
Sepanjang perjalanan Medina duduk dengan posisi yang tidak nyaman. Ia terus mempertahankan posisi tangannya yang bersedekap menutupi bagian dadanya.
Arjun sesekali melirik Medina dengan waswas. Arjun mengetahui dengan pasti bahwa Medina sedang menyembunyikan dadanya yang tanpa pengaman itu dari jiplakan kaos putih tipis yang digunakannya.
Tiba-tiba Arjun terbayang kejadian yang baru mereka lakukan tadi, wajahnya kembali memanas dan debaran jantungnya semakin meningkat. Arjun menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menyadarkan dirinya dari godaan hawa nafsu yang menghampirinya.
“Kamu kenapa Be kok geleng-geleng gitu? Pusing?” tanya Medina dengan khawatir.
“O-oh enggak kok! Ehm... Pakai ini Bi biar enggak dingin. Kasihan kamu dari tadi bersedekap begitu. Padahal aku sudah atur suhunya ke warm loh.” Ujar Arjun pura-pura tidak tahu sembari mengambil cardigan hitam miliknya di sandaran kursi pengemudi.
“Oh... Iya Be, terima kasih!” Medina mengambil cardigan hitam dari tangan Arjun.
Posisi Medina yang membusungkan dada saat menggunakan cardigan mempertontonkan jiplakan kedua pucuk di dadanya.
Arjun yang melihat tonjolan itu dari balik kaos putih tipis tersebut, membuatnya menelan ludah secara kasar dengan tangan yang bergetar pada setir mobil.
“Jangan mikir aneh-aneh Jun, kamu bukan laki-laki mesum!” gumam pelan Arjun.
“Kenapa, Be?” tanya Medina yang mendengar ceracau samar Arjun.
“Enggak apa-apa kok, hehe...”
Perjalanan mereka lalui dengan saling mengobrol santai dan bercanda. Tanpa terasa mereka sampai ke rumah Medina tepat pukul 21.00 WIB.
Medina dan Arjun turun dari mobil untuk saling berpamitan. Namun tiba-tiba Medina kembali membuka pintu mobil dan mengambil bungkusan plastik hitam besar.
“Loh kok pakaian kotornya diambil, Bi? Biarin aja nanti Mbak di rumah yang nyuciin.” Ujar Arjun ikut mengangkat bungkusan hitam tersebut.
“Ja-jangan biar aku sendiri aja yang cuci!” sentak Medina tiba-tiba.
“Ya ampun heboh banget Bi ngomongnya bikin kaget aja!” jawab Arjun terkejut.
“Maaf, refleks.”
“Ya sudah kalau kamu maunya begitu daripada aku kena semprot nanti.”
“Ih... Enggak kok!” cemberut Medina malu.
“Aku pamit sama ayah dulu deh.”
“Iya, yuk!”
Setelah acara berpamitan dan lambai tangan usai, Arjun dengan segera menancapkan gas mobilnya keluar pagar dan mulai perjalanan pulang. Medina mengantar kepergian Arjun sampai mobil Arjun menghilang dari pandangan matanya.
“Fiuh... Untung dia enggak curiga. Bisa malu aku kalau sampai bungkusan ini ketinggalan terus dia lihat bra basah aku di dalam kantong ini.” Geleng-geleng Medina membayangkan.
Sesampainya di rumah Arjun menyapa Mami Rita dan mengecup keningnya. Mereka mengobrol sejenak lalu masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat.
Arjun merebahkan dirinya di ranjang memandang langit-langit kamar yang seolah menampakkan wajah Medina yang tersipu malu. Ia mengangkat tangannya dan melihatnya dengan lekat mengingat-ingat perbuatannya.
“Dasar tangan mesum!” pukul Arjun pada telapak tangan kanannya.
“Dasar mata nakal!” Arjun menyentil-nyentil kedua matanya.
“Dina... Dina... Coba kalau kamu mau terima ajakan nikahku pasti kejadian tadi bisa diterusin. Mana suasananya pas enak pula. Halalin abang dong dek!”
