AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 29. Undangan



Setelah hampir 3 jam Mecca berkutat di dapur memasak beragam menu makanan, kegiatan itu pun selesai tepat waktu. Dengan segera Bi Mirah menata rapi tiap hidangan di atas meja makan.



Waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore, Mecca hendak ke kamarnya untuk mandi, bersiap-siap, dan menjalankan ibadah. Namun langkahnya terhenti tiba-tiba.


“Maaf Non, apa saya masih dibutuhkan lagi?” tanya Bi Mirah menghentikan langkah Mecca.


“Kenapa? Bibi sudah mau pulang? Ikut saja makan malam bersama ya.” Jawabnya lembut.


“Tidak usah Non, saya akan makan di kos saja.” Jawabnya menunduk.


“Kalau malam ini Bibi menginap di sini bisa? Saya mau minta tolong bantuan Bibi untuk mencuci peralatan makan setelah acara makan malam nanti.”


“Bisa Non.” Jawabnya singkat.


“Kalau begitu Bibi bisa ke kamar yang di ujung lorong situ, kalau bibi mau membersihkan diri, istirahat, atau shalat bisa di sana ya. Nanti saya bawakan pakaian ganti punya saya.”


“Eh... Jangan Non, tidak usah. Saya izin ke kos saja dulu. Nanti saya kembali lagi ke sini Non.”


“Jangan! Terlalu bahaya Bi, ini kan sudah mau malam. Enggak apa-apa kok, saya ada pakaian baru yang saya tidak pernah pakai, untuk Bibi saja ya.”


“Terlalu merepotkan Non.” Jawabnya menundukkan wajah merasa tidak enak.


“Enggak kok! Ayo Bi ke kamar saya dulu sebentar.” Ajaknya sembari melangkah menuju kamarnya diikuti Bi Mirah di belakang.


Sesampainya di kamar, Mecca mengambil dress yang masih terbungkus rapi di dalam plastiknya. Mecca juga mengambilkan 2 lembar disposable panty yang biasa ia bawa saat traveling dan menyerahkannya pada Bi Mirah yang berada di depan kamarnya.


“Maaf ya Bi, karena ini masih baru jadi bajunya belum di cuci. Terus ini ada celana dalam sekali pakai untuk ganti, kalau handuk dan perlengkapan mandi semua ada di kamar ya.”


“Terima kasih banyak Non. Saya jadi tidak enak hati menerimanya.”


“Enggak usah sungkan, bajunya juga cuma dress santai polos panjang biasa kok. Itu ada 2 ya, satunya bisa Bibi pakai besok sebagai ganti lagi.”


“Terima Kasih banyak Non Mecca.” Ucapnya malu.


Setelah perbincangan singkat tersebut selesai, Mecca pun segera masuk ke kamar mandi dan tak berselang lama, Fadhil pun sampai ke rumah.


.


.


.


***


Tepat pukul 5 sore, Arjun sampai rumah dengan wajah berseri-seri. Ia mulai bersiul dan menyenandungkan lagu-lagu romantis yang ia hafal. Hatinya terlalu gembira mengingat undangan makan malam yang akan ia hadiri hari ini.


Dengan segera ia pun bergegas pergi ke kamarnya. Ia melihat pesan singkat dari Fadhil masuk ke smarthphonenya, memberitahukan jika acara makan malam ini akan dimulai pukul 7 tepat. Tanpa berlama-lama Arjun pun segera mandi untuk bersiap-siap.


Setelah semua kegiatannya selesai, ia langsung menyambar pakaian yang sudah ia persiapkan semalam. Dan dengan cepat ia mengambil kunci mobilnya lalu melenggang pergi.


Sebelum mobilnya melaju ke rumah Pak Pradipta, Arjun berhenti sejenak untuk membeli buah-buahan sebagai buah tangan. Ia meminta agar buah-buahan itu dibentuk menjadi sebuah parsel cantik dan menarik dengan hiasan pita di atasnya.


***


“Mas Fadhil temani Ayah ngobrol dulu ya, Aku mau ke kamar Kak Dina.”


“Kiss dulu.” Ujarnya sembari memajukan bibir merah mudanya.


“Eeemmmuuuuaaahh... I love you.” Ujar Mecca sembari mendaratkan bibirnya ke bibir Fadhil.


“Yank, tanya dong!”


“Tanya apa Mas?”


“Libur pergulatannya sudah selesai belum?” tanyanya dengan wajah sedih dibuat-buat.


