
Hari demi hari berlalu, tak terasa sudah 1 minggu tepat Mecca dan Fadhil menginap di rumah Pak Pradipta. Tadi pagi saat bersantap sarapan, Fadhil mengatakan kepada Pak Pradipta dan Medina mengenai keputusannya untuk mengajak Mecca kembali ke rumah barunya.
Ia akan langsung mengajak Mecca pulang setelah makan bersama nanti malam, hal itu pun telah di setujui oleh semua pihak keluarga.
Walau dengan berat hati, Pak Pradipta harus melepas Mecca putri bungsunya untuk menjalani bahtera rumah tangganya secara mandiri.
Siang ini Mecca habiskan untuk mengepak beberapa barang dan pakaiannya yang ingin ia bawa ke rumah barunya. Dengan sedikit kesedihan Medina membantu Mecca memasukkan barang dan pakaian Adiknya itu pada koper-koper kosong yang telah terbuka.
Setelah beberapa saat, kegiatan mengepak itu pun selesai. Kedua saudari itu memutuskan untuk melanjutkan obrolannya di kamar Medina.
“Rasanya berat Dik, kalau mengingat Kamu malam ini pergi dari rumah ini.” Ujar Medina sendu.
“Aku juga sedih Kak. Ternyata begini ya rasanya menikah, harus ikut suami ke mana pun.” Jawabnya dengan suara parau.
“Kamu harus sering-sering kesini ya! Janji?!”
“Janji! Tapi rumah Kami cuma beda 2 block dari sini Kak, Kakak dan Ayah harus sering-sering juga main ke rumahku ya.” Ucapnya dengan suara mulai bergetar.
“Walau sedekat apa pun kalau sudah beda rumah pasti akan beda rasanya. Apalagi kita sudah tinggal bersama sejak kecil. Tapi Kakak harus ikhlas Dik, sekarang Kamu tanggung jawab Fadhil. Jaga hubungan pernikahanmu dengan baik ya, kalian harus saling menyayangi, menghormati, membantu, dan percaya.” Nasehatnya dengan tetesan air mata.
“Iya Kak, Aku akan berusaha! Yah Kakak, padahal Aku sudah tahan-tahan supaya enggak nangis, tapi Kakak malah...” ucapnya terhenti. Seketika air matanya pun ikut terjatuh, Mecca dengan segera memeluk tubuh Medina erat-erat.
“Kakak sayang Kamu, Dik.”
“Aku juga sayang banget sama Kakak dan Ayah.”
Cukup lama keduanya saling berpelukan dan menangis menumpahkan segala perasaannya masing-masing. Setelah puas, mereka pun saling menghapus air mata secara bergantian.
“Kakak rencana ke depannya bagaimana?”
“Semalam Ayah minta bantuan Kakak mengawasi percetakan, kata Ayah hanya untuk mengisi waktu luang sampai Kakak menemukan pekerjaan, dan Kakak sudah setuju.”
“Bagus Kak, dari pada di rumah nanti Kakak malah gampang bosan.”
“Iya Dik, Kamu sendiri bagaimana?”
“Ya Aku lanjut magang di kantor Mas Fadhil sambil buat skripsi.”
“Semangat ya! Kamu harus lulus, jangan sampai keteteran.”
“Tenang saja Kak, Aku yakin setelah masa magangku selesai skripsiku juga selesai. Mas Fadhil banyak banget bantu Aku kasih data, terus selama bimbingan Aku belum pernah ada revisi.”
“Hebat banget sih Dini ini.” Puji Medina pada Mecca.
“Ah... Kenapa panggil Dini. Aku suka sebal kalau dipanggil itu, jadi ingat sama yang pernah bilang Kita si kembar Dina Dini yang enggak ada miripnya.” Keluhnya kesal.
“Hahaha... Kamu masih ingat saja Dik.”
“Ingatlah! Waktu Kita kecil, Aku paling kesal saat orang-orang suka banding-bandingin Kita, terus Aku sering dibilang tidak mirip Ayah dan Kakak. Karena Kakak benar-benar mirip Ayah versi cewek. Mereka enggak tahu saja, kalau ibu masih hidup wajahku ini seperti kembarannya.”
“Iya benar Dik, Allah memang adil! Yang satu mirip Ayah, yang satu lagi mirip Ibu. Kamu benar-benar cantik seperti Ibu. Jujur ya Dik, saat Kakak kangen Ibu, Kakak akan lihat Kamu lama-lama. Tapi sekarang Adikku ini malah mau pergi.” Ujarnya dengan wajah cemberut.
“Kakak... Aku nangis lagi nih.”