“Pppffffttt... Memangnya gue haram sampai minta dihalalin sama Dina? Minta dihalalin sama MUI sono! Hahaha...” tawa Arjun terpingkal-pingkal.
***
Pagi ini Mecca dan Fadhil sudah sama-sama rapi. Mereka sarapan bersama dengan Faiz di meja makan.
“Pak Faiz sabar banget ya sama Mas Fadhil. Tadi aja nungguin Mas Fadhil lama banget sampai kedengaran perutnya lagi keroncongan.” Ujar Mecca menyindir suaminya yang suka telat bangun pagi akhir-akhir ini.
“Kemarin si bos kan minta di jemput jam 6 pagi, pokonya saya sudah harus di sini tidak boleh telat, sampai-sampai belum sempat sarapan. Eh... Yang dijemput malah masih kelonan sama guling.” Jawab Faiz terus terang.
“Bukan mauku telat Iz, semalam aku disuruh lembur nge-enakin si nyonya sampai lemas.”
“Uhuk... Uhuk... Uhuk...” Faiz terbatuk-batuk mendengar jawaban Fadhil tanpa malu itu.
“Maaaaaas! Enggak usah ngaco deh!” cubit Mecca dengan membelalakkan matanya.
“Hehehe... Mas Fadhil bercanda kok pak!” elak Mecca gugup.
“I-iya, hahaha...” tawa Faiz canggung.
“E-eh iya mas, Pak Mali hari ini izin tidak masuk kerja. Katanya semalam ibunya opname.” Ujar Mecca mengalihkan suasana.
“Hah? Sakit apa yank?”
“Aku belum jelas juga mas. Soalnya Pak Mali sebentar banget teleponnya, seperti ada yang lagi diurus.”
“Di rumah sakit mana?”
“Tadi aku sudah kirim histori chatting sama Pak Mali ke HP mas. Di situ ada alamat dan ruang kamar inap ibunya.”
“Oke yank, nanti aku sempatkan ke rumah sakit untuk jenguk.”
“Aku enggak perlu ikut mas?”
“Enggak usah nanti aku salamkan saja.”
“Oke deh!”
“Ya sudah nanti bareng aku sama Faiz aja ke restorannya.”
“Enggak usah mas, tadi aku sudah telepon Kak Dina. Aku minta kakak yang nyetir mobil.”
“Hati-hati ya.”
“Iya sayangku.”
Fadhil mengecup pipi Mecca sekilas lalu berpamitan dan pergi ke kantor bersama Faiz.
Sesampainya di restoran, Mecca langsung menuju dapur, sedangkan Medina ke ruang persediaan barang dan bahan. Mereka melakukan pembagian pengecekan bersama.
Setelah Mecca selesai melakukan pengecekan di dapur, Mecca berjalan-jalan ke seluruh ruangan restoran dari lantai atas hingga ke bawah lagi. Mecca mengecek kebersihan restoran satu persatu.
“Mbak Lili sama Mbak Mili bisa bantu bersihkan mushola? Di sana sepertinya belum di pel ya?!”
“Baik Bu Mecca.” Jawab kedua karyawan serempak.
Setelah seluruh persiapan dan briefing rutin setiap hari usai, Mecca pun mulai mengubah tanda close di pintu masuk menjadi open.
Disela-sela kaca pintu restoran Mecca melihat sosok wanita yang dikenalnya menuju restoran miliknya.
“Itu kan Karina, ngapain dia kesini? Semoga enggak bikin ribut!” gumam Mecca pelan.
Mecca pun keluar pintu restoran untuk menemui Karina di depan.
“Oh... Ternyata benar ya kamu yang punya restoran ini.” Ucap Karina dalam perjalanannya mendekati Mecca.
“Enggak! Aku kesini mau cari Fadhil!”
“Mas Fadhil enggak ada di sini!” jawab Mecca jujur.
“Bohong! Kamu jangan sembunyiin Fadhil dari aku, dia itu tunanganku!” Mecca mengerutkan dahi mendengar ucapan Karina yang tak masuk akal baginya.
“Tunangan?”
“Iya tunangan! Kami akan menikah sebentar lagi.”