“Ya belum dong, masih 3 hari gini.” Jawabnya dengan wajah cemberut.


“Yah, nasib Aku gimana dong?” ujarnya lemas.


“Sabar ya sayang.” Jawab Mecca sembari menepuk-nepuk pipi Fadhil kemudian berlari keluar menuruni tangga.


“Eh... Kabur dia. Ckckckck... Dasar istri usil! Awas ya nanti!”


Fadhil dengan segera mengikuti jejak langkah Mecca yang pergi tanpa permisi, ia pun menuju ruang keluarga untuk bergabung dengan Ayah mertuanya menonton berita di televisi. Sedangkan Mecca pergi ke kamar tamu tempat Medina saat ini.


“Ya ampun ngagetin saja! Sudah, Dik.”


“Make up dong Kak!”


“Ya ampun Dik, ini kan cuma makan malam biasa.”


“Tapi Kakak agak pucat kalau nggak make up.” Bohongnya mencari alasan.


“Masa sih?”


“Iya Kak. Make up saja tipis-tipis juga nggak apa kok. Aku bantu kepangin rambut Kakak ya.”


“Nggak usah Dik, di gerai saja.”


“Jangan! Sudah Kakak make up saja, biar rambut Kakak, Aku yang urus!”


Setelah beberapa lama, Medina pun siap dari berias dan penataan rambut oleh Mecca. Ia menatap datar pantulan dirinya pada cermin di hadapannya.


Tok... Tok... Tok...


“Nak, tamunya sudah datang nih, ayo mulai makan malamnya.” Ujar Pak Pradipta mengetuk pintu kamar tersebut.


“Iya Yah.” Teriak Mecca dan Medina bersamaan dari dalam kamar.


Pak Pradipta mempersilahkan Fadhil dan juga Arjun untuk langsung menuju meja makan.


“Ayo duduk saja langsung, sebentar lagi pasti dua anak perempuan itu juga keluar.” Ajak Pak Pradipta.


“Terima kasih Om atas undangannya, tapi sebelumnya ini silakan diterima.” Jawab Arjun sembari menyerahkan parsel buahnya.



“Ya ampun, Pak Dokter repot-repot segala.”


“Tidak repot Om. Panggil Arjun saja Om supaya lebih akrab.” Jawabnya lembut.


“Hmmm... Seumur-umur kenal gue, loe nggak pernah bawa apa-apa ke rumah.” Ledek Fadhil yang diikuti sikutan gemas Arjun pada lengannya. “Aaaww... sakit tahu!” ujarnya ketus diikuti gumaman samar dari Arjun dan tawa Pak Pradipta.


Setelah Pak Pradipta, Fadhil, dan Arjun duduk di meja makan. Mecca dan Medina pun ikut serta duduk. Medina duduk tepat di sebelah Arjun. Karena merasa ada pergerakan dari sisinya, Arjun pun menengokkan kepalanya dan mendapati Medina sudah duduk bersebelahan dengannya.


Tanpa berkedip Arjun menatap Medina dengan lekat. Ia memuji tiap inci kecantikan Medina di hadapannya. Harumnya parfum Medina, masuk lembut ke hidungnya. Tanpa disadari, Arjun menutup kedua matanya menghirup aroma itu dalam-dalam berusaha mengingatnya.


Aroma bunga sakura yang membuat candu. Aromanya yang lembut, segar, dan memanjakan indra penciuman. Saat ia membuka mata, manik matanya bertemu dengan tatapan Medina, secara spontan ia pun memuji Medina.


“Cantiknya bidadari tak bersayap.” Ujarnya tanpa sadar.


“Apa?” tanya Medina bingung.


“Ups! Enggak kok.” Jawabnya canggung sembari mengalihkan pandangannya.


Tindakan Arjun tersebut membuat Fadhil, Mecca, dan Pak Pradipta tertawa terbahak-bahak.


“Ya sudah, ya sudah... Ayo kita makan dulu, nanti tatap-tatapannya dilanjut lagi ya, soalnya Om sudah lapar.” Ledek Pak Pradipta memandang Arjun.


“Eh Itu... Anu Om, ehm...” jawabnya bingung.


“Kelamaan jomblo tuh Yah, jadi ketahuan gombal sedikit sudah salah tingkah.” Ujar Fadhil usil.


“Dasar lemper abon loe, nggak bisa diam ngatain orang melulu.” Sewot Arjun kesal.


“Apa loe onde-onde jomblo protes melulu?!” Balas Fadhil mengejek.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.


Terima Kasih.