerja serta menata berkas-berkas pada tempat yang telah disediakan. Mecca jelas melihat wajah bahagia dari semua orang yang berada di sana.


Malik serta Faiz mengikut langkah Mecca dan Fadhil yang masih mengelilingi tiap lantai dengan penuh semangat itu.


“Selamat ya mas, selamat juga buat Pak Faiz, Pak Malik, dan seluruh tim. Kalian sudah punya gedung perusahaan baru, pencapaian kerja terus meningkat, dan mitra kerja juga semakin bertambah. Aku bangga banget, terutama sama Mas Fadhil. Ternyata enggak sia-sia pengorbanan waktu Mas Fadhil sering-sering ninggalin aku dan calon bayi kita kerja beberapa bulan ini. Ini tuh pencapaian luar biasa loh, hasilnya cepat banget terlihat.” Ujar Mecca panjang lebar, menggenggam tangan Fadhil, meremasnya dengan hangat, dan menatap penuh kebanggaan.


“Terima kasih banyak ya sayang, ini juga berkat doa dan dukunganmu.” Fadhil mengecup kening Mecca dengan lembut.


“Thanks ucapannya Mec, jujur aku juga masih enggak percaya kita bisa punya gedung baru. Bayangin aja baru berapa bulan coba?! Dan dari bangunan 3 lantai pindah ke 20 lantai, alhamdulillah. Semoga setahun kita bisa punya 70 lantai ya, Dhil, Iz.” Ucapan Malik mendapat jawaban ‘Aamiin’ dari Fadhil, Mecca, Faiz, dan seluruh karyawan yang mendengar.


“Enggak salah pilih saya ikut kerja lagi sama Pak Fadhil di sini, walau bebannya semakin berat, tapi hati lebih adem ayem rasanya.” Ungkap Faiz meletakkan tangan di dadanya.


“Sa ae lu, Iz!” jawab Fadhil cekikikan dan diikuti senyum dari Mecca dan Malik.


“Mas, tapi ini kok masih banyak lantai yang kosong sih? Memang mau dibuat apa?” tanya Mecca penasaran.


“Gedung ini mau dijadikan 2 sisi yank, jadi memang dibagi gitu deh. Satunya mau dijadikan tempat untuk menjual produk buatan kita sendiri. Ini masih in progress, nanti kalau semua sudah jalan baru aku ajak kamu buat lihat-lihat lagi ya.” Jawab Fadhil menjelaskan pada Mecca.


Fadhil dengan antusias menceritakan segala macam impian dan target-target baru yang ingin ia capai. Sesekali Fadhil menggunakan tangannya yang terus bergerak ke sana dan kemari seolah memberikan gambaran di udara.


Mendeskripsikan satu persatu mimpi dalam angannya menjadi sebuah kenyataan. Mecca hanya mengangguk-angguk mafhum atas penjelasan Fadhil. Kilau binar mata Fadhil dalam berorientasi sungguh dapat menghipnotis para pendengarnya.


Mata Mecca, Faiz, serta Malik tak kalah berbinar saat mendengar cara Fadhil menyampaikan keinginan dan target-target yang ingin ia capai. Ada bulir-bulir kebanggaan yang ikut membuncah saat itu juga.


“Mas, aku mau lihat ruangan Mas Fadhil dong.”


“Ayo! Ruangan aku ada dilantai paling atas.”


“Terus ruangan Pak Malik sama Pak Faiz di mana?”


“Faiz sama aku di atas. Tadinya aku mau buat ruangan Malik dilantai atas juga, tapi Malik yang enggak mau.” Jawab Fadhil menatap Mecca dan Malik bergantian.


“Loh kenapa?” tanya Mecca bingung, mengubah pandangan matanya dari Fadhil ke Malik.


“Ruanganku ada di lantai 3. Satu lantai sama bagian teknisi, biar gampang Mec kalau ngecek-ngecek. Yah, maklumlah, aku kan duduk di kursi roda nih, pergerakannya agak susah kalau harus bolak-balik.” Cengir Malik membuat wajah Mecca yang sendu mendengar penjelasannya menjadi senyuman tipis.


“Maaf ya Pak Malik.”