“Kamu hilang ingatan atau mengalami kerusakan otak sih? Mas Fadhil sudah menikah denganku!”
“Kamu jangan bikin aku marah ya! Kamu itu cuma karyawan magang yang dikasihani sama Fadhil.” Cerocos Karina tidak jelas.
Mecca mendengarkan setiap ucapan Karina dengan bingung. Mecca merasa aneh dengan apa yang dituturkan Karina. Wanita itu saat berbicara seperti tercampur antara sadar dan tidak. Kadang ucapannya kembali ke masa lalu terus ke masa kini. Seperti seseorang dengan ingatan dan kepribadian ganda.
“Aku ke kantor Fadhil beberapa hari ini, tapi mereka bilang Fadhil berhenti kerja. Ini aneh bukan? Pasti kamu yang mempengaruhi Fadhil untuk menjauhiku dan membatalkan pernikahannya denganku kan?” ujar Karina penuh emosi.
“Kamu kenapa? Kamu baik-baik aja kan? Aku bingung waktu bicara sama kamu, yang kamu bahas bercampur aduk tidak jelas!”
“Pokoknya mana Fadhil! Kembalikan dia!”
“Buat apa aku harus menyerahkan suamiku pada wanita lain?”
“Suami?”
“Iya suami, kamu sendiri datang kan ke acara pernikahan kami waktu itu dengan Kak Egy.” Jelas Mecca pada Karina yang tampak shock. Seperti tidak mengingat pernikahannya dengan Fadhil waktu itu.
Karina terdiam sesaat, raut wajahnya tampak berubah-ubah. Ia melihat perut Mecca yang membuncit, tiba-tiba emosinya kembali membara.
“Itu anak siapa?” tanya Karina menunjuk perut Mecca.
“Tentu saja anakku dan Mas Fadhil.”
“Enggak... Kamu bohong lagi ke aku!”
“Buat apa aku bohong ke kamu?”
“Dasar kamu wanita ja**ng! Berani-beraninya kamu jebak Fadhil untuk menghamilimu! Buang anak itu! Buang!” teriak Karina kuat.
Karina seakan kerasukan, dia menarik rambut Mecca dengan kuat. Menjambaknya ke sana dan kemari, Karina juga mendorong Mecca ke dinding dengan kuat. Lalu dengan mata gelap Karina ingin menendang perut Mecca, namun seseorang menahan tubuh Karina dari belakang, orang itu adalah Egy.
Semua orang yang mendengar kegaduhan di luar restoran keluar serempak. Medina dan para karyawan menopang tubuh Mecca yang kesakitan.
“Kamu enggak apa-apa dik?” tanya Medina khawatir.
“Aaww... Eh... Eng-enggak apa-apa kak, cuma perut aku agak kram sedikit.”
“Kita ke dokter ya.”
“Enggak usah, enggak apa-apa.”
Tanpa menunggu perintah, Medina menelepon Fadhil segera. Medina meminta karyawannya mengangkat tubuh Mecca ke tempat tidur di ruang privasinya.
“Apa-apaan ini? Kenapa dia nyerang Mecca?” bentak Medina penuh amarah.
Egy masih konsentrasi pada perlawanan Karina dari kunciannya.
“Tolong pegangi dia dulu, baru kamu bisa lanjut marah-marahnya.” Pinta Egy pada Medina.
Medina meminta dua karyawan laki-laki memegangi Karina dengan kuat. Medina sendiri merasa tidak sudi memegangi orang yang sudah menyakiti adiknya.
Egy dengan cepat mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam tasnya, kemudian menyuntikkannya di kulit lengan Karina. Tanpa menunggu lama Karina pun mulai tenang dan tertidur. Lalu Egy mulai menggendong Karina dan meletakkannya di bangku mobil Karina yang terparkir.
Egy memanggil seorang sopir dari dalam mobilnya untuk mendekat. Lalu ia memberikan perintah panjang lebar dengan serius. Kemudian sopir tersebut masuk ke dalam mobil Karina dan melaju pergi.