“Eh, jangan-jangan! Maaf, hehehe... foto yuk Dik, siapa tahu sekarang Kita sedikit mirip.” Ajaknya menggoda.
“Ih apaan! Pasti miriplah, tapi dari sedotan bengkok, hahahaha...” jawabnya diiringi tawa keduanya berbarengan.
“Sebentar Kakak ambil handphone dulu.”
“Pakai handphoneku saja Kak. Baru nih dibeliin Mas Fadhil. Biar mata sembab habis nangis pasti enggak kelihatan deh.” Jawabnya sembari menyodorkan ponsel barunya ke Medina.
“Wah... Keren banget! Keluaran terbaru nih Dik.” Kagumnya beberapa saat. “Ya sudah siap-siap ya, satu... dua... tiga...”
“Ih kok Kamu enggak senyum sih, Dik?”
“Aku mau menampilkan kecantikan sesungguhnya, enggak senyum saja cantik apalagi senyum.”
“Dasar Narsis!” celetuk Medina gemas.
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat, setelah acara makan malam selesai, Fadhil dan Mecca berpamitan pada Pak Pradipta dan Medina. Tangis dan haru mengantar mereka menuju kehidupan rumah tangga barunya. Setelah Pak Pradipta dan Medina mengucapkan doa dan beberapa nasehat untuk Mecca dan Fadhil, keduanya pun pamit pulang.
Sebelum menuju rumah barunya, Mecca dan Fadhil memutuskan untuk berbelanja keperluan sehari-hari terlebih dahulu ke Mall terdekat.
“Ih Mas kok main HP? Kan lagi nyetir!” tegurnya langsung saat ia mendengar suara kamera dari ponsel Fadhil.
“Maaf yank, habis Kamu cantik banget! Aku enggak tahan lihatnya, pengen Aku abadikan deh.” Jawabnya memberi alasan.
“Ya sudah simpan lagi HPnya.” Tegur Mecca sembari menutup kembali kaca jendela mobil.
.
.
.
***
Medina telah kembali ke kamarnya setelah kepergian Mecca dan Fadhil. Ia membawa seluruh barang-barangnya dari kamar tamu kembali ke kamar lamanya.
Saat membersihkan dan menata barang-barang dan pakaiannya ke tempat semula, ia teringat pada hadiah yang dikirimkan Arjun ke rumah Pak Pradipta melalui kurir.
Setelah acara makan malam bersama Arjun, pria itu mulai mengiriminya coklat yang tampaknya sangat mahal hingga membuat Medina sayang untuk mencobanya.
Setiap malam Arjun mengiriminya sebuah pesan singkat, hanya untuk menanyakan kabarnya atau memberikan perhatian kecil. Namun, Medina tak pernah membalasnya 1 kali pun.
Sore ini pun ia kembali menerima sebuah buket bunga yang indah. Tak seperti coklat yang hanya diselipkan catatan singkat dari Arjun yang berharap Medina menyukai dan menikmati coklat itu. Di buket bunga itu ada secarik surat yang menempel.
Dengan berhati-hati Medina pun mulai membuka surat tersebut dan membacanya dalam hati.
Bagaimana buket bunga ini?
Apa Kamu menyukainya?
Walau bukan bunga sakura,
Tapi bunga-bunga ini tak kalah cantikkan?
Apa Kamu tahu arti bunga-bunga ini?
Seharian Aku mencari tahu arti bunga berdasarkan jenis dan warnanya.
Semua untuk menunjukkan niatku padamu.
Apa Kamu tahu kalau bunga mawar putih melambangkan kesetiaan, harapan, dan cinta yang tulus?
Apa Kamu tahu kalau bunga mawar light pink identik dengan cinta dan kelembutan?
Apa Kamu tahu kalau bunga baby breath melambangkan cinta abadi?
Seperti lambang bunga-bunga ini, niatku semoga tersampaikan padamu.
Medina membaca surat tersebut dengan senyum yang melembut dan kedua mata yang berkaca-kaca. Hatinya dengan mudah tersentuh, entah apa karena kata-kata Arjun dalam secarik surat itu memang sangat indah sehingga mampu menarik hatinya, atau kepergian Adiknya yang memberikan pengaruh terhadapnya.
Ia pun dengan segera mengambil ponselnya dan memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat pada Arjun untuk pertama kalinya.
“Terima kasih coklat dan bunganya.” Ucapnya melalui pesan singkat pada Arjun. Kemudian, ia pun mulai mencoba coklat yang belum tersentuh itu.
“Manis.” Ujarnya lirih sembari menggigit coklat yang lumer tersebut.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.