“Eh... Santai aja lagi Mec, aku enggak apa-apa kok. Sudah lama begini, jadi enggak ada perasaan bagaimana-bagaimana lagi kalau ngobrolin soal kondisi kaki.” Jawab Malik dengan senyum close up.


“Pak Malik enggak jalanin terapi aja?”


“Rencananya begitu. Minggu depan mau mulai perawatan. Aku sih sudah konsultasi, kata dokter kakiku masih ada harapan buat jalan lagi kok.”


“Serius?!” ucap Malik, Faiz, dan Mecca berbarengan sambil membelalakkan mata namun sudut bibir ketiganya mengembang bahagia.


“Ya elah, kayak paduan suara kalian nih! Bisa barengan gitu ya? Hahahaha...”


“Ish... Ditanyain juga, jawablah!” ujar Fadhil tidak sabar.


“Eits... Santai, Bro! He’em serius kok.”


“Lah, terus kenapa enggak dari dulu-dulu aja perawatannya sih Pak Malik?” tanya Faiz dengan polos.


“Ya kan dulu keuanganku biasa-biasa aja, Iz. Yang begituankan mahal. Aku enggak mau harus minjam uang atau merepotkan orang lain. Nah kalau sekarang kan beda situasi, keuanganku sudah meningkat berkali-kali lipat berkat Fadhil, thanks ya Dhil.” Ucap Malik menjabat erat tangan Fadhil yang dengan cepat Fadhil terima genggamannya. “By the way sorry ya Mec, aku cuma bisa sampai lantai 3 saja nemaninnya.”


“Terima kasih kembali ya, sering-sering main ke sini ya.”


“Pasti.” Jawab Mecca singkat dengan senyum hangatnya.


Setelah sampai pada lantai teratas gedung. Faiz membantu membuka pintu ruangan Fadhil yang masih tertutup. Mecca melihat dan masuk terlebih dahulu. Tanpa sadar Mecca mengangakan mulutnya tak percaya.


“Woah.” Mecca menutup senyum lebarnya dengan kedua tangan.



“Bagus enggak yank?”


“Bagus banget, Mas!”


“Ini ruangan mas jadi satu sama Pak Faiz ya?”



“Faiz ada sendiri ruangannya, itu sengaja dibuat dua meja kerja biar kalau Faiz pas lagi di ruanganku dia bisa pakai meja yang itu.”


“Nah kalau yang dekat jendela ini, baru mejaku.” Fadhil menuntun tangan Mecca mendekati meja kerjanya.



“Elegan banget mas pemilihan warna sama furniturnya.”


“Iya dong! Coba sini deh yank, pintu ini bisa dibuka loh. Pemandangan di bawah bagus banget. Jadi kalau aku suntuk, aku bisa keluar sebentar hirup udara segar.”


“Bagus mas pemandangannya, tapi jangan kelamaan di sini ya.”


“Kenapa?”


“Anginnya terlalu kencang.”


“Enak lagi yank, bisa hemat AC. Tinggal buka pintu balkon dingin deh.”


“Dingin sih dingin bos, tapi kalau berkas-berkas beterbangan namanya nyusahin saya dong.” Sela Faiz dengan mulut dimajukan.


“Lah, kamu aku gaji kan memang buat disusahin.”


“He’em.” Faiz menjawab ucapan Fadhil dengan berdeham keras, membuat Fadhil dan Mecca tertawa lepas melihat tingkah lakunya.


***


Medina telah mengatakan pada Pak Pradipta bahwa Mami Rita dan Arjun akan mengunjungi rumah. Pak Pradipta dengan senang hati membuka lebar pintu rumahnya atas niat baik Arjun pada Medina.


“Syukurlah, Arjun menunjukkan niat baiknya padamu.”


“Arjun selalu berniat baik yah, Dina saja yang sulit menerima.”


“Lupakan masa lalu, kamu berhak bahagia. Arjun lebih kurang sudah tahu tentang kamu kan?! Tapi dia tidak pergi, berarti dia benar-benar menginginkanmu, Nak.”


“Iya yah sepertinya begitu.”


“Ya sudah kamu bersiap-siaplah. Oh iya, jangan lupa telepon adikmu untuk datang ke rumah juga.”


“Sudah yah, tapi hari ini Fadhil mengadakan acara makan bersama tim perusahaannya di restoran. Mungkin mereka terlambat datangnya.”