Egy berbalik menuju restoran, dari kejauhan Egy melihat Medina yang menatapnya dengan sorot mata permusuhan. Egy menyadari kekesalan Medina, ia pun meminta menjelaskan semua di dalam restoran sembari melihat keadaan Mecca.
Hampir 30 menit berlalu, Fadhil akhirnya sampai ke restoran. Dia berlari cepat menuju ruang privasi Mecca. Saat membuka pintu ia melihat sosok Egy yang duduk di meja kerja dengan Medina di hadapannya. Dengan marah Fadhil mencengkeram baju Egy dan melayangkan pukulan ke wajahnya.
“Aaakkkhh... Fadhil stop!” teriak Medina melihat kegaduhan yang ditimbulkan Fadhil.
Fadhil seakan tak mau mendengarkan Medina yang mencegahnya, ia terus melayangkan pukulannya pada Egy bertubi-tubi tanpa menerima balasan.
“Mas Fadhil, STOP!” teriak Mecca dari ruangan lain. Fadhil pun menghentikan pukulannya seketika.
“Kalau istri dan calon anakku kenapa-kenapa aku masukkan kamu dan adikmu itu ke penjara!” ancam Fadhil sembari melepas cengkeramannya dan berjalan cepat menuju ke ruangan tempat Mecca berada.
“Hiks... Hiks... Hiks...” tangis Mecca tersedu-sedu.
“Jangan nangis sayang, aku di sini. Kamu enggak apa-apa kan?” tanya Fadhil lembut.
“Mas jangan pukul Kak Egy! Kak Egy yang tolong aku tadi. Kalau Kak Egy enggak cepat datang tadi, aku pasti... Anak kita pasti... Pasti... Huhuhu...” Mecca tak sanggup meneruskan ucapannya.
“Ssstt... Ssstt... Ssstt... Iya sayang iya, maafkan mas ya.” Jawab Fadhil menenangkan Mecca dengan memeluk lalu membelai perut serta lengan istrinya.
Setelah menenangkan Mecca, Fadhil memaksa untuk membawa Mecca ke rumah sakit untuk melakukan pengecekan, ia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Mecca serta calon anaknya. Karena sedari tadi Mecca mengadu bahwa perutnya merasakan kram.
Fadhil, Mecca, Medina dan Egy bersama-sama ke rumah sakit. Fadhil sempat melarang Egy untuk ikut, namun Egy terus memaksa. Mecca juga menginginkan Egy memperoleh perawatan atas luka-luka di wajahnya akibat perbuatan suaminya.
Setelah sampai ke rumah sakit, Egy langsung menerima perawatan, sedangkan Mecca masih berada di ruangan konsultasi dr. Sarah Amalia, SPOG. Dokter yang biasa Mecca dan Fadhil kunjungi untuk memeriksakan kandungannya.
Dari hasil pemeriksaan, Mecca dan kandungannya dalam kondisi baik-baik saja. Keduanya sehat dan perkembangan bayi sesuai pada usianya.
“Padahal punggung istri saya terbentur ke dinding agak keras sampai dia mengadu perutnya kram, tapi syukurlah kalau semua sehat-sehat saja.” Ujar Fadhil lega.
“Kandungan seorang ibu dilindungi dinding rahim yang tebal pak, beruntungnya benturan tadi tidak mempengaruhi kondisi janin. Ibu Mecca hanya shock saja. Tapi lain kali hati-hati ya Bu.” Ujar dr. Sarah memperingatkan.
“I-iya dokter, terima kasih.” Jawab Mecca gugup karena telah membuat laporan bohong ke dr. Sarah. Fadhil mengaku bahwa Mecca terpeleset dan punggungnya membentur dinding, dan pernyataan Fadhil mendapat anggukan oleh Mecca.
Setelah perawatan dan konsultasi usai, mereka berempat kembali ke restoran. Saat berada di ruang kerja Mecca, Fadhil meminta penjelasan lengkap Egy atas perbuatan Karina. Egy pun menghembuskan nafas dengan frustrasi. Egy pun memulai ceritanya dengan wajah datar.