“Ya sudah enggak apa-apa. Ayah masuk dulu ke kamar.” Ujar Pak Pradipta mendapat anggukan dari Medina.


Setelah kepergian Pak Pradipta, Medina pun ikut melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sesampainya di sana ponselnya pun berbunyi nyaring dan dengan segera Medina berlari dan menjawab panggilan video itu.


Medina : “Assalamualaikum, Be.”


Arjun : “Wa’alaikumsalam calon istriku.”


Medina : “Ih apaan sih?!” jawab Medina malu-malu.


Arjun : “Kamu kalau malu-malu gitu tambah bikin gemas deh, jadi pengen unyel-unyel pipi kamu, Bi. Tapi ngomong-ngomong kamu kok belum siap-siap sih? Aku mau ke sana loh ini!”


Medina : “Hah, serius? Sekarang?!”


Arjun : “Maksudnya sebentar lagi, hehehe...”


Medina : “ Sebentar laginya kapan?”


Arjun : “Setengah jam lagi dari rumah.”


Medina : “Ya sudah tutup dulu, aku mau cuci muka terus ganti baju sama dandan sedikit.”


Arjun : “Habis kamu cuci muka baru boleh tutup. Aku juga masih mau hairdryer rambut nih.”


Medina : “Bener ya, kalau aku sudah selesai cuci muka VC nya boleh aku matiin.


Arjun : “Iya, Bi.”



Medina dengan buru-buru menyelesaikan ritual pembersihan wajahnya. Waktu yang ia perkirakan singkat ternyata cukup memakan waktu baginya.


Medina mengambil ponselnya yang masih tersambung dengan Arjun. Jari-jemari Medina ingin mematikan panggilan itu, namun sosok Arjun yang terlihat dari pantulan cermin dalam kemeja putihnya, membuat Medina tertegun dan terhipnotis sesaat.



Arjun yang menyadari tatapan Medina padanya, mengirimkan wink genitnya pada Medina.


Medina : “Kamu ganteng Be, bye.” Menerima kedipan mata dari Arjun membuat Medina kelabakan dan dengan spontan ia mematikan panggilan videonya tersebut. Ia pun dengan segera meletakkan ponsel dan berlari ke lemari pakaiannya.


Medina menyambar pakaian yang telah ia siapkan sebelumnya, menggunakan dengan segera, dan mulai duduk di depan meja rias.


Medina mulai membubuhkan segala macam kosmetik yang ia miliki, menggambar dan mewarnai wajahnya dengan lihai, memakai hair pin sebagai pemanis pada rambut yang ia buat gelombang.


Berkali-kali Medina menatap pantulan dirinya di cermin, mencari-cari kekurangan pada dirinya. Namun dengan percaya diri, Medina mengangguk dan merasa puas akan hasil karyanya pada wajah ayu di hadapannya itu.



“Mami Rita bakal ngomong apa ya ke ayah? Aku jadi deg-degan.” Medina meletakkan telapak tangannya di dada, merasakan debaran jantungnya yang berdetak dengan kencang, hingga bunyi berisiknya seolah terdengar memenuhi kamarnya.


“Apa Mami Rita bener bakal ngelamar aku untuk Arjun malam ini?” ujar Medina dengan dada kembang kempis berirama.


“Ah aku enggak nyangka, akhirnya aku sama Arjun sebentar lagi bisa sama-sama terus.” Senyum Medina mengembang penuh kebahagiaan.


“Sudah lama jantungku enggak berdebar seperti ini lagi. Dan kali ini debaran jantungku untukmu Arjun.”


“Sabar ya jantung kamu jangan terlalu bersemangat, tenang dulu ya...” ucap Medina menepuk-nepuk dadanya seperti tepukan ibu menidurkan bayinya, berusaha memberikan ketenangan pada rasa antusiasnya tersebut.


Hai Readers, maaf ya kalau up nya tidak menentu. Harap readers memaklumi, karena tangan Author masih dibelit, jadi pergerakannya agak ribet. Sebenarnya harus istirahat full, tapi Author kepikiran readers ayangTayang semua. 😌 Apalagi kalau banyak yang komentar, banyak yang kasih like, sama banyak yang ngevote 🤭 pasti semakin kepikiran.