“Karina... Dia bukan orang jahat. Dia hanya korban dari cinta tak berbalas. Aku harap kau dan Mecca tidak membencinya.” Ujar Egy dengan sendu. Mecca dan Fadhil menatap Egy dengan tanda tanya.
“Kamu tahu sendirikan bagaimana Karina teramat mencintaimu, dia mengagumimu, dia juga terlalu terobsesi padamu. Bukan salahnya dia menjadi seperti itu, dia memang sudah dibentuk papi sejak usia belasan dengan kata-kata sebagai calon istrimu.” Egy menatap Fadhil dengan sendu. Fadhil hanya menghela nafas panjang atas pernyataan Egy yang benar adanya.
“Setelah pernikahanmu dan Mecca, Karina sedikit demi sedikit mulai berubah. Ia lebih senang menyendiri di kamar, menangis, dan berteriak histeris. Kadang saat berkumpul suasana hatinya bisa berubah-ubah tak tentu, awalnya ceria namun kemudian dia bisa menangis sedih. Emosinya juga sering meluap-luap saat mengingatmu. Beberapa kali kami menemukannya melakukan percobaan bunuh diri. Kondisinya semakin memprihatinkan. Karena itu aku membawanya ikut serta dalam pekerjaan bisnisku ke Kuala Lumpur. Aku pikir dia akan lebih baik jika berada di tempat dan suasana berbeda, tapi dia malah semakin banyak diam. Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimnya ke psikiater.” Egy berhenti sejenak dari cerita panjangnya. Ia menghembuskan dan menarik nafas kuat.
“Selama 3 bulan ia menjalani perawatan. Kondisinya semakin baik, dokter juga menyatakan bahwa dia sudah bisa melakukan sosialisasi kembali. Karena itu saat pulang ke Indonesia aku menutup segala akses informasi tentangmu dan Mecca dari Karina, aku juga meminta seseorang untuk melacak Karina ke mana pun dia pergi, karena aku takut jika dia kembali labil. Aku hampir setiap hari mendatangi Mecca karena aku khawatir Karina bisa menemukan Mecca dan menyakitinya.” Egy menyandarkan tubuhnya pada kursi dan memandang Mecca serta Fadhil dengan menyesal.
“Awalnya Karina mulai membaik, namun saat kembali ke sini obsesinya kepadamu meningkat kembali. Kadang dia tidak bisa diajak bicara karena pikirannya yang kacau. Dia masih menganggapmu sebagai tunangannya dan melupakan statusmu yang telah menikah. Dia menganggap setia wanita adalah ancaman baginya. Lama-lama dia mengalami gangguan jiwa, dia sering mengamuk dan emosinya juga sulit dikendalikan. Aku sering menyuntikkan penenang padanya.” Egy tampak sedih mengingat Karina.
“Ta-tapi aku jamin, Karina tidak akan melukai kalian lagi. Aku akan mengirimkannya untuk berobat kembali. Maafkan aku Dhil, Mec, aku tidak tahu kalau usahaku masih dapat meloloskan Karina untuk menemukan Mecca. Aku minta maaf atas nama kakakku Karina ya Mecca karena dia sudah menyakitimu.” Egy menundukkan kepalanya dengan menyesal.
Mecca dan Fadhil yang mendengarkan cerita Egy tampak tak percaya. Mereka tidak menyangka bahwa rasa sakit akibat gagal cinta dapat membuat seseorang mengalami hal tersebut.
Mereka tampak iba dengan apa yang dialami Karina. Mereka bisa merasakan bagaimana mendalamnya perasaan Karina pada Fadhil. Pasti rasa sakit itu sudah lama berdiam diri dalam hati dan otak Karina. Keduanya bersama-sama mendoakan kesembuhan dan kebahagiaan Karina.
Terus dukung Author dengan TIPS, VOTE, LIKE, KOMENTAR, RATE 5, DAN KLIK FAVORIT. Setiap dukungan Readers sangat berarti untuk Author dan setiap komentar kalian selalu Author sempatkan untuk membacanya, seneng aja kalau lihat para readers suka dengan novel ini. Terima kasih. 💜